: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Diskusikan Larangan Impor Uni Eropa, Agus Tekankan Penguatan Riset Biofuel Kelapa Sawit Termasuk LCA


Administrator, 29 Maret 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Direktorat Ketahanan Industri, Direktorat Jenderal Ketahanan dan Akses Industri Internasional (KPAII), Kementerian Perindustrian menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) sehari 'Dampak Pelarangan Penggunaan Biofuel Berbasis Minyak Kelapa Sawit di Uni Eropa terhadap Industri Indonesia'. Bertempat di Gedung Kementerian Perindustrian, acara diselenggarakan pada hari Kamis (29/3).

"Acara ini kami adakan untuk menyikapi jajak pendapat parlemen Eropa bulan Januari 2018 yang lalu terkait revisi European Union Directive on Renewable Energy Directives (EU-RED),“ ujar Dody Widodo, Direktur Ketahanan Industri Kementerian Perindustrian saat memberikan pengantarnya. “Salah satu hasil jajak pendapat yang perlu diskusikan adalah terkait rencana pelarangan penggunaan biofuel berbasis minyak kelapa sawit di Uni Eropa pada tahun 2021,“ lanjutnya. Dijelaskan lebih lanjut, Indonesia sebagai penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, perlu mengantisipasi potensi dampaknya terhadap industri dalam negeri.

Turut hadir dalam FGD ini, sejumlah akademisi, pengambil kebijakan dan praktisi yang bergerak di industri biofuel kelapa sawit. Para pengambil kebijakan diantaranya berasal dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Kementerian Luar Negeri. Akademisi yang diundang antara lain berasal dari Universitas Padjajaran, Universitas Trisakti,  Universitas Lampung, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI) dan juga dari Pusat Penelitian (P2) Kimia, LIPI. Sedangkan praktisi yang tampak hadir diantaranya dari Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI).

Presentasi dan diskusi di awal menghadirkan Dr. Rosediana Suharto, narasumber yang berpengalaman terhadap proses penyusunan EU Directives di parlemen Uni Eropa. Ibu Ros, begitu narasumber ini dipanggil, membeberkan perjuangan diplomasi bangsa Indonesia terhadap regulasi biofuel/ kelapa sawit di Uni Eropa. “Proses penyusunan/ perubahan regulasi ini memakan waktu cukup lama dan harus melalui beberapa tahapan proses lagi sebelum disetujui,“ ujar Bu Ros dari Responsible Sustainable Palm Oil Inisiative (RPOI).  Hal ini diamini oleh peneliti dari INDEF, Dr. M. Fadhil Hassan dan Ketua Harian APROBI, Paulus Tjakrawan.

Peneliti INDEF yang lain juga mengungkapkan bahwa potensi dampak pelarangan ini terhadap industri di Indonesia relatif kurang signifikan. Hal ini dikarenakan ekspor Indonesia berbentuk biofuel ke negara Eropa juga volumenya cukup kecil. Meski demikian, Indonesia perlu berhati-hati dan menyuarakan sikap menolaknya agar pelarangan ini tidak melebar ke negara lain. Juga agar tidak melebar ke sektor komoditi berbasis kelapa sawit yang lain seperti pangan.

Kepala P2 Kimia LIPI, Dr. Agus Haryono, yang hadir sebagai salah satu narasumber lebih menyoroti ke arah pengembangan penelitian sawit dan publikasinya. P2 Kimia LIPI sendiri sudah lama mengembangkan produk turunan berbasis kelapa sawit seperti surfaktan, plasticizer, biodiesel dan yang terbaru, bioetanol dari limbah tandan kosong kelapa sawit. P2 Kimia LIPI saat ini juga tengah mengembangkan Life Cycle Assessment sebagai salah satu tool untuk menilai potensi dampak lingkungan suatu produk sistem secara menyeluruh.

“Mengingat alasan teknis yang dijadikan salah satu landasan pelarangan sawit adalah potensi dampak lingkungan, maka riset terkait evaluasi lingkungan sepeti LCA ini perlu terus dikembangkan dan dipublikasikan secara internasional,“ beber Agus yang didampingi tim peneliti seperti Yan Irawan dan Arief Setiawan. “Hal ini penting agar riset-riset kita dapat dirujuk oleh komunitas internasional termasuk dalam pengambilan kebijakan,“ tegasnya.

Saat diskusi, pernyataan Agus ini juga didukung yang lain, termasuk salah seorang pengambil kebijakan dari Kementerian terkait. Dijelaskan olehnya, selama ini Kementerian menyediakan sumber data lapangan namun kurang diolah dalam bentuk publikasi terutama di tingkat internasional. Sehingga, kesempatan publikasinya justru dilakukan oleh peneliti asing.

Dari diskusi, Agus merekomendasikan adanya pengelolaan database inventori yang bisa dijadikan riset analisis potensi dampak lingkungan dan dirujuk bersama oleh komunitas akademis, pengambil kebijakan dan praktisi industri. Di samping itu, riset-riset produk turunan kelapa sawit juga perlu dikembangkan untuk menopang kemandirian industri dalam negeri. <aars/p2k>

ZONA INTEGRITAS