: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Puslit Kimia LIPI Kembangkan Produk Pangan Fungsional untuk Cegah Stunting dan Obesitas


11 Oktober 2019

Serpong, Humas LIPI. Sumber daya manusia terutama anak-anak merupakan aset yang berharga bagi bangsa dan negara Indonesia. Sayangnya, angka stunting di Indonesia masih masuk kategori sangat tinggi menurut standar WHO. Selain itu, permasalahan obesitas juga perlu mendapat perhatian karena angkanya termasuk tinggi di Indonesia. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia melalui Pusat Penelitian Kimia mengembangkan produk pangan fungsional yang memenuhi kebutuhan gizi berfungsi untuk kesehatan tubuh. Hasil-hasil pengembangan penelitian ditampilkan dalam kegiatan Media Briefing P2 Kimia LIPI pada Kamis (10/10) di Tangerang Selatan. Acara ini diselenggarakan dalam rangka LIPI menjadi focal point dalam acara ASEAN Food Conference di Bali pada 15-18 Oktober 2018. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang bisa dialami oleh anak-anak yang mendapatkan gizi buruk atau infeksi berulang. Seorang anak dikatakan stunting ketika pertumbuhan tinggi badannya tak sesuai grafik pertumbuhan badan. Dampak stunting selain tinggi badan anak juga terkait pertumbuhan otak. Salah satu cara untuk mencegah stunting adalah dengan memperbaiki sistem imun atau kekebalan tubuh dalam tubuh anak. Caranya adalah dengan mengkonsumsi pangan fungsional yang dapat meningkatkan sistem imun tubuh. Pangan tersebut beragam dan mengandung berbagai vitamin dan mineral. “ Potensi pangan di Indonesia sangat kaya dan melimpah, bisa berasal dari pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan/kelautan,” jelas Raden Arthur Ario Lelono, Plt. Kepala P2 Kimia - LIPI. Salah satu pangan yang berfungsi sebagai imunomodulator alami adalah Caulerpa lentilifera atau rumput laut hijau. Pangan ini dapat dimakan sebagai lalapan serta sudah dibudidayakan di Indonesia, yakni di Takalar, Sulawesi Selatan. Oleh Pusat Penelitian Kimia LIPI, rumput laut ini dikembangkan menjadi produk biskuit yang berfungsi sebagai penguat sistem imun. “Kami bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Farmasi dan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam pembuatan biskuit rumput laut ini,” jelas Sofa Fajriah, peneliti Kimia. Asupan gizi yang optimal juga dapat dilakukan untuk pencegahan stunting sehingga tercipta kualitas sumber daya manusia yang sehat, cerdas dan produktif. Salah satu nutrisi yang penting adalah asam folat. Asam folat (folacin, vitamin B9) merupakan vitamin penting untuk tumbuh kembang bayi semasa dalam kandungan, pada wanita hamil dan anak-anak. Pusat Penelitian Kimia melakukan formulasi dan identifikasi asam folat dari campuran nikstamal jagung kuning/putih, bayam/brokoli terfermentasi dan tempe kedele/kacang hijau. “Formulasi tersebut diaplikasikan pada pembuatan pangan pintar berupa biskuit, bubur dan sup bayi dengan variasi jenis dan konsentrasi fortifikan yang berbeda dalam formulasi produk MP-ASI,” terang Arthur pada produk hasil karya peneliti Kimia Agustine. Sementara itu, permasalahan obesitas di Indonesia juga termasuk tinggi. Hal ini kebanyakan dikarenakan oleh gaya hidup yang kurang aktif. Dalam jangka panjang, pada usia dewasa yang gaya hidupnya kurang aktif cenderung akan menjadi gemuk (obese), dan berpeluang menderita penyakit tidak menular (PTM), seperti hipertensi, diabetes, kanker, dan lain-lain. Salah satu pangan yang bisa mengurangi risiko obesitas adalah teh. Indonesia berpotensi untuk mengembangkan teh karena saat ini menjadi pengekspor teh nomor tujuh dunia. Teh sangat baik untuk diet, selain itu berfungsi sebagai anti oksidan, penurun kolesterol, peningkat metabolisme tubuh, penjaga kesehatan tulang, dan pencegah diabetes. Pusat Penelitian Kimia mengembangkan produk teh klon seri Gamboeng untuk obesitas. Hasil epigallokatekin gallat (EGCG) yang merupakan senyawa aktif antiobesitas lebih tinggi dari produk di pasaran. “Produk yang dikembangkan adalah teh  hijau serbuk effervescent dan minuman ready to drink,” tutur Nino Rinaldi peneliti Kimia. Teh klon unggul seri Gamboeng berpolifenol tinggi cocok digunakan sebagai bahan baku minuman fungsional untuk menurunkan risiko obesitas. Oleh karena teh hijau ini ini pahit dan tidak enak untuk dikonsumsi rutin, maka dibuatlah fortofikasi dengan rasa lebih baik dan bisa dikonsumsi rutin layaknya teh pada umumnya. Penambahan daun salam sebagai salah satu pengawet alami (anti bakteri). Penam.bahan daun atau kayumanis untuk meningkatkan keterterimaan rasa dari konsumen. Dalam proses produksinya, kami memiliki kendala dalam ketersediaan daun kayu manis, sehingga solusinya diganti dengan batang kayu manis”, jelas Hani Mulyani peneliti Kimia. Produk pangan berbasis polifenol berbentuk minuman selain teh yang saat ini sedang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Kimia adalah kombucha. Dengan formulasi sayuran dan buah pisang yang difermentasi, telah dihasilkan minuman yang berfungsi sebagai penurun kolesterol dan penunjang kesehatan. "Produk minuman ini sangat potensial dikembangkan di Indonesia karena bahan bakunya mudah didapat, yakni katuk dan aneka jenis pisang," jelas peneliti Kimia, Yati Maryati. “Kedepannya kami ingin agar produk-produk pangan fungsional ini bisa masuk ke skala industri,” tutup Arthur. (adl) Kliping Berita Media Briefing P2 Kimia, 10 Oktober 20191. Cegah Stunting, LIPI Kembangkan Pangan dari Rumput Laut dan Tehhttps://indopos.co.id/read/2019/10/10/199883/cegah-stunting-lipi-kembangkan-pangan-dari-rumput-laut-dan-teh/2. LIPI Kembangkan Olahan Pangan Pencegahan Stuntinghttps://www.gatra.com/detail/news/450036/teknologi/lipi-kembangkan-olahan-pangan-pencegahan-stunting3. LIPI kembangkan pangan rumput laut dan teh cegah stunting dan obesitashttps://www.antaranews.com/berita/1105714/lipi-kembangkan-pangan-rumput-laut-dan-teh-cegah-stunting-dan-obesitas4. LIPI Kembangkan Pangan Rumput Laut dan Teh Cegah Stunting dan Obesitashttps://bengkulu.antaranews.com/nasional/berita/1105714/lipi-kembangkan-pangan-rumput-laut-dan-teh-cegah-stunting-dan-obesitas?utm_source=antaranews&utm_medium=nasional&utm_campaign=antaranews5. Tekan Prevalensi Stunting LIPI Kembangkan Produk Pangan dari Rumput Lauthttps://news.trubus.id/baca/32415/tekan-prevalensi-stunting-lipi-kembangkan-produk-pangan-dari-rumput-laut6. LIPI Kembangkan Teh Hijau Cegah Obesitas Hingga Turunkan Kolesterolhttps://news.trubus.id/baca/32422/lipi-kembangkan-teh-hijau-cegah-obesitas-hingga-turunkan-kolesterol7. Pusat Penelitian Kimia LIPI Hasilkan Produk Pangan Fungsional untuk Perbaikan Gizi dan Kesehatanhttps://www.besttangsel.com/pusat-penelitian-kimia-lipi-hasilkan-produk-pangan-fungsional-untuk-perbaikan-gizi-dan-kesehatan/8. LIPI Kembangkan Bahan Pangan Rumput Laut dan Tehhttps://palapanews.com/2019/10/11/lipi-kembangkan-bahan-pangan-rumput-laut-dan-teh/9. Cegah Stunting dan Obesitas dengan Rumput Laut dan Teh https://today.line.me/id/pc/article/Cegah+Stunting+dan+Obesitas+dengan+Rumput+Laut+dan+Teh-1Rx7Dv10. Cegah Stunting dan Obesitas dengan Rumput Laut dan Teh https://gaya.tempo.co/read/1258092/cegah-stunting-dan-obesitas-dengan-rumput-laut-dan-teh 11. LIPI Kembangkan Pangan Rumput Laut dan Teh Cegah Stuntinghttps://trendtek.republika.co.id/berita/pz5gjj423/lipi-kembangkan-pangan-rumput-laut-dan-teh-cegah-emstuntingem 12. LIPI Kembangkan Produk Pangan dari Teh untuk Kurangi Obesitas dan Rumput Laut Cegah Stunting http://lipi.go.id/siaranpress/pengembangan-produk-pangan-fungsional-dari-rumput-laut-dan-teh-untuk-cegah-stunting-dan-obesitas/21806

Baca

Puslit Kimia LIPI Hadir dalam Puspiptek Innovation Festival (PIF) 2019


11 Oktober 2019

Serpong, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia terus menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga yang kosisten menghasilkan riset bermanfat nyata bagi masyarakat. Pada 3-6 Oktober 2019 di kawasan Puspiptek, Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) pada kegiatan Puspiptek Innovation Festival (PIF) 2019 mewakili LIPI. Pada PIF 2019, P2 Kimia – LIPI menunjukkan hasil penelitian bioetanol, bioplastik, biokomposit, polymer based gun frame, Joza Kosmetik, dan beberapa produk pangan fungsional. P2 Kimia juga mengadakan perlombaan Du Nouy Challenge bagi siswa SD, Bubble Challenge bagi siswa SMP, Kreasi Sabun Bioetanol bagi siswa SMA, dan Origami Dinoetanol untuk umum. Puspiptek Innovation Festival tahun 2019 ini adalah event yang ketiga sejak dimulai tahun 2017. Kegiatan ini ditunggu-tunggu oleh masyarakat dari tahun ke tahun, sehingga Pusat Penelitian Kimia terus mencoba untuk terus dapat berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan Puspiptek sebagai sebuah event untuk dapat mendiseminasikan hasil penelitian dan menyebarluaskan informasi. Tujuannya agar meningkatkan kesadaran akan pentingnya iptek dan inovasi dalam kehidupan masyarakat. Pada akhirnya akan terwujud budaya inovasi pada kalangan generasi muda penerus bangsa.  Sesuai dengan fungsi sebuah Sains Techno Park, Puspiptek berupaya bagaimana mengaitkan semua unsur kepentingan dalam membangun sebuah ekosistem inovasi. Goverment, akademisi, bisnis, masyarakat, dan sebagainya. Semuanya berpartisipasi dalam upaya membangun suasana yang kondusif dalam budaya inovasi.  Tahun 2019 PIF mengangkat tema Innovations Without Limits menampilkan ‘highlight’ pengembangan karya inovasi bagi perempuan dengan sub-tema “Perempuan Bicara Inovasi, Perempuan yang Menginspirasi”. “Inovations Without Limits berarti tidak ada batasan setiap manusia, setiap individu, untuk bagaimana melakukan inovasi. Karena inovasi dapat dilakukan dari berbagai segi. Oleh karena itu tidak ada hambatan bagi kita semua untuk melakukan inovasi,” kata Kepala Puspiptek, Sri Setiawati saat membuka kegiatan PIF. Selama empat hari, banyak kegiatan yang dilakukan dalam PIF 2019, ada Puspiptek Expo yang diikuti 60 booth yang terdiri UMKM, startup, maupun hasil-hasil penelitian yang ada di kawasan Puspiptek maupun pemerintah daerah. Diselenggarakannya berbagai seminar dan workshop, ada seminar berkaitan dengan games workshop games, animasi, dan pembuatan VIV 360, workhop komunikasi satelit, women innovation, workhop entrepreneurship, business matching, kompetisi inovasi, eksplor Puspiptek, dan kompetisi mural dengan tema B.J. Habibie. Dalam penutupan PIF pada 6 Oktober 2019, Kepala Puspiptek kembali menegaskan bahwa bahwa sesuai slogan Innovation Without Limits, artinya tidak ada inovasi yang tidak dapat dihasilkan oleh siapapun. Siapa pun berhak berinovasi. Untuk usulan kegiatan acara PIF di tahun mendatang, Puspiptek sangat terbuka akan ide-ide yang inovatif. (har/ ed. adl)

Baca

Ekstraksi Benalu Menjadi Obat 


12 September 2019

  Hasil uji bioaktivitas menjadi pembuktian ilmiah penunjang data empiris.    Indonesia memiliki banyak bahan herbal yang telah digunakan secara turun-temurun. Tapi ihwal khasiatnya baru sebatas "katanya". Nina Artanti, peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan uji bioaktivitas diperlukan untuk membuktikan khasiat bahan herbal tersebut secara ilmiah.  "Uji bioaktivitas merupakan salah satu tahapan penting, baik untuk pembuktian ilmiah khasiat herbal maupun dalam pengembangan sebagai obat," kata Nina, Senin lalu. Ada berbagai macam uji bioaktivitas, yakni antioksidan, anti-diabetes, sitotoksik, dan anti-bakteri.  Nina menjelaskan bahwa kebanyakan penelitian mengenai manfaat obat herbal dilakukan dengan ekstraksi memakai pelarut organik. Adapun cara tradisional adalah diseduh dan direbus. "Penelitian memakai ekstrak air perlu dilakukan. Sebab, kandungan senyawa yang terekstrak dalam air mungkin berbeda dengan pelarut organik."  Salah satu materi herbal yang banyak dipakai untuk pengobatan alternatif penyakit kanker adalah benalu. Hasil penelitian terhadap ekstrak air benalu nangka (Macrosolen cochinchinensis) menunjukkan aktivitas antioksidan in vitro serta anti-kanker in vitro dan in vivo.  Ekstrak ini relatif tidak toksik berdasarkan hasil uji toksisitas in vitro dengan metode brine shrimp lethality test (BSLT) dan toksisitas akut in vivo pada mencit.  "Meski M. cochinchinensis satu famili dengan Dendrophthoe pentandra, yaitu Loranthaceae, tak terdapat kandungan senyawa utama quercitrin (quercetin-3-ramnosida) saat tumbuh pada inang nangka atau inang lainnya," kata Nina.  Hasil hidrolisis ekstrak air benalu nangka menunjukkan terbentuknya quercetin, yang berarti ekstrak air ini mengandung glikosida quercetin lainnya. Di Eropa, benalu spesies Viscum album digunakan sebagai obat alternatif kanker.  "Obat-obatan ini bahkan sudah bermerek dagang, seperti Iscador, Helixor, dan Eurixor, yang sudah dalam tahap uji klinis," ujar dia.  Dalam penelitian sebelumnya, beberapa ekstrak air mendidih atau ekstrak pelarut organik benalu Indonesia (Dendrophthoe pentandra) menunjukkan berbagai bioaktivitas, seperti antioksidan, anti-diabetes, dan sitotoksik, terhadap sel kanker ataupun larva udang.  "Sedangkan ekstrak pelarut organik selaginella (cakar ayam) menunjukkan bioaktivitas sitotoksik terhadap sel kanker payudara," kata Nina.  Uji bioaktivitas menggunakan pendekatan langsung preparasi seduhan dan rebusan sebagai sampel yang diuji tanpa melalui proses pengeringan ekstrak akan membantu memberi gambaran langsung aktivitas herbal tersebut.  "Hasil analisis empat sampel seduhan daun benalu dari famili Loranthaceae dan satu sampel seduhan cakar ayam (Selaginella sp.) menunjukkan semua sampel benalu memiliki aktivitas antioksidan, anti-diabetes, dan sitotoksisitas tinggi," ucap Nina.  Sementara itu, sampel cakar ayam menunjukkan aktivitas yang secara signifikan lebih rendah pada benalu. "Benalu dari famili Loranthaceae dan cakar ayam menunjukkan aktivitas antioksidan, anti-diabetes, dan anti-kanker."  Tumbuhan ini sudah lama digunakan, sehingga aman diformulasi sebagai obat herbal ataupun minuman kesehatan. Selain itu, seduhan dan rebusan campuran benalu (D. curvata) dan cakar ayam menunjukkan aktivitas anti-kanker in vitro sehingga dapat dikembangkan sebagai teh herbal pencegah kanker.  Nina menjelaskan, untuk keanekaragaman hayati yang secara umum telah dikonsumsi oleh masyarakat sebagai obat herbal, seperti benalu dan cakar ayam, hasil uji bioaktivitas dapat menjadi pembuktian ilmiah yang menunjang data empiris.  "Hal ini akan membuat manfaat obat herbal lebih meyakinkan untuk dipromosikan sehingga dapat meningkatkan nilai komersial," ujar dia. (Afrilia Suryanis/Koran Tempo) Link terkait : http://koran.tempo.co/read/445738/ekstraksi-benalu-menjadi-obat      

Baca

Teknik Baru Ekstraksi Atsiri


10 September 2019

Teknologi konvensional memburuhkan waktu lama, tak ramah lingkungan. dan merusak senyawa.   Di alam terdapat tiga golongan minyak, yakni mineral. nabati dan hewani, serta atsiri. Yang terakhir berupa cairan lembut, kental di suhu ruangan, tapi mudah menguap sehingga memberi aroma khas sebagai bahan dasar wangi-wangian. "Minyak ini diperoleh dan ekstrak atau penyulingan bunga, biji, daun, kulit batang, kayu, dan akar tumbuh-tumbuhan,“ kata peneliti dari Pusat Penelitian kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan lndonesia, Anny Sulaswatty, kepada Tempo, Ahad lalu. Senyawa utama atsiri seperti eugenol, sitronelal, sitronelol, geraniol, isopulegol, patchouli alcohol, sinamaldehid, miristisin, vetiverol, dan gingerol dapat digunakan dalam berbagai sektor komersial, antara lain pangan, farmasi, kosmetik, dan industri kimia. "Ini menandakan bahwa kebutuhan adanya metode yang tepat dan memiliki standar dalam memurnikan berbagai komponen utama atsiri diperlukan sehingga dapat dikembangkan menjadi bahan aktif lainnya,“ ujar Anny. Menurut Anny, teknologi konvensional yang ada saat ini umumnya membutuhkan waktu lama, kurang ramah lingkungan, dan berpotensi memicu kerusakan senyawa. Sementara itu, beberapa metode alternatif terbaru yang ada cukup stabil. “Tapi sampai saat ini tidak ada metode tunggal yang dianggap sebagai standar untuk mengekstrak senyawa utama dari tumbuhan dan bahan alam, termasuk atsiri," kata dia. Ekstraksi komponen utama atsiri dapat dilakukan dengan berbagai prosedur. Salah satunya melalui metode non-konvensiunal lebih ramah lingkungan dengan penurunan penggunaan bahan kimia sintetis dan organik. Waktu operasional berkurang serta kualitasnya lebih baik. Upaya ini telah dikembangkan selama 20 tahun untuk meningkatkan hasil keseluruhan dan selektivitas komponen utama dari bahan alam, "Pada saat yang sama, ekstraksi metode konvensional, seperti Soxhlet, masih dianggap sebagai salah satu metode referensi untuk membandingkan keberhasilan metodologi yang baru dikembangkan," kata Anny. Penelitian untuk meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi ekstraksi atsiri ini dilakukan di LIPl sejak 1990. Harapannya, indonesia dapat menjadi pelaku industri atsiri yang efektif, efisien, dan berdaya guna. ”Riset dan pengembangan teknologi non-konvensional perlu diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah minyak atsiri lndonesia sebagai bahan baku pembuatan produk pangan, bahan aditif makanan, serta perasa makanan," ujar Anny. Masalah utama ekstraksi konvensional adalah lamanya waktu yang dibutuhkan dan persyaratan kemurnian pelarut yang mahal. "Juga penguapan bahan pelarut, selektivitas ekstraksi yang rendah, dari dekomposisi termal dari senyawa termolabil.“ Untuk mengatasi masalah ini, Anny menjelaskan, teknik ekstraksi baru dan prospektif mulaigencar diperkenalkan. Teknik-teknik ini disebut teknik ekstraksi non-konvensional. Beberapa teknik yang cukup prospektif adalah teknik ekstraksi perlakuan awal ultrasonikasi atau ekstraksi yang dibantu enzim, ekstraksi dengan bantuan gelombang mikro, ekstraksi fluida superkritis, dan ekstraksi fluida bertekanan. "Beberapa teknik ini dianggap sebagai 'teknik hijau' sesuai dengan standar Environmental Protection Agency, Amerika Serikat." ujar dia. Pemanfaatan teknologi non-konvensional, menurut Anny. perlu diterapkan melalui kerja sama dengan industri, "Salah satunya telah dilakukan pengembangan green additives berbasis turunan minyak atsiri yang dapat menurunkan kadar air dalam solar iungga is persen dan menghemat bahan bakar hingga 8 persen," kata dia.  (Afrilia Suryanis/Koran Tempo)   Sumber : http://koran.tempo.co/read/445664/teknik-baru-ekstraksi-atsiri

Baca

Jalan Sehat 52 Tahun LIPI Serpong


23 Agustus 2019

Serpong, Humas LIPI. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-52 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang jatuh pada Jumat, 23 Agustus 2019, LIPI Kawasan Serpong mengadakan Jalan Sehat 52 Tahun LIPI, di Gedung 456, Kawasan LIPI Serpong. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik – LIPI, Agus Haryono mengatakan agar sivitas LIPI untuk  selalu menjaga kesehatan dan kebugaran, juga mohon bersenang-senang di sini, dan bersilaturahmi. “Masing-masing dapat saling berkenalan, saling mengetahui siapa yang bekerja di kawasan. Karena fungsi kawasan ini sangat penting, mereka membantu untuk kebutuhan sivitas yang lain dalam keseharian beraktifitas”, ujar Deputi. Kemudian Deputi memimpin Jalan Sehat sepanjang 5,84 km yang dimulai dari Gedung 456 Kawasan Serpong, melewati pelataran jalan Puslit Kimia-LIPI, Puslit Fisika-LIPI, Puslit Teknologi Pengujian-LIPI, dan juga melalui kebun provinsi, dan berakhir di Gedung 456 Kawasan LIPI Serpong. Dalam kegiatan tersebut, peserta yang mengenakan atribut didominasi warna merah-putih, diberikan hiburan berupa doorprize dari sponsor. (har/ ed. adl)

Baca

Tiga Peneliti Kimia LIPI Dikukuhkan sebagai Profesor Riset


20 Agustus 2019

Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali mengukuhkan tiga orang peneliti Pusat Penelitian Kimia menjadi Profesor Riset. Bersamaan dengan Dr. Ignasius Dwi Atmana Sutapa dari Pusat Penelitian Limnologi LIPI. Tiga peneliti Kimia yang dikukuhkan tersebut adalah Dr. Ir. Nina Artanti, M. Sc, Dr. Jamilah, M. Si, Dr. Anny Sulaswatty, M. Eng. Orasi Pengukuhan Profesor Riset akan disampaikan pada, Selasa 20 Agustus 2019 di Auditorium Utama LIPI Jakarta. Ketiga peneliti yang akan dikukuhkan sebagai profesor riset masing-masing berasal dari bidang keilmuan kimia organik, biokima, dan teknik kimia. Dalam orasi berjudul “Peran Uji Bioaktivitas untuk Penelitian Herbal dan Bahan Aktif untuk Obat Berbasis Keanekaragaman Hayati, Nina Artanti mengungkapkan pengalaman historis manusia dengan tumbuhan sebagai bahan terapi telah membantu memperkenalkan senyawa kimia tunggal dalam engobatan modern yang ada sekarang. “Uji bioaktivitas merupakan salah satu tahapan penting baik untuk pembuktian ilmiah khasiat herbal atau pun dalam penemuan dan pengembangan obat. Ada berbagai macam uji bioaktivitas yang dapat dimanfaatkan yaitu bioaktivitas antioksidan, antidiabetes, sitotoksik dan antibakteri,” jelas Nina. Sementara orasi dari Jamilah adalah “Penemuan Senyawa Aktif Baru dari Calophyllum spp sebagai Bahan Baku Obat Antikanker dan Antimalaria”. Dirinya menjelaskan, kanker merupakan penyebab kematian dan kejangkitan yang terbesar di dunia dibandingkan penyakit lain dan jumlahnya meningkat hingga 70% dalam dua dekade. “Sementara malaria adalah penyakit infeksi yang mematikan nomor lima setelah penyakit infeksi saluran nafas, HIV/AIDS, diare, dan TBC,” terangnya. Dirinya mengungkapkan, tumbuhan Calophyllum spp mempunyai potensi sebagai sumber bahan baku obat kanker dan malaria. “Calophyllum mengandung senyawa santon, kumarin, biflavonoid, benzofenon dan neoflavonoid, triterpen, dan steroid yang memiliki aktivitas antiimflamasi, antijamur, antihipoglikemia, antiplatelet, antitumor, antimalaria dan antibakteri serta antiTBC,” jelas Jamilah. Dirinya menjelaskan, peluang Calophyllum untuk pengembangan obat antikanker dan antimalaria sebagai pengganti obat impor masih terbuka lebar. Di orasi berjudul “Penerapan Teknologi Non-Konvensional dalam Ekstraksi Komponen Utama Atsiri dan Produk Turunannya di Indonesia”, Anny Sulaswatty mengungkapkan pentingnya memperluas penerapan penelitian fraksinasi, pemurnian, serta perbaikan teknologi ekstraksi untuk meningkatkan nilai jual produk mintak atsiri. “Riset dan pengembangan teknologi non-konvensional perlu diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah minyak atsiri Indonesia sebagai bahan baku pembuatan produk pangan, food additives, serta perasa makanan,” ungkap Anny. Dirinya menjelaskan, pemanfaatan teknologi non-konvensional perlu diimplementasikan melalui kerjasama dengan industri, salah satunya telah dilakukan pengembangan green-additives berbasis turunan minyak atsiri yang dapat menurunkan kadar air dalam solar hingga 15% dan menghemat bahan bakar hingga 8%.  Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI Kliping Berita Terkait : 1. Empat Peneliti LIPI Dikukuhkan sebagai Profesor Riset http://lipi.go.id/siaranpress/Empat-Peneliti-LIPI-Dikukuhkan-sebagai-Profesor-Riset/21743 2. LIPI Tambah Empat Profesor Riset https://kompas.id/baca/humaniora/2019/08/20/lipi-tambah-4-profesor-riset 3. Profesor Riset Diharapkan Mampu Bawa LIPI Mengglobal dan Memasyarakat http://lipi.go.id/berita/Profesor-Riset-Diharapkan-Mampu-Bawa-LIPI-Mengglobal-dan-Memasyarakat/21746 4. LIPI kukuhkan empat profesor riset https://www.antaranews.com/berita/1020974/lipi-kukuhkan-empat-profesor-riset 5. LIPI: Pengembangan zat aditif penghemat BBM minyak atsiri ditingkatkan https://www.antaranews.com/berita/1021996/lipi-pengembangan-zat-aditif-penghemat-bbm-minyak-atsiri-ditingkatkan 6. LIPI: Indonesia berpotensi jadi pemain utama bisnis minyak atsiri https://www.antaranews.com/berita/1021960/lipi-indonesia-berpotensi-jadi-pemain-utama-bisnis-minyak-atsiri 7. LIPI Kukuhkan Empat Profesor Riset https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/zNAVXe3b-lipi-kukuhkan-empat-profesor-riset 8. Prosedur Pengajuan Profesor Riset Cukup Dua Bulan Saja https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/VNnQOGXK-prosedur-pengajuan-profesor-riset-cukup-dua-bulan-saja 9. LIPI Dorong Penambahan Pengukuhan Profesor Riset https://www.gatra.com/detail/news/438820/technology/lipi-dorong-penambahan-pengukuhan-profesor-riset 10. Indonesia Sumber Potensi Penemuan Obat Baru http://www.galamedianews.com/nasional/231695/indonesia-sumber-potensi-penemuan-obat-baru.html 11. Peneliti LIPI: Indonesia sumber potensial penemuan obat baru https://www.antaranews.com/berita/1021826/peneliti-lipi-indonesia-sumber-potensial-penemuan-obat-baru 12. Peneliti LIPI: Tumbuhan Indonesia Mengandung Senyawa Antikanker dan Antimalaria https://news.trubus.id/baca/30978/peneliti-lipi-tumbuhan-indonesia-mengandung-senyawa-antikanker-dan-antimalaria 13. Peneliti LIPI temukan bahan baku obat anti kanker https://www.antaranews.com/berita/1021760/peneliti-lipi-temukan-bahan-baku-obat-anti-kanker 14. Peneliti LIPI ubah air gambut jadi layak dikonsumsi https://bengkulu.antaranews.com/nasional/berita/1021740/peneliti-lipi-ubah-air-gambut-jadi-layak-dikonsumsi?utm_source=antaranews&utm_medium=nasional&utm_campaign=antaranews 15. Peneliti LIPI Kembangkan Obat Berbasis Keanekaragaman Hayati Indonesia https://news.trubus.id/baca/30975/peneliti-lipi-kembangkan-obat-berbasis-keanekaragaman-hayati-indonesia 16. LIPI Siap Fasilitasi Para Peneliti dalam Lakukan Riset https://akurat.co/iptek/id-731675-read-lipi-siap-fasilitasi-para-peneliti-dalam-lakukan-riset 17. Peneliti LIPI Rancang Instalasi Pengolahan Air Gambut Jadi Air Baku https://news.trubus.id/baca/30969/peneliti-lipi-rancang-instalasi-pengolahan-air-gambut-jadi-air-baku 18. Tumbuhan Indonesia Miliki Senyawa Antikanker dan Antimalaria https://www.beritasatu.com/nasional/570618/tumbuhan-indonesia-miliki-senyawa-antikanker-dan-antimalaria 19. Peneliti LIPI Ungkap Rumitnya Penelitian pada Tumbuhan untuk Bahan Baku Obat https://www.liputan6.com/health/read/4042488/peneliti-lipi-ungkap-rumitnya-penelitian-pada-tumbuhan-untuk-bahan-baku-obat?related=dable&utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.1&utm_referrer= 20. Peneliti LIPI Temukan Bahan Baku Obat Kanker http://www.koran-jakarta.com/peneliti-lipi-temukan-bahan-baku-obat-kanker/ 21. Senyawa Tanaman yang Ada di Indonesia Ini Berpotensi Jadi Obat Kanker https://www.liputan6.com/health/read/4042442/senyawa-tanaman-yang-ada-di-indonesia-ini-berpotensi-jadi-obat-kanker?related=dable&utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.1&utm_referrer= 22. LIPI: Calophyllum Mengandung Senyawa Aktif Antikanker https://www.republika.co.id/berita/trendtek/sains-trendtek/19/08/20/pwjat5414-lipi-calophyllum-mengandung-senyawa-aktif-antikanker   23. LIPI Kukuhkan Empat Peneliti Jadi Profesor Riset https://serpongupdate.com/lipi-kukuhkan-4-peneliti-jadi-profesor-riset/   24. Peneliti LIPI Temukan Bahan Baku Obat Anti Kanker https://infoteknologi.suarasurabaya.net/news/2019/224964-Peneliti-LIPI-Temukan-Bahan-Baku-Obat-Anti-Kanker 25. Peneliti LIPI Temukan Bahan Baku Obat Anti Kanker Salah Satunya dari Gunung Kerinci https://metrojambi.com/read/2019/08/20/46512/peneliti-lipi-temukan-bahan-baku-obat-anti-kanker-salah-satunya-dari-gunung-kerinci 26. Bahan Alam untuk Obat Herbal Antikanker http://lipi.go.id/berita/Bahan-Alam-untuk-Obat-Herbal-Antikanker/21750

Baca

34 PNS LIPI Serpong Terima Satyalancana Karya Satya


19 Agustus 2019

Serpong, Humas LIPI. Sebanyak 34 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) LIPI kawasan Serpong menerima penghargaan Satyalancana Karya Satya (SLKS). Pemberian tanda kehormatan tersebut diberikan oleh Deputi Bidang Jasa ilmiah Mego Pinandito, di Puspiptek, Serpong, Banten, pada Sabtu (17/8). “Penghargaan SLKS adalah sebuah penghargaan dari Presiden RI, Joko Widodo langsung ditandatangani oleh beliau kepada bapak ibu semuanya. Karena bapak ibu telah berkarya untuk LIPI dengan jujur, semangat, dan penuh prestasi,” ujar Mego. Di LIPI kawasan Serpong disampaikan tanda kehormatan bagi 34 orang PNS, dengan perincian empat orang peraih tanda kehormatan XXX tahun, enam orang tanda kehoramtan XX tahun, dan 24 orang tanda kehormatan X tahun. Bagi penerima anugrah SLKS, Mego berharap tetap semangat karena masih ada tugas lain, masih ada tantangan-tantangan ke depan agar semua bisa memberikan yang terbaik. LIPI juga mengharapkan pimpinan-pimpinan satuan kerja, pejabat-pejabat struktural, pejabat fungsional, dapat memberikan arahan sebuah penyemangat untuk lebih berkarya. “Mari bersama-sama bergandengan tangan, bersinergi untuk mencari hasil-hasil yang lebih baik lagi. Mendapatkan sebuah capaian-capaian kinerja yang seharusnya ekselen, menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita semua,” ujarnya. (har, ed. adl)

Baca

LIPI Kembangkan Produksi Etanol di Muna


12 Agustus 2019

Raha - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Muna, untuk mengembangkan produksi nira aren menjadi etanol. Diwawancarai jurnalis koran ini, Senin (9/8), Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Arthur Ario Lelono, Ph.D mengatakan, Muna memiliki potensi komoditi aren yang cukup melipah untuk dieksplorasi, bukan hanya menghasilkan alkohol semata namun dapat ditingkatkan kegunaannya untuk subsidi bahan bakar energi gas atau minyak maupun untuk kebutuhan farmasi. Tahun ini kata Arthur, LIPI bekerja sama dengan Pemkab Muna melalui pemanfaatan teknologi pengolahan (penyaringan) nira aren menjadi bioetanol untuk mendapatkan kualitas etanol yang lebih baik. LIPI adalah provider teknologi, kita menyiapkan teknologi pengolahan nira aren menjadi etanol. Jika penyulingan di masyarakat saat ini kualitas etanol hanya diperoleh 5 - 10 persen saja, maka dengan adanya teknologi dari LIPI, maka konsentrasi etanolnya dapat kita tingkatkan sampai 40 persen sehingga akan menambah nilai tambah bagi produksi etanol di masyarakat," kata Arthur. Sementara itu Pemkab Muna melaui Plt. Sekda Muna. Ali Basa, sangat menyambut positif kerja sama ini. Ia berharap potensi sumber daya alam Kabupaten Muua utamanya aren, mete, dan komoditi lainnya dapat ditingkatkan nilainya melalui teknologi pengolahan yang akan digagas bersama LIPI. "Kalau selamani nira aren kebanyakan diproduksi menjadi arak, maka kita berharap masuknya teknologi dari LIPI ini akan merubah cari berfikir masyarakat, di mana nira aren ini dapat dikembangan untuk etanol," harap Ali Basa. (sra/ ed. fn) Sumber : Sultra Raya (08 Agustus 2910)  

Baca

Ghozali Peneliti Kimia LIPI Kupas Plastik Kresek untuk Daging Qurban


12 Agustus 2019

Serpong, Humas LIPI. Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI dengan bidang Kimia Polimer, Muhammad Ghozali, kupas mengenai plastik kresek konvensional yang digunakan untuk membungkus daging qurban di masyarakat. Berikut empat artikel Ghozali yang diwawancarai oleh detikHealth. Bungkus Daging Kurban dengan Kresek Hitam Bisa Picu Kanker? Ini Faktanya Bungkus daging kurban dengan kresek. Foto: Masjid Al Azhar Bagikan Daging Kurban ke 2.000 Orang (Yulida-detikcom) Jakarta - Perayaan Idul Adha biasanya identik dengan pembagian daging kurban. Biasanya bungkusan daging akan dibagikan ke setiap rumah warga dengan menggunakan kantong kresek. Tapi tunggu dulu, coba perhatikan warna kantong kresek yang Anda terima, apakah berwarna hitam?Pemprov DKI Jakarta mengeluarkan larangan mengenai penggunaan kresek hitam saat pembagian daging kurban. Selain tidak ramah untuk lingkungan juga bisa berbahaya untuk kesehatan. Peneliti Bioplastik Muhammad Ghozali, MT dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian Kimia mengatakan, dalam pelentur plastik terdapat zat karsinogen yang merupakan zat pemicu kanker. "Biasanya kanker, zat ini termasuk dalam pelentur plastik. Karena memang paling cocok dan ideal untuk pelentur plastik," katanya saat diwawancarai detikHealth. Jumat (2/8/2019). Semua kresek apapun warnanya memiliki zat pelentur agar bisa elastis. Tapi kenapa kresek hitam lebih berbahaya dibanding kresek warna lainnya? "Sebenarnya plastik itu warnanya bening dari awal. Kresek hitam ini sudah mengalami 4 sampai 5 recycle. Makanya warnanya jadi hitam, kasar-kasar dan baunya busuk," kata Ghozali.Ia juga menambahkan, kantong kresek hitam biasanya berbahan HDPE (High Density Polyethylene) yang memang tidak dianjurkan untuk bersentuhan langsung dengan makanan. Karena ditakutkan ada migrasi zat-zat berbahaya dari kresek hitam ke daging kurban. (Kintan Nabila) https://health.detik.com/read/2019/08/09/072153/4658463/763/bungkus-daging-kurban-dengan-kresek-hitam-bisa-picu-kanker-ini-faktanya   Benarkah Kresek Hitam Lebih Berbahaya dari Kresek Warna Lainnya?   Kresek hitam lebih tidak sehat dibanding kresek warna lain? (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)   Jakarta - Kresek hitam tidak dianjurkan sebagai pembungkus makanan karena mengandung zat pemicu kanker. Lantas bagaimana dengan warna kresek lainnya, apakah sama bahayanya? Lalu kresek warna apa yang aman untuk wadah makanan? Peneliti Bioplastik Muhammad Ghozali, MT dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian Kimia mengatakan, sebetulnya warna bukan acuan pasti apakah kresek tergolong aman atau berbahaya sebagai pembungkus makanan. Sebagian besar kantong kresek biasanya jenis HDPE (High Density Polyethylene) dan telah berkali-kali mengalami proses daur ulang. Seberapa bahanyanya kresek tersebut bisa dilihat dari teksturnya yang semakin tebal, tidak elastis atau mudah sobek, kasar, dan berbau. "Kita kan tidak tahu saat di recycle itu bahannya dari mana. Walaupun sudah dicuci tapi ditakutkan ada migrasi zat-zat dari recycle tersebut," katanya saat diwawancarai detikHealth baru-baru ini.Kresek hitam biasanya sudah didaur ulang sebanyak 4 sampai 5 kali. Sementara proses daur ulang kresek berwarna tidak sesering kresek hitam."Itu kan sudah ditambah zat pewarna, bahannya HDPE juga. Kresek warna merah atau belang-belang juga berbahaya, tapi tidak seberbahaya yang warna hitam," katanya.Lantas, plastik jenis apa yang paling aman untuk pembungkus makanan? Ghozali menyarankan, plastik jenis LDPE (Low Density Polyethylene) atau HDPE grade satu. Jenis plastik ini masih virgin dan belum ada campuran zat apapun dari proses daur ulang."Plastik yang bening putih itukan biasanya bahannya LDPE, itu enggak apa-apa aman. Karena plastikya sudah foodgrade dari awal dan memang khusus untuk makanan," pungkasnya. (Kintan Nabila) https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4660270/benarkah-kresek-hitam-lebih-berbahaya-dari-kresek-warna-lainnya   Alasan Ilmiah di Balik Larangan Kresek Hitam untuk Bungkus Daging      Plastik hitam bukan untuk membungkus makanan, termasuk daging kurban. (Foto: Thinkstock)   Jakarta - Pembagian daging kurban menjadi momen yang ditunggu-tunggu di hari raya Idul Adha ini. Namun, beberapa orang mungkin khawatir akan menerima daging dengan kresek hitam. Faktanya, pembungkus makanan yang paling aman adalah wadah yang berbahan food grade. Apakah kresek hitam termasuk food grade? "Banyak plastik yang beredar, yang kresek hitam itu, bukan food grade. Artinya kalau dia kontak dengan makanan maka komponen dari plastik itu pun, yang digunakan untuk membuat plastik akan terlucuti dan masuk ke dalam makanan," tutur ahli teknologi pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi. Food grade, artinya bahan tersebut memang dibuat khusus untuk bersentuhan langsung dengan pangan. Makanan yang ditempatkan dengan wadah food grade teksturnya akan tetap baik dan tidak membahayakan kesehatan, karena tidak adanya kandungan zat berbahaya yang bermigrasi ke dalam makanan.  Zat-zat apa saja yang ada di kantong kresek hitam? Kresek hitam biasanya berbahan polivinil klorida yang secara internasional telah dianggap sebagai zat berbahaya bagi kesehatan. Selain itu zat yang ada dalam pelenturnya juga tak kalah berbahaya. Peneliti Bioplastik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian Kimia, Muhammad Ghozali, MT, mengatakan bahwa dalam pelentur plastik terdapat zat karsinogen yang merupakan zat pemicu kanker."Biasanya kanker, zat ini termasuk dalam pelentur plastik. Karena memang paling cocok dan ideal untuk pelentur plastik," katanya.Selain itu, kantong kresek hitam biasanya sudah di didaur ulang sebanyak empat sampai lima kali. Penggunaan sebelumnya pun seringkali tidak diketahui. Bisa jadi dari wadah pestisida, limbah, logam berat, dan sebagainya. Semakin sering kresek di daur ulang, teksturnya akan menjadi tebal, tidak elastis atau mudah sobek, kasar, dan berbau.  https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4661137/alasan-ilmiah-di-balik-larangan-kresek-hitam-untuk-bungkus-daging Bioplastik Ramah Lingkungan, Tapi Tetap Bukan untuk Bungkus Daging Kurban   Daging kurban yang dibungkus plastik. Foto: Lamhot Aritonang   Jakarta - Bioplastik adalah plastik ramah lingkungan yang dibuat dari bahan alami organik, seperti serat singkong, sawit atau minyak nabati. Plastik ini ramah lingkungan karena hanya memerlukan waktu singkat untuk terurai. Namun faktanya, bioplastik ternyata berbahaya untuk digunakan sebagai pembungkus makanan.Peneliti Bioplastik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian Kimia, Muhammad Ghozali, MT mengatakan bahwa plastik dari singkong sebenarnya bukan jenis plastik yang disarankan untuk bersentuhan langsung dengan makanan, apa alasannya?Bioplastik rentan terhadap air dan kelembapan karena ia bisa terurai lebih cepat dari plastik pada umumnya. Saat terurai, daging akan menyerap zat-zat berbahaya yang terkandung dalam plastik."Itu kan dibungkusnya lama, sore atau malemnya baru dibagiin. Nah plastiknya pasti sudah terdegradasi juga dan zat nya bermigrasi ke daging," katanya pada detikHealth baru-baru ini.Biarpun disebut ramah lingkungan, komposisi bioplastik ini tidak hanya bahan organik seperti singkong saja namun tetap ditambahkan pelentur dan zat aditifnya.Untuk pembungkus daging kurban, Ghozali menyarankan agar masyarakat menggunakan plastik berbasis foodgrade seperti jenis LDPE (Low Density Polyethylene) yang memang khusus dibuat untuk makanan."Biarpun kurang ramah lingkungan, plastik bening LDPE aman. Tapi kalo misalkan kita mau peduli lingkungan bisa bawa sendiri dari besek atau mangkok," pungkasnya. (Kintan Nabila) https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4661407/bioplastik-ramah-lingkungan-tapi-tetap-bukan-untuk-bungkus-daging-kurban

Baca

Peneliti Kimia LIPI Tampilkan Hasil Riset dan Isi Talkshow dalam ITD Expo 2019


25 Juli 2019

Jakarta, Humas LIPI. Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menggelar acara pameran hasil-hasil penelitian skala laboratorium dan skala industri yang didanai dari Program Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional (INSINAS) dan Program Pengembangan Teknologi Industri (PPTI) di Main Atrium LIPPO Mall Puri, Jakarta Barat. Acara yang bertajuk “Industrial Technology Development (ITD) Expo 2019” berlangsung selama dua hari, 24 - 25 Juli 2019. Beberapa hasil riset satker LIPI Kawasan Serpong turut berpartisipasi dalam pameran tersebut. “JOZA, krim antiselulit”, hasil penelitian Dr. Yenny Meliana dari Pusat Penelitian Kimia LIPI. Sementara dari Pusat Penelitian Fisika menampilkan “Sensor Kebencanaan, penelitian Optoelektronik”, hasil penelitian Dr. Bambang Widiyatmoko, “Baterai Lithium Merah Putih”, hasil penelitian Dr. Bambang Prihandoko, dan Nanobubble hasil penelitian Prof. Nurul Taufiqu Rochman. Selain berpartisipasi dalam pameran, Yenny Meliana yang merupakan anggota tim pengkaji bahan kimia di Konvensi Rotterdam PBB, menjadi salah satu narasumber yang tampil pada acara talkshow ‘Industry x Research’. Yenny berbagi kisah melakukan penelitian krim antiselulit dari bahan alami ekstrak jahe dan pegagan dari mulai merintis, uji coba dan uji klinis formulasi penelitian tersebut sampai 5 tahun, hingga menjadi produk yang siap dipasarkan bersama mitra industri PT Nanotech Herbal Indonesia. Dengan diadakannya acara pameran dan talkshow di LIPPO Mall Puri ini diharapkan masyarakat bisa memperoleh pengetahuan tambahan terkait kebijakan dan program pemerintah yang selalu mendorong kegiatan penelitian, demikian Muhammad Dimyati selaku Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti mengungkapkan dalam pembukaan acara. (es/ ed. adl)

Baca

IHT Public Speaking dan MC di P2 Kimia - LIPI


25 Juli 2019

Serpong, Humas LIPI. Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia – LIPI) menyelenggarakan In House Training (IHT) “Public Speaking and MC” di Puspiptek Serpong, pada Selasa hingga Kamis (23-35/7). “Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan presentasi peneliti terkait penelitiannya di depan audiens yang bukan dari kalangan ilmiah. Kami juga berharap perlu menambah personel yang bisa memandu acara atau master of ceremony (MC), agar tidak terlalu bergantung dengan humas kawasan”, sebut Dini Chandra Sekar, selaku Kasubbagian Tata Usaha dalam sambutannya. IHT “Public Speaking dan MC” diikuti oleh 30 orang peserta yang terdiri dari para peneliti P2 Kimia – LIPI dan bagian administrasi. Selama pelatihan, peserta didampingi oleh dua fasilitator dari Tutur Indonesia yaitu Izzaty Zephaniah yang menyampaikan ‘Public Speaking for Beginners’ dan ‘Becoming a Great Master Ceremonies Course: English and Indonesian’, serta Arif Irshadi yang menyampaikan ‘Business English Communication Skiils Course: Presentation’. Fasilitator Izzaty Zephaniah berpendapat bahwa peserta LIPI, baik yang bekerja sebagai staf karyawan maupun sebagai peneliti, sangat membutuhkan public speaking, karena akan sering berkesempatan untuk berbicara di depan publik. Berbagi tentang berbagai materi. “Public speaking penting dan bukan hanya bisa, tetapi juga betul-betul mampu untuk mempunyai kemampuan mempersuasi audiensnya, mengedukasi, bahkan sesekali menghibur. Jadi bukan serta-merta sekedar berbicara, tetapi ada tujuan-tujuan lain yang lebih spesial,” jelas Izzaty.  Sementara terkait MC, peserta LIPI diperkenalkan agar dapat menambah keahlian baru. “Siapa tahu kedepannya bisa berkesempatan untuk memandu acara-acara LIPI, sehingga jejaring atau relasinya bisa bertambah karena  pekerjaan MC yang dilakukan,” terang Izzaty.   Izzaty berharap mereka yang tidak begitu tertarik dengan kemampuan berkomunikasi (communication skill), sekarang menjadi tertarik dan mau bahkan untuk mendalami. Dalam tiga hari pelatihan ini, peserta memang tidak diberikan materi terlalu mendalam karena waktunya yang singkat. Paling tidak peserta bisa menjadi lebih menyadari akan pentingnya kemampuan berkomunikasi yang baik.  “Semoga peserta LIPI di sini bisa mengajak atau mempengaruhi teman-teman LIPI yang lain, khususnya untuk juga mengembangkan kemampuan komunikasinya. Karena kemampuan komunikasi bukan hanya dipunyai oleh orang komunikasi atau pun praktisi komunikasi, tetapi untuk semua orang,” tambahnya. Pada kesempatan tersebut, salah seorang peserta mengungkapkan bahwa dirinya menyambut baik adanya pelatihan ini. “Sebagai peneliti, biasanya berfokus pada penelitian, studi literatur, kemudian menerbitkan jurnal. Tugas penelitian juga untuk mendiseminasi hasil penelitian kami ke masyarakat umumnya, sehingga butuh kemampuan public speaking. Selain itu kemampuan public speaking itu sangat perlu ketika presentasi untuk monitoring dan evaluasi (monev), konferensi, atau ketika diundang sebagai pembicara,” terangnya. Jika ada pelatihan lagi, salah seorang peserta menginginkan kelas intensif dengan durasi yang lebih lama dan lebih banyak praktik. Ditambahkan juga pelatihan teknik wawancara, karena sebagai peneliti mendapat sumber data wawancara. Topik yang dikupas selama tiga hari adalah praktik presentasi dalam bahasa Indonesia, presentasi dalam bahasa Inggris, kemudian ditambah dengan MC. Respons peserta sangat positif, jika pada awalnya ada yang mengikuti pelatihan karena diminta hadir, hari berikutnya datang karena kemauan sendiri, dan ingin menimba ilmu komunikasi di lain kesempatan. (har/ ed. adl)

Baca

Yenny Meliana Tampil dalam Epiode Wanita Penemu di MTLB


18 Juli 2019

Jakarta, Humas LIPI. Dr. Yenny Meliana yang akrab dipanggil Melly, pada Rabu (17/07) melakukan syuting rekaman di Studio 3, Rajawali Televisi (RTV), Jakarta dalam acara Michael Tjandra Luar Biasa. Melly bersama bintang tamu yang lainnya, Dewi Nur Aisyah, peneliti dan travel blogger, berbagi kisah bagaimana menjadi ilmuwan perempuan. Dalam acara bincang-bincang dengan host Michael, Melly menceritakan topik penelitiannya mengenai formulasi bahan baku antimalaria dari tanaman Artmeisia annua. Dengan teknologi nano, Melly dan tim risetnya berupaya membuat bahan baku obat yang berkualitas namun dengan harga produksi yang lebih rendah. Dalam sesi berikutnya, Melly mengajarkan Michael cara membuat ekstrak dari bahan alami yang mudah ditemui sehari-hari, seperti semangka, manggis, dan serai. Praktik mengekstrak tersebut menggunakan peralatan gelas sederhana dari laboratorium. Pada akhir acara, Melly berpesan kepada audiens yang umumnya pelajar dan mahasiswa agar tidak mudah menyerah. Dia pun mengakui bahwa lebih banyak menemui kegagalan saat melakukan formulasi di lab. “Namun  saat formula kita berhasil, semua kegagalan itu akan terbayarkan,” ujar Melly. (adl)

Baca

Pembahasan Reward and Punishment Layanan Publik LIPI


16 Juli 2019

Serpong, Humas LIPI. Pelaksana Tugas Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat (BKHH) LIPI, Mila Kencana selaku Ketua Pokja Layanan Publik LIPI telah mengundang beberapa kelompok kerja (pokja) LIPI yang terkait layanan untuk hadir pada Selasa, 16 Juli 2019 di Ruang Rapat lantai 2 Pusat Penelitian Kimia LIPI dalam agenda pembahasan mekanisme reward dan punishment layanan publik LIPI. Mila yang berhalangan hadir diwakili oleh Kepala Bagian Humas, Dwie Irmawaty Gultom. Irma yang membuka dan sekaligus memimpin rapat ini menyampaikan terimakasih atas kehadiran para ketua pokja dan mengharapkan masukan-masukan atau perbaikan dalam penyusunan mekanisme reward and punishment layanan publik  LIPI. Mekanisme pemberian reward and punishment layanan publik termasuk usulan tim Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB).  “Mengapa perlu diberikan reward dan punishment?," tanya Hiskia dari Inspektorat LIPI. "Tujuannya adalah untuk meningkatkan layanan publik," jelasnya. Jika petugas layanan layanan publik menerima reward and punishment, ada indikator seperti hukum pada peneliti. Tentunya standar hukumnya berkaitan dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 53 tentang disiplin aparatur sipil negara (ASN). "Sebenarnya di LIPI sudah mendapatkan sistem reward yaitu berupa tunjangan kinerja (tukin)dan punishmentnya tergantung dari kinerja, seperti pemotongan tukin,” lanjut Hiskia.  Jadi mekanisme reward dan punishment layanan publik harus dibedakan dengan tunjangan kinerja.  Pemberian reward dan punishment harus dipastikan ranahnya dan tidak melanggar peraturan kepala (perka) yang ada. Misalnya mencegah pelayanan publik yang rawan gratifikasi, satuan layanan harus tertulis “tidak menerima pungutan” untuk menghindari bentrokan kepentingan. Menurut Srining Widati dari BKHH, pemberian reward dan punishment bisa dilihat dari 2 sisi yaitu petugas dan penerima layanan. Standar layanan yang ditetapkan harus jelas dalam pemberian layanan (prosedur, berbayar atau gratis, umum atau terbatas). Target pedoman mekanisme reward dan punishment harus sudah ada, termasuk penilaian tiap tahun bagi petugas layanan publik. Perka LIPI tahun 2015 tentang standar layanan minimal, setiapo satker sudah memiliki dan setiap tahun harus dievaluasi. LIPI telah mengeluarkan aturan tentang kompensasi terhadap petugas pelayanan minimal. Ajib Haryanto dari Pusat Pelayanan Inovasi dan IPTEK (PPII) mengusulkan reward diberikan apabila petugas layanan memeberikan kepuasan layanan yang dibuat melalui nilai pencapaian target minimal yang sudah ditentukan atau petugas layanan mampu menciptakan inovasi yang meningkatkan kemudahan dan kualitas layanan LIPI secara korporat.  Dari usulan-usulan sepanjang diskusi tersebut disimpulkan bahwa mekanisme pemberian reward and punishment dapat dilakukan oleh kepala satuan kerja (satker) yang melakukan pengawasan kepada staf pelaksanaan pelayanan publik. Kepala satker dapat membentuk tim untuk melakukan pemantauan pelaksanaan layanan di satkernya masing-masing. Penilaian dapat dilakukan oleh pokja layanan publik (BKHH) dengan melibatkan rekomendasi penilaian dari kepala satker dan manager kawasan. Pokja perlu menyiapkan instrumen penilaian dan pemeringkatan. Setelah ada finalisasi mekanisme reward and punishment, tim pokja akan mensosialisasikan kepada seluruh satker LIPI terkait layanan publik. (es/ ed. adl)

Baca

SMA Pradita Dirgantara Belajar dan Berwisata Ilmiah di P2 Kimia - LIPI


11 Juli 2019

Serpong, Humas LIPI. Saat Suasana pagi yang masih segar, Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2K - LIPI) menerima kunjungan dari SMA Pradita Dirgantara, Solo, pada Kamis (11/7) di Serpong, Banten. Terdapat rona keceriaan dan semangat pada mereka untuk mengenal P2K - LIPI lebih dekat. Kunjungan tersebut dilakukan untuk menambah wawasan dan pengalaman pembelajaran baru selain didapatkan di sekolah. Ke-50 orang siswa kelas XI dan 5 orang guru pembimbing diterima dan dibuka oleh Dini Chandra Sekar, Kepala Subbagian Tata Usaha P2 Kimia – LIPI. “Selamat datang dan selamat mengunjungi laboratorium yang ada di P2K,” sambutnya. Dini berharap pada kunjungan ini, siswa mendapatkan pengetahuan lebih yang dapat dimanfaatkan kedepannya. Sementara Sofa Fajriah, Manajer Mutu memaparkan bahwa P2 Kimia - LIPI terdiri dari delapan kelompok penelitian, yakni Catalysis and Material Chemistry, Biomass Energy, Polymer Chemistry, Analytic and Environment Chemistry, Food Chemistry, Natural Product Chemistry, Medical Chemistry, dan Technology Prosess Engineering. Ada empat gedung lab penelitian, yaitu lab P2 Kimia - LIPI, lab Standar Nasional Standar Ukuran (SNSU), Polymer Chemistry,  dan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Usai perkenalan, rombongan berkesempatan untuk melihat laboratorium seperti Lab Karakterisasi Material, Lab Gas Chromatography-Mass Spectrometry, Lab High Performance Liquid Chromatography, dan Lab Liquid Chromatography-Mass Spectrometry, Lab Bioetanol, dan Lab CPOTB. Pada kesempatan yang sama, Arif Sugianto selaku pembimbing berujar, “kami dari SMA Pradita Dirgantara belajar ke sini karena atas perintah B.J.Habibie, agar siswa untuk datang ke Puspiptek.” “Kami berharap siswa mendapat banyak ilmu pengetahuan baru karena mereka banyak bertanya,” tambahnya. Arif berharap setelah siswa kembali ke sekolah, mereka dapat mendiskusikan ilmu yang didapat di sini, kemudian mereka dapat mempresentasikan kepada adik-adik kelasnya. Sebelum pulang mengakhiri kunjungan mereka berkumpul kembali di ruangan untuk mengisi IKM (indeks kepuasan masyarakat) suatu kuesioner pengunjung tentang kepuasan layanan di P2K. Ketika ditanya tentang manfaat kegiatan kunjungan ini, salah seorang siswa berkata bahwa kegiatan ini dapat membuka wawasan ke arah depan bagi siswa, terutama di bidang Kimia. Indonesia membutuhkan teori dan praktis untuk dijadikan solusi dalam mengatasi berbagai macam permasalahan yang ada. Mudah-mudahan siswa-siswa ini kelak dapat menjadi penerus peneliti di bidang kimia yang tanggung jawab dan andal. (es,har/ ed. adl)

Baca

Supervisi PUI Bioetanol G2 di Puslit Kimia LIPI


05 Juli 2019

Serpong, Humas LIPI. Supervisi Pusat Unggulan Iptek (PUI) Bioetanol Generasi Dua (G2) dilaksanakan pada Rabu (3/7/2019) di Ruang Rapat lantai 2 Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2K - LIPI), Serpong. Acara diawali dengan sambutan Dini Chandra Sekar yang mewakili Pelaksana Tugas (Plt.) Kapus P2K - LIPI. Dini menyampaikan selamat datang dan selamat bekerja kepada para hadirin dan supervisor yang diwakili Paulus Tjakrawan dari Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Galuh Endah Palupi dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), dan Kartika Hasanah dari sekretariat PUI. Kemudian Galuh dari Kemenristekdikti turut memberikan sambutan, yang dilanjutkan paparan laporan oleh Arief A.R. Setiawan tentang kemajuan PUI Bioetanol G2 di tahun ketiga dan hambatan seiring reorganisasi sedang dilakukan di LIPI. Sesi berikutnya adalah diskusi dan masukan dari supervisor. Paulus menanggapi perubahan organisasi merupakan hambatan yang prinsipil dan solusinya cukup terasa karena jumlah struktur dan sumber daya manusia (SDM) berkurang drastis, bahkan Kepala Bidang Pengelolaan Penelitian merangkap Plt. Kepala P2K. Saat ini penelitian masih bisa memakai tenaga teknisi yang ada. Namun untuk diseminasi yang ada dalam struktur sekarang tidak ada lagi sehingga kekurangan SDM, sehingga perlu dicarikan solusi dalam masa transisi ini. “Produk-produk turunan dari proses bioetanol perlu ada kerjasama untuk tahap penelitian,” jelas Paulus. Terkait kerjasama pemanfaatan pilot plant bioetanol harus menggandeng Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit, saran Paulus sebelum kerjasama  harap menemui tim seleksi BPDP sawit, yaitu Darmono, lalu melakukan presentasi produk bioetanol dan turunannya. Sementara untuk diseminasi ke industri bisa mengundang asosiasi industri. Saat pengajuan dana ke BPDP untuk peralatan informal pun, perlu didorong selain dana pemeliharan. Terkait Standar Operasional Prosedur (SOP), diupayakan agar secepatnya dibuat SOP yang tersentralisasi mengikuti pusat. “Penerapan Komite Nasional Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (KNAPPP)  diharapkan segera terealisasi tahun ini,” tambah Paulus. Beliau juga menyarankan peneliti untuk mengikuti pelatihan public speaking, karena tanpa kemampuan bicara, sulit bagi pihak lain untuk percaya.  “Usulan dari Paulus perlu ditindaklanjuti, peneliti perlu dibekali dengan presentasi cara menjual, jadi bukan sekedar presentasi,” ujar Galuh. Menurutnya, bioetanol masih masih sangat dibutuhkan, karena isunya tidak hanya lingkungan tetapi juga ekonomi karena bisa mengurangi defisit perdagangan. Tak lupa Kartika dari sekretariat PUI mengingatkan bahwa laporan pertanggungjawaban dilakukan setiap bulan, dana bisa untuk membeli bahan namun tidak untuk honor bulanan. (es/ ed. adl)

Baca

Ekstrak Daun Cassia Terbukti Hentikan Infeksi Virus DBD


27 Juni 2019

Jakarta, Gatra.com -  Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit endemis di Indonesia yang disebabkan oleh virus dengue dari gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Sebenarnya, infeksi virus ini akan sembuh dengan sendirinya. Namun, justru akan semakin parah jika ada masalah kebocoran plasma atau pembuluh darah akibat DBD. Peneliti LIPI, Marissa Angelina, M.Farm, Apt melakukan penelitian pada disertasinya mengenai fungsi ekstrak daun cassia yang dapat menghentikan virus DBD agar tidak menjadi lebih parah. “Orang yang meninggal akibat DBD disebabkan oleh karena tingginya virus pada hari kedua infeksi. Jadi ada kebocoran plasma. Dengan pemberian obat ini di hari kedua, kita berharap dapat menekan infeksi virusnya. Mungkin demamnya masih ada, tapi virusnya sudah tidak banyak. Namun, memang ada kasus-kasus DBD yang dapat sembuh dengan sendirinya,” katanya di IMERI FKUI, Rabu (26/6). Tanaman ini sudah melalui uji coba pada hewan dan dalam jangka pendek tidak menimbulkan efek yang buruk. Termasuk dari toksisitas, setelah diteliti dalam waktu jangka pendek. “Saya sudah mengamati tidak ada kematian dari penelitian menggunakan dosis tertinggi sekalipun. Saya juga mengamati tidak ada perubahan pada fungsi ginjal, hati maupun enzim-enzim serta jaringan yang sudah diukur,” jelasnya. Secara empiris, orang awam sudah menggunakannya untuk penyakit kudis dan malaria tanpa melalui ekstrasi. Tetapi, memang tidak menggunakan takaran. “Penelitian disertasi ini juga bertujuan untuk memberitahu kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengonsumsi tanaman kesehatan. Selain karena dosis, penggunaan tanaman kesehatan yang berlebihan akan memicu toksisitas pada organ-organ di dalam,” imbuhnya. Reporter: Ryan Sara Pratiwi Editor: Wem Fernandez https://www.gatra.com/detail/news/424506/health/ekstrak-daun-cassia-terbukti-hentikan-infeksi-virus-dbd

Baca

Kunjungan Fisika FST UNAIR di P2 Kimia - LIPI


24 Juni 2019

Serpong, Humas LIPI. Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (Fisika FST Unair) Surabaya mengadakan kunjungan Wisata Iptek di Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2F-LIPI) di Gedung 452, Serpong, Banten, pada Kamis (24/6/2019). “Dalam kunjungan ini, kami berharap mendapat pembelajaran dan pasti banyak yang tertarik untuk mahasiswa menjadi peneliti di LIPI,” ungkap I Kadek Aris Candradinata, selaku ketua rombongan. Ke-30 orang mahasiswa  disambut dan dibuka oleh Dr. Sofa Fajriah, selaku Manajer Mutu dan para personil P2 Kimia - LIPI. Kemudian acara dilanjutkan dengan pemutaran video company profile mengenai fasilitas dan kemampuan lab puslit, dan berkesempatan melihat laboratorium: Lab Kimia Material dan Katalis; Lab Gas Chromatography-Mass Spectrometry, Lab High Performance Liquid Chromatography, dan Lab Liquid Chromatography-Mass Spectrometry, dan  Lab Nuclear Magnetic Ressonance. “Melihat lab P2 Kimia – LIPI, kami mendapat hal-hal baru. Ternyata pada pembelajaran teori dapat dipraktikkan melalui peralatan yang lebih sederhana. Kebetulan kami juga mendapat mata kuliah kimia di kampus kami,” kata I Kadek Aris. Ketua rombongan UNAIR tersebut merasa puas dengan apa yang disampaikan para peneliti. Mulai dari bagaimana prosedur mempraktikkan maupun mengaplikasikan peralatan lab. Pada kesempatan tersebut, ketua panitia Zakiatul Miskiah menyampaikan bahwa pihaknya sangat bersyukur dapat berkunjung ke lembaga penelitian milik pemerintah. “Saya dan teman-teman dapat belajar hal baru, dan nantinya bisa mencari link-link untuk penelitian dan skripsi. Semoga kami dapat melakukan kerja sama dengan LIPI, dan bekerja sebagai peneliti di LIPI”, harapnya. Selain berkunjung ke P2 Kimia - LIPI, pada waktu yang bersamaan sebagian rombongan UNAIR melakukan kunjungan ke P2 Kimia – LIPI. Sebelumnya seluruh rombongan menyaksikan selayang pandang Puspiptek di Pusat Informasi (PI) Kemenristekdikti. (har/ ed. adl)

Baca

Puslit Kimia LIPI Persiapkan Supervisi PUI Bioetanol G2 2019


20 Juni 2019

Serpong, Humas LIPI. Sejak pagi pukul 09.00 WIB, Rabu (20/06/2019), bertempat di Rumah Makan Remaja Kuring Ciater BSD, tim PUI (Pusat Unggulan IPTEK) Bioetanol G2 Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Puslit Kimia LIPI) mulai melakukan rapat koordinasi. Rapat tersebut dilakukan dalam rangka persiapan supervisi PUI Bioetanol G2. Prof. Yanni Sudiyani sebagai Pembina PUI mengutarakan pengantar bahwa pertemuan ini bertujuan untuk kelancaran pembuatan laporan PUI. “Dalam PUI, nilai atau poin yang bagus adalah di atas 800 poin, sehingga harus melaporkan apapun kegiatan yang menyangkut bioetanol, termasuk publikasi, paten, mahasiswa, dan lain-lain,” terang Prof. Yanni. Rapat dilanjutkan dengan paparan Muryanto sebagai ketua tim kerja B yaitu R & D Capacity tentang ringkasan dan rencana dan pembagian kerja tim. Koordinator Keltian Kimia Polimer Dr. Yenny Meliana memaparkan telah menerbitkan paper di Journal Plastic Rubber and Composites. Dr. Osi Arutanti mewakili Keltian Material dan Katalisis, menyampaikan capaian kegiatan antara lain kerja sama dengan Jepang dan menjadi pembicara di Bangkok. Keltian Energi dan Biomassa yang diwakili Eka Triwahyuni menyampaikan capaian hasil riset yaitu kerja sama dengan Pertamina berakhir Juli 2019 dengan penggunaan pilot plant untuk pengembangan bioetanol dan biobutanol, kegiatan Insinas, serta kerja sama dengan KIST - Korea. Joko Waluyo dari Keltian Lingkungan dan Analitik memaparkan hasil riset seperti LCA teh, pemanfaatan limbah lindi hitam untuk absorben limbah tekstil, dan kegiatan Insinas. Keltian Teknologi Proses diwakili Yan Irawan memaparkan capaian hasil riset yaitu kegiatan Insinas dan kerja sama dengan Pertamina. Dalam sesi diskusi mengenai pilot plant, sebaiknya bisa digunakan untuk proses produk yang akan didesiminasikan tidak hanya bioetanol, tetapi yang lain juga. Prof. Yanni turut mengusulkan ada kegiatan peningkatan kompetensi bagi tim PUI atau sivitas Puslit Kimia LIPI, seperti kursus bahasa Inggris atau public speaking. Rapat dilanjutkan dengan sesi pengisian target capaian PUI termasuk diseminasi. (es/ ed. adl)

Baca

Sinergi dan Kolaborasi Penelitian PUI Bioetanol G2 dan PUI Bioindustri Perkebunan


20 Juni 2019

Serpong, Humas LIPI. Bertempat di Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia – LIPI), Serpong, Banten, pada Rabu (19/06/2019) dilaksanakan penandatanganan perjanjian kerja sama Penelitian dan Pengembangan Produksi Bioetanol Generasi Kedua dari Limbah Tanaman Industri dan Penyegar. Naskah perjanjian kerjasama tersebut ditandatangani oleh Dr. Agus Haryono selaku Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) – LIPI dan Syafaruddin, Ph.D. selaku Kepala Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar – Kementerian Pertanian. Sinergi penelitian perlu dilakukan untuk mempermudah dan mempercepat komunikasi antar lembaga penelitian di Indonesia dalam membentuk kolaborasi riset yang lebih baik. Plt. Kepala P2 Kimia - LIPI yang diwakili oleh Kepala Subbagian Tata Usaha, Dini Chandra Sekar dalam pembukaanya menyampaikan bahwa PUI di P2 Kimia – LIPI ini merupakan tahun kedua sejak penetapannya sebagai PUI. “Kami senang dengan adanya kerja sama ini, karena sesuai dengan yang sudah diprogramkan oleh PUI, bahwa PUI perlu berkolaborasi dengan PUI lainnya,” ujar Dini. “Semoga dari hasil diskusi yang didapatkan pada hari ini menjadi langkah pertama untuk memulai kerja sama ini,” tambahnya. Sementara Dr. Agus Haryono dalam sambutannya menyatakan bahwa PUI Bioetanol generasi kedua ini adalah PUI pertama yang ada di P2 Kimia - LIPI. Sebagai informasi, masing-masing pusat yang ada di kedeputian IPT telah mempunyai satu PUI. Dr. Agus berharap masing-masing PUI bisa bersinergi dengan PUI yang lain yang ada di tempat lain. Termasuk yang ada di badan litbang di pertanian. Ini bisa saling mengoptimalkan potensi-potensi pada masing-masing PUI. Di P2 Kimia - LIPI diharapkan nanti tidak hanya PUI Bioetanol generasi kedua, tapi juga bisa muncul PUI-PUI baru yang dapat memunculkan keunggulan-keunggulan yang ada. “Sinergi semacam ini menjadi  penting guna mempermudah atau mempercepat komunikasi yg aktif antara lembaga-lembaga litbang dalam membentuk kolaborasi yang lebih baik,” tambah Deputi. Dalam kesempatan yang sama, Syafaruddin, Ph.D. berharap mendapat saran dan masukan dari teman-teman LIPI. Apabila memungkinkan kerja sama dengan LIPI dapat berlanjut lagi ke tahun dua, ketiga, hingga tahun-tahun berikutnya. (har/ ed. adl)

Baca

11 PNS P2 Kimia-LIPI Diambil Sumpah/Janji PNS


19 Juni 2019

Serpong, Humas LIPI. Rabu (19/06/2019), sebanyak 11 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia – LIPI) melaksanakan pengambilan sumpah/janji PNS, di R. Gamma, Gd. 442, Pusat Penelitian Fisika, Serpong, Banten. Pengambilan sumpah/janji tersebut dilakukan secara serentak bagi 41 orang PNS LIPI yang dipimpin oleh Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Dr. Agus Haryono. “Sumpah PNS ini merupakan pelaksanaan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen PNS Pasal 39 ayat 1 yang menyebutkan bahwa  setiap Calon PNS pada saat diangkat menjadi PNS wajib mengucapkan sumpah/janji,” ujar Dr. Agus. Dirinya menyatakan, para PNS LIPI akan bekerja sangat panjang sehingga diperlukan semangat untuk bekerja dari para PNS untuk mencapai keberhasilan LIPI serta kontribusi dalam memberikan sumbangsih kepada bangsa dan negara.”Semoga semangat yang telah diucapkan di dalam sumpah/janji PNS betul-betul meresap di dalam hati, betul-betul dirasakan pada keseharian kedinasan pada masing-masing kerjanya, dan semoga PNS dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya,” ujarnya. Pada acara pengambilan sumpah/janji PNS, turut hadir para pejabat struktural di lingkungan LIPI kawasan Serpong. Para pengambil sumpah/janji juga didampingi oleh rohaniwan dari agama Islam dan Katolik. Salah satu peserta mengungkapkan bahwa baginya setelah diambil sumpah/janji PNS tidak banyak berpengaruh bagi kinerjanya, karena sudah mengetahui tugas dan tanggung jawab PNS dari awal. “Mungkin setelah sumpah ini jadi lebih bertanggung jawab dengan Tuhan. Selama ini bertanggungjawabnya mungkin masih ke pimpinan,” tambahnya. Ke-11 orang PNS P2 Kimia-LIPI yang diambil sumpah/janji PNS yakni : Dr. Rizna Triana Dewi Dr. Yenny Meliana Dr. Dieni Mansur Joko Waluyo, M.T. Dr. Ajeng Arum Sari Adid Adep Dwiatmoko, Ph.D. Dian Muzdalifah, M.Sc. Zatil Afrah Athaillah, M.S. Muhammad Arifuddin Fitriady, S.T. Melati Septiyanti, M.T. Sri Fahmiati, S.T. (har/ ed. adl)

Baca
ZONA INTEGRITAS