Berita

Tahun 2011 dinobatkan sebagai Tahun Internasional Kimia 2011


19 Maret 2009

Kabar gembira buat semua pecinta kimia, karena dua tahun mendatang tepatnya tahun 2011 dinobatkan sebagai Tahun Internasional Kimia 2011 (International Year of Chemistry – IYC 2011 – Our Life , Our Future). Gagasan Tahun Internasional Kimia 2011 ini pertama kali dicanangkan pada bulan Agustus 2007 pada pertemuan umum The International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC) di Turin Italia. Gagasan ini ternyata disambut baik oleh dewan PBB dan pada pertemuan PBB bulan Desember 2008, IUPAC dan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyetujui untuk merayakan tahun 2011 sebagai Tahun Internasional Kimia. Tahun 2011 juga bertepatan dengan peringatan 100 tahun penghargaan Nobel Prize Kimia untuk Mme Maria Sklodowska Curie, yang berarti juga peringatan akan kontribusi wanita ke ilmu sains. Peranan kimia dalam kehidupan manusia begitu penting, seluruh materi baik padat, larutan dan gas tersusun dari berbagai unsur-unsur kimia dan bahkan seluruh proses kehidupan ditentukan oleh berbagai reaksi kimia. IUPAC dan UNESCO menyadari sudah saatnya untuk memperingati keberhasilan kimia dan sumbangannya bagi kehidupan manusia. “Tahun Internasional Kimia akan meningkatkan apresiasi global terhadap perkembangan ilmu kimia dalam kehidupan kita dan masa depan kita. Saya berharap peringatan ini dapat meningkatkan kepedulian publik terhadap kimia dan meningkatkan ketertarikan kaum muda akan ilmu sains serta memberikan masa depan yang cerah bagi masa depan kimia”, sambutan dari Ketua the International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC), Professor Jung-Il Jin pada pertemuan PBB. “Saya menyambut kesempatan untuk memperingati kimia sebagai salah satu dasar dari ilmu sains,” ujar Koichiro Matsuura, Direktur Umum UNESCO, “Meningkatkan kepedulian publik terhadap kimia adalah suatu hal yang sangat penting dalam rangka menjawab tantangan pembangunan yang berkesinambungan. Adalah hal yang mutlak bahwa kimia berperan penting dalam membangun sumber alternatif energi dan menghidupi populasi dunia yang terus berkembang” tambahnya. Dalam memperingati Tahun Internasional Kimia 2011 akan direncanakan berbagai aktivitas dan event baik regional, nasional dan internasional yang didukung baik dari asosiasi kimia nasional, institusi edukasi, industri, pemerintahan dan organisasi non-pemerintahan. Aktivitas dan event ini berusaha memperkenalkan kepada publik luas tentang peranan kimia, memberikan solusi terhadap tantangan global, dan membangun generasi muda yang peduli terhadap sains. Situs chem-is-try.org juga akan turut aktif menyukseskan Tahun Internasional Kimia 2011 dengan berusaha bekerjasama dengan beberapa instansi yang peduli dengan sains. Jika kamu punya ide atau masukan untuk menyukseskan Tahun Internasional Kimia 2011, silahkan tulis pada bagian komentar artikel ini. Kami tunggu ide dan masukannya.Ditulis oleh Soetrisno pada 19-03-2009 Kata Kunci: International Year of Chemistry, iupac, IYC 2011, Marie Curie, Tahun Internasional Kimia, UNESCO Sumber :http://www.chem-is-try.org

Baca

KULIAH TAMU


25 Januari 2010

Title: KULIAH TAMULocation: Ruang Rapat Gd. 50 Lt. 2 Puslit Kimia LIPI Bandung Description: Tema : The Future of Agrotechnology Pembicara :Prof. Dr. Rainer Jonas dari HZI (GBF) Jerman,Start Time: 13:15Date: 2010-01-27

Baca

Kadar E coli harus 0 per 100 Mililiter Air


13 November 2009

Air merupakan sumber kehidupan yang tidak bisa dipisahkan dari faktor kesehatan. Konsumsi yang tidak memperhatikan higienitas akan menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia. Padahal, dalam satu hari, seorang manusia dianjurkan untuk mengkonsumsi minimal delapan gelas air putih. Banyak faktor yang bisa menyebabkan kurangnya higienitas air. Beberapa di antaranya adalah lokasi sumber air, apakah dekat dengan permukiman penduduk atau sulit dijangkau. Selain itu tergantung pula dengan proses angkut. Pada fase ini, pencemaran sangat mungkin terjadi akibat bersentuhan dengan tangan manusia dan gesekan selama perjalanan ke depot air. Setelah itu kualitas depot air itu sendiri, apakah pengelola cukup terlatih untuk menyajikan air yang steril dari kuman. Menurut peneliti teknologi lingkungan Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hari Rom Haryadi, sumber pencemaran bisa datang dari udara, lingkungan sekitar, dan tanah. Pencemaran sangat mungkin disebabkan oleh logam berat. Menurutnya, sebagian logam berat, seperti timah dan tembagabiasa terdapat dari sumber mata air, karena logam merupakan mineral yang berasal dari dalam Bumi. Namun dalam jumlah yang melebihi standar, beberapa jenis logam berat yang dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu, seperti merkuri bisa menyebabkan penyakit kanker dan mendapat keturunan yang abnormal. Selain logam berat, kuman pun menjadi sumber pencemar air minum. Mikroorganisme patogen yang terkandung dalam tinja manusia dapat menularkan beragam penyakit bila masuk tubuh manusia. Menurut Hari, dalam 1 gram tinja terkandung 1 miliar partikel virus infektif, yang mampu bertahan hidup selama beberapa minggu pada suhu di bawah 10 derajat celcius. “Terdapat empat mikroorganisme patogen yang terkandung dalam tinja yaitu virus, Protozoa, cacing, dan bakteri yang umumnya diwakili oleh jenis Escherichia coli (E coli),” ujar Hari. Walau empat mikroorganisme itu dinilai sebagai sumber pencemaran air minum, namun biasanya yang menjadi indikator utama adalah keberadaan bakteri E Coli. “Apabila tidak ditemukan E coli, maka air tersebut secara mikrobiologis dinyatakan tidak tercemar.” Jika masuk ke dalam tubuh, sebagian besar mikroorganisme patogen tersebut tidak memberikan gejala secara jelas. Setelah tinja memasuki badan air, E coli akan mengkontaminasi tubuh dan bahkan pada kondisi tertentu dapat mengalahkan mekanisme pertahanan tubuh dan tinggal di dalam pelvix ginjal dan hati. Sesuai Permenkes Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum, dipersyaratkan bahwa kadar E coli dalam air minum adalah 0 per 100 mililiter (ml) air harus dipenuhi. ”Padahal secara kasat mata sangat sulit untuk menentukan apakah air minum sudah tercemar atau belum,” kata Hari. Pencemaran tingkat parah baru bisa dipantau lewat penglihatan jika fisik air berubah. Bila air tidak jernih, berwarna tertentu, ada kotoran melayang, dan berbau, maka bisa dikatagorikan sebagai air tidak layak minum.(not/L-4) sumber : http://www.koran-jakarta.com

Baca

Minyak Kelapa Sehat Tanpa Proses Pemanasan


21 Desember 2009

Sudah banyak diketahui minyak kelapa lebih sehat ketimbang minyak sawit karena rantai karbonnya lebih pendek yang membuatnya cepat menguraikan karbon menjadi energi sehingga tidak disimpan oleh tubuh dalam bentuk lemak ataupun kolesterol. Dalam 4 tahun terakhir tren penggunaan minyak kelapa makin meningkat seperti jenis Virgin Coconut Oil (VCO) alias minyak kelapa murni. VCO ini ada yang dimasak dengan api kecil, atau melakukan pemisahan dengan cara fermentasi. Peneliti LIPI pada Juli 2009 juga telah mempublikasikan pembuatan minyak kelapa sehat dengan proses fermentasi dengan ragi (inokulum) tempe. Ragi tempe dinilai paling sehat dengan ongkos yang murah. "Penemuan ini telah banyak digunakan untuk industri UKM karena biaya proses pengolahannya cukup murah. Minyak kelapa dengan fermentasi ragi tempe ini sudah menjadi public domain siapa pun bisa memakainya," kata Direktur Pusat Penelitian Kimia Prof. (Ris) Dr. Leonardus Broto Sugeng Kardono ketika dihubungi detikHealth. Minyak kelapa dengan fermentasi ragi tempe ini dibuat cukup mudah. Pertama memilih kelapa tua berumur 10-12 bulan lalu diparut dan diperas hingga menjadi santan. Santan lalu ditaburi ragi tempe tanpa perlu diaduk. Setelah itu santan yang telah ditaburi ragi tempe diinkubasi sekitar 16 jam dalam suhu kamar. Setelah proses fermentasi selesai terdapat tiga lapisan terpisah yakni air, minyak kelapa atau VCO dan lapisan solid protein. Kemudian masing-masing bagian dipisahkan secara mudah. Untuk setiap 100-120 liter santan kelapa diperlukan 200 gram ragi tempe yang akhirnya menghasilkan VCO 8-10 liter. "Semakin meniadakan proses pemanasan, minyak yang dihasilkan akan memiliki rantai karbon yang lebih sehat," kata Broto. Diakui Broto selama ini proses fermentasi minyak kelapa tidak begitu populer penggunaanya karena dianggap rumit dan harga enzimnya cukup mahal. Namun dengan penemuan fermentasi minyak kelapa dengan ragi tempe, LIPI berharap pengolahan industri kelapa lebih maksimal sesuai dengan standar yang berlaku karena pohon kelapa sangat banyak tersebar di Indonesia. Minyak kelapa yang dihasilkan ini selain untuk minyak goreng sehat digunakan juga untuk industri kosmetik dalam pembuatan sabun, pelembab, minyak urut, sabun cair non kimia. Produk minyak yang dihasilkan sangat khas beraroma kelapa dan karakteristiknya cocok untuk bahan pembantu kosmetika. Ketika ditambahkan pewangi sebagai minyak pelembab, campuran tersebut terlarut sempurna dan aroma bertahan lebih dari sebulan. Jika menggunakan pemanasan yang tinggi, pengolahan minyak memang lebih cepat prosesnya. Tapi akan lebih gampang merusak minyak akibat rantai karbonnya yang semula ganda menjadi tunggal yang ditakutkan bisa memicu zat karsinogenik.(ir/fah) sumber : http://health.detik.com

Baca

LIPI Bikin Material Hijau Tingkat Lanjut


30 November 2009

JAKARTA - Material hijau (green material) bukan cuma karena ia berasal dari bahan alam yang bisa diperbarui. Ada setidaknya lima kriteria lain untuk sebuah material bisa disebut hijau. Mereka adalah efisiensi pemakaian sumber daya, dampak lingkungan, dampaknya bagi kesehatan manusia, efisiensi energi dan konsumsi air, serta durasi kegunaan. "Jadi, misalnya, material itu hanya bisa digunakan selama dua tahun. Tapi yang dari bahan bakar fosil bisa 20 tahun, material itu belum bisa disebut hijau," kata Agus Haryono, peneliti kimia polimer di Pusat Penelitian Kimia di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dalam lokakarya peresmian Pusat Riset Lanjutan dan Multidisiplin (ICIAR) LIPI, Kamis sore lalu. Dalam lokakarya itu, Agus memaparkan, perkembangan riset di bidang green advanced material. Dengan 31 jumlah riset dan instrumen untuk karakterisasi semacam high energy milling, scanning electron microscopy, nucleic magnetic resonance, serta photolitography, Agus mengungkapkan, LIPI menjadi lokomotif riset di bidang ini di Tanah Air. Beberapa riset yang sedang dikerjakan Agus dan teman-temannya di bidang green advanced material ini adalah pembuatan polyurethane dan bioplasticizer dari minyak kelapa sawit. Khusus plasticizer, zat aditif yang membuat plastik melentur tapi viskositas leleh dan tensile strength berkurang, saat ini masih didominasi oleh dioctyl phthalate (DOP). Bahan yang satu ini dikenal karsinogenik, mencemari darah, dan beracun untuk alat reproduksi pria. Plastik yang bisa terurai secara biologis juga dikerjakan LIPI bekerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional dan Departemen Perindustrian. "Plastik itu memiliki kemampuan terurai secara biologis pada minggu kedelapan," ujar Agus. Seluruhnya ada empat peneliti LIPI yang berbicara dalam lokakarya itu. Selain Agus, mereka adalah Adi Santoso dari Pusat Penelitian Bioteknologi, yang mengungkap perkembangan riset di bidang bioteknologi-biomedika, serta Andika Widya Pramono dari Pusat Penelitian Metalurgi tentang advanced material untuk aplikasi medis. Satu lagi, Ikrar Nusa Bakti, mengulas tentang pertahanan strategis. WURAGIL sumber: http://www.korantempo.com/

Baca

Kemasan Plastik Teknologi Nano Sangat Ramah Lingkungan


12 November 2009

SEBUAH terobosan teknologi telah berhasil mengurangi kekhawatiran manusia terhadap plastik. Plastik kema san yang sebelumnya membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terurai, menjadi mudah terurai hanya dalam empat hingga delapan minggu. Bahkan, dapat lebih cepat lagi. Teknologi itu bernama Nano atau Sanoicchnology. Dengan teknologi nano, kemasan plastik bisa menjadi teknologi yang sangat ramah lingkungan karena plastik menjadi sangat mudah terurai oleh mi kroba yang ada dalam tanah. Plastik kemasan nanoteknologi yang disebut sebagai plastik biodegradable itu. merupakan hasil riset Masyarakat Nanotekno-.logi Indonesia (MN1). "Plastik biodegradable itu dibuat dengan mencampurkan kalsium karbonat dalam bentuk partikel nano dengan ukuran puluhan nanometer ke dalam hanan kemasan plastik polienlcn (PE) atau pelipropilcn (PP) hingga 70%. Kemasan plastik nanoteknologi mudah terurai, karena dengan ukuran sangat kecil, luas pcrmukaanya menjadi lebih lebar, kontak dengan mikroba dalam tanah jauh lebih banyak," ungkap Sek icn \l\l Dr Agus Haryono di sela Konferensi Internasional Advanced Materials and Practical Xanotcchnology di Jakarta, Rabu (11/11). Pakar kirnia polimer LIPI itu menambahkan, nanoteknologi berkaitan dengan bagaimana cara mengatur material, sruktur, dan fungsi ;at pada skala nano (satu nanometer sama dengan satu meter dibagi satu miliar red) sehingga menghasilkan materi dengan struktur dan fungsi baru. Namun sayangnya, ujar dia, kemasan plastik nanoteknologi yang dibuat mikroba ini masih lebih mahal dibanding kemasan plastik biasa, sehingga akan sulit dilirik masyarakat meski sangat bagus untuk lingkungan. "Tapi kami sudah mencoba mendorong Kemncg Lingkungan Hidup untuk membuat peraturan tentang pemanfaatan kemasan plastik biodegradable ini," kata dia. Menurutnya, jika perusahaan plastik kemasan bisa memroduksi 2% saja kemasan plastik biodegradable ini dari total produksi plastik PE dan PP nya. maka hal itu udah sangat bagus-Agus mengatakan, ada dua metode pembuatan kemasan plastik nanoteknologi, yakni secara kimia dan secara fisika. Secara ki mia yaitu dengan mclarutkan dan ditam bahkan zat kimia tertentu sehingga muncul dalam bentuk bubuk seukuran nano atau dengan cara fisika, yaitu dengan menghancurkan iat zat dengan alat nigfi energy milling 6 ant/one sumber : http://bataviase.co.id/detailberita-10239116.html

Baca

Selamat kepada Dr. S. Tursiloadi dan Dr. Agus Haryono


26 November 2009

 Selamat kepada tim Dr. S. Tursiloadi dengan makalah yang berjudul "Direct ethoxylation of fatty acid glyseryl esters from palm oil as non-ionic surfactant" dan kepada tim Dr. Agus Haryono dengan makalah yang berjudul "Rekayasa proses produksi isopropil oleat ester berbasis minyak sawit" yang mendapatkan penghargaan pada acara Tahunan MAKSI (Masyarakat Perkelapa-sawitan Indonesia) yang diselenggarakan pada 24-25 Nopember 2009 di bogor

Baca

Implementasi Insinerator Narkoba Untuk Mendukung Tugas Polri


19 November 2009

Memusnahkan narkoba bukanlah perkara mudah! Tidak sekedar asal musnah saja, namun dibutuhkan peralatan pemusnah (insinerator) yang mumpuni yang dapat memusnahkan narkoba tanpa menyisakan limbah beracun dan berbahaya lagi. Narkoba termasuk golongan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dari tahun ke tahun hasil sitaan meningkat. Terkait dengan kuantitas narkoba sitaan, dibutuhkan peralatan pemusnah yang cukup dan handal. Untuk itu, harus adanya sinergisitas antara Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT), LPND, POLRI, Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) dalam mengembangkan peralatan pemusnah yang bersertifikat dan dapat dimanfaatkan oleh POLRI dan BNN. Agar terjadinya sinergitas/kolaborasi kelembagaan, Asdep Program Tekno Ekonomi, Asdep Program Riptek Unggulan dan Strategis dan Puslit Kimia LIPI bekerjasama dalam menyelenggarakan Workshop pengembangan dan implementasi insinerator narkoba yang dilaksanakan pada Kamis, 19 November 2009 di Puslit Kimia LIPI Serpong Tangerang. Dari workshop ini diharapkan terjadi kesepahaman antar lembaga dalam rangka memberantas penyalahgunaan narkoba, terutama LIPI, BNN, POLRI, dan KLH sebagai peneliti dan pengembang iptek kepolisian, pengguna iptek kepolisian, dan pihak regulator dan hasil penelitian anak bangsa dapat dimanfaatkan. Pengembangan insinerator adalah salah satu kegiatan untuk mendukung litbang iptek kepolisian guna mendukung tugas POLRI’. Ujar, Hari Purwanto,  saat Asisten Deputi Urusan Program Unggulan dan Strategis saat memberikan sambutan pada pembukaan workshop yang mewakili Deputi Bidang Program Riptek. Kapuslabfor POLRI, Brigjen Pol H. Budiono dan Kapuslit Kimia LIPI, L Broto Sugeng Kardono. Peserta workshop adalah peneliti dari berbagai instansi, seperti BATAN dan anggota kepolisian, terutama puslabfor. Pada acara tersebut mengetengahkan empat pembicara yang memaparkan baik dari aspek kebutuhan sampai dengan asepek hukumnya. Narasumber dari Puslit Kimia LIPI, Edi Iswanto Wiloso, menjelaskan pengembangan insinerator narkoba telah dilakukan sejak tahun 2008 dan akan dilanjutkan pada tahun 2010 dengan sasaran mobile incinerator (insinerator bergerak) untuk memudahkan dapat ditempatkan dii daerah-daerah dengan tingkat penyalahgunaan narkoba tinggi. Sedangkan  Rahardjo Binudi dari Puslit Metalurgi LIPI menjelaskan aspek teknis dari pengembangan mesin insinerator. Dari sisi regulasi dan kebijakan, narasumber dari BNN, Mufti Djusnir membawakan data mengenai persebaran narkoba di berbagai daerah di Indonesia. Tampak dalam data tingkat penyalahgunaan narkoba paling tinggi di daerah Jawa dan Sumatera.  Syaiful Bahri sebagai pembicara dari Kementerian Lingkungan Hidup memaparkan pengolahan, pemanfaatan, pengolahan limbah B3 (bahan bahan berbahaya dan beracun) dan perizinan peralatan insinerator narkoba. Acara yang dilaksanakan pada Kamis, 19 November 2009 bertempat di Ruang rapat Puslit Kimia LIPI Puspiptek Serpong di hadiri oleh Asisten Deputi Urusan Program Riptek Unggulan  dan Strategis, Deputi Bidang Program Riptek KNRT, Hari Purwanto; Kapuslabfor POLRI, Brigjen Pol H. Budiono; Kapuslit Kimia LIPI, L Broto Sugeng Kardono; Puslit Kimia LIPI, Edi Iswanto Wiloso; Puslit Metalurgi LIPI, Rahardjo Binudi; Badan Narkotika, Nasional, Mufti Djusnir; Kepala Biro Hukum dan Humas Ristek. (ad-prus/humasristek) Sumber : www.ristek.go.id

Baca

Seminar Nasional dan Kongres Himpunan Kimia Indonesia 2009


20 November 2009

Title: Seminar Nasional dan Kongres Himpunan Kimia Indonesia 2009Location: Gedung Widya Graha Lantai 1 LIPI Jl. Gatot Subroto No. 10 JAKARTALink out: Click hereDescription: “Regulasi Pengadaan dan Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya dalam Rangka Mendukung Riset dan Industri” akan diadakan pada tanggal : 19 Desember 2009 Gedung Widya Graha Lantai 1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jl. Gatot Subroto No. 10 JAKARTA RUANG LINGKUP Topik-topik yang akan dibahas dalam kegiatan ini adalah: \"Regulasi pengadaan dan penggunaan bahan kimia berbahaya. \" PEMBICARA 1. Menristek 2. Dirjen IKAH 3. Deputi Badan POM 4. Deputi KLH / B3 5. PT. Sucofindo 6. LIPI (Inspektur OPCW Periode 1999-2009) 7. Deputi Bidang Peng. SIPTEKNAS 8. Koordinator Forum Ketua-Ketua Jurusan Kimia se-Indonesia Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi : Sekretariat Seminar Nasional dan Kongres HKI 2009 Pusat Penelitian Kimia – LIPI Telp : 021 – 7560549, Fax : 021 – 7560929 E-mail : HKI-2009@kimiawan.org C/P : Dr. S. Tursiloadi Start Time: 8:30Date: 2009-12-19End Time: 16:30

Baca

Kini Limbah Plastik Mudah Terurai


19 November 2009

Jakarta- Melalui teknologi nano (nanotechnology), kemasan plastik dapat menjadi sangat ramah lingkungan karena sangat mudah terurai oleh mikroba yang ada dalam tanah. "Dengan nanoteknologi, plastik kemasan yang sebelumnya membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terurai, menjadi mudah terurai hanya dalam 4-8 minggu, bahkan lebih cepat lagi," kata Sekjen Masyarakat Nanoteknologi Indonesia (MNI), Dr. Agus Haryono, di sela Konferensi Internasional "Advanced Materials and Practical Nanotechnology" di Jakarta. Plastik kemasan nanoteknologi yang disebut sebagai plastik "biodegradable" hasil riset bersama MNI itu, dibuat dengan mencampurkan kalsium karbonat dalam bentuk partikel nano dengan ukuran puluhan nanometer ke dalam bahan kemasan plastik polietilen (PE) atau polipropilen (PP) hingga 70 persen. "Kemasan plastik nanoteknologi mudah terurai karena dengan ukurannya yang sangat kecil, luas permukaanya menjadi lebih lebar, kontak dengan mikroba dalam tanah jauh lebih banyak," kata Pakar Kimia Polimer LIPI itu. Nanoteknologi berkaitan dengan bagaimana cara mengatur material, sruktur dan fungsi zat pada skala nano (satu nanometer sama dengan satu meter dibagi satu milyar -red) sehingga menghasilkan materi dengan struktur dan fungsi baru. Namun sayangnya, ujar dia, kemasan plastik nanoteknologi yang dibuat oleh mikroba ini masih lebih mahal dibanding kemasan plastik biasa sehingga akan sulit dilirik masyarakat meski sangat bagus untuk lingkungan."Tapi kami sudah mencoba mendorong Kementerian Lingkungan Hidup untuk membuat peraturan tentang pemanfaatan kemasan plastik biodegradable ini," kata dia. Menurut Agus, jika perusahaan plastik kemasan bisa memproduksi dua persen saja kemasan plastik biodegradable ini dari total produksi plastik PE dan PP-nya, sudah sangat bagus.Agus mengatakan, ada dua metode pembuatan kemasan plastik nanoteknologi, yakni secara kimia dan secara fisika. Secara kimia yaitu dengan melarutkan dan ditambahkan zat kimia tertentu sehingga muncul dalam bentuk bubuk seukuran nano atau dengan cara fisika yaitu dengan menghancurkan zat-zat dengan alat "high energy milling." Ketua Umum MNI Dr Nurul Taufiqurochman mengatakan, nanoteknologi saat ini sudah semakin diaplikasikan ke berbagai bidang seperti di bidang kosmetik, pengobatan, tekstil, bahan bangunan, teknologi informasi dan komunikasi dan lain-lain. (dew) sumber: www.technologyindonesia.com

Baca

Naik Pangkat Daun Sukun


19 November 2009

SERPONG - Jonathan berkenalan dengan khasiat seduhan daun sukun dari seorang kawan. Segala pikiran positif dan mind power sudah dikerahkannya, tapi ternyata hanya seduhan berasa sedikit sepat itulah yang mampu mengusir bayang-bayang ngeri tumor tumbuh di balik lehernya yang terasa kaku. Penasaran dengan khasiat daun penyelamatnya itu, Jonathan menyelidik ke perpustakaan di dunia maya. "Ternyata ada juga yang menyatakan daun ini berguna untuk penyakit jantung, ya, jadi saya minum terus saja sampai sekarang," katanya berbagi. Sukun (Artocarpus altilis) memang tak cuma dikenal dengan buahnya yang enak. Daunnya sudah secara empiris--berdasarkan pengalaman--terbukti bisa menolong mengatasi penyakit tekanan darah tinggi dan juga kencing manis. Sebagian bahkan menyebut khasiatnya yang sampai ke organ hati, gigi, serta gatal-gatal dan pembengkakan di kulit. Pengalaman seperti inilah yang membuat tim peneliti dari Pusat Penelitian Kimia di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyertakan jenis daun lebar-lebar itu di antara 42 jenis tanaman yang dikenal berkhasiat sebagai obat jantung ke Universitas Zhejiang di Cina. "Berkedok" program pengembangan kemampuan biomedical engineering, tim yang terbagi menjadi tiga gelombang dalam periode 2004-2007 itu membandingkan daun sukun, di antaranya, dengan pepaya, belimbing, dan bawang putih. Lewat serangkaian uji in vitro menebeng peralatan modern milik universitas itu, tim mendapati bahwa ekstrak daun sukun memang yang paling efektif. Analisis, antara lain, dilakukan dengan sel endotel (pembentuk lapisan dalam pembuluh darah) untuk kasus atherosclerosis atau penumpukan lemak dalam pembuluh darah dan sel otot jantung untuk kasus hipertensi. "Aktivitas proliferasi dan viabilitas sel di kedua kasus itu terjadi paling tinggi dengan bantuan ekstrak daun sukun," kata Nina Artanti, peneliti bidang kimia bahan alam yang menjadi anggota tim, di kantornya, Selasa lalu. Ekstrak daun terpilih tersebut lalu diuji lebih jauh dengan teknik kromatogafi untuk dicari senyawa aktifnya. Hak paten yang keluar pada 2007 atas ekstrak total flavonoid dan fitosterol daun sukun sebagai obat kardiovaskuler dan teknik produksinya adalah buah rangkaian uji lanjutan itu. Hak paten terdaftar atas nama Leonardus Broto Sugeng Kardono, Kepala Pusat Penelitian Kimia, dan anak buahnya, Tjandrawati Mozef, selain Kepala LIPI Umar Anggara Jenie dan tiga orang dari Universitas Zhejiang. Kini, dua tahun berselang dari kerja sama itu, Broto, Nina, Tjandrawati, dan yang lainnya di Pusat Penelitian Kimia berancang-ancang menjejak ke tahap uji klinis--mencoba dosis tertentu pada pasien penyakit jantung kardiovaskuler. Tujuannya adalah membuat khasiat daun sukun menjelma menjadi obat yang bisa diresepkan. "Kami sudah presentasi di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita," kata Broto di sela-sela kesibukannya menerima tamu, Selasa lalu. Nina menjelaskan, mereka berani melangkah ke uji klinis karena uji pada tikus (in vivo)--yang sebagian dilakukan di Zhejiang--menunjukkan bahwa keempat senyawa aktif yang dimurnikan dari ekstrak daun sukun itu aman dikonsumsi. Dosis mematikannya tergolong besar, hingga 16 gram per kilogram berat badan (si tikus). "Tikus yang diberi obat terus-menerus selama tiga bulan, setelah dibedah, darahnya diambil, di cek enzim-enzimnya, morfologi jantung, ginjal, dan hati, juga tidak menunjukkan adanya efek samping," Nina menjelaskan. Menurut Nina, uji efektivitas juga menunjukkan hasil yang bagus. Uji ini dilakukan dengan cara membandingkan tikus ketika diberi obat-obatan lain, mulai dari aspirin, propanolol, sampai obat herbal ginkgo biloba. "Ekstrak memiliki aktivitas mendekati atau setara dengan obat-obatan itu," katanya. Dosis yang diberikan dalam uji terhadap hewan percobaan itu sebesar 50 miligram per kilogram berat tikus. Untuk uji klinis, tentu harus dihitung ulang formulanya yang pas untuk manusia. Begitu pula formula tabletnya, "Karena, kan, tidak mungkin mencekoki ekstrak ini ke manusia seperti melakukannya ke tikus," kata Nina. Khusus untuk formula tablet, Nina menyebut faktor waktu hancur dan reaksinya yang tidak menghalangi ekstrak diserap tubuh. "Ini memang tidak susah-susah banget. Akhir tahun ini kami targetkan formula tablet dan ekstrak terstandar itu sudah didapat," kata Nina. WURAGIL Uji Klinis Uji klinis tidak mudah dan tidak singkat. Andai kerja sama dengan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita atau dengan pihak lain disepakati, Broto menjelaskan, harus dilakukan presentasi dulu di hadapan anggota Komisi Etik. Lolos dari komisi itu, uji baru bisa dilakukan, pertama-tama, terhadap orang sehat. Uji pertama ini untuk memastikan keamanan calon obat tersebut. Baru, setelah itu, uji klinis mulai melibatkan orang sakit dengan jumlah terbatas. "Fase ketiga melibatkan orang sakit di multilokasi, dan yang terakhir berupa uji post market, pemantauan setelah obat dipasarkan," profesor riset di bidang kimia organik yang baru pekan lalu dikukuhkan itu menjelaskan. Uji klinis juga tidak murah. Ini, menurut Nina, berkaitan dengan alat yang diperlukan, misalnya untuk memantau akumulasi lemak pada aorta atau pembuluh darah besar yang mengalirkan darah dari jantung. Ini pulalah yang menyebabkan produk fitofarmaka (obat-obatan dari bahan tanaman) lokal masih bisa dihitung dengan jari. "Kebanyakan adalah obat sintesis (dari bahan kimia) yang diproduksi dan diuji di luar negeri dan tinggal dipasarkan oleh perusahaan farmasi di Tanah Air," katanya. Khusus untuk ekstrak daun sukun sebagai bakal obat jantung, ada setidaknya lima macam uji selain akumulasi lemak. Laju pengendapan, kekentalan, pembekuan, dan acute ischemia juga harus dikaji dan dibanding-bandingkan. "Kami harus pilih satu saja," kata Broto. Sambil menunggu kesepakatan skema kerja sama, khususnya yang terkait dengan pendanaan, antara atasannya dan pihak rumah sakit, Nina memilih menyibukkan diri dengan formulasi ekstrak dan tablet yang akan dipakai. Dengan 300 miligram per tablet, ia menghitung, dibutuhkan 5 kilogram ekstrak aktif etil asetat yang memuat senyawa aktif untuk keperluan uji klinis nanti. Sebagai pembanding, untuk 300 gram (0,3 kilogram) ekstrak yang dihasilkan untuk skala penelitian di laboratorium, diperlukan 15 kilogram daun kering. "Rasanya kami masih bisa memenuhi kebutuhan itu dari pohon sukun yang tumbuh di sekitar sini," katanya. Nina menambahkan, karakter daun juga dicari yang sama dengan yang telah diuji in vitro dan in vivo. sumber : www.korantempo.com

Baca

Seminar Nasional dan Kongres Himpunan Kimia Indonesia 2009


19 November 2009

"Regulasi Pengadaan dan Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya dalam Rangka Mendukung Riset dan Industri” akan diadakan pada tanggal : 19 Desember 2009 Gedung Widya Graha Lantai 1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jl. Gatot Subroto No. 10 JAKARTA RUANG LINGKUP Topik-topik yang akan dibahas dalam kegiatan ini adalah: Regulasi pengadaan dan penggunaan bahan kimia berbahaya. Kebutuhan bahan kimia berbahaya untuk meningkatkan level of knowledge dalam pengembangan dan pendidikan IPTEK unggul nasional. Kajian litbang penanganan bahan kimia berbahaya di industri, lembaga penelitian, dan perguruan tinggi. Kegiatan Litbang di Lembaga Penelitian , Perguruan Tinggi dan Industri. TUJUAN Kegiatan Seminar Nasional dan Kongres Himpunan Kimia Indonesia Tahun 2009 ini bertujuan mendapatkan keseragaman regulasi dan rekomendasi kemudahan pengadaan dan penggunaan bahan kimia berbahaya untuk mempercepat peningkatan level of knowledge dalam pengembangan dan pendidikan IPTEK unggul nasional. PESERTA Kegiatan Seminar Nasional dan Kongres Himpunan Kimia Indonesia Tahun 2009 ini akan dihadiri sekitar 200 orang peserta yang terdiri dari peserta penyaji poster (poster dalam ukuran A0, panjang 90 cm – lebar 65 cm), para tamu undangan, dan peserta pendengar. Peserta lainnya adalah peninjau dari litbang, perguruan tinggi dan industri terkait serta perwakilan cabang Himpunan Kimia Indonesia, baik di lingkungan pemerintah maupun swasta LATAR BELAKANG Dalam suatu negara, hasil pengembangan teknologi mampu meningkatkan daya saing industrinya secara signifikan. Pemerintah dan para penggiat industri berupaya terus-menerus meningkatkan level of knowledge teknologi yang mereka miliki untuk lebih unggul dalam persaingan di era global dewasa ini. Oleh karena itu penguasaan teknologi terkini untuk dapat dikaitkan dan diselaraskan dalam industri nasional merupakan suatu keniscayaan. Masuk ke dalam abad 21, perubahan paradigma telah terjadi dalam memandang teknologi itu sendiri, dimana sifat-sifat dan kinerja material selama ini sudah dapat direkayasa sedemikian rupa sehingga menjadi lebih efektif, efisien dan berdaya guna. Dalam gilirannya, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kimia tentu perlu dukungan sumber daya manusia yang handal dan bahan kimia yang lengkap dan mencukupi. Dari agenda seminar yaitu kemudahan pengadaan dan penggunaan bahan kimia berbahaya, terutama untuk pengembangan dan pendidikan iptek dengan memanfaatkan potensi yang tersebar di Nusantara terhadap bahan kimia untuk kepentingan industri makanan, minuman, dan obat merupakan hal yang perlu didiskusikan dalam Seminar Nasional dan Kongres Himpunan Kimia Indonesia Tahun 2009 dengan mengedepankan tema “Regulasi Pengadaan dan Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya dalam Rangka Mendukung Riset dan Industri”. PEMBICARA 1. Menristek 2. Dirjen IKAH 3. Deputi Badan POM 4. Deputi KLH / B3 5. PT. Sucofindo 6. LIPI (Inspektur OPCW Periode 1999-2009) 7. Deputi Bidang Peng. SIPTEKNAS 8. Koordinator Forum Ketua-Ketua Jurusan Kimia se-Indonesia Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi : Sekretariat Seminar Nasional dan Kongres HKI 2009 Pusat Penelitian Kimia – LIPI Telp : 021 – 7560549, Fax : 021 – 7560929 E-mail : HKI-2009@kimiawan.org C/P : Dr. S. Tursiloadi Informasi lebih lanjut dapat dilihat dalam leaflet-seminar-hki-2009 BIAYA REGISTRASI Peserta : - Industri / Umum / Lembaga Penelitian & Perguruan Tinggi Rp. 300.000 - Mahasiswa Rp. 150.000 Telah ditransfer melalui Bank BNI TAPLUS Kantor Cabang Fatmawati Acc. No. 0162593845 A.n Silvester Tursiloadi Dibayar pada saat seminar Kegiatan Seminar Nasional dan Kongres Himpunan Kimia Indonesia Tahun 2009 ini diselenggarakan pada: Waktu : Sabtu, 19 Desember 2009 , Tempat : Gedung Widya Graha Lt 1 Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia Jl. Gatot Subroto No. 10 – Jakarta Pendaftaran Seminar Paling lambat 15 Desember 2009

Baca

Malaysia Patenkan Produk Herbal


17 November 2009

Hasil penelitian buah Aglaia silvestris, tanaman perdu endemik Kalimantan, berhasil dipatenkan lebih dulu oleh Malaysia. Padahal periset Indonesia bersama ilmuwan Amerika Serikat lebih dulu menemukan manfaat herbal tanaman tersebut untuk antileukemia. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Pusat Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Leonardus Broto Sugeng Kardono pada orasi pengukuhan profesor riset bidang kimia organik di LIPI. Kardono menjelaskan,"Malaysia beralasan bahwa sumber daya genetik tersebut berasal dari Serawak." Malaysia sangat mengetahui potensi pasar produk tersebut sehingga berusaha mematenkan terlebih dulu, ungkap Kardono. Pada tahun 2000, Kardono bersama ilmuwan Universitas Illinois, Amerika Serikat, berhasil mengidentifikasi buah Aglaia silvestris mengandung senyawa rocaglamide yang menunjukkan aktivitas antikanker prostat dan antileukemia.Penelitian dilanjutkan tahun 2002 untuk reidentifikasi yang dilakukan bersama Ilmuwan Australia, dan senyawa tersebut diberi nama Aglaia foveolata .Hasil reidentifikasi tersebut menghasilkan senyawa antikanker prostat dan antileukemia. ”Indonesia kaya akan tumbuhan obat. Namun, kalah cepat dengan Malaysia untuk urusan mematenkannya,” keluh Kardono. Dari sumber daya hayati di Indonesia baru diperoleh sebanyak 49 senyawa potensial obat,” kata Kardono.(naw) sumber: www.technologyindonesia.com

Baca

Research Group: Analytical Chemistry


18 November 2009

Latar Belakang Pentingnya Penelitian Kimia Analitik: Berbagai kasus terkait kemampuan pengujian bidang kimia seperti kasus-kasus penolakan komoditas ekspor oleh negara-negara tujuan, penyalahgunaan bahan-bahan kimia bukan untuk pangan yang ditambahkan ke dalam bahan pangan. Kandungan bahan-bahan kimia berbahaya baik dalam bahan pangan maupun di lingkungan yang melebihi ambang batas; serta membanjirnya produk-produk impor dengan kualitas yang rendah dan mengandung bahan berbahaya masih sering terjadi di Indonesia. Mengingat berbagai permasalahan tersebut di atas, maka peningkatan kompetensi pengujian dengan menggunakan  prinsip prinsip metrologi kimia perlu dilakukan untuk menghasilkan data-data yang akurat, tertelusur  dan diterima oleh semua pihak baik di tingkat nasional maupun internasional. Oleh karena itu desiminasi   ketertelusuran untuk memperoleh komparibilitas hasil pengujian melalui penyediaan bahan acuan menjadi tantangan bagi Pusat Penelitian Kimia – LIPI khususnya laboratorium metrologi kimia. Tujuan/ Fungsi/ Sasaran Keltian: Tujuan: Menyiapkan PP Kimia LIPI   sebagai laboratorium nasional merologi kimia melalui kegiatan  pengembangan bahan acuan  dalam  upaya  untuk menjamin hasil pengukuran yang valid. Fungsinya:  mendesiminasikan  ketertelusuran pengukuran  ke laboratorium  pengujian sehingga  dapat menjamin  akurasi dan komparabilitas hasil pengujian nasional yang akhirnya  dapat diakui internasional . Sasaran : Membuat bahan acuan bersertifikat yang tertelusur ke Standar International sesuai dengan  ISO  guide 34 dan 35.   Kegiatan Penelitian Utama Kelti/ Sub Kelti disertai Deskripsi Singkat: Membuat bahan acuan   bersertifikat yang tertelusur ke standar Internasional sesuai dengan iso Guide 34 dan 35 yang terdiri dari   Bahan acuan : logam dalam  larutan standar murni, logam dalam air minum, logam dalam tepung beras ,anion dalam air minum ,anion dalam  larutan standar murni, Residu pestisida dalam  buah , benzoate dalam makanan ,melamin dalam susu , Poly Aromatik Hidrokarbon dalam makanan  olahan ,  Buffer pH sekunder  ,  daya hantar listrik elektrolit gas untuk  kendaraan bermotor dan gas rumah kaca .    Potensi Pengguna Penelitian Keltian: Seluruh laboratorium  pengujian kimia ( Industri Dalam Negeri, Pemerintah dan swasta )

Baca

Research Group: Biomass Energy and Environment


18 November 2009

Latar Belakang Pentingnya Penelitian Energi Biomassa dan Lingkungan: Saat ini Indonesia mempunyai tantangan besar untuk meningkatkan kemandirian di bidang energi dalam rangka mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Selama ini sistem penyediaan energi nasional berorientasi pada penggunaan energi fosil, sedangkan pemanfaatan energi non-fosil/energi baru terbarukan (EBT) masih sangat rendah. Penggunaan energi fosil memberikan kontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca yang tidak saja menyebabkan gangguan lingkungan terutama bertambahnya polusi udara tetapi yang utama adalah meningkatkan pemanasan global (global warming). Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, memiliki potensi biomasa yang sangat melimpah. Biomassa dari limbah pertanian dan kehutanan belum banyak dimanfaatkan.  Limbah ini dapat dikonversi menjadi bioenergi, seperti bahan bakar nabati (BBN) yang berfungsi untuk mensubstitusi bahan bakar yang berasal dari minyak (BBM). Tujuan/ Fungsi/ Sasaran Keltian: Keltian ini dikembangkan untuk berkontribusi dan membantu pemerintah, masyarakat dan industri guna (i) Mengembangkan energi biomassa sebagai energi alternatif ramah lingkungan,  (ii) berpartisipasi dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca yang berakibat pada pemanasan global, (iii) Mencegah penurunan kualitas lingkungan hidup, udara, tanah dan badan air yang diakibatkan oleh aktivitas pembangunan dan kegiatan industri  .   Kegiatan Penelitian Utama Kelti/ Sub Kelti disertai Deskripsi Singkat: Kegiatan Penelitian pada kelompok ini  terdiri dari lima sub Kelti yaitu : 1)      Konversi Biomassa kegiatan difokuskan untuk menghasilkan Bioenergi ramah lingkungan seperti bahan bakar cair dan gas.  Proses konversi melalui cara fermentasi, gasifikasi, termokimia dll. 2)      Kilang Hayati : Melakukan kegiatan yang terintegrasi antara proses konversi biomassa untuk menghasilkan bahan bakar, dan bahan-bahan kimia dari biomassa sebagai  ko-produk kimia adi (fine chemicals). 3)      Pengelolaan Limbah Proses : Melakukan pengelolaan limbah proses konversi biomassa dan kilang hayati 4)      Kajian dampak lingkungan : Melakukan kajian dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan konversi biomassa dan kilang hayati. 5)      Pengembangan metoda analisis lingkungan : Melakukan pengembangan dan menyediakan metoda analisis untuk karakterisasi bahan, produk dan limbah kegiatan konversi biomassa dan kilang hayati   Potensi Pengguna Penelitian Keltian: Pemerintah, Masyarakat, Transportasi, Agro Industri , Industri kosmetik // // // //

Baca

Presentasi Food Safety


18 November 2009

Title: Presentasi Food SafetyLocation: Ruang Rapat lantai 2, PP Kimia LIPI SerpongDescription: Presentasi Food Safety Pembicara : Dr. Anri Tenri A. Karossi Start Time: 13:30Date: 2009-11-20

Baca

SEMINAR BTPK


18 November 2009

Title: SEMINAR BTPKLocation: Meeting Hall, Lantai 2 PP Kimia LIPI SerpongDescription: SEMINAR BTPK Penyaji : Ryanto Heru Nugroho Judul Presentasi : \"Produksi Asam Laktat Dengan Metode Fermentasi\" Start Time: 9:00Date: 2009-11-20

Baca

Research Group: Catalysis and Macromolecular


18 November 2009

Latar Belakang Pentingnya Penelitian katalis dan Makromolekul Pengembangan katalis maju dan makromelekul diarahkan untuk mengelola dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia secara signifikan. Dengan memperkuat kemampuan peneliti dalam bidang katalis maju dan makromelekul akan memberikan kontribusi yang besar dalam kemajuan bangsa Indonesia. Tujuan/ Fungsi/ Sasaran Keltian: Tujuan • Teknologi dan produksi katalis maju untuk konversi sumber daya alam Indonesia • Pengembangan dan sintesa makromolekul untuk industri kimia   Kegiatan Penelitian Utama Kelti/ Sub Kelti disertai Deskripsi Singkat: 1)  Sintesa katalis untuk produksi kimia adi dan pengembangan makromelekul untuk pelapisan, adsorben dan bahan pengemas. 2) Implementasi penelitian katalisis dan makromolekul dalam bidang kesehatan   Potensi Pengguna Penelitian Keltian: Industri kimia adi, industri katalis dan adsorben, industri kapal, industri bahan makanan dalam kemasan, industri polimer, industri kosmetik, rumah sakit.

Baca

Research Group: Active Pharmaceutical Ingredients


17 November 2009

  Latar Belakang Pentingnya Penelitian Bahan Baku Obat: 1. Masih banyak kejadian penyakit di masyarakat Indonesia, antara lain: penyakit degeneratif dan infeksi. 2. BBO sebagian besar masih diimpor, sedangkan sumberdaya hayati yang berlimpah belum termanfaatkan secara optimal untuk BBO. Tujuan/ Fungsi/ Sasaran Keltian: Tujuan: untuk menemukan dan mengembangkan BBO dari tumbuhan, mikroba dan biota laut untuk penyakit degeneratif dan infeksi. Fungsi: sebagai sarana membangun kompetensi dan sinergi di antara para peneliti di bidang penemuan dan pengembangan BBO. Sasaran: memperoleh BBO untuk penyakit antibakteri, antikanker, antidiabetes, antidengue, antihiperkolesterolemia, dan antimalaria.   Kegiatan Penelitian Utama Kelti/ Sub Kelti disertai Deskripsi Singkat: 1. Subkeltian BBO Degeneratif Alami Subkeltian ini melakukan kegiatan: a. uji klinik ekstrak daun sukun sebagai fitofarmaka antidiabetes dan antikolesterol b. pencarian antidiabetes dari biota laut c. pengembangan Macaranga spp. sebagai antihiperkolesterolemia d. formulasi sediaan herbal untuk antidiabetes 2. Subkeltian BBO Degeneratif Sintetik Subkeltian ini melakukan kegiatan: a. sintesis turunan butirolakton dari Aspergillus terreus untuk BBO antidiabetes b. sintesis senyawa dimer turunan fenol untuk antiabetes 3. Subkeltian BBO Infeksi Alami Subkeltian ini melakukan kegiatan: a. pengembangan senyawa antimalaria alami b. pengembangan obat herbal terstandar untuk antidengue c. pengembangan mikroba endofitik biota laut sebagai antikanker d. pengembangan biota laut sebagai antibakteri e. pengembangan bahan baku obat antikanker alami 4. Subkeltian BBO Infeksi Sintetik Subkeltian ini melakukan kegiatan: a. pengembangan turunan andrografolida sebagai antimalaria b. pengembangan turunan artemisinin sebagai antimalaria   Potensi Pengguna Penelitian Keltian: 1. Industri obat dalam negeri 2. Kementerian Kesehatan – RI 3. Masyarakat // // // //  

Baca

Development of Electrospun Nanofibrous Structures for Conductive, Antibacterial and Biomedical Applications


16 November 2009

Title: Development of Electrospun Nanofibrous Structures for Conductive, Antibacterial and Biomedical ApplicationsLocation: Ruang Rapat Lantai IV, Ged. 80 PP Kimia - LIPI BandungStart Time: 9:30Date: 2009-11-10End Time: 11:00

Baca
ZONA INTEGRITAS