Berita

Memeriahkan Gelaran ISE 2017, P2 Kimia Suguhkan Talkshow Senjata Kimia


Administrator, 25 Oktober 2017

(Liputan Peran Serta P2 Kimia LIPI di ISE2017 Bagian 3)

[Berita P2 Kimia, Jakarta] Rangkain Indonesia Science Expo (ISE) 2017 hari kedua, Selasa (24/10), P2 Kimia menghadirkan Talkshow Chemical Safety and Security. Talkshow bertema ‘An introduction of chemical weapons and its prevention’ tersebut menghadirkan tiga narasumber yaitu Wuri Wuryani, Ph.D, Kombes Pol. Drs. Andi Firdaus, dan Dr. Agus Haryono. Dimoderatori oleh Dr. Herry Yogaswara dari P2 Kependudukan LIPI, acara berlangsung dari pukul 15.00 sampai dengan 16.00.

Pemaparan pertama disampaikan oleh Wuri Wuryani, wanita yang pernah berkarir sebagai peneliti di P2 Kimia dari 1982-2012. Wuri menyampaikan bagaimana dunia secara bersama-sama melalui Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) berusaha untuk melarang penggunaan senjata kimia dalam rangka menciptakan perdamaian.

“Saya berkarir sebagai inspektur OPCW sejak 1999 hingga 2009. OPCW bersama dengan negara-negara di dunia bersepakat untuk melarang penggunaan senjata kimia. Tentunya Indonesia juga sudah melakukan ratifikasi terhadap konvensi pelarangan penggunaan senjata kimia atau disebut sebagai negara pihak”, terang Wuri dalam pembukaannya.

Selanjutnya, Wuri memberikan penjelasan tentang kewajiban yang harus dilakukan oleh sebuah negara pihak dalam komitmennya melakukan pelarangan penggunaan senjata kimia. Wuri juga memberikan motivasi kepada para hadirin yang sebagian besar merupakan generasi muda untuk dapat mengikuti kiprahnya dalam turut serta menjaga perdamaian dunia. Ditanya oleh moderator terkait suka-duka menjadi inspektur OPCW, wanita yang berkontribusi dalam peraihan penghargaan Nobel Perdamian yang diperoleh OPCW tahun 2014 itu menyampaikan kisahnya.

“Terus terang tidak banyak wanita yang menjadi inspektur OPCW. Tentunya hal ini karena kami harus siap bertugas di daerah-daerah konflik. Bahkan kebanyakan diantaranya daerah yang tidak ada dalam peta. Suatu kali saya pernah dikirim ke daerah bekas Uni Soviet dimana suhu udara di sana sangat ekstrim hampir -34oC. Kami beranggotakan enam orang harus mampu bertahan di sana selama lebih-kurang enam minggu. Sebagai wanita yang secara fisik lebih lemah dari pria, pastinya kami memiliki tantangan tersendiri. Tetapi, sisi unggul dari wanita yaitu dalam hal diplomasi. Dari pengalaman saya, ketika diplomasi dengan suatu otoritas mentok, maka para inspektur wanita inilah yang dapat menyelesaikannya”, terang wanita yang memperoleh gelar doktornya di Inggris tersebut.

Berikutnya sesi pemaparan disampaikan oleh Kombes Pol. Drs. Andi Firdaus. Pria yang merupakan Kepala Bidang Kimia dan Biologi di Puslabfor Bareskrim POLRI tersebut menjelaskan tentang upaya-upaya yang dilakukan oleh POLRI dalam pencegahan penggunaan bahan kimia berbahaya untuk kejahatan.

“POLRI sebagai salah satu institusi penegak hukum cukup konsen terhadap peredaran bahan kimia berbahaya. Meskipun otorisasi tersebut pada prinsipnya ada di kementrian teknis semisal Kemenperin dan Kemendag”, papar Andi.

Lalu Andi memberikan gambaran tentang potensi penggunaan bahan sehari-hari untuk digunakan dalam kejahatan termasuk upaya pencegahan yang dilakukan oleh POLRI. “Berbicara potensi penyalahgunaan bahan kimia untuk kejahatan, kami pernah menemukan kasus dimana kejahatan dilakukan menggunakan bahan yang biasa digunakan sehari-hari. Tentunya kita mengenal bleaching atau pemutih. Bahan tersebut sangat mungkin untuk dimanfaatkan dalam aksi kejahatan karena kandungan klorinnya yang tinggi”, lanjut pria yang sehari-hari berkantor di Kalimalang tersebut.

Pemaparan terakhir disampaikan oleh Agus Haryono. Agus selaku Kepala P2 Kimia menyampaikan tentang aspek-aspek keselamatan dan keamanan bekerja dengan bahan kimia. Agus menyampaikan bahwa kini kedua hal tersebut, yaitu keselamatan dan keamanan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

“Dahulu mungkin praktisi laboratorium lebih konsen kepada aspek keselamatan dalam berkerja menggunakan bahan kimia. Tetapi, semenjak banyaknya aksi kejahatan dengan menyalahgunakan penggunaan bahan kimia, sekarang aspek keamanan juga menjadi hal yang sangat diperhatikan. Keamanan (security) di sini dimaksudkan untuk menjamin bahwa bahan-bahan kimia, khususnya yang berbahaya terkendali dengan baik. Hal ini untuk memastikan bahwa bahan kimia tersebut tidak jatuh kepada orang yang tidak tepat. Sehingga potensi untuk disalah gunakan terminimalisir”, ungkap pria yang merupakan peneliti madya di P2 Kimia itu.

Sebetulnya selama sesi pemaparan, Herry sebagai moderator memberikan kesempatan kepada peserta talkshow untuk menyampaikan pertanyaan. Antusiasme para peserta yang diantaranya merupakan mahasiswa, peneliti, siswa-siswi sekolah, termasuk perwira kepolisian dari BNPT sangat tinggi. Sehingga tanpa terasa, talkshow yang berlokasi di Stage A arena ISE 2017 di Balai Kartini tersebut telah berlalu hampir satu jam. Moderator pun menutup talkshow meskipun masih menyisakan beberapa hadirin yang ingin menyampaikan pertanyaan. Talkshow ditutup dengan pemberian cinderamata oleh Kepala P2 Kimia kepada narasumber dan moderator. <sjw/ p2k>

ZONA INTEGRITAS