: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Mengajak Diaspora Berkarir Membangun Iptek Nasional


Administrator, 19 Juli 2021

Serpong, Humas LIPI. Pada tahun ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuka kesempatan berkarir dan berkarya bagi para diaspora serta talenta unggul untuk memajukan riset dan inovasi Indonesia. Sebanyak 325 formasi yang terdiri dari 221 formasi Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) dan 104 formasi Calon Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (CPPPK) siap diisi oleh para anak bangsa lulusan S3 terbaik dari dalam maupun luar negeri.

Terkait hal tersebut, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai salah satu institusi riset yang tergabung dalam BRIN, melalui Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT), bekerja sama dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4), menyelenggarakan acara ‘Karpet Merah’ Diaspora, Berkarir Keren bagi Peneliti BRIN, secara daring, pada Sabtu (17/7).

“Kami ingin memberikan wawasan tentang sosialisasi penerimaan CASN, sekaligus mendapatkan masukan dari diaspora terutama terkait ekosistem riset di Indonesia. Agar nantinya diaspora tertarik untuk bergabung ke BRIN,” jelas Agus Haryono selaku Deputi IPT – LIPI sekaligus pelaksana harian Kepala LIPI. “Saat ini kami sedang berbenah untuk membuat ekosistem riset dan inovasi nasional menjadi lebih bagus,” lanjutnya.

Agus mengenalkan LIPI dan kedeputian IPT. “Kedeputian IPT terdiri dari enam pusat penelitian yaitu Fisika, Kimia, Metalurgi dan Material, Tenaga Listrik dan Mekatronik, Elektronika dan Telekomunikasi, serta Informatika. Riset dan inovasi yang dilakukan terdiri dari alat kesehatan, teknologi kendaraan listrik, teknologi material, kemudian bahan alam untuk obat, pangan fungsional, yang dikembangkan terutama pada penanganan Covid-19,” terangnya.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko dalam arahannya mengatakan bagaimana lembaga riset Indonesia mencoba memiliki sejarah dan pengalaman membuat vaksin dari riset. “Kita belum siap dalam bekontribusi menangani pandemi,” ujarnya. “Pandemi ini sebagai pembelajaran kita semua termasuk pemerintah. Bahwa kita harus siap untuk berbagai aset pengetahuan dengan baik, melalui uji klinis obat, fitofarmaka, imunomodulator. Dan ternyata kita belum melakukan itu dan belum banyak orang yang tahu bagaimana melakukannya, apalagi vaksin,” ungkap Handoko.

Terkait vaksin untuk Covid-19, dirinya meminta semua tim melakukan berbagai platform yang bisa dicoba dilakukan. “Pertama, kita harus menguasai riset vaksin agar bisa dipakai segera. Kedua kita harus mempunyai cukup sumber daya manusia (SDM) dan keahlian, karena risetnya membutuhkan berbagai keahlian dalam berbagai bidang. Kemudian diharapkan setiap orang itu mendidik generasi-generasi berikutnya yang mempunyai kapasitas,” terangnya.

BRIN berupaya mengintegrasikan seluruh sumber daya baik itu SDM, infrastktur, maupun anggarannya yang terbuka untuk semua. Baik universitas, industri, dan dari siapa pun yang dapat membuka kolaborasi. “Para diaspora kita harapkan kiprahnya untuk bisa bergabung dengan kami di BRIN. Mari bersama-sama menjadi saksi sejarah iptek di negara Indonesia,” ajak Kepala BRIN.

Dua narasumber yang merupakan PNS Kedeputian IPT LIPI formasi diaspora tahun 2018, hadir pada acara ini. Keduanya adalah Eddwi Hesky Hasdeo Pusat Penelitian Fisika – LIPI, yang saat ini melaksanakan postdoc di Luxembourg, dan Osi Arutanti Pusat Penelitian Kimia - LIPI, yang pernah S3 dan postdoc di Hiroshima University, Jepang.

Bagi Hesky, bekerja di LIPI merupakan tantangan. Dengan disediakan alat-alat laboratorium, peneliti ditugaskan mencari anggaran untuk kemajuan riset, dan bahan-bahan, agar LIPI mempunyai aset yang dikelola dan dibuka untuk umum.

“Kalau kalian tidak bisa mendapatkan dana riset berarti kalian tidak berkualitas,” ujar Hesky mengulangi ucapan L.T. Handoko yang saat itu menjadi Deputi IPT. ”Wah itu benar-benar tantangan, apakah kita mau ditantang seperti itu?” ucapnya.

Di awal kariernya di LIPI tahun 2018, Hesky merasakan kebingungan mengerjakan segala sesuatu sendirian dan hanya menulis satu proposal. Kemudian membangun grup komputasi pada tahun 2019 hingga sekarang.

Tahun 2020, jumlah paper di kelompok penelitiannya berjumlah 19, kemudian tahun ini sudah 12 dan akan terus bertambah. “Karena saat ini di LIPI saya tidak hanya memiliki tim yang sangat solid, tetapi memiliki mahasiswa-mahasiswa yang sangat bertalenta.

“Saya memiliki kebebasan, saya memiliki semua macam sumber daya, berkolaborasi dengan berbagai macam universitas dalam dan luar negeri menjadi satu paper. Kita mempunyai sarana dan prasarana yang memadai,” menurut Hesky.

Menurutnya, berkarir di BRIN itu memiliki jejang karier yang baik, dengan ada kebebasan dan posisi permanen. “Coba saja dulu karena belum tentu kesempatan ini akan datang lagi tahun depan dan meskipun Indonesia sedang masa pandemi, ada perekrutan besar-besaran,” pesan Hesky bagi para diaspora.

Sementara Osi Arutanti, pada tahun pertama masuk ke LIPI, dirinya mengamati kegiatan, lingkungan kerja, fasilitas apa saja yang bisa dimanfaatkan, dan membuat rencana. “Sehingga saya dapat mengembangkan ilmu yang didapat di LIPI, kemudian membuat rencana kerja jangka pendek maupun jangka panjang,” jelasnya.

Pada tahun berikutnya, tahun 2019, dirinya baru memulai mencari segala macam kebutuhannya. “Alhamdulillah P2 Kimia memberikan penelitian kebebasan berekspresi dan termasuk memilih bergabung ke kelompok penetian. Dan saya bergabung ke keltian kimia material dan Katalis,” ungkap Osi.

“Selama di LIPI, saya dan tim bisa membangun kolaborasi nasional maupun internasional. Mendapatkan pendanaan riset, penghargaan L’oreal, melakukan seminar konferensi, dan bisa bergabung dengan organisasi-organisasi riset di Indonesia,” terang peraih L’oreal Women in Science tahun 2019 ini.

Menurutnya, Indonesia masih memiliki harapan di tengah keterbatasan dan stigma-stigma negatif tentang dunia penelitian. “Senior-senior dan guru-guru saya membuktikan bahwa mereka bisa independen di dalam dunia penelitian dengan mempunyai laboratorium yang mumpuni, punya kolabotor yang keren-keren, produktif dalam publikasi internasional,” tuturnya optimis.

“Intinya kita harus tetap kreatif, produktif, dan proaktif. Saya percaya apa pun kebijakan berubah kita pasti dengan mudah untuk beradaptasi,” tegasnya. “Pulang adalah sebuah pilihan. Pilihlah dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Karena berkarya bisa dari manapun, dan berkarya di Indonesia bukan sebuah kemustahilan,” pungkasnya.

Sebagai informasi, dalam acara ini turut hadir pembicara dari The University of Tokyo sekaligus Ketua Umum I4, Muhammad Aziz, dan Syaefudin Jaelani, Doctoral Researcher, Utrect Universiteit, Belanda, serta dipandu oleh moderator Dyah Rachmawati Sugiyanto dari Biro Kerja sama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat - LIPI. (hrd/ ed. adl)

ZONA INTEGRITAS