Berita

Diundang Hadiri Thailand Bio Facility Visit Program, P2 Kimia Jajaki Kerjasama


Administrator, 05 September 2017

[Berita P2 Kimia, Bangkok] Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) mendapat undangan untuk menghadiri “Thailand LAB INTERNATIONAL & BIO Facility Visit Program” dari VNU Exhibition Asia Pasific Co. Ltd. Program tersebut merupakan kerjasama antara VNU Exhibition Asia Pasific Co. Ltd dengan Thailand Center of Excellence for Life Sciences (TCELS). Tujuan utama dari program yang dilaksanakan 5-7 September 2017 adalah untuk memperkenalkan kegiatan Thailand LAB INTERNATIONAL dan fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh pusat-pusat unggulan milik pemerintah Thailand. Sujarwo, selaku Ka Sub. Bid. Diseminasi dan Kerjasama Pusat Penelitian Kimia berkesempatan untuk mewakili P2 Kimia pada program tersebut.

Acara hari pertama Selasa (5/9) merupakan rangkaian kunjungan ke beberapa fasilitas riset milik institusi pemerintah Thailand. Kegiatan kunjungan ini diorganisasikan oleh Thailand Center of Excellence for Life Sciences (TCELS), sebuah organisasi publik di bawah Kementrian Sains dan Teknologi Thailand. TCELS yang didirikan sejak 2004 adalah focal point dari semua bisnis, penelitian dan investasi dalam industri life sciences yang saat ini sangat berkembang pesat di Thailand.

Center for Cell and Gene Therapy

Fasilitas yang dikunjungi pertama yaitu Center for Cell and Gene Therapy. Fasilitas yang terletak di Thailand Science Park, Pathumthani ini merupakan fasilitas tersertifikasi GMP untuk memproduksi sel yang akan digunakan dalam proses terapi medis. Untuk memberikan gambaran tentang aktivitas dari pusat unggulan tersebut, Dr. Kamchorn Balangura selaku Senior Adviser memberikan penjelasan kepada seluruh peserta program. Sembari memberi penjelasan, Kamchorn mengajak seluruh peserta untuk berkeliling di dalam fasilitas yang dimiliki oleh Kementrian Sains dan Teknologi Thailand itu. 

“Fasilitas ini didedikasikan oleh pemerintah Thailand untuk mendukung pertumbuhan industri farmasi di negara kami. Kami menyadari bahwa sektor swasta cukup sulit untuk melakukan investasi pada bidang penelitian dan pengembangan. Untuk itu, kami memfasilitasi dan membuka kesempatan kepada mitra industri untuk bekerjasama,” ungkap lelaki yang sering berkunjung ke Bandung terkait pekerjaannya dengan PT. Bio Farma.

Dalam kesempatan diskusi, Sujarwo banyak menggali informasi terkait pola-pola kerjasama yang dibangun antara pusat unggulan dengan mitra industri. Dr. Kamchorn Balangura menjelaskan bahwa Thailand Science Park menyediakan inkubator untuk dimanfaatkan oleh mitra industri. Dalam satu tahun tidak kurang dari enam puluh mitra industri memanfaatkan fasilitas yang berada di Kawasan Thamassat University tersebut. Setengah diantaranya merupakan pelaku bisnis pemula (startup company).

Excellence Center for Drug Discovery

Tempat kedua yang dikunjungi yaitu Excellence Center for Drug Discovery (ECDD) yang terletak di Mahidol University Bangkok. Fasilitas ini merupakan milik Fakultas Sains Mahidol University yang terletak di Rama VI Rd, Bangkok. Peserta program disambut oleh Dr. Tanakorn Osotchan selaku Wakil Dekan Bidang Riset dan Dr. Suparerk Borwornpinyo sebagai Direktur Eksekutif ECDD. Suparerk berkenan memberikan pemaparan sekaligus mengajak seluruh peserta untuk berkeliling di fasilitas yang dipimpinnya tersebut.

“Seperti kita tahu bahwa penemuan dan pengembangan obat-obatan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Akan tetapi pekerjaan ini membutuhkan keahlian multidisiplin dan biaya yang sangat mahal. ECDD memiliki fokus untuk melakukan tahapan awal dari proses pengembangan obat-obatan yaitu drug discovery,” papar pria berkacamata yang sangat fasih berbahasa Inggris tersebut.

Dengan jenis pekerjaan yang hampir sama antara P2 Kimia dengan ECDD, Sujarwo dan Suparerk berdiskusi banyak terkait tantangan yang dihadapi oleh masing-masing institusi. Salah satu diskusi yang menarik yaitu terkait pengembangan obat tradisional. Suparerk sangat antusias untuk ke depan dapat bekerjasama dengan P2 Kimia.

National Biopharmaceutical Facility

Terletak di King Mongkut’s University of Technology Thonburi (KMUTT), National Biopharmaceutical Facility merupakan fasilitas terakhir yang dikunjungi oleh peserta program. Disambut langsung oleh Dr. Solot Suwanayuen, CEO National Biopharmaceutical Facility, seluruh peserta dipersilakan untuk memperoleh pemaparan dan melihat-lihat fasilitas yang juga tersertifikasi GMP tersebut. Secara khusus, Sujarwo diperkenankan untuk berdiskusi dengan Dr. Solot Suwanayeuan. Dalam diskusi tersebut mengemuka bagaimana strategi National Biopharmaceutical Facility menarik stakeholder untuk dapat melakukan kerjasama.

“Beruntung kami di Thailand memiliki Asosiasi Industri Farmasi yang cukup aktif. Melalui mereka kami mempromosikan fasilitas yang kami miliki dan mengajak industri untuk bekerjasama dengan kami. Tentunya dalam hal ini pemerintah Thailand sangat mendukung. Bagi industri yang berminat melakukan kerjasama, pemerintah memberikan insentif khusus. Meskipun fasilitas ini sendiri juga sebenarnya sudah merupakan sebuah insentif dari pemerintah,” kata pria yang juga merupakan Vice President KMUTT Bangkhuntien.

“Fasilitas kami membantu industri dalam pengembangan produk. Sebagai contoh, apabila meraka ingin membuat produk untuk keperluan uji klinis, kami support mereka. Selain itu kami juga melakukan transfer teknologi dari kegiatan penelitian dan pengembangan yang dihasilkan oleh kampus ini. Juga memberikan pelatihan-pelatihan kepada pelaku industri farmasi,” lanjut Solot dalam sesi diskusi yang hangat tersebut.

“Saya belajar banyak dari rangkaian kunjungan ini. Ini akan menjadi bekal bagi saya khususnya dan institusi saya pada umumnya,” ungkap Sujarwo di akhir kunjungan. <SJW/ P2 Kimia>

ZONA INTEGRITAS