Berita

Dorong Hilirisasi Riset, P2 Kimia Gelar Workshop Feasibility Study and Technology Readiness Level


Administrator, 12 April 2018

[Berita P2 Kimia,Serpong] Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin kompetitif, lembaga litbang dituntut untuk semakin inovatif dalam mengembangkan produknya. Hilirisasi atau upaya pemanfaatan hasil-hasil penelitian ke masyarakat dan industri pun menjadi isu penting. Hal ini lah yang mendorong Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI untuk menyelenggarakan workshop sehari “Feasibility Study and Technology Readiness Level”. Bertempat di P2 Kimia, acara ini diadakan pada hari Kamis (12/4). Workshop ini juga terselenggara sebagai bagian dari program Pusat Unggulan Iptek (PUI) Bioetanol Generasi ke-2, sebagai salah satu upaya untuk mendorong riset bioetanol ke arah industri. Acara ini dimoderatori langsung oleh Dr. Sri Handayani, S.Farm. Apt. M., ketua panitia acara.

 “Riset-riset di P2 Kimia, sebagaimana riset pada umumnya, dilakukan mulai dari skala laboratorium hingga skala pilot plant,“ ujar Dr. Yenny Meliana, Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian, saat memberikan sambutan pembuka mewakili Kepala P2 Kimia LIPI. “Riset ini perlu dikelola agar bisa dimanfaatkan ke masyarakat dan industri, salah satunya dengan melakukan kajian kelayakan dan mengakses tingkat kesiapan teknologi nya,“ sambungnya.

Feasibility Study

Di sesi pertama, Dr. Ir. Syahrul Aiman, peneliti senior P2 Kimia LIPI menyampaikan dua materi utama. Yang pertama adalah kajian-kajian pendukung (Soft Studies) untuk Evaluasi Pelaksanaan Hasil Penelitian. Yang kedua adalah Telaah Kelayakan Suatu Usulan.

“Hasil penelitian dapat berupa ilmu pengetahuan, teknologi, dan peningkatan kemampuan/ skill,“ terang peneliti utama bidang Teknik Kimia tersebut saat mulai menjelaskan materi pertama. “Untuk membawa produk ke pengguna, perlu melewati beberapa proses: mulai dari penelitian, alih teknologi serta memperhatikan proses di luar seperti politik, pasar, hukum dan teknologi,“ ujar pria yang menyelesaikan S3 nya di The University of New South Wales, Australia ini.

Lebih jauh, Syahrul menggarisbawahi perlunya para peneliti memperhatikan proses yang terjadi di luar. Hal ini dikarenakan seiring berjalannya waktu, penelitian yang dilakukan menjadi tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan perkembangan jaman. Syahrul mencontohkan pengalaman panjang penelitian di P2 Kimia LIPI sejak tahun 90an. Berdasarkan pengalaman tersebut, diperlukan suatu tools menggunakan metode manajemen/ Soft Studies untuk membantu perencanaan pemanfaatan hasil penelitian. Salah satu tool tersebut adalah studi kelayakan (Feasibility Study).

“Studi kelayakan mencakup antara lain analisis lingkungan, analisis pasar, analisis  teknis, analisis keuangan, dan analisis sensitivitas,“ rinci peneliti yang pernah menjabat sebagai Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI 2008-2014 ini. “Studi ini sebaiknya dilakukan sebelum assessmen tingkat kesiapan teknologi, “ jelasnya.

Syahrul kemudian menjabarkan masing-masing komponen di atas. Secara khusus, peneliti yang pernah menjadi Kepala Pusat Inovasi LIPI 2001-2008 ini memberikan buku pedoman praktis “Memahami dan Menyiapkan Telaah Kelayakan” yang ditulisnya untuk sekitar 40 peserta dari berbagai instansi di ruangan itu.

Menginjak materi kedua, Syahrul mengemukakan pembahasan terkait telaah kelayakan suatu usulan. “Agar kegiatan riset dapat dilakukan baik dan hasilnya dapat berdampak pada ekonomi, sosial dsb., maka (1) kegiatan harus layak dilakukan pengusul, dan (2) menarik/ terkait kebutuhan pasar/ pengguna/ target, “ tekannya.

Lebih lanjut, Syahrul menjabarkan metode perencanaan program dan penentuan prioritas riset. Salah satu metode yang dapat dipakai adalah SERP yang dikembangkan US Industrial Research Institute tahun 1984 dan diadopsi LIPI dari CSIRO tahun 1999.

Di samping dua materi utama di atas, Syahrul juga menyampaikan materi lain seperti metode valuasi paten di lembaga litbang. Presentasi juga diikuti dengan sesi diskusi tanya jawab dengan peserta. Usai presentasi dan diskusi, Kepala Bidang PDHP menyerahkan piagam apresiasi kepada Dr. Syahrul Aiman dan diiringi tepuk tangan dari para peserta.

Technology Readiness Level

Usai istirahat makan siang, acara dilanjutkan dengan materi Technology Readiness Level (TRL). Materi dipresentasikan oleh Arief A.R. Setiawan, M.Eng, peneliti bidang Teknik dan Manajemen Industri P2 Kimia. Sebelum materi dimulai, para peserta diberikan pre-test untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka terkait TRL.  Ada 10 soal singkat dalam pre-test yang dikerjakan dalam waktu 10 menit. Setelah tes berakhir, dilakukan pemberian kunci soal yang dicocokkan dengan jawaban peserta. Dari pengamatan sepintas, nampak para peserta dapat menjawab sekitar 40-70% soal dengan benar.

Para peserta selanjutnya diajak menyimak sekilas terkait video TRL. Video ini memberikan informasi ringkas terkait apa itu TRL, jenjang level dalam TRL dan contohnya.

“TRL merupakan pengukuran sistematik untuk mendukung assesmen kesiapan/ kematangan suatu teknologi,“ terang Arief memulai presentasinya. “Sejak disusun NASA tahun 1974, metode TRL terus berkembang dan dipakai di berbagai negara termasuk diadopsi BPPT dan Kemenristekdikti di Indonesia,“ lanjut peneliti yang menyelesaikan studi S2nya di Waseda University, Jepang. Di Indonesia, istilah TRL diterjemahkan sebagai Tingkat Kesiapan Teknologi yang kemudian berubah menjadi Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT).

Arief kemudian memaparkan 9 tahapan dalam TRL. Tahap terendah adalah level 1 terkait prinsip dasar dari teknologi telah diteliti dan dikembangkan. Sementara tahap tertinggi adalah level 9 yang berarti sistem benar-benar telah teruji/ terbukti melalui keberhasilan pengoperasian.

“Assessmen dimulai dari level 1 dan naik ke level di atas nya jika memenuhi prasyarat nilai tertentu,“ jelas peneliti yang juga sebagai Kepala Subbidang Pengelolaan Hasil Penelitian P2 Kimia LIPI ini. “Biasanya nilai yang dipakai adalah 80%,“ lanjutnya.

Arief mengungkapkan, penggunaan TRL di Indonesia semakin penting. Apalagi dengan terbitnya berapa peraturan termasuk Permenristekdikti No. 42/2016 tentang Pengukuran dan Penetapan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT). “Di peraturan ini, dijelaskan siapa dan bagaimana yang melakukan pengukuran dan penetapan TKT,“ paparnya.

Selanjutnya, Arief memberikan beberapa contoh penggunaan TRL untuk assessmen di P2 Kimia. Menurutnya, TRL ini bermanfaat bagi peneliti untuk mengetahui posisi penelitiannya dan menyusun rencana tindak lanjut. Diantara rencana tersebut adalah dapat diusulkan ke program pendanaan yang sesuai di Kemenristekdikti dan bekerjasama dengan industri.

Terakhir, Arief juga menyampaikan topik lanjutan terkait pengembangan TRL di masa mendatang. Beberapa yang dikemukakan diantaranya semakin bervariasinya indikator dalam TRL yang sesuai dengan bidang penelitian, pengembangan “turunan” TRL sebagaimana yang pernah dikajinya, dan isu kompatibilitas TRL dengan alat ukur lain, seperti Innovation Readiness Level, Manufacturing Readiness Level, System Readiness Level, dsb. Acara dilanjutkan dengan simulasi pengukuran TRL menggunakan contoh dari peserta. Setelah melalui beberapa diskusi, acara pun ditutup jam tiga sore oleh Kepala Bidang PDHP. <aars/p2kimia>.

ZONA INTEGRITAS