Berita

Di Depan Perwakilan Pengajar Madrasah Se-Indonesia, Yenny Tekankan Pentingnya Riset Menjadi Bagian dari Kurikulum


Administrator, 06 Juni 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] “Kreativitas anak sering membuat kita terkagum kagum. Membuat kita semakin yakin bahwa cara berfikir lateral mereka perlu diwadahi dan diarahkan melalui dukungan., “ papar Dr. Yenni Meliana, peneliti madya Pusat Penelitian Kimia LIPI. “Misalnya saja salah satu juara Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diadakan LIPI tahun lalu, yaitu SMAN 80 Jakarta. Awalnya mereka datang dengan keinginan meneliti sampai seberapa besar cicak bisa menahan stress hingga akhirnya cicak tersebut memutuskan ekornya” lanjut Yenni saat memaparkan pentingnya pengembangan minat riset siswa.

Yenni mengungkapkan hal tersebut saat menjadi pembicara acara “Pengembangan Kurikulum Madrasah Berasrama dan Riset” di Serpong, 31 Mei 2017. Acara ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama dan dihadiri oleh perwakilan guru guru dari madrasah tingkat Tsanawiyah dan Aliyah dari seluruh Indonesia. Dalam acara tersebut turut hadir para pejabat eselon IV yang menjadi Kepala kepala Seksi Kurikulum dan Evaluasi Subdirektorat Kurikulum dan Evaluasi Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, yaitu Kepala Seksi untuk tingkat Raudhatul Athfal, Dra Nanik Puji Hastuti M.Sc, untuk tingkat Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah, Imam Buchori M.Pd dan untuk tingkat Aliyah , Dr. H. Suwardi M.Pd.

Yenni pun selanjutnya memaparkan perjuangan siswa SMAN 80 lebih lanjut. Dijelaskan olehnya, proposal siswa SMAN 80 Jakarta tersebut dinilai menarik oleh panelis LKIR LIPI. LIPI kemudian menunjuk salah seorang peneliti senior Pusat Penelitian Biologi yang merupakan pakar binatang melata, Dr Evy Ayu Arida, untuk membimbing mereka. Ibu Evy kemudian menyusun ulang metode riset siswa tersebut agar menjadi lebih beradab. Karena jika yang diukur adalah seberapa besar cicak bisa menahan stress, maka dalam melaksanakan penelitiannya cicak cicak tersebut akan disiksa sedemikian rupa hingga akhirnya mereka memutuskan ekornya. Dan itu adalah tindakan “biadab” terhadap cicak. Riset mereka kemudian berubah wujud menjadi Studi Pendahuluan Hubungan Daya Rekat Lamella Cicak Rumah Terhadap Tingkat Kekasaran Media Pijak Melalui Pengamatan Perilaku. Dalam judul baru ini, mereka berhasil menjadi juara II LKIR Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati.

“Cerita tersebut salah satu bukti bahwa riset sangat perlu dicematkan secara erat di dalam kurikulum” lanjut Yenni. “Jika riset sudah menjadi bagian yang menyatu dengan kurikulum, maka siswa punya wadah yang sehat dalam menyalurkan ide ide kreatif mereka namun tidak keluar dari nilai nilai manusia yang beradab dan yang lebih utama lagi, tidak keluar dari nilai nilai Islam” simpul Yenni yang tampil bersahaja dalam kerudung putih.

Hal ini sangat disetujui oleh ibu Nanik yang menjadi moderator dalam sesi pemaparan Yenni. “Kita memang sedang mengembangkan madrasah madrasah berasrama yang salah satu keunggulannya adalah pengembangan riset oleh siswa. Siswa yang tinggal di asrama memiliki keleluasaan lebih dari segi waktu dalam melaksanakan riset, tidak terbatas hanya jam sekolah dan di siang hari. Harapannya kelak hasil riset siswa siswa madrasah ini bisa bersaing di kancah nasional atau bahkan internasional” ungkap Nanik.

Selanjutnya tim peneliti PP Kimia LIPI memperagakan beberapa percobaan kimia sederhana yang bisa dilakukan oleh para guru di sekolah mereka masing masing. Para guru diajak untuk ikut serta secara aktif dalam percobaan pembuatan sabun dan mengamati reaksi trans-esterifikasi dalam proses produksi biodiesel dari minyak goreng. Percobaan yang dilakukan menggunakan peralatan peralatan yang sangat mudah diperoleh seperti gelas plastic dan sumpit. Bahan yang digunakan juga adalah bahan bahan umum seperti minyak goreng, soda api, pewarna makanan, etanol dan methanol yang tidak harus dibeli di toko khusus menjual bahan kimia.

Di akhir kegiatan percobaan kimia, tim peneliti PP Kimia LIPI menunjukkan bahwa melalui penelitian, kita juga dapat semakin meyakini kemuliaan ayat ayat Al Qur’an yang seyogyanya lebih dipahami oleh para guru madrasah daripada para peneliti. Hal ini terasa semakin khidmat karena disampaikan bertepatan dengan Bulan Ramadhan. Dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 35, Allaah mengibaratkan sebuah cahaya yang sangat terang dihasilkan dari sebuah lentera yang menyala dengan menggunakan bahan bakar dari minyak zaitun. Minyak zaitun, bukan minyak bumi. Sekiranya cukuplah pengibaratan tersebut menjadi pemandu dan pemicu semangat kita untuk mengembangkan bahan bakar dari sumber daya terbarukan, dari tumbuhan. Sebagaimana produksi biodiesel yang baru saja dicontohkan.

“Allaah (Pemberi) Cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allaah adalah seperti sebuah ruang yang tidak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya, yang minyaknya (saja) hampir hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis lapis). Allaah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allaah memperbuat perumpamaan perumpamaan bagi manusia, dan Allaah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Qur’an Surat An Nuur ayat 35). <TBB/ p2kimia>

ZONA INTEGRITAS