Berita

Rakor LIPI dengan Pemprov Aceh, P2 Kimia Paparkan Teknologi Pengolahan Minyak Atsiri


19 Juli 2017

[Berita P2 Kimia, Banda Aceh] Sebagai bagian dari rangkaian acara “Rapat Koordinasi dan Pengembangan Pemerintah Aceh dan Tindak Lanjut Kerjasama LIPI dengan Pemerintah Provinsi Aceh” yang dilaksanakan di Banda Aceh 10-11 Juli 2017, Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) diminta  untuk memberikan pemaparan terkait standard pengolahan minyak nilam. Rapat koordinasi tersebut berlangsung di Kantor Bappeda Provinsi Aceh, dimana pada hari pertama, Senin (10/7) dibuka oleh Sekretaris Daerah Propinsi Aceh. Hari kedua, Selasa (11/7) merupakan sesi diskusi teknis antara pemangku kebijakan di Pemerintah Provinsi Aceh baik dari Bappeda maupun dinas-dinas terkait dengan para peneliti dari LIPI. Dari P2 Kimia, hadir dalam sesi diskusi ini yaitu Dr. Yenni Meliana selaku Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian, Teuku Beuna Bardant yang merupakan peneliti muda di P2 Kimia, dan Sujarwo, Ka Sub Bid Kerjasama. Sesi diskusi diawali dengan pemaparan yang merupakan panel antara P2 Kimia dengan Atsiri Research Center Universitas Syah Kuala. Yenni Meliana, mewakili P2 Kimia menyampaikan pemaparan mulai dari sejarah minyak nilam sampai dengan kegiatan-kegiatan apa saja yang sudah dilakukan oleh P2 Kimia dalam pengembangan teknologi penyulingan minyak atsiri. “P2 Kimia sudah lama melakukan penelitian dan pengembangan teknologi penyulingan minyak atsiri melalui bidang teknis yaitu bidang teknologi proses dan katalisis,” jelas Meli dalam pemaparannya. “Selain itu, kerjasama dengan berbagai stakeholder juga sudah kami lakukan baik dengan koperasi masyarakat maupun industri. Kami melakukan kerjasama pengolah minyak atsiri dengan stakeholder di Jawa Barat, Jawa Tengah bahkan sampai luar jawa mulai dari skala kecil sampai dengan skala industri,” tambah wanita yang juga merupakan peneliti madya di P2 Kimia. Dalam pemaparannya, Meli juga menjelaskan secara teknis bagaimana pengembangan yang sudah dilakukan oleh peneliti-peneliti di P2 Kimia untuk memperoleh ekstrak yang optimal dan berkualitas. “Tentunya, P2 Kimia juga sangat terbuka untuk melakukan kerjasama dengan Pemprov Aceh dalam pengembangan minyak nilam ke depannya,” tutupnya. Masih dalam sesi yang sama pada kesempatan berikutnya, disampaikan pemaparan oleh Direktur Atsiri Research Center, Dr. Syaifullah Muhammad terkait potensi minyak nilam di Provinsi Aceh. “Jika kita membaca literatur, maka minyak nilam dari Aceh ini merupakan minyak nilam dengan kualitas terbaik. Tetapi hal ini tidak berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani nilam,” papar Syaifullah dalam presentasinya. “Hal ini terjadi karena kita tidak memberikan perhatian secara khusus kepada sektor ini, terutama dalam hal tata niaga dan pengembangan produk. Minyak nilam petani dibeli dengan harga yang sama padahal kualitasnya berbeda-beda. Dalam hal ini petani tidak memiliki daya tawar apapun,” tambah pria yang juga merupakan dosen senior di Jurusan Teknik Kimia Universitas Syah Kuala Banda Aceh. Syaiful menceritakan bagaimana perjuangan yang dia bersama tim lakukan mulai dari awal pendirian Atsiri Research Center sampai dengan upaya untuk melakukan alih teknologi kepada masyarakat. “Bukan hal yang mudah untuk mentransformasi teknologi kepada masyarakat, kita harus menyesuaikan dengan kondisi real dan daya dukung yang ada di masyarakat. Untuk itu kita, baik akademisi, peneliti dan pemangku kebijakan harus terjun bersama secara telaten atau istiqomah dalam mendampingi masyarakat. Bukan hanya melakukan kegiatan sebatas seremonial, misalnya memberikan bantuan kemudian masyarakat kita tinggalkan tanpa pendampingan, hasilnya tidak akan ada,” jelas Syaiful dalam pemaparannya. Setelah para narasumber menyampaikan pemaparan, seluruh peserta diperkenankan untuk memberikan pertanyaan. Para peserta begitu antusias menyampaikan pertanyaannya kepada narasumber. Adapun pertanyaan-pertanyaan tersebut pun dijawab dengan baik oleh para narasumber. Untuk mengakhiri kegiatan yang berlangsung dari pagi sampai siang itu, dilakukan sesi foto bersama antara para narasumber. Acarapun ditutup oleh Kepala Bappeda Provinsi Aceh seiring berkumandangnya azan dhuhur dari Masjid Bappeda Provinsi Aceh. <SJW/p2kimia>

Baca

Ratusan Peserta PIRN Praktik Buat Sabun


17 Juli 2017

Ratusan siswa SMA sederajat se-Indonesia yang menjadi peserta Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) XVI praktik membuat sabun (batang) dan biodiesel. Agenda hari ke-4 PIRN 2017 yang bernama "Science Show" itu berlangsung pada Kamis (13/7/2017) sore di halaman SMA Negeri Modal Bangsa, Cot Geundreut, Aceh Besar. Sebanyak 400 siswa SMA dibagi ke dalam 20 kelompok dimana setiap kelompok terdiri atas 17 siswa. Setiap kelompok mendapat satu meja yang telah terisi dengan bahan eksperimen seperti minyak goreng, methanol, soda api, minyak atsiri, air mineral, dan alat untuk memanaskan. Peneliti dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Yenny Meliana kepada Serambi mengatakan, sabun dan biodiesel merupakan produk yang sangat berguna yang dapat diciptakan melalui proses sederhana. "Setiap kelompok siswa membuat sabun dari bahan sederhana. Sedangkan untuk biodiesel dicontohkan oleh instruktur," ujarnya. Yenny mengatakan, bahan untuk membuat sabun sangat sederhana yaitu minyak goreng, gula tebu, soda api (pembersih), dan glicerol (pengental). Sedangkan untuk biodiesel, bahan yang digunakan yakni minyak goreng dan methanol. Kedua percobaan direaksikan dengan cara dipanaskan di dalam panci berisi air. "Proses membuat sabun cepat, yang lama menunggu sabun itu membeku. Kalau biodiesel prosesnya sekitar 45 menit sampai 2 jam tergantung banyaknya bahan," jelas Dr Yenny, yang kesehariannya meneliti nano emulsi untuk pembuatan kosmetik, obat, dan cat di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong, Tangerang. Dr Yenny menambahkan, aroma sabun bisa disesuaikan dengan selera penggunanya. Apalagi katanya, Aceh terkenal kaya dengan minyak atsirinya seperti serai, pala, mawar, kenanga, melati, dan nilam. "Nilam bahkan lebih bagus sebagai pengikat aroma. Sehingga aroma sabunnya bisa tahan lama," ujarnya. Sementara Kepala Subbagian Pengayaan Ilmiah Masyarakat Biro Kerjasama Hukum dan Humas LIPI, Yutainten mengatakan, para peserta mendapat banyak pengalaman dalam kegiatan yang berlangsung dari 9 sampai 16 Juli 2017 di Aceh. "Mereka belajar selama satu minggu dari pemberian materi di kelas, ambil sampel, wawancara sumber, dan observasi lapangan," ujarnya. Dia mengatakan, karya ilmiah para siswa se-Indonesia itu akan diserahkan ke Pemerintah Aceh pada penutupan PIRN 2017, Jumat (14/7) di SMAN Modal Bangsa. "Ada sekitar 60 karya ilmiah gabungan siswa dan guru, hasil penelitian siswa di Lhokseudu, Lampulo, Lampisang, Lampaya, Lhoknga, dan Lamlhom," kata Yutainten. (*)   sumber : http://aceh.tribunnews.com/2017/07/14/ratusan-peserta-pirn-praktik-buat-sabun

Baca

Tandatangani Kerjasama, P2 Kimia dan BBPPTOOT Gali Potensi Tanaman Obat di Indonesia


21 Juni 2017

[Berita P2 Kimia, Bogor] Sabtu pagi (17/6) yang cerah, bertempat di Aula Kebun Tanaman Obat Citeureup Kabupaten Bogor, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan  Kementrian Kesehatan (Balitbangkes) membuka acara penandatanganan nota kesepahaman antara Balitbangkes dengan Universitas Muhammadiyah Purwokerto dan penandatanganan kerjasama antara Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI dengan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (BBPPTOOT). Sambutan dan pembukaan ini menjadi awal rangkaian acara yang berlangsung sampai tengah hari tersebut. Dalam sambutannya, Kepala Balitbangkes, Dr. Siswanto mengungkapkan kebahagiaannya mengingat acara tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam rangka mendukung program-program Kementrian Kesehatan untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakat. “Saya sangat bahagia Sabtu pagi ini, meskipun seharusnya libur, kita semua masih semangat untuk berkumpul dengan kolega-kolega. Ada yang datang dari jauh, dari Purwokerto, Tawangmangu dan dari Serpong untuk bersama-sama membangun masa depan kesehatan di Indonesia melalui pemanfaatan tanaman obat-obatan. Kita tahu bersama bahwa negeri kita tercinta diberikan anugerah dengan kekakayaan keanegaraman hayati yang banyak diantaranya berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai obat,” ungkap Pak Sis, sapaan akrab Kepala Balitbangkes. Selanjutnya Siswanto melanjutkan dengan memberikan pemaparan terkait kebijakan dan strategi Kementrian Kesehatan khususnya dalam pengembangan tanaman obat dan obat tradisional. Pada kesempatan kedua disampaikan sambutan sekaligus pempaparan oleh Dr. H. Syamsuhadi Irsyad, MH selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Syamsuhadi mengungkapkan harapannya terhadap Balitbangkes untuk membuka kesempatan kepada UMP agar dapat memberikan perannya dalam pengembangan dunia kesehatan di Indonesia. “Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang baru saja memiliki Fakultas Kedokteran sangat berharap agar dapat berperan dalam pengembangan dunia kesehatan. Tentunya kami sangat terbuka apabila lembaga-lembaga penelitian baik di Kemenkes maupun LIPI ingin bekerjasama dengan universitas kami. Apalagi saat ini di dunia kedokteran sudah mulai ada yang mengarah kepada pengobatan secara alami, dalam artian memanfaatkan tanaman-tanaman obat. Barangkali ke depannya, UMP memiliki arah untuk ke sana juga,” papar rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Pemaparan berikutnya disampaikan oleh Kepala Pusat Penelitian Kimia-LIPI, Dr. Eng Agus Haryono yang menyampaikan presentasi tentang kegiatan apa saja yang sudah dilakukan oleh P2 Kimia khususnya dalam pengembangan obat melalui Kelompok Keahlian Kimia Bahan Alam dan Farmasi. “Satuan kerja kami telah menempuh jalan yang panjang dan berliku dalam pengembangan obat, khususnya ekstrak tanaman-tanaman asli Indonesia untuk dapat dikembangkan sebagai bahan baku obat. Beberapa hasil penelitian dan pengembangan di P2 Kimia telah siap untuk memasuki studi klinis,” terang Agus dalam pemaparannya. Agus juga menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi oleh lembaga riset untuk membawa hasil penelitian obat yang dilakukan oleh para peneliti menjadi produk yang siap digunakan, mengingat biaya yang diperlukan sangat besar dan juga regulasi yang sangat ketat. “Kendala yang dihadapi oleh lembaga litbang seperti di LIPI dalam mengembangkan obat adalah saat memasuki studi klinis. Karena untuk pelaksanaannya memerlukan biaya yang sangat besar. Adapun untuk melakukan kerjasama dengan industri, di kita masih sangat terbatas industri farmasi yang siap mengalokasikan dananya untuk melakukan riset bersama dengan lembaga litbang. Untuk itu, kami berupaya terus mendekati industri dan mencoba meyakinkan mereka tentang hasil-hasil yang telah diperoleh. Seperti tahun ini, kami memulai kerjasama dengan salah satu perusahaan farmasi melalui pembiayaan yang diperoleh dari Kementrian Ristekdikti. Kami berharap, inisiasi semacam ini didukung dan diperkuat oleh Kemenkes sehingga semakin banyak hasil-hasil litbang yang termanfaatkan,” lanjut Agus yang juga merupakan peneliti dalam bidang polimer di P2 Kimia. Setelah pemaparan dari Kepala P2 Kimia, rangkaian acara memasuki agenda inti yaitu penandatanganan nota kesepahaman antara Balitbangkes dengan Universitas Muhammadiyan Purwokerto dan penandatangan kerjasama teknis antara Pusat Penelitian Kimia dengan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (BBPPTOOT). Adapun penandatanganan nota kesepahaman dilakukan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto dengan Kepala Balitbangkes, sedangkan penandatangan kerjasama teknis dilakukan oleh Kepala P2 Kimia dengan Kepala BBPPTOOT. Untuk mengakhiri rangkaian acara dari pagi hingga siang itu, dilakukan foto bersama semua pihak yang terlibat dalam kerjasama. Nampak hadir dalam penandatangan tersebut diantaranya Prof. Muhamad Hanafi, peneliti senior yang juga merupakan koordinator Kelompok Penelitian Kimia Bahan Alam dan Farmasi di P2 Kimia. Setelah itu, seluruh hadirin dipersilakan untuk berkeliling di Kebun Tanaman Obat Citeureup untuk melihat koleksi tanaman obat yang tersedia di area seluas kurang lebih 3 hektar tersebut. <SJW/p2kimia>

Baca

Optimalkan Eksplorasi Minyak, Peneliti P2 Kimia Paparkan Penelitian Teknologi EOR


21 Juni 2017

[Berita P2 Kimia, Jakarta] Indonesia terkenal akan Sumber Daya Alam (SDA) melimpah termasuk diantaranya adalah minyak bumi yang menjadi komoditi energi terbesar Indonesia. Namun, sebagai sumber energi yang tidak terbarukan (Non-renewable energy sources) dan isu berkembang menipisnya cadangan minyak bumi, maka penting adanya teknologi yang dapat mengubah paradigma teknologi dengan memaksimalkan hasil pengeksploran melalui teknologi baru yang disebut Enhanced Oil Recovery (EOR). Pusat Penelitian Kimia (P2K) LIPI memberikan kontribusinya melalui kerjasama yang dilakukan bersama-sama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (PPPTMGB) LEMIGAS untuk mengembangkan surfaktan yang diaplikasikan untuk teknologi EOR. Pada Senin (19/06), Tim Peneliti P2K LIPI yang terlibat dalam penelitian kerjasama pengembangan surfaktan untuk teknologi EOR yaitu Yan Irawan, M. Si, Egi Agustian, M. Eng dan M. Ghozali, M. T,  mempresentasikan kemajuan hasil penelitian yang berjudul “Bahan Aktif Permukaan Alkoksi Sulfonat Berbasis Nabati untuk Injeksi Kimia” dalam acara I-on-I meeting kegiatan Litbang Migas. Acara tersebut dibuka oleh Kepala Lemigas dan berlangsung selama satu hari pada pukul 09.00 – 12.00 WIB. Audiensi dari pertemuan  tersebut berasal dari beberapa lembaga diantaranya : Lemigas, SKK Migas, Dirjen Migas, Pertamina, dan PPIK ITB. "Surfaktan yang kami kembangkan telah diujicoba di kilang minyak dan menunjukkan hasil positif," papar Yan selaku koordinator kegiatan penelitian. "Untuk mengoptimalkan hasil, perlu dilakukan pengembangan lebih lanjutan seperti pengujian laboratorium, skrining formula surfaktan untuk injeksi kimia, pengembangan pada skala reaktor, serta penngembangan teknologi pada skala industri, " lanjutnya. Keikutsertaan P2K LIPI menunjukkan kontribusi LIPI sebagai lembaga penelitian pemerintah yang turut mendukung optimalisasi eksplorasi minyak sebagai sumber energi dan komoditi terbesar Indonesia. Ini juga menunjukkan eksistensi peran P2K LIPI bekerjasama dengan lembaga pemerintah lainnya demi pencapaian tujuan nasional untuk memajukan sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia.  (FA/ p2kimia)

Baca

Kiprah Peneliti-Peneliti Bertabur Paten


09 Juni 2017

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) punya seabrek peneliti. Total 1.666 orang. Ada yang sangat produktif dan menghasilkan banyak paten. TURUN dari mobil Toyota Innova hitam, Agus Haryono bergegas menuju ruang kerjanya di Pusat Penelitian (Puslit) Kimia LIPI di Serpong, Tangerang Selatan (12/5). Setelah menaruh tas, dia bergabung dengan beberapa koleganya untuk membahas riset-riset terkini di bidang kimia. Agus kini menjabat kepala Puslit Kimia LIPI. Pria kelahiran Pamekasan, 21 Februari 1969, itu adalah satu di antara top five peneliti LIPI dengan paten terbanyak. Hingga saat ini, Agus sudah mengantongi 22 hak paten dari riset yang dilakukannya. ’’Ada juga yang tim bersama teman-teman,’’ kata alumnus SMAN 2 Lumajang, Jawa Timur, tersebut. Putra mantan Bupati Bojonegoro Atlan itu mengawali karir di LIPI dengan berbekal ijazah SMA. Sebagai penerima beasiswa Habibie, Agus mendapat kesempatan kuliah ke luar negeri. Pilihannya Jepang atau Prancis. ’’Alasannya karena tidak terlalu menguasai bahasa Inggris,’’ tuturnya, lantas tertawa. Agus lolos seleksi dan kuliah di Waseda University, Jepang. Dia menempuh jurusan kimia. Dari jenjang S-1, dia melanjutkan sampai S-3 di Negeri Sakura. Agus mendapatkan lima paten selama di Jepang. Salah satunya adalah teknologi mereduksi kadar oksigen dalam sel bahan bakar (fuel cell). Teknologi itu mencegah kerusakan pada mesin dan membuat aliran listrik jadi maksimal. Bapak empat putra dan dua putri tersebut pulang ke tanah air pada 2002. Dua tahun kemudian Agus mendapatkan paten untuk sistem pelunak atau pengelastis plastik. ’’Paten saya membuat pelunak atau pelembut plastik dengan bahan dari minyak sawit,’’ jelasnya. Paten itu sudah diuji coba oleh perusahaan. Namun, kurang menguntungkan dari sisi bisnis. Cost-nya lebih besar daripada produk serupa yang berbahan minyak bumi. Agus juga menghasilkan paten tentang surfaktan berbahan sawit. Surfaktan adalah zat yang bisa menyatukan minyak dan air. Produk itu sudah diuji Pertamina untuk mengangkat sisa minyak yang menempel di sela-sela bebatuan. Bagi peneliti seperti Agus, paten sangat penting. ’’Untuk melindungi temuan. Perkara dipakai atau tidak oleh industri, itu belakangan,’’ katanya. Spesialis Paten Pangan Sosok hebat lainnya adalah Mukhammad Angwar. Dia peneliti senior di Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) LIPI di Jogjakarta. Angwar menjadi pegawai LIPI sejak 1979. Pria kelahiran Cirebon, 27 September 1958, itu spesialis riset bahan pangan. Dia memegang 14 paten. Paten pertama suami Cucu Herliani tersebut berkaitan dengan minuman seduh berbahan lidah buaya dan rosela (2005). Dia mengolah lidah buaya atau bunga rosela menjadi serbuk siap seduh. Rosela punya kandungan vitamin C tinggi. Bunga berwarna merah itu memproteksi kristal-kristal kolestrol sehingga tidak menyumbat pembuluh darah. Salah satu paten Angwar yang segera diakui internasional adalah teknologi pembuatan biskuit dengan bahan dasar tepung dari tempe. Riset yang sekarang berjalan adalah pengolahan kue pukis kaya serat. Bahan dasarnya mocaf atau tepung singkong yang difermentasi. Pukis kaya serat itu nanti menjadi camilan sehat. Khususnya bagi orang diet. ’’Cocok karena makan sedikit saja sudah cepat merasa kenyang,’’ jelasnya. Angwar bahagia ketika riset-risetnya bersinggungan dan dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. Minuman siap seduh rosela, misalnya, memacu masyarakat untuk menanam rosela. Sementara itu, teknologi tepung dari tempe dapat meningkatkan derajat konsumsi tempe dari sekadar digoreng atau dikukus. Seperti peneliti lainnya, lulusan S-1 Universitas Pasundan dan S-2 UGM itu sulit menghilirkan inovasinya ke dunia industri. Hilirisasi penelitiannya yang paling maju terkait dengan pemanfaatan tempe untuk sari kental manis. ’’Kita sampai sudah siapkan business plan-nya,’’ jelasnya. Namun, pihak industri meminta waktu untuk tes pasar. Jika laku, sangat mungkin diambil. Sebaliknya, jika tak laku, Angwar harus mendekati pelaku usaha lainnya. Tipe industri itu memang beda-beda. Ada yang ingin cepat balik modal. Caranya, menjual atau memanfaatkan teknologi yang sudah berkembang di pasaran. Di sisi lain, ada industri yang nekat memulai dari nol. Baik itu produk yang dijual maupun teknologinya. Separo Patennya Laku Lain lagi cerita Nurul Taufiqu Rochman. Dia telah memiliki 16 paten. Hebatnya, separo dari paten tersebut berhasil dikomersialkan. Salah satunya adalah yang berbasis teknologi nano. Nurul memiliki cara unik dalam mengomersialkan patennya. Yakni, membuat perusahaan pemula (start-up) sendiri. Namanya Nanotech Inovasi Indonesia. Karyawannya muda-muda. Di bawah 30 tahun. ’’Mereka saya rekrut awalnya dengan pemberian beasiswa,’’ ungkapnya. Setelah lulus, diangkat jadi pegawai. Jika kinerja bagus, promosi menjadi direktur. Setelah itu, jika kinerjanya moncer, dipasrahi perusahaan sendiri. Nanotech merambah berbagai usaha. Termasuk properti. Dua di kawasan Serpong dan satu di Serang. Nilai usaha Nanotech mencapai Rp 30 miliar. ’’Rekan-rekan mengira saya yang mengerjakan semuanya. Padahal tidak. Peran saya sedikit sekali,’’ kata peraih B.J. Habibie Technology Award 2014 itu. Pria kelahiran Malang, 5 Agustus 1970, tersebut mengungkapkan, ada investor yang menanamkan modal Rp 10 miliar. Tidak semua bisnis yang dikelola Nurul sukses. ’’Namanya orang usaha atau bisnis, risiko tidak untung itu selalu ada,’’ ujarnya. Lulusan S-1, S-2, dan S-3 Kagoshima University tersebut mendapatkan banyak ilmu soal komersialisasi hasil riset semasa di Jepang. Saat itu dia bekerja di lembaga riset milik pemerintah Kagoshima yang membidangi hilirisasi hasil riset ke 5.000 unit usaha kecil dan menengah. (*/c10/ca)     Sumber : http://www.jawapos.com/read/2017/05/15/130125/kiprah-peneliti-peneliti-bertabur-paten

Baca

Di Depan Perwakilan Pengajar Madrasah Se-Indonesia, Yenny Tekankan Pentingnya Riset Menjadi Bagian dari Kurikulum


06 Juni 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] “Kreativitas anak sering membuat kita terkagum kagum. Membuat kita semakin yakin bahwa cara berfikir lateral mereka perlu diwadahi dan diarahkan melalui dukungan., “ papar Dr. Yenni Meliana, peneliti madya Pusat Penelitian Kimia LIPI. “Misalnya saja salah satu juara Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diadakan LIPI tahun lalu, yaitu SMAN 80 Jakarta. Awalnya mereka datang dengan keinginan meneliti sampai seberapa besar cicak bisa menahan stress hingga akhirnya cicak tersebut memutuskan ekornya” lanjut Yenni saat memaparkan pentingnya pengembangan minat riset siswa. Yenni mengungkapkan hal tersebut saat menjadi pembicara acara “Pengembangan Kurikulum Madrasah Berasrama dan Riset” di Serpong, 31 Mei 2017. Acara ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama dan dihadiri oleh perwakilan guru guru dari madrasah tingkat Tsanawiyah dan Aliyah dari seluruh Indonesia. Dalam acara tersebut turut hadir para pejabat eselon IV yang menjadi Kepala kepala Seksi Kurikulum dan Evaluasi Subdirektorat Kurikulum dan Evaluasi Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, yaitu Kepala Seksi untuk tingkat Raudhatul Athfal, Dra Nanik Puji Hastuti M.Sc, untuk tingkat Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah, Imam Buchori M.Pd dan untuk tingkat Aliyah , Dr. H. Suwardi M.Pd. Yenni pun selanjutnya memaparkan perjuangan siswa SMAN 80 lebih lanjut. Dijelaskan olehnya, proposal siswa SMAN 80 Jakarta tersebut dinilai menarik oleh panelis LKIR LIPI. LIPI kemudian menunjuk salah seorang peneliti senior Pusat Penelitian Biologi yang merupakan pakar binatang melata, Dr Evy Ayu Arida, untuk membimbing mereka. Ibu Evy kemudian menyusun ulang metode riset siswa tersebut agar menjadi lebih beradab. Karena jika yang diukur adalah seberapa besar cicak bisa menahan stress, maka dalam melaksanakan penelitiannya cicak cicak tersebut akan disiksa sedemikian rupa hingga akhirnya mereka memutuskan ekornya. Dan itu adalah tindakan “biadab” terhadap cicak. Riset mereka kemudian berubah wujud menjadi Studi Pendahuluan Hubungan Daya Rekat Lamella Cicak Rumah Terhadap Tingkat Kekasaran Media Pijak Melalui Pengamatan Perilaku. Dalam judul baru ini, mereka berhasil menjadi juara II LKIR Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati. “Cerita tersebut salah satu bukti bahwa riset sangat perlu dicematkan secara erat di dalam kurikulum” lanjut Yenni. “Jika riset sudah menjadi bagian yang menyatu dengan kurikulum, maka siswa punya wadah yang sehat dalam menyalurkan ide ide kreatif mereka namun tidak keluar dari nilai nilai manusia yang beradab dan yang lebih utama lagi, tidak keluar dari nilai nilai Islam” simpul Yenni yang tampil bersahaja dalam kerudung putih. Hal ini sangat disetujui oleh ibu Nanik yang menjadi moderator dalam sesi pemaparan Yenni. “Kita memang sedang mengembangkan madrasah madrasah berasrama yang salah satu keunggulannya adalah pengembangan riset oleh siswa. Siswa yang tinggal di asrama memiliki keleluasaan lebih dari segi waktu dalam melaksanakan riset, tidak terbatas hanya jam sekolah dan di siang hari. Harapannya kelak hasil riset siswa siswa madrasah ini bisa bersaing di kancah nasional atau bahkan internasional” ungkap Nanik. Selanjutnya tim peneliti PP Kimia LIPI memperagakan beberapa percobaan kimia sederhana yang bisa dilakukan oleh para guru di sekolah mereka masing masing. Para guru diajak untuk ikut serta secara aktif dalam percobaan pembuatan sabun dan mengamati reaksi trans-esterifikasi dalam proses produksi biodiesel dari minyak goreng. Percobaan yang dilakukan menggunakan peralatan peralatan yang sangat mudah diperoleh seperti gelas plastic dan sumpit. Bahan yang digunakan juga adalah bahan bahan umum seperti minyak goreng, soda api, pewarna makanan, etanol dan methanol yang tidak harus dibeli di toko khusus menjual bahan kimia. Di akhir kegiatan percobaan kimia, tim peneliti PP Kimia LIPI menunjukkan bahwa melalui penelitian, kita juga dapat semakin meyakini kemuliaan ayat ayat Al Qur’an yang seyogyanya lebih dipahami oleh para guru madrasah daripada para peneliti. Hal ini terasa semakin khidmat karena disampaikan bertepatan dengan Bulan Ramadhan. Dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 35, Allaah mengibaratkan sebuah cahaya yang sangat terang dihasilkan dari sebuah lentera yang menyala dengan menggunakan bahan bakar dari minyak zaitun. Minyak zaitun, bukan minyak bumi. Sekiranya cukuplah pengibaratan tersebut menjadi pemandu dan pemicu semangat kita untuk mengembangkan bahan bakar dari sumber daya terbarukan, dari tumbuhan. Sebagaimana produksi biodiesel yang baru saja dicontohkan. “Allaah (Pemberi) Cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allaah adalah seperti sebuah ruang yang tidak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya, yang minyaknya (saja) hampir hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis lapis). Allaah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allaah memperbuat perumpamaan perumpamaan bagi manusia, dan Allaah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Qur’an Surat An Nuur ayat 35). &lt;TBB/ p2kimia&gt;

Baca

Kunjungan IPB Bogor dan SMA Santa Ursula BSD ke P2 Kimia LIPI


06 Juni 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Rabu, 24 Mei 2017 Pusat Penelitian Kimia LIPI menerima kunjungan dari dua rombongan berbeda pada saat bersamaan. Rombongan pertama adalah 32 mahasiswa yang didampingi 2 dosen dari Departemen Kimia, Institut Pertanian Bogor (IPB). Sedangkan rombongan kedua terdiri dari 22 sista dan 3 guru pendamping dari SMA Santa Ursula BSD.  Rombongan dikumpulkan di ruang rapat utama lantai 2 untuk menerima informasi profil P2 Kimia LIPI secara umum. Mereka diputarkan video profil P2 Kimia yang dipandu oleh Eni Suryani. Kemudian dilanjutkan sambutan oleh Dr. Heru Susanto, pejabat struktural dari P2 Kimia. Usai sambutan, dosen IPB dan Guru SMA Santa Ursula juga memberikan beberapa pengantar terkait tujuan kunjungan. Acara di ruang rapat dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Acara diteruskan dengan kunjungan ke laboratorium instrumen kimia. Beberapa laboratorium yang dikunjungi adalah NMR, FTIR, GCMS, TG/DTA, dan HPLC. Rombongan dibagi menjadi 5 kelompok yang masing-masing didampingi peneliti dari Pusat penelitian kimia LIPI. Tiap kelompok mengunjungi 5 laboratorium secara bergiliran. Di setiap laboratorium, mereka mendapat penjelasan dari peneliti terkait selama kurang lebih 15 menit. Acara diakhiri dengan foto bersama antara mahasiswa, siswa dan peneliti P2 Kimia. <ES/ p2 kimia>    

Baca

LIPI GOES TO SCHOOL 2: Pembuatan Lotion di SMAN 28 Jakarta


29 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Jakarta] Rabu pagi, 17 Mei 2017, di ruang Aula SMAN 28 Jakarta telah nampak kerumunan orang yang berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mereka dengan antusias mengikuti aba-aba irama yang dipimpin oleh salah seorang siswi SMA tersebut.   “Kami sangat berbahagia dengan hadirnya science show LIPI di sekolah kami, “ ujar Dra. Hj. Endang Sri Hartini M.Si., Kepala Sekolah SMAN 28. “Mudah-mudahan acara ini dapat memotivasi para siswa guna mengangkat kembali prestasi SMAN 28 yang sedikit menurun tahun lalu, “ imbuhnya seraya membuka acara secara resmi.   Biro Kerjasama, Hukum, dan Humas (BKHH) LIPI memulai rangkaian acara dengan pemutaran video profil terkait LIPI dan pembinaan kompetisi ilmiah oleh LIPI. Diiringi selingan pertanyaan, tepuk LIPI PASTI serta berbagai hadiah souvenir menarik, acara pun berlangsung semakin meriah.  Tidak hanya tuan rumah SMAN 28 saja yang mengikuti acara ini, tetapi juga SMA lain di sekitarnya, seperti SMAN 38, SMAN 48, SMAN 60 dan SMAN 90.   Acara dilanjutkan dengan inspirational talk: “Berpikir kritis untuk menemukan ide/topic penelitian”.  Narasumbernya berasal dari Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, yaitu Dr. Lisman Suryanegara.  Dalam pidatonya, Lisman mengilustrasikan bagaimana imajinasi sangat berperan dalam membantu penelitian, sebagaimana yang ia kutipkan dari Albert Einstein. Presentasi beliau diakhiri dengan pemberian hadiah kepada siswa-siswi yang telah berhasil menemukan ide praktis untuk penelitian setelah pemaparan. Beberapa diantaranya mengusulkan ide alat pendeteksi kepedasan, chip pada kendaraan bermotor supaya subsidi bbm tepat sasaran, ide pembuatan portal di perempatan jalan, kacamata elastis tidak patah saat terbawa tidur.   Acara selanjutnya adalah science show dari peneliti P2 Kimia LIPI, yaitu pembuatan lotion anti nyamuk yang dipandu oleh Melati Septianti, M.T. Peserta dibagi menjadi 10 kelompok siswa dan masing-masing kelompok telah disediakan alat dan dan bahan serta prosedur untuk membuat lotion. Melati mengarahkan para peserta dibantu anggota tim yaitu Teuku Beuna Bardant, Sudiyarmanto, Eni Suryani dan Arief Setiawan.   Pada sesi ini para siswa diajak untuk berperan aktif dalam pembuatan lotion anti nyamuk. Bahan dasar berupa sereh dapur diekstrak dengan menggunakan air panas. Bahan lain yang dipersiapkan terdiri dari fasa minyak berupa campuran setil alkohol, asam stearat, gliserin dan minyak kelapa. Lotion dihasilkan dengan cara mencampurkan fasa minyak ke dalam ekstrak sereh dapur yang sudah ditambahkan propilen glikol. Para siswa mengaduk secara bergantian sampai terbentuk lotion yang kental. Dengan cekatan mereka membagi tugas memotong bahan dan memeras, memipet bahan lain, mengaduk, dan seterusnya. Akhirnya semua kelompok dapat melakukan percobaan. Pembuatan lotion anti nyamuk yang berhasil membuat mereka bersorak kegirangan, karena merasa mampu melakukan dengan baik.   Sebelum Sholat Dhuhur dan makan siang, acara ditutup oleh Pak Arif yang mewakili kepala sekolah SMAN 28 Jakarta.  Acara diakhiri dengan foto bersama dan makan siang sambil beramah-tamah. (ES, ed: SJW/ p2 kimia)

Baca

Studi Lapangan FKIP UKI di P2 Kimia


22 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Rabu, 10 Mei 2017, 23 mahasiswa dan 5 dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Indonesia (FKIP UKI) mengunjungi P2 Kimia LIPI di kawasan Puspiptek Serpong-Tangerang Selatan. Mereka datang untuk mengenal lebih dekat laboratorium analisa instrumen kimia yang ada di P2 Kimia LIPI.   Acara tersebut diselenggarakan mengacu kepada Peraturan Mendikbud no. 73 tahun 2013 tentang Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia Bidang Pendidikan Tinggi, dimana dalam pelaksanaan proses pembelajaran berpusat kepada mahasiswa (Student Centered Learning/SCL).   “Program Studi Pendidikan Kimia FKIP UKI merupakan salah satu bentuk pembelajarannya yakni memberikan pengalaman dalam pembuktian secara langsung di lapangan/dunia nyata tentang teori yang terdapat dalam materi perkuliahan, “ ujar Nova salah seorang dosen yang mendampingi mereka.   Intrument analisa kimia yang diperkenalkan yaitu NMR, FTIR, DT/TGA, HPLC, dan GCMS.  Para mahasiswa calon guru ini menyimak dengan seksama setiap detil penjelasan dari operator alat – alat tersebut sehingga mereka paham fungsi dan cara kerjanya.   23 mahasiswa dibagi menjadi 5 kelompok dan setiap kelompok didampingi 1 orang dosen, dan pemandu P2 Kimia LIPI. Para pemandu itu yaitu Luthfiana, Feni Amriani, M. Arifudin Fitriady, Rohmana Taufik dan Eni Suryani yang mengantarkan tiap kelompok ke masing-masing laboratorium secara bergantian. Di masing-masing instrument, sudah siap peneliti P2 Kimia yang menjelaskan Fungsi dan kegunaan alat-alat tersebut, NMR dijelaskan oleh Megawati, DT/TGA oleh Fauzan Aulia, FTIR oleh Yenni Apriliani, HPLC oleh Asri Lestari dan GCMS oleh Salahudin.   Acara pun diakhiri dengan penyerahan plakat dari UKI dan berfoto bersama. <ES/ p2 kimia>

Baca

Meriah dan Mencerahkan, Science Show P2 Kimia dalam LIPI Goes to School Perdana


16 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Jakarta] “Kimia itu menyenangkan”. Itulah kesan yang ingin disampaikan P2 Kimia LIPI melalui Chemistry Science Show ke siswa tingkat menengah. Prakarsa itu  disambut baik oleh Biro Kerjasama Hukum dan Hubungan Masyarakat (BKHH). BKHH kemudian menjadikan Chemistry Science Show P2 Kimia sebagai salah satu bagian LIPI Goes To School edisi perdana. Ini merupakan sebuah ajang untuk mempromosikan program program LIPI kepada sekolah menengah. Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) sebagai ajang tahunan yang telah digelar LIPI selama beberapa dasawarsa terakhir dirasa perlu ditingkatkan. Hal untuk membangkitkan gairah generasi muda Indonesia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan melalui penelitian yang sistematis. Maka lewat LIPI Goes to School, BKHH memperkenalkan dua program yang lebih anyar, Pekan Inovasi Remaja Nasional (PIRN) dan National Young Innovation Award (NYIA). Hal ini disampaikan dengan sangat interaktif oleh Kepala Sub Bidang Pengayaan Ilmiah Masyarakat BKHH, Yutainten, pada acara LIPI Goes to School. Acara digelar hari Kamis (4 Mei 2017) di SMAN 105 Jakarta. LIPI Goes to School yang dikemas khas ala anak muda terbukti efektif pada sekitar 100 orang siswa yang hadir. Mereka tak hanya berasal dari SMAN 105 Jakarta, namun juga sekolah sekitarnya seperti SMA N 15 Jakarta dan SMA N 11 Jakarta. Terbukti dari kemampuan siswa dalam menjawab selingan pertanyaan berhadiah yang dibuat Yuta. “LIPI punya 2 lomba karya ilmiah, sebutkan dan apa perbedaannya?”, ujar Yutainten memberikan pertanyaan. “LKIR dan NYIA, “ jawab Nafsah, salah satu siswi yang hadir. “LKIR mensyaratkan rentang usia peserta namun untuk NYIA syaratnya hanya di bawah 18 tahun, lanjutnya. Nafsiah pun mendapatkan bingkisan souvenir dari LIPI. Antusiasme juga terlihat dari cepatnya para siswa menghafal “Tepuk LIPI PASTI”, tepuk tangan khas untuk memperkenalkan karakter LIPI. LIPI yang Profesional, Adaptive, Scientific integrity, Teamwork dan Innovative. Chemistry Science Show yang ditampilkan peneliti P2 Kimia LIPI melanjutkan kemeriahan dan antusiasme siswa. Beberapa siswa masih setengah tidak percaya kalau sebenarnya, bahan bakar mesin diesel dan sabun dibuat dari minyak goreng. Namun setelah menyaksikan langsung proses pembuatannya, semua percaya kalau mereka juga bisa membuat biodiesel dan sabun sendiri. Dalam paparan yang lebih mendalam, Peneliti P2 Kimia mengingatkan bahwa Indonesia saat ini sudah menjadi negara yang memproduksi minyak sawit terbesar di dunia. Namun pengembangannya minyak sawit tidak boleh berhenti sampai disitu. "Nilai tambah minyak sawit Indonesia perlu ditingkatkan melalui teknologi pemanfaatan minyak sawit untuk diubah menjadi produk yang lebih berharga, “ ujar Teuku Beuna Bardant, peneliti muda P2 Kimia. “Untuk itulah LIPI berusaha menggairahkan siswa sekolah menengah untuk lebih peka terhadap potensi Indonesia dan ikut serta dalam memanfaatkan potensi tersebut, “ sambungnya. Dan, pemanfaatan minyak sawit ini hanya salah satu contohnya. Pemaparan tentang biodiesel dan sabun memberikan contoh nyata bagi siswa bahwa untuk untuk bisa menerapkan suatu teknologi, tidak cukup hanya menguasai satu bidang atau satu pelajaran saja. Sehingga secara tidak langsung mengingatkan siswa bahwa selagi muda, pelajari semuanya, jangan memilih berdasarkan yang disukai saja, karena kita tidak tahu ilmu mana yang kelak justru kita butuhkan dalam mengembangkan teknologi atau bahkan karir. Misalnya pada penjelasan tentang biodiesel, siswa dijelaskan mulai dari thermodinamika pembakaran internal dalam mesin hingga proses atomisasi bahan bakar dan hubungannya dengan viskositas bahan bakar. Asingnya istilah istilah ilmiah itu menjadi teratasi setelah melihat sendiri contoh proses atomisasi. Sujarwo, peneliti P2 Kimia lainnya yang turut membantu, menyemprotkan minyak goreng pada nyala api. Minyak goreng tidak teratomisasi sehingga tidak terjadi pembakaran. Namun saat biodiesel hasil produksi saat itu disemprotkan ke nyala api, terjadi ledakan kecil yang disambut meriah oleh para siswa. Antusiasme dan kepuasan siswa terlihat hingga akhir acara. Besar harapan bahwa program LIPI Goes to School menjadi sebuah program yang langgeng, dan terus menginspirasi siswa dengan semangat muda untuk mengembangkan teknologi yang memanfaatkan potensi bangsa di kemudian harinya. <ES dan TBB/ p2 kimia>

Baca

Di FGD Kemenprin dan UNDP, Agus Jabarkan Upaya Menekan PBDEs pada Limbah dan Plastik


15 Mei 2017

  [Berita P2 Kimia, Tangerang] Balai Besar Kimia dan Kemasan (BBKK), Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bekerjasama dengan United Nations Development Program (UNDP) menggelar Focus Group Discussion (FGD) pada hari Jum’at (12 Mei 2017). FGD di Tangerang tersebut mengusung judul “Kajian dan Pengujian Polybrominated Diphenyl Ethers (PBDEs) yang Berasal dari Proses Produksi Kegiatan Daur Ulang dan Pengolahan Limbah Plastik” PBDEs adalah salah satu senyawa umum yang lazim digunakan untuk membuat beragam bahan-bahan tahan api, termasuk tekstil, pakaian, kemasan botol, pembungkus kabel, furnitur, karpet, dsb. Sejumlah penelitian di berbagai dunia telah mengungkap potensi bahaya PBDEs terhadap kesehatan manusia lingkungan. Beberapa jenis PBDEs yang telah diteliti menunjukkan bahwa zat-zat tersebut dapat mengganggu hormon, menurunkan kecerdasan, menimbulkan kanker, dan lain-lain. Sejumlah negara di Uni Eropa dan Amerika juga telah mengeluarkan regulasi guna melarang penggunaan PBDEs. Dalam FGD tersebut, Kemenperin mengundang Dr. Agus Haryono, peneliti senior bidang kimia polimer sebagai narasumber utama untuk memaparkan lebih lanjut penelitian terkait PBDEs. Tak kurang 50 peserta yang berasal dari instansi pemerintah dan industri, terutama yang bergerak di bidang pengolahan limbah dan plastik, turut menyimak paparan Agus dengan seksama. Agus menyampaikan paparan berjudul “Reducing Releases of Polybromodiphenyl Ethers (PBDEs) and Unintentional Persistent Organic Pollutants (UPOPs) Originating from Unsound Waste Management and Recycling Practices and The Manufacturing of Plastics in Indonesia” Kalau diterjemahkan kurang lebih artinya “Upaya mengurangi pelepasan PBDEs dan UPOPs yang Berasal dari Pengolahan Limbah dan Praktek Daur Ulang yang Kurang Higienis dan Pengolahan Plastik di Indonesia”. “Penelitian kami menggunakan sampel berupa produk yang beredar di pasaran, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Jawa dan Sumatra, serta industri daur ulang plastik, “ terang Agus yang juga merupakan Kepala Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI ini. “Pengujian dilakukan menggunakan alat lab kami untuk mengidentifikasi kandungannya, “ lanjutnya. Agus selanjutnya merinci hasil penelitian timnya. Dia juga mengungkapkan sejumlah PBDEs yang masih diproduksi maupun sudah dilarang di berbagai negara. Beberapa upaya untuk menekan PBDEs pun tak lupa diterangkan olehnya. <aars/ p2k>

Baca

Torehan Kinerja Emas di Peringatan 55 Tahun P2 Kimia LIPI


09 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Hari Jum’at, 10 Februari 2017, telah berkumpul banyak orang berpakaian olah raga di halaman depan Gedung Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI. Pagi itu, mereka tengah bersiap melaksanakan rangkaian peringatan 55 tahun perjalanan P2 Kimia LIPI (27 Januari 1962 – 27 Januari 2017). Hujan rintik rintik yang tidak kunjung reda membuat panitia melaksanakan rencana cadangan. Bertempat di ruang pilot plant belakang, senam bersama seluruh sivitas pun tetap dilangsungkan.  Senam bersama dipimpin instruktur berpengalaman Ci Lily. Setelah acara senam bersama, hujan pun reda, dan para peserta kembali ke depan. Di ruang parkir depan, telah tersedia sejumlah stand dengan aneka ragam dagangannya. Beberapa yang dijual diantaranya pakaian muslim, pakaian anak-anak, sepatu, lauk pauk, cemilan kering, kebab, sosis bakar, empek-empek, dan aneka ragam makanan lainnya. Makanan ini ternyata digemari oleh para pengunjung.  Tak lupa pertunjukkan band lokal P2 Kimia turut mengiringi acara. Sejumlah karyawan pun didapuk menjadi penyanyi dadakan. Acara dilanjutkan dengan lomba menyusun baut bertingkat yang dilakukan secara berpasangan. Kegiatan ini memang dikoordinasi oleh Bidang Sarana Penelitian, sehingga lomba yang digelar pun cukup unik. Dengan tekun, para peserta menyusun satu persatu baut hingga enam tingkat. Mereka dinyatakan menang jika baut sudah tersusun rapi dan stabil selama beberapa waktu. “Ya, sayang sekali, “ keluh penonton histeris, melihat salah satu peserta sudah berhasil menyusun hingga tingkat lima tapi roboh. Setelah berjibaku cukup lama, akhirnya pasangan Dr. Rosi Ketrin dan Dra. Puspa Dewi N.  berhasil menyelesaikan tantangan ini paling awal. Mereka, bersama dua pasangan lain mendapatkan bingkisan hadiah kemenangan. Lomba berikutnya, masih terkait sarana prasarana P2 Kimia, adalah menyusun puzzle. Puzzle itu bergambarkan alat-alat laboratorium yang ada di P2 Kimia. Di lomba ini, Luthfiana Nurul H. dan Dillani Putri Ramadhaningtyas berhasil menjadi pemenang pertama. Usai lomba, panitia membagikan sejumlah doorprize hiburan. Doorprize tidak hanya diberikan untuk karyawan peserta kegiatan, tapi juga penjaga stand bazaar. Torehan Kinerja Emas Menginjak acara inti, para karyawan berkumpul di ruang lobby dan halaman P2 Kimia. Di sini, Kepala P2 Kimia, pejabat struktural dan koordinator kelompok penelitian akan menandatangani perjanjian kinerja. Perjanjian ini memuat rencana target capaian P2 Kimia tahun 2017. “Kita patut bersyukur, P2 Kimia telah berhasil mencapai target kinerja tahun lalu, bahkan diantaranya menorehkan prestasi terbaik, “ buka Dr. Agus Haryono, Kepala P2 Kimia LIPI. “Pertama, jumlah publikasi kita adalah terbanyak se-kedeputian IPT, “ lanjut Agus. “Kedua, jumlah paten kita mencapai tertinggi se-LIPI, “ terang doktor lulusan Waseda University, Jepang ini. Tepuk tangan riuh langsung bergema. Para peneliti tampak senang mendengar penjelasan Agus. Tepuk tangan ini masih berlanjut saat Kepala P2 Kimia melanjutkan beberapa capaian lainnya, termasuk kerjasama penelitian, pemasyarakatan iptek, lengkapnya laporan administrasi, dsb. “Ini semua bisa tercapai berkat dukungan dan kerjasama kita semua. Dan semoga capaian ini bisa ditingkatkan di tahun 2017, “ pungkasnya. Kepala P2 Kimia membacakan target kinerja tahun 2017. Selanjutnya, dilakukan penandatanganan perjanjian kinerja dengan para pejabat struktural dan koordinator keltian. Menjelang siang, acara diakhiri dengan makan bersama. Sejumlah pedagang bazaar pun mulai berkemas menutup dagangannya. (ES & aars/ P2 Kimia)

Baca

Dua Peneliti P2 Kimia Terima Anugerah Toray Jepang 2017


09 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Jalinan kerjasama di bidang Industri selama lebih dari 40 tahun telah meyakinkan Industri Toray untuk berkontribusi dalam pemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di Indonesia. Sebagai agenda tahunan, Indonesian Toray Science Foundation (ITSF) mengadakan ceremony tahunan sebagai puncak apresiasi industri Toray (Jepang) terhadap pengembangan riset dan sains Indonesia. ITSF mengadakan seminar ilmiah/presentasi hasil penelitian pendanaan ITSF Tahun 2016 (7 Maret 2017) dan penganugerahan bagi pemenang terpilih (8 Maret 2017) dari beberapa program terkait pengembangan sains dan IPTEK di Indonesia, diantaranya: Science Education Award, Science & Technology Award, dan Science & Technology Grant. Pusat penelitian kimia (P2K) LIPI adalah salah satu pusat penelitian di Indonesia yang beberapa kali telah terpilih menjadi pemenang pada program Science & Technology Grant. Tahun 2017, dua peneliti P2K LIPI terpilih menjadi penerima dana pendukung pengembangan penelitian pada program Science & Technology Grant. Keduanya adalah peneliti berprestasi yang sudah memiliki pengalaman dalam dunia penelitian yang fokus pada lingkungan dan teknologi proses, yaitu: Ajeng Arum Sari, PhD  dan Nino Rinaldi, PhD. Ajeng memiliki judul penelitian The development of environmental friendly immobilized activated carbon from black liquor sludge and enzyme of white rot fungi to degrade organic pollutant. Sementara Nino mengusung penelitian Development of Synthetic Layered Materials using Titanate and Manganate as Catalysts for the Upgrading Pyrolysis Bio-Oil Process. “Penghargaan ini merupakan apresiasi tak ternilai dan mendorong para peneliti P2 Kimia untuk terus berkiprah secara nyata, “ terang Dr. Agus Haryono, Kepala P2 Kimia saat mengungkapkan kebahagiaannya. Selain penganugerahan, Keynote speaker yang dihadirkan saat itu: Suharyo Sumowidagdo, PhD (peneliti LIPI dari Pusat Penelitian Fisika yang terlibat dalam kolaborasi riset LIPI-CERN/ALICE) menyampaikan motivasi bagi semua undangan terutama akademisi dan peneliti. Suharyo Sumowidagdo, PhD mendorong peneliti nasional untuk melakukan jalinan riset kerja sama dengan jaringan riset internasional untuk meningkatkan kualitas riset nasional yang membantu percepatan pemecahan isu-isu nasional atau penguatan riset fundamental yang mungkin di masa mendatang dapat menjadi sebuah perwujudan yang mendukung perkembangan teknologi dan zaman dari peradaban manusia pada abad mendatang. Selain itu, hal ini juga dapat memperkenalkan dunia riset nasional pada dunia riset internasional melalui peneliti-peneliti nasional yang juga berkompeten dan memiliki kapabilitas selayaknya peneliti internasional. (FA/ p2kimia)

Baca

Peringati Hari Perempuan International, Peneliti P2 Kimia Diliput Media


09 Mei 2017

Memperingati Hari Perempuan international yang jatuh 8 Maret 2017, sejumlah peneliti LIPI termasuk dari Pusat Penelitian Kimia menjadi iiputan media sebagai figur keberhasilan perempuan. Berikutan liputan lengkapnya.   Peneliti Perempuan Berperan Signifikan Untuk Perubahan Para peneliti perempuan selama ini memberikan peran yang signifikan dalam bidang sains. Karena itu Hari perempuan internasional 2017 yang jatuh pada Rabu, 8 Maret 2017 ini layak diperingati untuk mengapresiasi keberhasilan kaum perempuan di berbagai bidang termasuk sains. Hal tersebut diutarakan Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas (BKHH) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Nur Tri Aries Suestiningtyas. Dia menuturkan para peneliti perempuan menempati posisi penting dalam kemajuan peradaban bangsa. "Sejumlah hasil karya dan temuan penelitian telah berhasil diberikan oleh perempuan di bangsa ini untuk perkembangan sains di Indonesia," ujarnya di Jakarta, dalam siaran pers yang diterima "PR". Dia menjelaskan, berdasarkan data Sistem Informasi Pegawai (SIMPEG), saat ini LIPI memiliki peneliti perempuan sebanyak 723 orang yang tersebar di 48 satuan kerja seluruh Indonesia. "LIPI memiliki sederet kisah inspiratif dari peneliti perempuan tersebut yang diharapkan bisa memotivasi perempuan Indonesia lainnya,” katanya. Karena itu, pihaknya pada Rabu, 8 Maret 2017 ini menyelenggarakan diskusi Hari Perempuan Sedunia 2017 dengan tema “Peneliti Perempuan untuk Perubahan”. Diskusi tersebut menurut dia juga diharapkan dapat mendorong peran mereka untuk lebih signifikan lagi dalam dunia sains, dan juga memberikan motivasi bagi generasi muda. Sejumlah peneliti perempuan yang dimiliki LIPI diantaranya adalah Evy Ayu Arida (Peneliti Bidang Zoologi), Ratih Asmana Ningrum (Peneliti Bidang Bioteknologi), Neni Sintawardani (Peneliti Bidang Teknologi Sanitasi Lingkungan), dan Yenny Meliana (Peneliti Bidang Kimia). Evy Ayu Arida adalah Peneliti Bidang Zoologi pada Pusat Penelitian Biologi LIPI, penelitian yang ditekuninya seputar hewan melata atau herpetofauna. Sejak bergabung pada 2000 sebagai peneliti, bidang herpetofauna masih sangat minim peminat. Namun, hingga saat ini bidang tersebut ditekuninya. Evy meraih gelar Master of Science, Flinders University Adelaide, Australia pada 2005 dan Doktor rerum naturalium, Rheinische Friedrich-Wilhelms- Universität Bonn, Jerman pada 2011. Sementara itu Ratih Asmana Ningrum adalah Peneliti Muda Bidang Bioteknologi Kesehatan di Pusat Penelitian Bioteknologi. Ratih fokus melakukan riset di laboratorium protein terapeutik dan vaksin. Pada 2012, ia telah berhasil meraih gelar Doktor bidang farmasi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain itu, Ratih sempat memperoleh penghargaan program National Fellowship Loreal UNESCO for Women in Sciences 2013 dengan kategori Life Sciences. Adapun Neni Sintawardani adalah Peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI. Penelitian yang dilakukannya adalah teknologi sanitasi lingkungan dan salah satu temuannya yakni Biotoilet Berpengaduk Manual. Fokus penelitian Neni bertujuan agar memudahkan masyarakat miskin memiliki akses sanitasi yang memadai dan air bersih. Neni meraih gelar Doktor bidang process engineering di Hohenheim University, Jerman. Sedangkan Yenny Meliana merupakan Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI. Sejak bergabung sebagai peneliti pada 2005, Yenny telah fokus pada riset bidang kimia. Lewat penemuan pada Pengembangan Bahan Baku Obat Malaria dengan Teknologi Nano, ia berhasil memperoleh penghargaan di bidang ilmu sains, teknologi dan matematika dari L’Oréal – UNESCO for Women In Sciences National Fellowship Awards for Woman 2016. Yenny meraih gelar doktor bidang Chemical Engineering di National Taiwan University of Science and Technology, Taiwan.***     Para Ilmuan Perempuan LIPI Berbagi Kisah di Hari Perempuan Internasional Peran perempuan dalam membangun negara semakin diakui. Kesetaraan gender yang kerap diperjuangkan membuat perempuan berani membuktikan potensi yang dimilikinya.  Dalam bidang keilmuan, perempuan juga menempati posisi penting sebagai peneliti. Hal ini terlihat dari banyaknya perempuan yang menjadi peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Sedunia, yang jatuh pada Rabu (8/3) sejumlah perempuan peneliti dari LIPI berbagi kisah inspiratis mereka kepada para perempuan, dan akademisi. Para peneliti itu antara lain, Evy Ayu Arida (peneliti bidang zoologi), Ratih Asmara Ningrum (peneliti bidang bioteknologi), Neni Sintawardani (peneliti bidang lingkungan), dan Yenny Meliana (peneliti bidang kimia). Evy Ayu Arida, peneliti bidang zoologi ini fokus pada proyek penelitian tentang hewan melata atau reptil. Baginya, pekerjaan yang identik dengan laki-laki itu sangat menyenangkan. "Saya berhadapan dengan hewan melata. Hal yang menjijikkan bagi perempuan, tapi saya menikmati itu. Dan saat saya melakukan pekerjaan ini, tidak ada perlakuan yang berbeda kepada saya," ujar Evy, Rabu (8/3) di Gedung LIPI, Semanggi, Jakarta Selatan. Hal serupa juga dialami tiga peneliti lainnya. Mereka menganggap menjadi peneliti di Indonesia adalah tugas yang mulia. "Saya bukan berasal dari universitas ternama, tidak seperti teman-teman peneliti yang lain. Tapi saya mampu menjadi peneliti LIPI," ucap Ratih Asmara Ningrum. Peneliti senior di bidang lingkungan, Neni Sintawardani menilai menjadi seorang peneliti di Indonesia memiliki tantangan tersendiri. "Kalau di daerah maju, semuanya serba mudah, perlengkapan penelitian tersedia. Tapi di mana tantangannya, justru peneliti itu harus kreatif di tengah keterbatasan," ungkapnya. Sementara peneliti bidang kimia, Yenny Meliana mengaku sempat menghadapi bermacam kendala saat menyelesaikan program doktornya. "Saya bukan dari kalangan orang yang mampu melanjutkan kuliah sendiri. Saya mendapatkan beasiswa. Beasiswa itu sifatnya terbatas, nggak bisa santai-santai. Saya harus menghabiskan waktu lima setengah tahun untuk menyelesaikan S3, beasiswa cuma tiga tahun, untuk menyelesaikan sisanya saya harus bekerja agar bertahan hidup," tukas Yenny.     Hari Perempuan Internasional Ini Empat Peneliti Wanita Handal di LIPI Hari perempuan internasional adalah perayaan internasional yang diperingati untuk mengapresiasi keberhasilan kaum perempuan di berbagai bidang termasuk sains. Sebagai bentuk penghargaan LIPI kepada perempuan Indonesia khususnya peneliti perempuan yang telah berkontribusi memajukan sains, maka LIPI menggelar diskusi publik untuk mendorong peran peneliti agar lebih signifikan lagi. Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas (BKHH) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nur Tri Aries Suestiningtyas mengatakan, saat ini berdasarkan data  Sistem Informasi Pegawai (SIMPEG) memiliki peneliti perempuan sebanyak 723 orang yang tersebar di 48 satuan kerja seluruh Indonesia. “LIPI memiliki sederet kisah inspiratif dari peneliti perempuan tersebut yang diharapkan bisa memotivasi perempuan Indonesia lainnya,” terang Nur saat memberikan sambutan dalam acara diskusi publik dengan tema 'Peneliti Perempuan untuk Perubahan', Rabu (8/3/2017). Adapun peneliti perempuan yang membagi kisah inspiratifnya yakni Evy Ayu Arida (Peneliti Bidang Zoologi), Ratih Asmana Ningrum (Peneliti Bidang Bioteknologi), Neni Sintawardani (Peneliti Bidang Teknologi Sanitasi Lingkungan), dan  Yenny Meliana (Peneliti Bidang Kimia). Evy Ayu Arida adalah Peneliti Bidang Zoologi pada Pusat Penelitian Biologi LIPI, penelitian yang ditekuninya seputar hewan melata atau herpetofauna. Sejak bergabung pada 2000 sebagai peneliti, bidang herpetofauna masih sangat minim peminat. Namun, saat ini bidang tersebut ditekuninya. Evy meraih gelar Master of Science, Flinders University Adelaide, Australia pada 2005 dan Doktor rerum naturalium, Rheinische Friedrich-Wilhelms-Universität Bonn, Jerman pada 2011. Ratih Asmana Ningrum merupakan Peneliti Muda Bidang Bioteknologi Kesehatan di Pusat Penelitian Bioteknologi. Ratih fokus melakukan riset di laboratorium protein terapeutik dan vaksin. Pada 2012, ia telah berhasil meraih gelar Doktor bidang farmasi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain itu, Ratih sempat memperoleh penghargaan program National Fellowship Loreal UNESCO for Women in Sciences 2013 dengan kategori Life Sciences. Neni Sintawardani adalah Peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI. Penelitian yang dilakukannya yakni teknologi sanitasi lingkungan dan salah satu temuannya yakni Biotoilet Berpengaduk Manual. Fokus penelitian Neni bertujuan agar memudahkan masyarakat miskin memiliki akses sanitasi yang memadai dan air bersih. Neni meraih gelar Doktor bidang process engineering di Hohenheim University, Jerman. Yenny Meliana merupakan Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI. Sejak bergabung sebagai peneliti pada 2005, Yenny telah fokus pada riset bidang kimia. Lewat penemuan pada Pengembangan Bahan Baku Obat Malaria dengan Teknologi Nano, ia berhasil memperoleh penghargaan di bidang ilmu sains, teknologi dan matematika dari L’Oréal – UNESCO for Women In Sciences National Fellowship Awards for Woman 2016. Yenny meraih gelar doktor bidang Chemical Engineering di National Taiwan University of Science and Technology, Taiwan. Seperti diketahui, kesetaraan gender yang saat ini menjadi fenomena sosial telah menempatkan perempuan dalam posisi penting untuk kemajuan peradaban bangsa. Sebagai contoh, kontribusi wanita saat ini telah dirasakan dalam bidang sains. Sejumlah hasil karya dan temuan penelitian telah berhasil diberikan oleh perempuan untuk perkembangan sains di Indonesia. "Ini sebagai bentuk apresiasi kepada peneliti perempuan Indonesia dan memberikan motivasi bagi generasi muda," tukas Nur.

Baca

Lewat Seni Ilmu Pengetahuan, P2 Kimia LIPI dan L’Oreal Promosikan Peran Perempuan Indonesia


09 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] L’Oréal-UNESCO FWIS 2016 pada 4 November 2016 silam telah memberikan penghargaan bagi ilmuwan perempuan yang memiliki semangat untuk membangun Indonesia di bidang ekonomi, kesehatan dan lingkungan. Yenny Melliana, peneliti muda Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) LIPI menjadi salah satu ilmuwan Indonesia yang mendapatkan penghargaan tersebut lewat penelitiannya “Studi Nanocrystal Dan Nanodispersi Bahan Baku Obat Antimalaria Artemisinin”. Sebagai penerima anugrah L’Oréal-UNESCO FWIS, Yenny menerima bantuan pendanaan penelitian dan kesempatan untuk berbagi ilmu. P2 Kimia pada 16 maret 2017 dipercaya menjadi penyelenggara seminar Sosialisasi Program L’Oreal – UNESCO for Women in Science. Acara ini sebagai salah satu wahana bagi para penerima dan penyelenggara anugrah L’Oreal untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam pengembangan seni ilmu pengetahuan. Dalam kegiatan ini, dihadirkan tiga pembicara kunci, yaitu Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd. (Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Kemdikbud), Ariadne L Juwono, M.Eng. Ph.D. (Staf Akademik Fakultas MIPA UI) dan Melanie Masriel (Kepala Komunikasi PT L’oreal Indonesia). Acara dihadiri oleh para peneliti wanita dari 15 instansi, diantaranya LIPI, BPPT dan BATAN. Dosen dosen dari Swiss-German University dan Universitas Padjadjajaran juga turut hadir dalam seminar Sosialisasi Program L’Oreal – UNESCO ini.  L’Oreal – UNESCO Fellowship di Indonesia telah dimulai sejak 2004 dengan kerjasama dan dukungan penuh dari Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU). Prof. Dr. Arief Rachman sebagai Ketua Harian KNIU Kemdikbud juga turut memberikan sambutan dalam acara sosialisasi tersebut. L’Oreal – UNESCO for Women in Science sendiri merupakan program dukungan untuk peneliti wanita Indonesia yang berusia di bawah 40 tahun untuk berkiprah lebih cemerlang dalam bidang penelitiannya masing masing melalui mekanisme kompetisi. Bidang penelitian yang dimaksud diutamakan untuk Life Science, Material Science, Engineering atau Matematika. Para peneliti wanita terpilih ini kemudian akan berkompetisi di tingkat internasional mewakili Indonesia. Hingga tahun 2017, L’Oreal – UNESCO Fellowship telah memberikan penghargaan pada 45 peneliti Indonesia dan 5 di antaranya telah menerima penghargaan di tingkat Internasional Selain itu, L’Oreal – UNESCO Fellowship juga memperkenalkan program L’Oreal Girl in Science yang ditujukan kepada Mahasiswi S1 dari fakultas sains selain fakultas social dan humaniora. Hasrat mahasiswi dalam bidang sains dan cita cita untuk berkarir menjadi perempuan peneliti Indonesia akan dinilai berdasatkan essay dengan tema “ How Can You Contribute to Advancement of Science in Indonesia”. L’Oreal Sorority ini Science menjadi program kunci yang menghubungkan dua program di atas dan telah berlangsung selama 10 tahun di Indonesia. Melalui Program ini diharapkan para mahasiswi dapat menimba ilmu sebaik-baiknya tanpa khawatir akan dukungan finansial sehingga dapat lebih memfokuskan energinya untuk mewujudkan cita cita sebagai peneliti besar yang ia damba dambakan. <TBB/ p2kimia>

Baca

Workshop Penulisan Ilmiah Internasional, Upaya P2 Kimia Angkat Martabat Bangsa Lewat Publikasi


08 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Ford Lumban Gaol, pembicara dalam pelatihan ini yang saat ini menjabat sebagai wakil direktur IEEE Indonesia, membuka bahasannya dengan sedikit cerita saat menghadiri pertemuan IEEE di tingkat ASEAN. Dalam 3 menit waktu yang disediakan untuknya menyampaikan sambutan, Ford kala itu berujar, “Jika dibandingkan jumlah masyarakat Indonesia yang berprofesi sebagai peneliti di Indonesia, maka akan setara dengan jumlah masyarakat Singapura yang dalam usia produktif saat ini. Dan jika dibandingkan jumlah sarjana Master dan Doktor di Indonesia yang begelut di bidang akademik dan penelitian saat, maka bisa jadi setara dengan jumlah masyarakat Malaysia dalam usia produktif saat ini. Sehingga, tinggal masalah waktu untuk Indonesia bisa memiliki jumlah publikasi yang lebih banyak daripada yang negara negara Anda miliki. Jika saat ini perhitungan berdasarkan persentase jumlah penduduk, memang terlihat paling kecil. Tetapi yang terlihat paling kecil itu adalah bagian dari sebuah negara yang besarnya mungkin sulit untuk bisa Anda bayangkan!” Pada acara makan malam di hari yang sama, Direktur IEEE ASEAN menyatakan kekagumannya atas kelihaian Ford dalam mencuplik fakta dan mengemasnya sehingga menggugah para pendengar. Kelihaian inilah yang diharapkan bisa ditularkan pada para peserta Workshop Penulisan Artikel Ilmiah Internasional yang diselenggarakan pada hari Kamis dan Jumat, 20 – 21 April 2017. Demikian harapan tersebut disampaikan oleh Dr Arthur Lelono sebagai perwakilan Kepala Pusat Penellitian (P2) Kimia LIPI dalam sambutannya saat membuka acara. Peserta pelatihan berasal dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Swiss German University dan Universitas Haluoleo, walaupun didominasi oleh peneliti P2 Kimia dan beberapa pusat penelitian LIPI seperti PP Fisika dan PP Metalurgi. Antusiasme peserta terlihat dari 32 peserta hadir yang melebihi dari jumlah yang direncanakan. Workshop ini juga memberikan panduan untuk mengajukan proposal pada penyandang dana yang bertaraf internasional. Tidak hanya memerlukan kemampuan berbahasa Inggris yang memadai, menulis proposal dan artikel ilmiah sejatinya membutuhkan kemampuan dalam mengulik fakta fakta unik dan bermanfaat. Fakta unik dan bermanfaat ini selanjutnya dikemas untuk diselaraskan tidak hanya dengan cita cita dasar penyandang dana namun juga dengan kemashlahatan bangsa Indonesia. Pada hari berikutnya, pelatihan memberikan panduan lengkap dalam menyusun kutipan dan daftar pustaka sesuai dengan Mendeley. Pelatihan dipandu oleh salah seorang peneliti muda berprestasi P2 Kimia, Dr Andrianopsyah Mas Jayaputra. Penggunaan software Mendeley akan sangat membantu para peneliti dalam mengikuti aturan penulisan artikel di berbagai jurnal ilmiah internasional yang seringkali memiliki aturan yang berbeda. Selain itu, penulisan referensi dengan Mendeley membantu pendataan dalam deteksi dan rekapitulasi sitasi. Jika semua penulisan referensi sesuai aturan, maka penulis dengan mudah mengetahui kapan tulisannya dikutip penulis lain dan sebaliknya. Setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta terutama yang merupakan peneliti P2 Kimia LIPI diharapkan memiliki kontribusi besar dalam meningkatkan jumlah publikasi artikel ilmiah di jurnal yang bertaraf internasional. Dengan demikian akan membantu terwujudnya P2 Kimia LIPI sebagai salah satu Pusat Unggulan IPTEK (PUI) sebagai cita cita jangka menegah, dan mewujudkan negara Indonesia yang lebih bermartabat di hadapan dunia akademisi dan ilmu pengetahuan sebagai cita cita jangka panjangnya. <TBB/ p2kimia>

Baca

Di KLHK, Edi Ungkap potensi LCA Guna Dukung Pengambilan Kebijakan


08 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Jakarta] Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan (Pustanlinghut), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) “Penerapan SNI ISO 14040:2016 dan SNI ISO 14044:2017 tentang Manajemen lingkungan- Penilaian Daur Hidup”. Bertempat di Gedung Rimbawan, Manggala  Wanabakti, KLHK, Jakarta, acara diadakan selama 2 hari (5-6 April 2017). Bimtek tersebut dihadiri sekitar 50 orang yang terdiri dari para peneliti dan pengambil kebijakan di lingkungan KLHK. Kementerian/ Lembaga lain yang diundang diantaranya Kementerian Perindustrian, Pertanian, Energi Sumber Daya dan Mineral, Kelautan dan Perikanan, Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Tenaga Kerja, Luar Negeri, Badan Perencanaan Nasional, Badan Standarisasi Nasional, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah. “Bimtek ini dimaksudkan untuk mengkaji implementasi ISO 14040/44 terutama pemanfaatan LCA di level pengambilan kebijakan, “ terang Ir. Noer Adi Wardojo, M.Sc, Kepala Pustanlinghut saat memberikan sambutan pembukanya. Di sesi pertama, Noer selanjutnya menerangkan beberapa contoh penerapan LCA untuk mendukung kebijakan, baik di dalam maupun luar negeri. “Aplikasi ini misalnya untuk ekolabel tipe 1 dan 3, untuk efisiensi produksi, penurunan emisi, dst.,” terangnya lebih lanjut. Dalam sesi tersebut, peneliti P2 Kimia LIPI, Dr.  Edi Iswanto Wiloso, juga turut diundang menjadi pembicara. Edi yang juga ketua Indonesian Life Cycle Assessment Network (ILCAN) menyampaikan pengantar konsep LCA dan beberapa studi kasus penggunaannya di luar negeri terkait dengan daya saing komoditi ekspor. “Indonesia termasuk tertinggal dalam menerapkan LCA, dibandingkan negara tetangga seperti Thailand maupun Singapura, “ terang doktor lulusan Leiden University, Belanda ini. Edi kemudian menyampaikan beberapa contoh aplikasi LCA di bidang energi, bangunan, kelautan dan sebagainya. Pembicara selanjutnya adalah Dr. Jessica Hanafi. Pengajar Universitas Pelita Harapan ini menyampaikan materi metodologi LCA. “Ada empat tahapan metode LCA, yaitu Penentuan Tujuan dan Ruang Lingkup, Inventori Daur Hidup, Penilaian Dampak Daur Hidup dan, Interpretasinya, “ terang Jessica yang juga merupakan pengurus ILCAN ini. Jessica selanjutnya menguraikan lebih rinci keempat tahap metode tersebut. Peserta tampak antusias mengikuti bimtek ini. Beberapa dari mereka mengajukan pertanyaan secara berulang dan dijawab satu persatu oleh para pembicara. Di awal dan akhir acara, para peserta mengerjakan tes singkat untuk mengetahui tambahan pemahaman materi yang diberikan. <aars/p2 kimia>

Baca

Kunjungan STKIP Surya ke P2 Kimia LIPI


08 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Hari Rabu, 12 April 2017,  25 orang mahasiswa didampingi 2 dosen pengajar kimia dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan  (STKIP) Surya mengunjungi  P2 kimia LIPI. “Tujuan kunjungan kami adalah untuk mengenal  lebih dekat  laboratorium analisa kimia , seperti NMR, FTIR, HPLC, Mass Spektrofotometer dan ATG/DTA, “ ujar dosen pembimbing STKIP Surya. Rombongan diterima oleh tim pendamping yang dikoordinasi oleh Eni Suryani, S.P. Rombongan langsung dipecah ke dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok mengunjungi laboratorium di P2 Kimia secara bergantian.   Mahasiswa STKIP Surya 90% didominasi mahasiswa  dari  Indonesia bagian timur, terutama Papua. Sekolah ini memang telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah agar masyarakatnya mendapat kesempatan pemerataan pendidikan. Para mahasiswa tampak sangat antusias dan  terlihat ceria saat berkunjung ke P2 kimia LIPI. “Kami dapat mengenal laboratorium  instrument analisa kimia lebih dekat, “ terang salah seorang diantaranya.Diharapkan ilmu yang didapatkan akan bermanfaat untuk menambah wawasan  ilmu pengetahuan.  (ES/ p2kimia) [Berita P2 Kimia, Serpong] Hari Rabu, 12 April 2017,  25 orang mahasiswa didampingi 2 dosen pengajar kimia dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Surya mengunjungi  P2 kimia LIPI. “Tujuan kunjungan kami adalah untuk mengenal  lebih dekat  laboratorium analisa kimia , seperti NMR, FTIR, HPLC, Mass Spektrofotometer dan ATG/DTA, “ ujar dosen pembimbing STKIP Surya. Rombongan diterima oleh tim pendamping yang dikoordinasi oleh Eni Suryani, S.P. Rombongan langsung dipecah ke dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok mengunjungi laboratorium di P2 Kimia secara bergantian.   Mahasiswa STKIP Surya 90% didominasi mahasiswa  dari  Indonesia bagian timur, terutama Papua. Sekolah ini memang telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah agar masyarakatnya mendapat kesempatan pemerataan pendidikan. Para mahasiswa tampak sangat antusias dan  terlihat ceria saat berkunjung ke P2 kimia LIPI. “Kami dapat mengenal laboratorium  instrument analisa kimia lebih dekat, “ terang salah seorang diantaranya.Diharapkan ilmu yang didapatkan akan bermanfaat untuk menambah wawasan  ilmu pengetahuan.  (ES/ p2kimia)

Baca

Peneliti LIPI Sarankan Penjualan Air Keras Diperketat


08 Mei 2017

VIVA.co.id – Awal hari ini, publik terkejut dengan insiden penyiraman air keras pada penyidik KPK Novel Baswedan. Air keras memang tergolong bahan yang berbahaya karena sifatnya yang korosif. Jika terpapar air keras, logam sampai kulit, sampai tulang bisa rusak. Meski sifatnya korosif, air keras punya sejumlah manfaat. "Air keras itu asam kuat, banyak digunakan di industri kimia untuk reaksi kimia," jelas peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono kepada VIVA.co.id, Selasa 11 April 2017. Dalam penerapannya, air keras juga dipakai untuk air aki. Selain di industri kimia, ujar Agus, air keras juga dimanfaatkan sebagai formulasi pestisida. Air keras dipakai sebagai bahan tambahan dalam pembuatan atau pengolahan pestisida. Bicara air keras terdapat beberapa macam. Agus menyebutkan, air keras di antaranya meliputi asam klorida (HCL), asam sulfat (H2SO4), asam posfat (H3PO4). Dia mengatakan, air keras secara definisi merupakan asam kuat yang memiliki konsentrasi tinggi, bersifat korosif dan derajat keasamannya rendah. Doktor kimia lulusan Waseda University, Jepang itu menjelaskan, untuk HCL konsentrasi asamnya biasanya 35-37 persen, H2SO4 (96 persen) dan H3PO4 (70 persen). "Dengan tingkat konsentrasi itu maka pasti korosif," ujarnya. Agus membenarkan HCL memang ada dalam tubuh manusia. Tapi, jangan khawatir, HCL di dalam tubuh punya kadar konsentrasi yang sangat rendah sehingga tak membahayakan manusia. HCL diproduksi dalam lambung manusia. "HCL itu pada dasarnya gas ya, bentuknya yang larut dalam air. HCL di dalam tubuh itu kadarnya 0,0 sekian persen. Hanya kandungan kecil," jelas pria asal Jawa Timur itu. Menurutnya, HCL di dalam lambung bisa berisiko bagi manusia, jika kadarnya asamnya naik meninggi. "Maka kalau tingkat asamnya tinggi, jadinya asam lambung," tuturnya. Mengingat sifatnya korosif yang membahayakan tubuh, maka Agus berpesan yang penting dalam hal ini adalah pemakaiannya yang benar. Dia berpandangan, peredaran air keras perlu diatur dan diawasi seiring dengan maraknya kejahatan dengan menggunakan bahan tersebut. Saat ini, untuk memperoleh air keras semua orang bisa membelinya secara bebas di toko kimia, tanpa membawa izin khusus. "Makanya perlu itu pembelian air keras itu harus pakai izin khusus bisa polisi, maksudnya izin untuk penggunaannya untuk apa," kata dia. sumber: viva.co.id   Cegah Penyalahgunaan Air Keras, LIPI Sarankan Bentuk Chemical Security BANDUNG, (PRFM) - Maraknya penyalahgunaan air keras membuat sejumlah pihak merasa khawatir. Pasalnya keberadaan zat kimia tersebut bila tidak digunakan dengan semestinya bisa berdampak buruk bagi orang lain. Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono mengatakan, seharusnya pemerintah Indonesia bisa mengendalikan penjualan air keras ini dengan membentuk chemical security. Agus menuturkan, fungsi chemical security ini penting lantaran bisa mencegah peredaran air keras di kalangan masyarakat. "Memang kita perlu menerapkan chemical security ini. Supaya ada deteksi untuk menanggulangi peredaran air keras . Memang nyatanya kedepan harus ada chemical security untuk mencegah adanya kejahatan dan kecelakaan," ujarnya saat on air di Radio PRFM, Selasa (11/4/2017). Agus pun menuturkan, pihaknya sudah berulang kali melakukan penelitian tentang bahayanya air keras ini. Namun, hal itu belum bisa dikatakan berhasil bila tidak adanya badan yang mengontrol keberadaan zat kimia tersebut. "Kami kalau  penelitian sudah lakukan. Tapi kami mewanti -wanti agar chemical security harus bisa diterapkan di masyarakat luas. Bahkan perusahaan logistik bahan kimia itu perlu diawasi juga," pungkasnya menutup. Sumber: PR FM 107.5 News Channel

Baca

Gelar FGD Pengembangan Kompetensi, P2 Kimia Mantapkan Strategi Menjadi Pusat Unggulan Iptek Bioetanol Generasi Kedua


12 April 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong]. Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM). Bertempat di Gedung 452 Puspiptek Serpong, acara diadakan selama sehari penuh pada tanggal 20 Maret 2017. “Acara ini diselenggarakan P2 Kimia sebagai bagian dari program Pusat Unggulan Iptek (PUI) Bioetanol Generasi Kedua, “ terang Prof. Dr. Yanni Sudiyani, koordinator PUI saat menerangkan latar belakang acara. P2 Kimia LIPI pada tahun 2017 ini bersama sejumlah instansi litbang lainnya telah terpilih oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menjadi Pusat Unggulan Iptek. Riset yang dikembangkan untuk menjadi unggulan adalah bioetanol generasi kedua. Pemilihan ini berdasarkan sejumlah indikator diantaranya kapasitas intern lembaga, kapasitas riset dan kapasitas diseminasi hasil litbang. “Melalui FGD ini, saya harapkan kita dapat merumuskan strategi pengembangan kompetensi SDM yang tepat guna menjadi Pusat Unggulan Iptek yang berkualitas, “ ujar Dr. Agus Haryono, Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI saat membuka acara. Tak kurang 38 orang diundang dalam kegiatan ini. Mereka adalah para pejabat struktural, koordinator kelompok penelitian, peneliti senior, perencana strategis dan anggota Tim PUI Bioetanol Generasi Kedua. Sedangkan rapat dimoderatori sekaligus dipimpin oleh Dr. Ir. Syahrul Aiman, peneliti senior P2 Kimia. “Dalam merumuskan strategi, kita harus memahami betul target apa yang ingin dicapai, kebutuhan untuk melaksanakan dan kondisi kita saat ini, “ papar Syahrul yang juga pernah menjabat sebagai Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI ini. Para peserta acara kemudian berdiskusi lebih lanjut untuk memformulasikan rencana peningkatan kompetensi. Beberapa program yang diusulkan misalnya pendidikan lanjutan, pelatihan spesifik maupun workshop. Hasil diskusi kemudian dituangkan dalam bentuk rekomendasi. Menjelang penghujung acara, beberapa rekomendasi yang dihasilkan langsung dibacakan kembali oleh Syahrul. Rekomendasi ini akan dikaji lebih lanjut dan dirumuskan implementasinya di Rapat Koordinasi (Rakor) P2 Kimia yang akan diadakan beberapa hari kemudian. <aars/ p2 kimia>.

Baca
ZONA INTEGRITAS