Berita

Di KLHK, Edi Ungkap potensi LCA Guna Dukung Pengambilan Kebijakan


08 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Jakarta] Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan (Pustanlinghut), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) “Penerapan SNI ISO 14040:2016 dan SNI ISO 14044:2017 tentang Manajemen lingkungan- Penilaian Daur Hidup”. Bertempat di Gedung Rimbawan, Manggala  Wanabakti, KLHK, Jakarta, acara diadakan selama 2 hari (5-6 April 2017). Bimtek tersebut dihadiri sekitar 50 orang yang terdiri dari para peneliti dan pengambil kebijakan di lingkungan KLHK. Kementerian/ Lembaga lain yang diundang diantaranya Kementerian Perindustrian, Pertanian, Energi Sumber Daya dan Mineral, Kelautan dan Perikanan, Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Tenaga Kerja, Luar Negeri, Badan Perencanaan Nasional, Badan Standarisasi Nasional, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah. “Bimtek ini dimaksudkan untuk mengkaji implementasi ISO 14040/44 terutama pemanfaatan LCA di level pengambilan kebijakan, “ terang Ir. Noer Adi Wardojo, M.Sc, Kepala Pustanlinghut saat memberikan sambutan pembukanya. Di sesi pertama, Noer selanjutnya menerangkan beberapa contoh penerapan LCA untuk mendukung kebijakan, baik di dalam maupun luar negeri. “Aplikasi ini misalnya untuk ekolabel tipe 1 dan 3, untuk efisiensi produksi, penurunan emisi, dst.,” terangnya lebih lanjut. Dalam sesi tersebut, peneliti P2 Kimia LIPI, Dr.  Edi Iswanto Wiloso, juga turut diundang menjadi pembicara. Edi yang juga ketua Indonesian Life Cycle Assessment Network (ILCAN) menyampaikan pengantar konsep LCA dan beberapa studi kasus penggunaannya di luar negeri terkait dengan daya saing komoditi ekspor. “Indonesia termasuk tertinggal dalam menerapkan LCA, dibandingkan negara tetangga seperti Thailand maupun Singapura, “ terang doktor lulusan Leiden University, Belanda ini. Edi kemudian menyampaikan beberapa contoh aplikasi LCA di bidang energi, bangunan, kelautan dan sebagainya. Pembicara selanjutnya adalah Dr. Jessica Hanafi. Pengajar Universitas Pelita Harapan ini menyampaikan materi metodologi LCA. “Ada empat tahapan metode LCA, yaitu Penentuan Tujuan dan Ruang Lingkup, Inventori Daur Hidup, Penilaian Dampak Daur Hidup dan, Interpretasinya, “ terang Jessica yang juga merupakan pengurus ILCAN ini. Jessica selanjutnya menguraikan lebih rinci keempat tahap metode tersebut. Peserta tampak antusias mengikuti bimtek ini. Beberapa dari mereka mengajukan pertanyaan secara berulang dan dijawab satu persatu oleh para pembicara. Di awal dan akhir acara, para peserta mengerjakan tes singkat untuk mengetahui tambahan pemahaman materi yang diberikan. <aars/p2 kimia>

Baca

Kunjungan STKIP Surya ke P2 Kimia LIPI


08 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Hari Rabu, 12 April 2017,  25 orang mahasiswa didampingi 2 dosen pengajar kimia dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan  (STKIP) Surya mengunjungi  P2 kimia LIPI. “Tujuan kunjungan kami adalah untuk mengenal  lebih dekat  laboratorium analisa kimia , seperti NMR, FTIR, HPLC, Mass Spektrofotometer dan ATG/DTA, “ ujar dosen pembimbing STKIP Surya. Rombongan diterima oleh tim pendamping yang dikoordinasi oleh Eni Suryani, S.P. Rombongan langsung dipecah ke dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok mengunjungi laboratorium di P2 Kimia secara bergantian.   Mahasiswa STKIP Surya 90% didominasi mahasiswa  dari  Indonesia bagian timur, terutama Papua. Sekolah ini memang telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah agar masyarakatnya mendapat kesempatan pemerataan pendidikan. Para mahasiswa tampak sangat antusias dan  terlihat ceria saat berkunjung ke P2 kimia LIPI. “Kami dapat mengenal laboratorium  instrument analisa kimia lebih dekat, “ terang salah seorang diantaranya.Diharapkan ilmu yang didapatkan akan bermanfaat untuk menambah wawasan  ilmu pengetahuan.  (ES/ p2kimia) [Berita P2 Kimia, Serpong] Hari Rabu, 12 April 2017,  25 orang mahasiswa didampingi 2 dosen pengajar kimia dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Surya mengunjungi  P2 kimia LIPI. “Tujuan kunjungan kami adalah untuk mengenal  lebih dekat  laboratorium analisa kimia , seperti NMR, FTIR, HPLC, Mass Spektrofotometer dan ATG/DTA, “ ujar dosen pembimbing STKIP Surya. Rombongan diterima oleh tim pendamping yang dikoordinasi oleh Eni Suryani, S.P. Rombongan langsung dipecah ke dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok mengunjungi laboratorium di P2 Kimia secara bergantian.   Mahasiswa STKIP Surya 90% didominasi mahasiswa  dari  Indonesia bagian timur, terutama Papua. Sekolah ini memang telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah agar masyarakatnya mendapat kesempatan pemerataan pendidikan. Para mahasiswa tampak sangat antusias dan  terlihat ceria saat berkunjung ke P2 kimia LIPI. “Kami dapat mengenal laboratorium  instrument analisa kimia lebih dekat, “ terang salah seorang diantaranya.Diharapkan ilmu yang didapatkan akan bermanfaat untuk menambah wawasan  ilmu pengetahuan.  (ES/ p2kimia)

Baca

Peneliti LIPI Sarankan Penjualan Air Keras Diperketat


08 Mei 2017

VIVA.co.id – Awal hari ini, publik terkejut dengan insiden penyiraman air keras pada penyidik KPK Novel Baswedan. Air keras memang tergolong bahan yang berbahaya karena sifatnya yang korosif. Jika terpapar air keras, logam sampai kulit, sampai tulang bisa rusak. Meski sifatnya korosif, air keras punya sejumlah manfaat. "Air keras itu asam kuat, banyak digunakan di industri kimia untuk reaksi kimia," jelas peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono kepada VIVA.co.id, Selasa 11 April 2017. Dalam penerapannya, air keras juga dipakai untuk air aki. Selain di industri kimia, ujar Agus, air keras juga dimanfaatkan sebagai formulasi pestisida. Air keras dipakai sebagai bahan tambahan dalam pembuatan atau pengolahan pestisida. Bicara air keras terdapat beberapa macam. Agus menyebutkan, air keras di antaranya meliputi asam klorida (HCL), asam sulfat (H2SO4), asam posfat (H3PO4). Dia mengatakan, air keras secara definisi merupakan asam kuat yang memiliki konsentrasi tinggi, bersifat korosif dan derajat keasamannya rendah. Doktor kimia lulusan Waseda University, Jepang itu menjelaskan, untuk HCL konsentrasi asamnya biasanya 35-37 persen, H2SO4 (96 persen) dan H3PO4 (70 persen). "Dengan tingkat konsentrasi itu maka pasti korosif," ujarnya. Agus membenarkan HCL memang ada dalam tubuh manusia. Tapi, jangan khawatir, HCL di dalam tubuh punya kadar konsentrasi yang sangat rendah sehingga tak membahayakan manusia. HCL diproduksi dalam lambung manusia. "HCL itu pada dasarnya gas ya, bentuknya yang larut dalam air. HCL di dalam tubuh itu kadarnya 0,0 sekian persen. Hanya kandungan kecil," jelas pria asal Jawa Timur itu. Menurutnya, HCL di dalam lambung bisa berisiko bagi manusia, jika kadarnya asamnya naik meninggi. "Maka kalau tingkat asamnya tinggi, jadinya asam lambung," tuturnya. Mengingat sifatnya korosif yang membahayakan tubuh, maka Agus berpesan yang penting dalam hal ini adalah pemakaiannya yang benar. Dia berpandangan, peredaran air keras perlu diatur dan diawasi seiring dengan maraknya kejahatan dengan menggunakan bahan tersebut. Saat ini, untuk memperoleh air keras semua orang bisa membelinya secara bebas di toko kimia, tanpa membawa izin khusus. "Makanya perlu itu pembelian air keras itu harus pakai izin khusus bisa polisi, maksudnya izin untuk penggunaannya untuk apa," kata dia. sumber: viva.co.id   Cegah Penyalahgunaan Air Keras, LIPI Sarankan Bentuk Chemical Security BANDUNG, (PRFM) - Maraknya penyalahgunaan air keras membuat sejumlah pihak merasa khawatir. Pasalnya keberadaan zat kimia tersebut bila tidak digunakan dengan semestinya bisa berdampak buruk bagi orang lain. Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono mengatakan, seharusnya pemerintah Indonesia bisa mengendalikan penjualan air keras ini dengan membentuk chemical security. Agus menuturkan, fungsi chemical security ini penting lantaran bisa mencegah peredaran air keras di kalangan masyarakat. "Memang kita perlu menerapkan chemical security ini. Supaya ada deteksi untuk menanggulangi peredaran air keras . Memang nyatanya kedepan harus ada chemical security untuk mencegah adanya kejahatan dan kecelakaan," ujarnya saat on air di Radio PRFM, Selasa (11/4/2017). Agus pun menuturkan, pihaknya sudah berulang kali melakukan penelitian tentang bahayanya air keras ini. Namun, hal itu belum bisa dikatakan berhasil bila tidak adanya badan yang mengontrol keberadaan zat kimia tersebut. "Kami kalau  penelitian sudah lakukan. Tapi kami mewanti -wanti agar chemical security harus bisa diterapkan di masyarakat luas. Bahkan perusahaan logistik bahan kimia itu perlu diawasi juga," pungkasnya menutup. Sumber: PR FM 107.5 News Channel

Baca

Gelar FGD Pengembangan Kompetensi, P2 Kimia Mantapkan Strategi Menjadi Pusat Unggulan Iptek Bioetanol Generasi Kedua


12 April 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong]. Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM). Bertempat di Gedung 452 Puspiptek Serpong, acara diadakan selama sehari penuh pada tanggal 20 Maret 2017. “Acara ini diselenggarakan P2 Kimia sebagai bagian dari program Pusat Unggulan Iptek (PUI) Bioetanol Generasi Kedua, “ terang Prof. Dr. Yanni Sudiyani, koordinator PUI saat menerangkan latar belakang acara. P2 Kimia LIPI pada tahun 2017 ini bersama sejumlah instansi litbang lainnya telah terpilih oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menjadi Pusat Unggulan Iptek. Riset yang dikembangkan untuk menjadi unggulan adalah bioetanol generasi kedua. Pemilihan ini berdasarkan sejumlah indikator diantaranya kapasitas intern lembaga, kapasitas riset dan kapasitas diseminasi hasil litbang. “Melalui FGD ini, saya harapkan kita dapat merumuskan strategi pengembangan kompetensi SDM yang tepat guna menjadi Pusat Unggulan Iptek yang berkualitas, “ ujar Dr. Agus Haryono, Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI saat membuka acara. Tak kurang 38 orang diundang dalam kegiatan ini. Mereka adalah para pejabat struktural, koordinator kelompok penelitian, peneliti senior, perencana strategis dan anggota Tim PUI Bioetanol Generasi Kedua. Sedangkan rapat dimoderatori sekaligus dipimpin oleh Dr. Ir. Syahrul Aiman, peneliti senior P2 Kimia. “Dalam merumuskan strategi, kita harus memahami betul target apa yang ingin dicapai, kebutuhan untuk melaksanakan dan kondisi kita saat ini, “ papar Syahrul yang juga pernah menjabat sebagai Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI ini. Para peserta acara kemudian berdiskusi lebih lanjut untuk memformulasikan rencana peningkatan kompetensi. Beberapa program yang diusulkan misalnya pendidikan lanjutan, pelatihan spesifik maupun workshop. Hasil diskusi kemudian dituangkan dalam bentuk rekomendasi. Menjelang penghujung acara, beberapa rekomendasi yang dihasilkan langsung dibacakan kembali oleh Syahrul. Rekomendasi ini akan dikaji lebih lanjut dan dirumuskan implementasinya di Rapat Koordinasi (Rakor) P2 Kimia yang akan diadakan beberapa hari kemudian. <aars/ p2 kimia>.

Baca

Peneliti Perempuan Berperan Signifikan Untuk Perubahan


04 April 2017

JAKARTA, (PR).- Para peneliti perempuan selama ini memberikan peran yang signifikan dalam bidang sains. Karena itu Hari perempuan internasional 2017 yang jatuh pada Rabu, 8 Maret 2017 ini layak diperingati untuk mengapresiasi keberhasilan kaum perempuan di berbagai bidang termasuk sains. Hal tersebut diutarakan Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas (BKHH) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Nur Tri Aries Suestiningtyas. Dia menuturkan para peneliti perempuan menempati posisi penting dalam kemajuan peradaban bangsa. "Sejumlah hasil karya dan temuan penelitian telah berhasil diberikan oleh perempuan di bangsa ini untuk perkembangan sains di Indonesia," ujarnya di Jakarta, dalam siaran pers yang diterima "PR". Dia menjelaskan, berdasarkan data Sistem Informasi Pegawai (SIMPEG), saat ini LIPI memiliki peneliti perempuan sebanyak 723 orang yang tersebar di 48 satuan kerja seluruh Indonesia. "LIPI memiliki sederet kisah inspiratif dari peneliti perempuan tersebut yang diharapkan bisa memotivasi perempuan Indonesia lainnya,” katanya. Karena itu, pihaknya pada Rabu, 8 Maret 2017 ini menyelenggarakan diskusi Hari Perempuan Sedunia 2017 dengan tema “Peneliti Perempuan untuk Perubahan”. Diskusi tersebut menurut dia juga diharapkan dapat mendorong peran mereka untuk lebih signifikan lagi dalam dunia sains, dan juga memberikan motivasi bagi generasi muda. Sejumlah peneliti perempuan yang dimiliki LIPI diantaranya adalah Evy Ayu Arida (Peneliti Bidang Zoologi), Ratih Asmana Ningrum (Peneliti Bidang Bioteknologi), Neni Sintawardani (Peneliti Bidang Teknologi Sanitasi Lingkungan), dan Yenny Meliana (Peneliti Bidang Kimia). Evy Ayu Arida adalah Peneliti Bidang Zoologi pada Pusat Penelitian Biologi LIPI, penelitian yang ditekuninya seputar hewan melata atau herpetofauna. Sejak bergabung pada 2000 sebagai peneliti, bidang herpetofauna masih sangat minim peminat. Namun, hingga saat ini bidang tersebut ditekuninya. Evy meraih gelar Master of Science, Flinders University Adelaide, Australia pada 2005 dan Doktor rerum naturalium, Rheinische Friedrich-Wilhelms- Universität Bonn, Jerman pada 2011. Sementara itu Ratih Asmana Ningrum adalah Peneliti Muda Bidang Bioteknologi Kesehatan di Pusat Penelitian Bioteknologi. Ratih fokus melakukan riset di laboratorium protein terapeutik dan vaksin. Pada 2012, ia telah berhasil meraih gelar Doktor bidang farmasi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain itu, Ratih sempat memperoleh penghargaan program National Fellowship Loreal UNESCO for Women in Sciences 2013 dengan kategori Life Sciences. Adapun Neni Sintawardani adalah Peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI. Penelitian yang dilakukannya adalah teknologi sanitasi lingkungan dan salah satu temuannya yakni Biotoilet Berpengaduk Manual. Fokus penelitian Neni bertujuan agar memudahkan masyarakat miskin memiliki akses sanitasi yang memadai dan air bersih. Neni meraih gelar Doktor bidang process engineering di Hohenheim University, Jerman. Sedangkan Yenny Meliana merupakan Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI. Sejak bergabung sebagai peneliti pada 2005, Yenny telah fokus pada riset bidang kimia. Lewat penemuan pada Pengembangan Bahan Baku Obat Malaria dengan Teknologi Nano, ia berhasil memperoleh penghargaan di bidang ilmu sains, teknologi dan matematika dari L’Oréal – UNESCO for Women In Sciences National Fellowship Awards for Woman 2016. Yenny meraih gelar doktor bidang Chemical Engineering di National Taiwan University of Science and Technology, Taiwan.***

Baca

Perdalam Iptek, SMA Santa Laurensia Bertandang ke P2 Kimia


24 Januari 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Sejumlah 23 siswa siswi kelas XI MIPA yang didampingi Dra. M.M. Risyati selaku guru pembimbing mengunjungi Pusat Penelitian Kimia, LIPI pada hari Selasa, 24 Januari 2017. Kedatangan mereka untuk memperdalam ilmu pengetahuan yang mereka pelajari di sekolah melalui belajar dan praktek di laboratorium. Sekolah Santa Laurensia didirikan dengan menanamkan sebuah penghormatan intrinsik bagi kehidupan serta gairah belajar dalam lingkungan bilingual.  Santa laurensia memiliki motto Educatio Puerilis Renovatio Mundi Est, yaitu memberikan pendidikan pada kaum muda untuk mengubah dunia dan memberikan sistem pendidikan holistik dengan perspektif global untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi, critical thinking dan problem solving, komunikasi serta kolaborasi. Setiba di P2 Kimia, rombongan dibagi menjadi 8 kelompok yang mengunjungi tiap lab secara bergiliran. Lab yang dikunjungi adalah Lab pilot plant bioetanol, Lab NMR, Lab Spektro, Lab Particle Size Analyzer, Lab Bahan Alam dan Farmasi, Lab Termokimia, Lab FTIR, dan Lab Katalis. Di tiap lab, mereka langsung mendapatkan pengarahan langsung dari para peneliti yang berada di labnya. “Rasa pengetahuan anak-anak saat ini makin tinggi yang dilihat dari pengetahuan mereka terhadap peralatan yang ada, “ kesan Dr. Yenny Meliana, Kabid Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian yang turut menerima rombongan. <ES/ p2 kimia>  

Baca

Jajaki Kerjasama, Swiss German University Kunjungi P2 Kimia


10 Januari 2017

 [Berita P2 Kimia, Serpong] Sejumlah petinggi Swiss German University (SGU) berkunjung ke Pusat Penelitian Kimia LIPI (Selasa, 10 Jan 2017). “Kedatangan kami bertujuan menjajaki potensi kerjasama penelitian, terutama di bidang life science technology, “ terang  Dr. Dipl. -Ing. Samuel P. Kusumocahyo, dekan Fakultas Life Sciences and Technology,  dalam sambutannya. Samuel datang dengan membawa para kepala jurusan maupun perwakilan dari tiap jurusan di bawah koordinasinya, seperti jurusan Biomedical Engineering, jurusan Teknik Kimia, jurusan Teknologi Pangan dan jurusan Lingkungan dan Energi Berkelanjutan. “Kami sangat terbuka dan menyambut baik kerjasama penelitian dengan pihak SGU, “ terang Dr. Yenny Meliana, Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian yang diiamini oleh Dr. Heru Susanto, Kasubbid Diseminasi dan Kerjasama. Turut hadir dalam pertemuan itu para peneliti junior senior, termasuk dari Kelompok Penelitian (Keltian) Kimia Pangan, Keltian Teknologi Proses dan Katalis, serta Keltian Kimia Lingkungan dan Biomassa. Acara dilanjutkan dengan diskusi teknis terkait judul penelitian yang akan dikerjasamakan antara kedua belah pihak. <aars/ p2 kimia>

Baca

Terobosan Dr Yenny Meliana Buat Obat Antimalaria Gunakan Teknologi Nano


12 Desember 2016

  [Jawa Pos, Serpong] MASUK laboratorium kantor Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), terlihat puluhan tabung reaksi tertata rapi. Beberapa berisi cairan aneka warna. Di salah satu meja kerja laboratorium, Yenny Meliana terlihat sedang memperhatikan suatu reaksi kimia. Matanya tertuju pada peralatan kromatografi kolom yang terdiri atas beberapa tabung kaca. Perempuan kelahiran Curup, Rejang Lebong, Bengkulu, 17 Oktober 1976, itu lantas menyudahi kegiatannya. Dia lalu menjelaskan risetnya yang bertujuan membuat formulasi obat paling ampuh untuk mengatasi serangan malaria. Dia menuturkan, saat ini obat yang digunakan untuk malaria adalah pil kina. Dalam perkembangannya, parasit protozoa yang menyebabkan malaria sudah mulai kebal terhadap pil kina "Sehingga kita butuh formulasi obat baru yang lebih kuat," jelasnya. Istri Rocky Alfanz itu menjelaskan, riset yang dilakukan adalah pengembangan dari riset yang sudah berjalan di Pusat Penelitian Kimia LIPI. Riset yang sudah berjalan tersebut adalah membuat bahan baku obat antimalaria. Bahan baku obat antimalaria yang dia teliti berasal dari tanaman Artemisia annua. Bentuk daun pohon yang berasal dari Tiongkok itu mirip kenikir. Di dalam prosesnya, pohon itu dikeringkan, lantas diambil ekstraknya yang disebut artemisinin yang umumnya berbentuk gumpalan kristal. Besarnya bergantung, kadang bisa sebesar kepalan orang dewasa. Setelah ekstrak pohon Artemisia annua itu berhasil diproduksi, dilakukan proses kembali sehingga menghasilkan dihydroartemisinin (DHA). Proses menjadikan ke DHA itu penting karena kalau masih dalam bentuk kristal, bahan baku obat tersebut tidak bisa larut dalam air. "Yang namanya obat oral itu, lebih efektif khasiatnya jika bahannya larut dalam air," tutur perempuan yang masuk LIPI pada 2005 itu. Proses itu bisa memakan waktu sampai 55 hari. Selain itu, dibutuhkan biaya tambahan untuk membeli zat-zat kimia lainnya. Sistem pembuatan obat antimalaria yang memakan waktu sampai 55 hari dan berbiaya mahal tersebut pernah disodorkan ke dunia industri. Namun, respons dari dunia industri tidak menggembirakan. Dengan ongkos produksi yang begitu besar, bahan baku obat itu tidak menarik untuk diproduksi masal. Menurut dia, obat untuk malaria harus terjangkau. Dia memperkirakan, harga setiap setrip obat malaria yang ideal adalah Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu. Tetapi, jika proses pembuatan bahan baku obat antimalaria masih menggunakan sistem dari kristal ke DHA, dibutuhkan biaya besar. Akhirnya dia menggunakan teknologi nano untuk membuat bahan baku obat antimalaria. Soal itu, Yenny sudah memiliki pengalaman luas. Dia pernah membuat krim antiselulit dari ekstrak tanaman pegagan. Tanaman yang biasanya digunakan sebagai lalapan kuliner Sunda itu efektif mengatasi selulit ringan sampai berat. Lulusan program doktor teknik kimia National Taiwan University of Science and Technology itu menjelaskan, peran teknologi nano yang dilakukan adalah menjadikan kristal ekstrak tanaman Artemesia annua itu berukuran superkecil. Satu nano adalah satu per miliar meter. "Sebagai gambaran, nano itu ukurannya diameter sehelai rambut masih dipecah-pecah lagi," tutur kepala Bidang Diseminasi dan Pengolahan Hasil Penelitian, Pusat Penelitian Kimia, LIPI, tersebut. Meski ekstrak tanaman itu diolah dengan teknologi nano, khasiatnya tidak boleh berkurang. Pengolahannya tidak boleh berada di suhu 40 derajat Celsius karena kandungannya bisa rusak. Ada banyak keunggulan ketika kristal ekstrak tanaman Artemisia annua itu bisa diubah menjadi ukuran nano. Di antaranya, bisa mengepras waktu pengolahan dari sebelumnya 55 hari. Selain itu, hasil pengolahan dengan teknologi nano bisa membuat penggunaan bahan baku obat menjadi lebih cepat. "Karena wujudnya sangat kecil, bisa langsung larut dalam air. Sehingga tidak perlu tambahan-tambahan zat kimia," katanya. Meski nanti wujud bahan baku obat antimalaria tersebut serbuk yang sangat halus, Yenny mengatakan cukup mudah dikonsumsi. Nanti tinggal dilakukan proses penyatuan atau perekatan sehingga menyerupai tablet. Ketika ditelan, tablet itu larut dengan air di tubuh manusia. Atas riset bahan obat antimalaria berbasis teknologi nano itu, Yenny berhasil menjadi pemenang L'Oreal Indonesia for Woman in Science 2016. Pada ajang riset untuk perempuan-perempuan di bawah usia 40 tahun itu, Yenny menjadi satu di antara empat pemenang. Setelah Yenny melakukan presentasi, dewan juri merespons positif. Risetnya itu dinilai memiliki manfaat besar bagi umat manusia. Kemudian, pemanfaatan teknologi nano untuk membuat obat antimalaria merupakan riset terbaru. Dia mengatakan, riset obat antimalaria dari tanaman Artemisia annua itu memiliki target besar. Yakni, pada 2019-2020 sudah dilakukan produksi masal. Artinya, saat ini Indonesia sudah memiliki bahan baku obat nasional untuk antimalaria. "Kita optimistis mengejar target itu," kata dia. Sebagai gambaran, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes 2010 menunjukkan adanya 2 juta orang penderita malaria. Berdasar jumlah itu, dibutuhkan 720 kg serbuk ekstrak tanaman Artemisia annua. Untuk menghasilkan ekstrak sebanyak itu, dibutuhkan 450 ton tanaman Artemisia annua kering. Arthur Lelono, mitra kerja Yenny di Pusat Penelitian Kimia LIPI, menuturkan bahwa target itu digarap secara konsorsium. Selain LIPI, pihak yang terlibat adalah Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Pertanian (Kementan), ITB, dan Indofarma. Untuk menyiapkan bahan utama pembuatan bahan baku obat itu, saat ini sudah dilakukan pembudidayaan tanaman asal Tiongkok tersebut di dua tempat. Yakni, di lahan milik Balai Besar Penelitian Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2PTO2T) Kemenkes di daerah Tawangmangu serta lahan milik LIPI di Cibodas. Arthur menuturkan, penggunaan ekstrak tanaman iklim subtropis itu sudah mendapatkan pengakuan dari WHO. Negara-negara dengan kasus malaria yang tinggi saat ini berlomba membuat formulasi obat antimalaria. "Pada prinsipnya, nanti tetap digabung dengan bahan pembuat pil kina," jelasnya. Tujuannya, mengatasi parasit malaria yang mulai kebal obat pil kina. (*/c10/oki) sumber: http://www.jawapos.com/read/2016/12/11/70162/-terobosan-dr-yenny-meliana-buat-obat-antimalaria-gunakan-teknologi-nano

Baca

Sosialisasi Pembinaan Kehumasan Pemerintah (Tematik bakohumas)


05 Desember 2016

[Berita P2 Kimia, Cibinong] Senin, 5 Desember 2016 di gedung konservasi PKT Kebun Raya Bogor LIPI diadakan Sosialisasi Pembinaan Kehumasan Pemerintah (Tematik Bakohumas) dengan tema “Peran dan peningkatan profesionalisme SDM kehumasan Pemerintah”.  Acara ini diikuti 150 peserta dari berbagai satker LIPI dan kelembagaan kementrian pemerintah.  Dari P2 Kimia diwakili oleh Eni Suryani, S.P.   “Dengan mengucap bismillahirohmanirohiim acara ini saya buka,” ujar Dr. Siti Nuramaliati Prijono, Sekretaris Utama (Sestama) LIPI saat membuaka acara. “selamat menjalani dan semoga bermanfaat,” lanjutnya.   Acara diteruskan dengan beberapa presentasi yang dibagi dalam 2 (dua) sesi yang dimoderatori oleh Isrard, SH. MH, staf Biro Kerjasama Hukum dan Hubungan Masyarakat (BKHH) LIPI. Sesi pertama diisi dengan presentasi dari praktisi/ tim komunikasi presiden, yaitu Shinta Puspitasari. Beliau menerangkan peran humas pemerintah dalam mengkomunikasikan program pemerintah. “Pranata humas itu tidak berdiri masing-masing, tapi saling bersinergi untuk meningkatkan peran kehumasan pemerintah, “ tekan Shinta. Presentasi kedua dari sesi pertama dibawakan oleh Kepala BKHH, Rr. Nur Tri Aries Suestiningtyas, M.A. Beliau memaparkan terkait peran humas LIPI dalam layanan public. “Pranata humas di masing-masing satker harus bisa menjadi pembeda diantara satker. Juga harus mempromosikan satker sehingga dikenal masyarakat, “ papar Ibu yang menyelesaikan program studi S2 di Australia ini. Pada sesi kedua diisi dengan 3 presenter dengan moderator Purwadi. Presentasi pertama berasal dari Kepala Biro Humas dan Hukum, Kemenpan RB yaitu Herman Suryatman. Herman yang pernah menjabat Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Kabupaten Sumedang ini membawakan makalah terkait “Humas pemerintah dan kebijakan nasional”,  Presentasi kedua dibawakan oleh Kepala BOSDM Heru Santoso yang menerangkan “Tantangan dan upaya pembinaan SDM jabatan fungsional pranata humas LIPI” “Untuk menjadi Pranata Humas harus diawali dulu dengan mengikuti diklat Pranata Humas.  Jenjang dan angka kredit diatur oleh PP no 6 th 2014,” jelas Heru. Presentase terakhir dibawakan oleh kepala PKT Kebun Raya Bogor, Dr. Didik Widyatmoko yang memaparkan optimalisasi peran pranata humas LIPI dengan studi kasus PKT Kebun Raya Bogor.  Kebun Raya Bogor memiliki paling banyak pranata humas diantara satker-satker di LIPI yaitu 15 orang. Kegiatan untuk pengembangan diri sudah berjalan diantaranya pelatihan bahasa Inggris dan pelatihan pengenalan sejarah kebun Raya Bogor. Acara ditutup oleh kepala BKHH, Nur Tri Aries Suestiningtyas yang dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke griya anggrek dan taman koleksi tumbuhan obat. Penulis berita: Eni Suryani, S.P.

Baca

Analitycal Instrumentation Workshop 2016 Untuk Mahasiswa Swiss German University


23 November 2016

[Berita P2 Kimia, Serpong] Pusat Penelitian Kimia LIPI kembali mengadakan workshop peralatan analisa kimia. Kali ini pesertanya adalah mahasiswa jurusan Teknik Farmasi dan Teknologi Pangan Swiss German University. Workshop dilaksanakan 1 hari pada hari Rabu, 23 November 2016, dengan jumlah peserta workshop ada 43 mahasiswa.  Mereka antusias dengan acara ini karena masih berhubungan dengan mata kuliah analytical instrument di kampus SGU yang dibawakan oleh Dr.rer. nat. Filliana Santoso yang saat acara ini berlangsung turut mendampingi sampai selesai. Beberapa peralatan yang dipelajari diantaranya  NMR, GCMS, HPLC, Spektrofotometri, dan FTIR. Para Peneliti P2 kimia yang sudah terlatih mengoperasikan alat-alat analisa pun menerangkan cara kerja, fungsi dan hasil keluaran dari alat.  Beberapa peralatan dan peneliti yang memberikan pelatihan diantaranya NMR oleh Gian Primahana.M.T, HPLC oleh Hendris Hendarsyah, GCMS oleh Salahudin, Spektrofotometri oleh Mimin Mintarsih, dan FTIR oleh Yenni Apriliani. “Semoga kerjasama ini bias berlanjut dan membantu mahasiswa mengenali alat secara analisa secara langsung, “ ujar Dr. Agus Haryono saat memberikan kata pengantar. Penulis berita: Eni Suryani/ P2 Kimia

Baca

Nihonggo de Utaimasho: Asyiknya Berbagi Ilmu dan Bernyanyi di FRISK Jum’at


02 Desember 2016

[Berita P2 Kimia, Serpong] Friday Sharing of Knowledge (FRISK), sebuah acara diskusi ilmiah rutin yang dikemas santai, berlangsung seru hari Jumat kemarin (2 Desember 2016).  Acara yang dimulai pukul 14 ini dihadiri oleh para peneliti senior maupun yunior di P2 Kimia. Namun dalam tiga edisi terakhir ini nampak pula empat orang mahasiswa Chiba University Jepang yang tengah melakukan kerja praktek di Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI. Pertemuan kali ini bertemakan “Catalyst Spots Life” yang mengangkat tiga pembicara kunci. Pembicara pertama adalah Ando Kei yang menyampaikan presentasi berjudul “Heterogeneous [CuCl4]2-/ NiZn catalyst and its application for oxidatice coupling reaction”. Ando mengungkapkan pentingnya membuat katalis heterogen baru tanpa ligan organik. Pembicara selanjutnya adalah Nobutaka Yamanaka dan Kurusu Ryota. Dua mahasiswa ini menyampaikan berbagai tempat wisata menarik di Jepang ("Japanese Sightseeing Spots"). “Misalnya Genbaku Dome. Bangunan yang berada di Hiroshima ini merupakan situs yang dilindungi dunia sebagai simbol penghormatan dan perdamaian untuk menghapuskan senjata nuklir.” Terang Ryota. Tak lupa, Yamanaka mengajak para penonton untuk bernyanyi. Lagu yang ditampilkan adalah “Donnatokimo (Anytime)” dan “Ai wo komete hanataba wo (A bouquet of flowers with love)”. Para peserta tampak antusias berusaha mengikuti lirik lagu yang relatif baru bagi mereka tersebut. Namun ada juga yang langsung mengenali. Prof. Tursiloadi misalnya. Profesor lulusan Jepang tersebut langsung maju ke depan dan ikut bernyanyi dengan lantang. Pembicara terakhir adalah Zatil Afrah Athalliah, M.Sc. Peneliti di Kelompok Penelitian Kimia Pangan ini menceritakan pengalamannya selama menempuh studi dan suka duka hidup di Amerika Serikat.

Baca

Kuliah Tamu Dosen Queen University Inggris di P2 Kimia LIPI


07 November 2016

[Berita P2 Kimia, Serpong] Hari Senin pagi (7/11), Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI menerima kunjungan delegasi dari Queen University Belfast (QUB), Inggris. Delegasi terdiri dari tiga orang, yaitu Dr. Peter Nockemann (pengajar senior jurusan kimia dan teknik kimia QUB), Heather Taylor (Staf senior hubungan internasional QUB) dan Nourma Prisilia (Edlink+ConneX, perwakilan QUB di Indonesia). “Selamat datang kepada delegasi Queen University di tempat kami, “ sambut Dr. Nino Rinaldi, Kepala Bagian Sarana Penelitian P2 Kimia yang mewakili Kepala P2 Kimia. “Ini merupakan suatu kesempatan berharga bagi kita semua untuk berbagi informasi penelitian terkini dan peluang kerjasamanya, “ imbuhnya. Nino selanjutnya memperkenalkan satu per satu rekan rekan peneliti senior dan junior yang turut hadir di ruang pertemuan. Di antara sekitar 30-an peneliti tampak hadir pula para koordinator kelompok penelitian. Selanjutnya diperkenalkan pula profil kegiatan di P2 Kimia LIPI. “Kami sangat mengapresiasi kesempatan yang diberikan, “ ujar Heather Taylor. “Kunjungan kami ini dimaksudkan untuk menjajaki peluang kerjasama penelitian dan tawaran studi lanjut untuk para peneliti yang berminat, “ terangnya. Taylor kemudian memutarkan video profil Queen University yang berdurasi sekitar 6 menit. Dalam video tersebut, terekam sejumlah kesan puas dan bangga dari para alumni QUB yang berasal dari Indonesia dan Asia Tenggara. “Para peneliti yang tertarik belajar di tempat kami dapat menghubungi kami langsung atau perwakilan kami yang ada di Indonesia, “ terang Taylor lebih lanjut. Usai sesi perkenalan, acara dilanjutkan dengan kuliah tamu oleh Dr. Peter Nockemann. Pengajar senior di bidang kimia material dan inorganik tersebut menjelaskan berbagai peluang penelitian di instansinya. “Queen University termasuk 8 besar universitas riset terbaik di Inggris, “ papar Nockemann. “Khusus untuk penelitian di bidang kimia, universitas kami menduduki peringkat terbaik pertama dilihat dari impact factornya, “ lanjutnya. Nockemann kemudian memaparkan beberapa potensi penelitian yang tengah dan akan dikembangkan. Penelitian tersebut mencakup bidang kimia lingkungan, farmasi dan kesehatan, kimia pangan, dan sebagainya. Usai presentasi, para peneliti langsung mengajukan sejumlah pertanyaan. Pertanyaan tersebut bervariasi baik terkait teknis penelitian, kerjasama dan peluang studi lanjutan. Menjelang siang, acara diakhiri dengan pemberian tanda mata dari P2 Kimia yang diserahkan oleh Nino Rinaldi.        

Baca

Struktur Organisasi


22 November 2016

   

Baca

Yenny Peneliti Muda P2 Kimia, salah satu peraih Anugerah Bergengsi L'oreal FWIS 2016


04 November 2016

[KoranYogya.com, Jakarta] L’Oréal Indonesia mengapresiasi empat ilmuwan perempuan di ajang L’Oréal-UNESCO For Women In Science. Bekerjasama dengan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU Kemdikbud), L’Oréal Indonesia kembali menganugerahkan penghargaan National Fellowship Awards For Women in Science 2016 kepada empat orang ilmuwan perempuan hebat dari bidang Life Sciences, Material Sciences, Engineering and Mathematics. Dalam acara tersebut juga dilakukan penandatangan nota kesepahaman antara L’Oréal-UNESCO For Women In Science dengan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) untuk mendukung kegiatan di bidang penelitian, pendidikan dan pengabdian masyarakat. Acara penganugerahan ini dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Prof. Dr. Muhadjir Effendi, Drs., M. Ap. dan turut dihadiri Prof. Dr. Arief Rachman, Ketua Harian KNIU Kemdikbud; Prof. Jamaluddin Jompa, Kepala Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI); serta Umesh Phadke, Presiden Direktur, L’Oréal Indonesia. Dalam kata sambutannya, Prof. Dr. Muhadjir Effendi, Drs., M. Ap., Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menyampaikan: “Bangsa yang maju adalah bangsa yang meletakkan pendidikan terutama sains sebagai dasar percepatan pembangunan. Dengan meningkatkan jumlah ilmuwan maka kita juga dapat membantu menurunkan jumlah tantangan dan masalah yang dihadapi Indonesia bukan saja sekarang tetapi juga di masa depan. Seringkali profesi sebagai akademisi, peneliti ataupun ilmuwan itu dianggap sulit. Sudah menjadi tugas kita para pendidik untuk membantu membuat sains ini menjadi menarik dan dijadikan pilihan profesi sejak dini. Apalagi di era digital seperti sekarang ini, semua informasi bergerak dengan cepat, persaingan profesi juga semakin banyak.” Selama 13 tahun, L’Oréal bersama KNIU Indonesia telah mengejar mimpi yang sama untuk terus berjuang dalam mendukung ilmuwan perempuan di Indonesia. Prof. Dr. Arief Rachman, Ketua Harian KNIU Kemdikbud menyatakan: ”Data UNESCO menunjukkan kesenjangan gender dalam dunia sains masih cukup tinggi. Faktanya, di Indonesia jumlah ilmuwan perempuan baru mencapai 30%. Masih ada persepsi yang mengindikasikan bahwa sains bukanlah dunia yang ramah untuk kaum perempuan. Sudah cukup lama ilmuwan perempuan kurang diperhatikan dan menjadi kurang dipertimbangkan di dunia sains sehingga masih sedikit yang dikenal oleh masyarakat. Ini adalah tugas kita bersama untuk memberikan akses pendidikan kepada perempuan guna mendapatkan lebih banyak ilmuwan perempuan di Indonesia.” Secara global, L’Oréal Fondation mencanangkan kampanye #ChangeTheNumbers untuk mengubah angka jumlah ilmuwan perempuan di Indonesia. Kampanye ini bertujuan mengubah persepsi publik terhadap perempuan di bidang sains dan menarik lebih banyak perempuan untuk memilih karir di bidang sains. L’Oréal -UNESCO FWIS adalah salah satu bukti nyata adanya upaya mengangkat profil ilmuwan perempuan akan kontribusi mereka terhadap kemajuan sains dan perkembangan masyarakat. Umesh Phadke, Presiden Direktur L’Oréal Indonesia menyampaikan: “Sesuai dengan yang disampaikan oleh CEO & Chairman L’Oréal , Mr. Jean-Paul Agon bahwa perempuan dalam sains seperti obor, tidak hanya cukup dinyalakan namun juga perlu untuk diteruskan supaya apinya tidak padam dan kami berkomitmen penuh untuk menjaga api itu tetap menyala. Pada hari ini, kami kembali mengumumkan empat orang perempuan hebat yang dengan semangat berapi-api ingin memberikan solusi bagi permasalahan yang ada di dunia. Hingga tahun 2016, L’Oréal Indonesia telah memberikan penghargaan kepada 45 ilmuwan perempuan, dimana 5 di antaranya telah diakui secara internasional.” L’Oréal-UNESCO FWIS 2016 memberikan penghargaan bagi ilmuwan perempuan yang memiliki semangat untuk membangun Indonesia di bidang ekonomi, kesehatan dan lingkungan. Keempat perempuan luar biasa ini akan mendapatkan dana sebesar Rp 80 juta untuk digunakan dalam melakukan penelitian mereka. Keempat perempuan ini adalah: Kategori Life Sciences: Nama Institusi Judul Proposal Penelitian  Dr. nat. tech. Andriati Ningrum, STP, M.Agr Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada “Biocatalytic Natural Flavor Formation From Natural Colorant In Selected Fruit Pomace Rich In Carotenoids As A Green Chemistry Technique”   Dr. Azzania Fibriani, M.Si., M.Sc Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung “Pengembangan sistem high throughout untuk menyeleksi kandidat obat anti HIV baru dari Indonesia” Kategori Material Sciences, Engineering and Mathematics: Nama Institusi Judul Proposal Penelitian  Fitri Khoerunnisa, Ph.D Departamen KIMIA FPMIPA/ Universitas Pendidikan Indonesia “Ultrafiltration Nanocomposite Membranes based on Chitosan-PEG-MWCNT-Graphene Oxides: Study on Antibacterial and Antifouling Properties”  Dr. Yenny Meliana Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia “Studi Nanocrystal Dan Nanodispersi Bahan Baku Obat Antimalaria Artemisinin” Pada kesempatan itu pula Yenny berterimakasih kepada semua pihak yang telah turut serta mendukungnya dalam sambutannya. " Ibarat orang naik sepeda, sepeda akan terus melaju selama tetap dikayuh, " lanjut Melly mengutip petuah Albert Einstein, penemu teori relativitas. Yenny mengajak generasi muda untuk terus berjuang tanpa menyerah. [Sumber utama: http://koranyogya.com/loreal-indonesia-mengapresiasi-empat-ilmuwan-perempuan-hebat-di-ajang-loreal-unesco-for-women-in-science/, HK]    

Baca

Perhatikan Isu Pembangunan Berkelanjutan, P2 Kimia Dukung Konferensi Internasional Life Cycle Assessment


02 November 2016

[Berita P2 Kimia, Karawaci] Indonesian Life Cycle Assessment Network (ILCAN) bekerjasama dengan Jurusan Teknik Industri Universitas Pelita Harapan (UPH), Pusat Penelitian Kimia LIPI dan Pusat Standarisasi Lingkungan dan Kehutanan - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyelenggarakan The 2nd ILCAN Conference Series on Life Cycle Assessment (ICSoLCA) 2016. Bertempat di Universitas Pelita Harapan, acara berlangsung selama 2 hari dari tanggal 2-3 November 2016. Acara dimulai dengan laporan dari ketua panitia, Laurence MT yang juga merupakan Ketua Jurusan Teknik Industri UPH. Acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Prof. Dr. Manlian R.A. Simanjuntak, Dekan Fakultas Science & Technology UPH. “Kami menyambut hangat para peserta, pembicara maupun mitra dari berbagai lembaga riset, universitas maupun industri, baik dalam maupun luar negeri, “ ujar Simanjuntak dalam pidatonya. “Kita semua harus bersama-sama melaksanakan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) guna mendukung program pemerintah, “ lanjutnya. Sementara itu, LIPI juga sangat mendukung pengembangan riset Life Cycle Assessment (LCA) di tanah air, termasuk melalui pelaksanaan konferensi yang ke-2 ini. Berbagai bentuk dukungan lain yang diberikan LIPI diantaranya penyelenggaraan riset LCA, pengembangan kompetensi SDM, pengadaan software dan database (?), pembinaan organisasi profesi ilmiah seperti ILCAN, kerjasama riset LCA, dan sebagainya. “Kita semua patut berbahagia, karena secara bertahap LCA mulai mendapatkan perhatian yang lebih baik sebagaimana terlihat dari meningkatnya animo peserta yang mengikuti even kedua ini, “ terang Arief A.R. Setiawan yang mewakili Kepala P2 Kimia LIPI. “Selamat kepada ILCAN atas capaian-capaiannya dan selamat kepada UPH dan berbagai pihak yang turut mendukung suksesnya acara ini, “ lanjut peneliti bidang Teknik Industri ini. Sambutan terakhir diberikan oleh Ketua ILCAN, Dr. Ir. Edi Iswanto Wiloso. Dalam paparannya, Edi mengungkapkan berbagai program dan prestasi yang diraih organisasinya di usia menjelang 2 tahun tanggal 17 Desember 2016 ini. “ILCAN merupakan suatu jaringan swadaya untuk berbagi pengetahuan dan membangun kapasitas LCA diantara universitas, pemerintah dan industri, “ ujar Edi. “Meskipun penelitian dan penerapan LCA di Indonesia masih tergolong muda dibandingkan di negara lain, namun kami sangat apresiasi bahwa LCA sudah mulai dikenal lebih luas saat ini, “ lanjutnya. Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan presentasi pembicara kunci di sesi pleno dan pemakalah di sesi oral dalam dua hari. Pembicara kunci pertama adalah Prof. Jeroen B. Guinee dari Leiden University, Belanda. Profesor terkemuka bidang LCA, pemilik sitasi sebanyak lebih dari 11000 (google scholar) ini menyampaikan presentasi terkait kondisi LCA di masa lampau, saat ini dan masa datang: sebuah pelajaran dan tantangan bagi Indonesia. “Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk penerapan LCA, dengan menggunakan metode yang sudah dikembangkan secara baik oleh para ilmuwan selama beberapa dekade terakhir, “ ujar Guinee memberikan dorongan. Pembicara kunci kedua adalah Ir. Noer Adi Wardojo, M.Sc., yang menyampaikan masalah “Ekonomi Sirkular dan Plastik Ramah Lingkungan di Indonesia: Penerapan Kebijakan dan Inovasi dengan Life Cycle Thinking”. “Life Cycle Perspective telah diadopsi ke dalam regulasi nasional Indonesia, “ terang Adi yang juga merupakan Kepala Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan, KLHK. “Maka peranan Anda sekalian para akademisi, peneliti dan industri menjadi vital guna penerapan LCA di Indonesia, “ tegas Adi. Pembicara kunci ketiga adalah Prof. Dr. Shabbir H. Gheewala dari King Mongkut’s Universty of Technology Thonburi, Thailand. Profesor berjanggut tebal ini menyajikan pembahasan kajian keberlanjutan (sustainability) dari biofuel menggunakan sudut pandang life cycle. Di hari kedua, ditampilkan dua pembicara kunci berikutnya. Adalah Prof. Yasuhiro Fukushima dari Tohoku University, Jepang yang menyampaikan “Pengantar Perspektif Life Cycle dalam Pengembangan Teknologi”.  Dr. Heinz Stichnothe dari Thunen Institute of Agricultural Technology, Jerman menjadi pembicara kunci terakhir yang menyajikan “Tantangan LCA pada Sistem Produksi Minyak Sawit.” Di sesi oral, ada 22 pemakalah yang mempresentasikan hasil penelitiannya dalam enam topik sesi. P2 Kimia mengirimkan 2 pemakalah, yaitu Dr. Ajeng Arum Sari terkait “LCA Pengolahan Limbah Cair Industri Bioetanol” dan Dian Burhani terkait “Assesment Awal Water Footprint pada Produksi Bioetanol dari Tandan Kosong Kelapa Sawit di Indonesia: Studi Kasus di Lampung”. <aars/ p2 kimia>  

Baca

Kunjungan Lanjutan Ilmuwan Finlandia ke P2 Kimia LIPI


17 Oktober 2016

[Berita P2 Kimia, Serpong] Sebagai bagian dari kelanjutan kerjasama antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Finnish Institute for Verification of the Chemical Weapons Convention (VERIFIN) dan US-State Department Chemical Security Engagement Program (US-CSP), telah diadakan serangkaian pelatihan oleh VERIFIN untuk tiga laboratorium di Indonesia, yaitu Pusat Penelitian Kimia LIPI, Pusat Laboratorium Forensik POLRI, dan Balai Besar Kimia dan Kemasan (BBKK) Kementrian Perindustrian pada tanggal 17 – 21 Oktober 2016. Kunjungan kerja diadakan oleh delegasi VERIFIN ke Pusat Penelitian Kimia sebagai bagian dari rangkaian kegiatan yang dilaksanakan sepanjang tahun 2016. Delegasi dari VERIFIN tersebut adalah Dr. Karoliina Joutsiniemi, Dr. Kirsi Harju, dan Annettee Pettersson. Kedatangan mereka bermaksud untuk mengevaluasi hasil uji profisiensi bilateral (Bilateral Proficiency Testing) yang diadakan oleh VERIFIN dan Indonesia untuk mendukung aktifitas Konvensi Senjata Kimia (Chemical Weapon Convention–CWC). Dalam rangka mendukung implementasi CWC di Indonesia, saat ini P2Kimia LIPI bekerjasama dengan Otoritas Nasional Sementara Republik Indonesia (Temporary National Authority for CWC), aktif bergerak di bidang pengembangan kapasitas laboratorium nasional untuk pengujian bahan kimia berbahaya – toxic chemicals. Acara kunjungan kerja VERIFIN ke Pusat Penelitian Kimia diadakan dari Senin hingga Jumat (17/10 s.d. 21/10 2016). Pada hari pertama,  Senin (17/10) delegasi dari VERIFIN, Puslabfor, dan  BBKK disambut oleh Kepala Pusat Penelitian Kimia, Dr. Agus Haryono. Dalam sambutannya, pria yang akrab disapa Agus ini menyampaikan selamat datang kepada delegasi dari VERIFIN, rekan-rekan dari Puslabfor, dan rekan-rekan dari BBKK yang berkenan berkunjung ke instansi yang dipimpinnya. “Saya menyampaikan selamat datang kepada delegasi dari VERIFIN yang jauh-jauh datang dari Eropa untuk melihat aktivitas kami sehubungan partisipasi dalam Chemical Weapon Convention dan memberikan pelatihan intensif dengan topik analisa bahan kimia berbahaya. Juga kepada rekan-rekan dari Puslabfor dan BBKK sebagai mitra yang selama ini bersama-sama ambil bagian dalam kegiatan pencegahan pembuatan dan penggunaan senjata kimia bersama dengan komunitas internasional. Tentunya Pusat Penelitian Kimia sangat terbuka untuk melakukan diskusi dan kerjasama ke depannya terkait dengan aktivitas mendukung implementasi CWC. Semoga dari hasil diskusi beberapa hari ke depan, kita semua mendapat banyak hal yang akan berguna bagi pengembangan aktivitas kita bersama dalam ambil bagian untuk perdamaian dunia.” Ungkap Agus dalam sambutannya di Ruang Rapat Utama Pusat Penelitian Kimia. Hadir dalam pertemuan itu personel Pusat Penelitian Kimia yang selama ini berperan aktif dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh VERIFIN yaitu Eka Dian Pusfitasari dan Hendris Hendarsyah. Acara dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh perwakilan dari VERIFIN, Dr. Karoliina dalam sambutannya mengapresiasi upaya yang sudah dilakukan pemerintah Indonesia selama ini dalam upaya menjaga perdamaian dunia melalui partisipasi dalam Chemical Weapon Convention. “Kami sangat senang dapat berkunjung ke Indonesia, sebuah negara besar besar dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat menjanjikan dan diperhitungkan dalam percaturan dunia. Juga VERIFIN secara khusus menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi kepada pihak-pihak di Indonesia yang terus bekerjasama dengan dunia internasional untuk menciptakan perdamaian dunia khususnya partisipasi sebagai negara pihak (State Party) dalam Chemical Weapon Convention. Tujuan kedatangan kami bertiga adalah untuk mengevaluasi hasil uji profisiensi bilateral VERIFIN – Indonesia serta melihat secara langsung semua kolega yang selama ini aktif dalam uji banding internasional senjata kimia serta membuka upaya-upaya kerjasama yang dapat kita jalin bersama antara VERIFIN dengan pemerintah Republik Indonesia. Kami harap kelak Indonesia memiliki kapasitas seperti laboratorium rujukan Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) terkait penanganan bahan kimia berbahaya yang bersifat dual-use (bahan kimia yang dapat disalahgunakan menjadi senjata kimia), sehingga dapat menjadi investasi positif bagi negara Indonesia yang memiliki banyak industri kimia” Ujar wanita yang sangat bersahabat tersebut. Selanjutnya delegasi dari VERIFIN dan perwakilan dari Puslabfor serta BBKK diajak berkeliling ke fasilitas laboratorium yang dimiliki oleh Pusat Penelitian Kimia. Hendris, Eka Dian, dan Taufik ditugaskan untuk memandu seluruh perwakilan. Adapun laboratorium yang dikunjungi meliputi laboratorium NMR, laboratorium GC/MS, LC Qtof/MS, termasuk laboratorium metrologi kimia. Delegasi dari VERIFIN dengan antusias berdiskusi dengan para peneliti Pusat Penelitian Kimia di masing-masing laboratorium. Menjelang istirahat siang, kegiatan kunjungan laboratorium ini berakhir. Setelah istirahat siang, delegasi dari VERIFIN bertemu dengan Manajer Mutu Laboratorium Pusat Penelitian Kimia untuk berdiskusi tentang sistem manajemen mutu di Pusat Penelitian Kimia. Dra. Nuryatini, M.Sc selaku manajer mutu didampingi oleh staf laboratorium berkenan untuk berdiskusi dengan delegasi dari VERIFIN, perwakilan dari Puslabfor dan BBKK. dan VERIFIN melihat dokumen-dokumen mutu Laboratorium Pusat Penelitian Kimia dan meminta beberapa penjelasan. Nuryatini dan tim dengan antusias menjawab semua pertanyaan yang disampaikan oleh Karoliina dan rekan-rekannya dari VERIFIN. “Seperti umumnya aktivitas di laboratorium pengujian, manajemen mutu berbasis ISO/IEC 17025 merupakan suatu persyaratan yang sangat relevan bagi semua laboratorium yang berpartisipasi dalam uji banding identifikasi senjata kimia. Kami sangat mengapresiasi bahwa Pusat Penelitian Kimia telah mengikuti skema akreditasi tersebut, semoga ke depannya identifikasi senjata kimia dapat dicakup dalam ruang lingkup akreditas,” papar Annettee Petersson dari VERIFIN. Setelah berdiskusi terkait manajemen mutu, acara dilanjutkan dengan presentasi dari Eka Dian Pusfitasari terkait partisipasi dalam Bilateral Proficiency Testing. Dalam uji profisiensi bilateral ini, VERIFIN – yang merupakan salah satu laboratorium terbaik OPCW, menyiapkan contoh (samples) yang mengandung beberapa prekursor bahan kimia berbahaya dalam matriks air. Kemudian samples tersebut dikirimkan langsung dari Finlandia ke alamat kantor P2Kimia LIPI untuk dapat dianalisa di laboratorium P2Kimia LIPI. Hal ini merupakan suatu ujicoba untuk persiapan P2K LIPI, Puslabfor, dan BBKK dalam rangka mengikuti uji banding internasional yang diselenggarakan oleh OPCW. Eka Dian menceritakan proses preparasi sampel, hingga teknik analisa dan pelaporan untuk samples yang dikirimkan oleh VERIFIN. Eka Dian juga memaparkan kendala-kendala yang dialami selama pengerjaan uji profisiensi bilateral dengan VERIFIN. Selama presentasi, diskusi menarik terjadi antara semua peserta yang hadir. Berbagai saran dan masukan disampaikan oleh delegasi dari VERIFIN termasuk pengalaman-pengalaman mereka dalam berbagai aktivitas uji banding antar laboratorium. Menjelang sore hari, acara hari pertama disudahi seiring dengan berakhirnya jam kerja di Pusat Penelitian Kimia. Hari kedua, Selasa (18/10) acara diawali dengan diskusi terkait Sample preparation and techniques of analysis. Diskusi diawali dengan presentasi Dr. Kirsi Harju selaku technical expert dari VERIFIN. Dr. Kirsi menyampaikan pengalamannya terkait dengan preparasi sampel untuk identifikasi senjata kimia. Dia menyampaikan juga berbagai macam teknik dan metode preparasi serta analisis yang telah dikembangkan oleh VERIFIN dan berbagai laboratorium lain di dunia yang aktif dalam aktivitas Chemical Weapon Convention. Selanjutnya Dr. Kirsi memandu diskusi dengan seluruh peserta yang hadir. Diskusi yang menarik tersebut kemudian dilanjutkan dengan praktik di laboratorium untuk memperoleh gambaran yang lebih komperhensif. Menjelang istirahat siang, kegiatan diskusi terkait preparasi sampel dan teknik analisis diakhiri. Setelah istirahat, acara dilanjutkan dengan diskusi dengan tema Chain of Custody and Sample Coding. Annettee Peterson memandu jalannya diskusi yang dimulai dengan pemaparan materi olehnya. Annettee sapaan wanita muda tersebut menyampaikan beberapa persyaratan yang ada dalam standard internasional ISO/IEC 17025 yang berkaitan dengan pengelolaan dan penanganan sampel. “Penting untuk menjaga integritas sampel yang diterima oleh laboratorium termasuk bagaimana menjamin bahwa data-data yang dilaporkan absah  dan tertelusur. Untuk itu diperlukan manajemen pengelolaan sampel yang akan diuji sebagaimana dipersyaratkan dalam ISO/IEC 17025,” papar Annettee dalam presentasi pendahuluannya. Setelah presentasi, acara dilanjutkan diskusi sampai sore hari menjelang berakhirnya jam kerja di Pusat Penelitian Kimia. Selanjutnya seluruh peserta meninggalkan kantor Pusat Penelitian Kimia sambil menunggu kegiatan esok harinya. Hari ketiga kegiatan di Pusat Penelitian Kimia, yaitu Rabu (19/10), kegiatan diisi dengan praktikum di laboratorium sebagai bagian dari materi Data intepretation. Praktikum dilakukan di laboratorium GC-MS Pusat Penelitian Kimia. Seluruh peserta dari Pusat Penelitian Kimia, Puslabfor, dan BBKK bersama-sama dengan delegasi verifin dengan antusias berdiskusi selama praktikum tersebut. Menjelang sore hari, seluruh peserta berkumpul di Ruang Rapat Utama Pusat Penelitian Kimia untuk mendiskusikan rangkain kegiatan tiga hari tersebut dan perencanaan kegiatan selanjutnya yang akan dilaksanakan di Kementrian Perindustrian sebagai bagian dari rangkaian kunjungan delegasi VERIFIN ke Indonesia. <SJW/ p2 kimia>  

Baca

P2 Kimia Selenggarakan Workshop Sistem Manajemen Inventori Kimia


01 November 2016

[Berita P2 Kimia, Serpong] Pusat Penelitian Kimia bekerjasama dengan Himpunan Kimia Indonesia (HKI) menyelenggarakan kegiatan workshop bertajuk Adopting Chemical Inventory Management System (CIMS) as a Part of Chemical Safety and Security. Acara tersebut berlangsung dari Selasa–Rabu (01-02/11/2016). Workshop diikuti oleh 20 (dua puluh) peserta yang berasal dari Pusat Penelitian Kimia–LIPI, Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna–LIPI  Yogyakarta, Pusat Penelitian Fisika-LIPI, Pusat Penelitian Biomaterial-LIPI, Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, Pusat Penelitian Biologi-LIPI, Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI, dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas Laboratorium Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pada hari pertama, Selasa (01/11), acara dibuka oleh perwakilan dari manajemen Pusat Penelitian Kimia yaitu Dr. Nino Rinaldi selaku Kepala Bidang Sarana dan Prasarana. Nino memberikan sambutan dan ucapan selamat datang kepada Ketua HKI selaku pembicara dan seluruh peserta workshop. “Saya mewakili manajemen Pusat Penelitian Kimia menyampaikan selamat datang kepada Pak Muhamad dan seluruh peserta workshop. Pimpinan kami menitipkan permohonan maafnya tidak dapat menyambut Bapak dan Ibu dikarenakan sedang bertugas ke luar kota. Harapan kami adalah workshop ini memberikan wawasan untuk para pelaku kegiatan laboratorium agar dapat mengelola bahan kimia secara efektif dan efisien untuk kepentingan kesehatan dan keselamatan dalam bekerja. Tak lupa, kami memohon maaf sekiranya dalam pelaksanaan workshop ini terdapat kekurangan dari kami selaku tuan rumah. Dengan ‘bismillahirahmanirahim’, acara workshop ini secara resmi saya buka,” ujar pria berkacamata yang juga merupakan Ketua PME di Pusat Penelitian Kimia tersebut. Selanjutnya seluruh peserta dan pembicara melakukan foto bersama di Ruang Rapat Utama Pusat Penelitian Kimia. Kemudian acara diawali dengan pemaparan materi oleh Eka Dian Pusfitasari, peneliti dari Kelompok Penelitian Kimia Analitik bertemakan ‘Pentingnya Budaya Keselamatan dan Keamanan Kerja di Laboratorium’. Peneliti yang telah mengikuti berbagai pelatihan dan konferensi terkait keselamatan dan keamanan kimia (chemical safety and security) di berbagai negara tersebut menyampaikan pengalamannya termasuk prinsip-prinsip keselamatan dan keamanan kimia di laboratorium. Tak lupa diskusi menarik menjadi bagian dari pemaparan wanita yang akrab disapa Dian tersebut. Selanjutnya, pemaparan materi diberikan oleh Dr. Muhamad Abdulkadir Martoprawiro, Ketua Umum HKI dengan judul ‘Dasar-dasar tentang manajemen bahan kimia serta kebijakan tentang Chemical Safety and Security di Indonesia dan Dunia Internasional’. Pria yang juga merupakan dosen di Program Studi Kimia ITB tersebut memberikan pencerahan tentang prinsip-prinsip manajemen bahan kimia dari berbagai referensi dan perkembangannya secara internasional. “Kita menyadari bahwa bekerja dengan bahan kimia memiliki resiko, baik terhadap pelaku maupun resiko terhadap lingkungan. Untuk itu perlu dilakukan manajemen supaya resiko-resiko terkait dapat diminimalkan. Tujuan dari kegiatan manajemen apapun adalah untuk mencapai efisiensi dan efektivitas, sama halnya dengan memenej bahan kimia. Kita harus menjamin bahwa penggunaan bahan kimia tersebut efisien dan efektif. Hal yang paling sederhana misalnya kita harus menghindari pembelian bahan kimia yang baru padahal sebenarnya kita masih memiliki persediaan bahan tersebut. Untuk itu diperlukan data yang valid terhadap persediaan bahan kimia kita, termasuk akses datanya juga mudah. Itulah pentingnya manajemen bahan kimia, Selain itu, data yang valid dan tertelusur ini juga dapat mendukung implementasi keamanan kimia (chemical security) yang saat ini menjadi salah satu isu global” papar lelaki yang terkenal humoris tersebut. Setelah pemaparan materi tersebut, dilanjutkan sesi tanya-jawab. Beberapa peserta dengan antusias menanyakan beberapa hal terkait prinsip-prinsip manajemen bahan kimia yang dijawab secara lugas oleh Pak Kaka, sapaan dosen kimia komputasi di ITB tersebut. Acara sesi kedua berakhir untuk mempersilakan seluruh peserta dan pembicara istirahat, sholat, dan makan siang. Setelah istirahat siang, semua peserta workshop berkumpul kembali di Ruang Rapat Utama. Acara selanjutnya adalah diskusi terkait manajemen bahan kimia. Diskusi yang dimoderatori langsung oleh Pak Kaka tersebut mencoba menggali ide dari para peserta tentang bagaimana memenej bahan kimia sesuai prinsip efesiensi dan efektivitas di lingkungan kerja masing-masing. Diskusi yang sangat hidup tersebut berlangsung sekira satu jam dan menghasilkan beberapa ide serta gagasan yang menarik terkait manajemen bahan kimia. Kemudian Pak Kaka melanjutkan pemaparan materinya tentang Chemical Inventory Management System (CIMS). CIMS merupakan sebuah aplikasi yang awalnya dikembangkan oleh US – Sandia Laboratoryuntuk membantu laboratorium dalam membangun database bahan kimia dalam kerangka manajemen laboratorium. US-Sandia Laboratory dan HKI telah menjalin kerjasama sejak tahun 2008. “CIMS ini telah dibuat sejak beberapa tahun lalu dan telah dikenalkan melalui berbagai workshop yang diselenggarakan oleh HKI dengan didukung oleh berbagai instansi baik perguruan tinggi maupun industri. Harapan dari pengembangan sistem ini adalah untuk membantu laboratorium dalam menginventarisasi bahan kimia yang dimilikinya secara praktis melalui website,” papar Pak Kaka dalam pendahuluannya. Pemaparan yang disampaikan pada sesi ketiga tersebut berakhir seiring dengan selesainya jam kerja di Pusat Penelitian Kimia. Hari kedua, Rabu (02/11) acara yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut dilanjutkan dengan pemaparan materi serta praktikum pengembangan dan penerapan CIMS. Pak Kaka dengan sabar membimbing seluruh peserta untuk dapat memahami dan berlatih melakukan inventarisasi bahan kimia baik menggunakan Excel maupun aplikasi berbasis website. Seluruh peserta dengan semangat mengikuti arahan-arahan dan melakukan tugas yang diberikan oleh Pak Kaka. Kegiatan praktek tersebut berlangsung dari pagi hingga sore hari menjelang jam berakhirnya jam kerja di Pusat Penelitian Kimia. Kemudian acara ditutup oleh Eka Dian, setelah Ketua Umum HKI menyampaikan sambutan penutup dengan tak lupa berharap kepada seluruh peserta workshop untuk dapat mengaplikasikan manajemen bahan kimia di lingkungan kerjanya masing-masing. <SJW/ p2 kimia>    

Baca

P2 Kimia Selenggarakan Workshop Pengembangan Bioetanol Generasi Kedua


06 Oktober 2016

[Berita P2 Kimia, Serpong] Dengan terbatasnya cadangan bahan bakar fosil, pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan energi nasional untuk mendorong pengembangan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak. Secara khusus, pemerintah menargetkan pemanfaatan biodiesel sebesar 30 persen pada tahun 2025 (khusus untuk pembangkit listrik) dan dan meningkatkan pemanfaatan bioetanol pada tahun 2025 sebesar 20 persen. Di sisi lain, Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI juga telah mengantisipasi keterbatasan energi ini dan telah melakukan penelitian pembuatan bioetanol berbasis lignoselulosa hingga skala pilot plant. Guna pengembangan lebih lanjut, P2 Kimia menyelenggarakan workshop untuk memberikan gambaran baik secara teori maupun praktek tentang proses pembuatan bioetanol generasi 2 (G2) dengan menggunakan bahan baku lignoselulosa, khususnya tandan kosong kelapa sawit. Kegiatan workshop berlangsung pada tanggal 5-6 Oktober 2016 di Gedung P2 Kimia LIPI, Kawasan Puspiptek, Serpong. Pada hari pertama pagi, peserta berada di dalam ruang pertemuan guna mengikuti sambutan dan presentasi dari pemakalah kunci. “Melalui workshop ini diharapkan kerjasama industri dan lembaga riset dalam pemanfaatan limbah lignosellulose untuk produksi bioetanol dapat terwujud dan terjalin secara kontinu, “ ujar Dr. Agus Haryono, Kepala P2 Kimia dalam sambutannya saat membuka workshop. Hal ini diamini oleh ketua panitia workshop, Muryanto, ST MT yang mengungkapkan bahwa  acara workshop diikuti oleh para pembicara dan peserta yang berasal dari kalangan akademisi, peneliti lembaga litbang, pemangku kebijakan dari kementerian, pemerintah daerah maupun praktisi industri. Tampil sebagai pembicara pertama adalah Dr. Ir. Sapta Raharja, DEA yang mempresentasikan “Potensi Biomassa Sawit menjadi Bioetanol dan Prospek ke Depan”. Pengajar senior di jurusan Teknologi Industri Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menerangkan sejumlah potensi biomassa kelapa sawit di Indonesia beserta pemanfaatannya. Pembicara selanjutnya adalah Prof. Dr. Yanni Sudiyani, peneliti utama di P2 Kimia. Yanni membawakan makalah berjudul “Prospek Pembuatan Bioetanol G2 dan Tantangan: Perlakuan Awal, Sakarifikasi – Fermentasi”. “Kadar etanol yang dihasilkan dari pengolahan limbah lignosellulosa skala pilot plant ini mempunyai kemurnian 99 persen, “ ujar Profesor riset bidang biologi kimia ini. Yanni selanjutnya mengungkapkan sejumlah capaian dan kendala yang dihadapi P2 Kimia dalam mengembangkan teknologi bioetanol generasi kedua hingga skala pilot plant. Usai presentasi, para peserta pun mulai mengajukan sejumlah pertanyaan yang dimoderatori oleh Dr. Ajeng Arum Sari. Acara dilanjutkan dengan overview pilot plant oleh Dian Burhani dan Muryanto. Para peserta menyimak dengan seksama terkait gambaran pilot plant sebelum mereka diajak langsung mengunjungi lokasi. Di pilot plant, peserta mendapat penjelasan lebih detail oleh Sudiyarmanto, ST MT. Pilot plant ini terdiri dari tiga bagian, yaitu pretreatment, hydrolysis and fermentation, dan distillation & dehidration. Peserta juga diajak melihat berbagai contoh sampel bahan baku, bahan proses dan produk jadi. DI ruang kontrol Yan Irawan menerangkan secara runtut kegiatan pilot plant dari tahun 2011 hingga 2015. “Kegiatan ini diawali dengan instalasi peralatan, test run hingga kerjasama pemanfaatan pilot plant dengan industri, “ terang Yan. Acara pun dilanjutkan dengan diskusi dan foto bersama di pilot plant. Di hari kedua, para peserta diajak mengikuti eksperimen di laboratorium. Mereka dibagi menjadi dua kelompok: satu untuk analisa komponen sedang lainnya untuk analisa hasil proses. Sambil membaca buku panduan, peserta mencermati prosedur analisa yang diperagakan tim peneliti P2 Kimia. Usai makan siang, acara dilanjutkan dengan informasi skema kerjasama yang disampaikan Kepala Subbidang Diseminasi dan Kerjasama Hasil Penelitian, Dr. Heru Susanto. Ditanyai tanggapan terkait pelatihan ini, “pelayanan dan pelatihan yang diberikan panitia sudah baik, “ ujar Andri, peserta dari PT Rekayasa Industri. “Kami sangat berterimakasih. Panitia sangat baik dan sangat membantu peserta dalam memahami proses bioetanol dan demo pilot plant, “ terang Ir. Siswanto, M.Sc., salah seorang peserta dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi saat memberikan umpan balik kepuasan pelanggan.  “Semoga di masa mendatang lebih banyak industri yang menerapkan bioetanol generasi ke dua ini, “ imbuhnya. <aars/ p2 kimia>

Baca

Indri dan Anny Wakili Delegasi Indonesia Berbicara di Workshop Science Academy FIlipina


30 September 2016

[Berita P2 Kimia, Tagaytay City – Filipina] Dua orang peneliti P2 Kimia, Dr. Indri Badria Adilina dan Dr. Ir. Anny Sulaswatty menghadiri “Workshop on the Role of Science Academies in Sustainable Development”  pada tanggal 28-29 September 2016. Bertempat di Taal Vista Hotel, Kota Tagaytay Filipina, workshop ini diselenggarakan berbarengan dengan “The 2016 Climate Conference on Addressing Climate Risk for Sustainable Development”.  Acara ini diselenggarakan oleh National Academy of Science and Technology (NAST) Filipina, The Association of Academies and Societies of Science in Asia (AASSA), The Interacademy Partnership (IAP), dan Departemen of Science and Technology (DOST), Kementerian Filipina. “Dua orang peneliti P2 Kimia tersebut hadir mewakili Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), “ tulis Prof.Dr. Satryo Soemantri Brodjonegoro, wakil kepala AIPI dalam suratnya saat pendaftaran ke panitia workshop. Selain merupakan peneliti P2 Kimia, Anny sendiri dikenal sebagai anggota sekaligus pegiat AIPI. Acara terdiri dari sesi poster dan sesi utama. Sesi poster dibuka melalui pengguntingan pita secara bersama-sama oleh Sekretaris DOST, Presiden NAST, Presiden AASSA dan Wakil Presiden AASSA. Sementara acara utama disambut oleh Fabian M. Dayrit (Presiden NAST), Prof. Krishan Lal (Presiden AASSA) dan Fortunato T. dela Peña (Sekretaris DOST). Acara dilanjutkan dengan presentasi pembicara kunci, Prof. Dr. Toshio Yamagata (Universitas Tokyo). Dalam dua hari yang terbagi menjadi 4 sesi ini, turut berbicara para petinggi atau perwakilan delegasi Akademi Ilmu Pengetahuan dari berbagai negara, seperti Jepang, Korea, Bangladesh, Kirgistan, Malaysia, Inggris dan sebagainya. Indri mendapatkan kesempatan berbicara di sesi kedua hari pertama. Dalam makalahnya, Indri mempresentasikan “Lignoselulosa Limbah Pertanian sebagai Sumber Manfaat untuk Pembangunan Energi Berkelanjutan di Indonesia” (Lignocellulosic Agricultural Waste as a Versatile Source for Sustainable Energy in Indonesia). Dalam pengantarnya, Indri menyebutkan peranan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia yang dibentuk berdasarkan UU No. 8 Tahun 1990. “AIPI sebagai lembaga independen bertugas memberikan saran, masukan dan nasehat kepada pemerintah dan masyarakat terkait upaya untuk memperoleh, mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi, “ terang Indri. “AIPI juga turut mempromosikan iptek melalui diskusi, konferensi, publikasi, hubungan internasional, dsb.,” lanjutnya. Indri kemudian menerangkan dukungan AIPI terhadap kebijakan di bidang energi terbarukan yang mendorong pembangunan berkelanjutan. Salah satu energi yang dikembangkan adalah bioetanol yang berbasiskan limbah lignoselulosa. Indonesia yang berbasiskan pertanian, memiliki potensi limbah lignoselulosa yang melimpah juga. “Bietanol generasi kedua yang berbasiskan limbah lignoselulosa ini memiliki keunggulan dibanding generasi sebelumnya, “ jelas Indri. “Salah satunya terhindar dari konflik penggunaan bahan baku sebagai sumber pangan, “ ujar peneliti peraih penghargaan UNESCO Loreal for Women in Science 2013 ini. Indri selanjutnya menjelaskan lebih rinci potensi bahan baku lignoselulosa dari berbagai limbah pertanian. Dia juga menjelaskan terkait penelitian dan pengembangan bioetanol di Indonesia, termasuk pilot plant di P2 Kimia LIPI. Di akhir acara, para peserta workshop mengeluarkan resolusi yang berisi 11 butir kesepakatan, diantaranya memperkuat peran serta akademi sains nasional dan himpunan sains dalam desain, penerapan dan pengawasan inisiasi pembangunan berkelanjutan (sustainable development) di Asia. Mendorong peran serta peneliti muda dalam riset pembangunan berkelanjutan Menekankan dan mempromosikan riset lintas disiplin dan multidisiplin Meningkatkan dukungan terhadap penelitian pemodelan iklim untuk pemahaman yang lebih baik terkait bagaimana dan hingga seberapa jauh perubahan iklim akan mempengaruhi berbagai sektor masyarakat Mempelajari peranan instrumen keuangan dalam membantu pelaku sektor pertanian dan perikanan dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim Mendukung pengembangan akademis para peneliti yang terlibat dalam riset pembangunan berkelanjutan dan perubahan iklim Membentuk jaringan tempat belajar dimana dampak perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan bisa diawasi dalam jangka panjang Mempromosikan dan menerapkan pengukuran ilmiah alih risiko perubahan iklim (science based climate risk transfer measures), seperti jaminan berbasis indeks cuaca (weather index-based insurance) Mengintensifkan dan mendukung program pengenalan nilai lingkungan dan perubahan gaya hidup untuk dimasukkan dalam kurikulum sekolah Mengkomunikasikan isu perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan serta temuan ilmiah menggunakan media cetak dan elektronik ke semua komunitas masyarakat Mendiseminasikan pengetahuan ilmiah terkait pembanguanan berkelanjutan, adaptasi perubahan iklim, dan manajemen resiko bencana dalam wujud yang tepat ke pimpinan pemerintah dan pembuat kebijakan, pimpinan sektor swasta dan semua pihak terkait. <aars/ p2 kimia>

Baca

P2 Kimia Dukung The 2nd International Symposium on Applied Chemistry 2016


05 Oktober 2016

[Berita P2 Kimia, BSD] Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI bekerjasama dengan Himpunan Kimia Indonesia (HKI) turut serta berpatisipasi mendukung penyelenggaraan seminar internasional bertajuk ‘The 2nd International Seminar on Applied Chemistry’ atau disingkat ISAC. Seminar ini merupakan rangkaian dari Science and Technology Festival (STF) 2016 yang didukung Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) LIPI. STF sendiri merupakan wahana bagi peneliti dalam melakukan diseminasi dan publikasi hasil penelitian serta menjadi ajang berbagi informasi, baik dalam bentuk seminar ilmiah, pameran, dan business meeting antar peneliti, praktisi, akademisi, mahasiswa, dan industri. Kegiatan taraf internasional ini dilaksanakan setiap tahun dan bersifat mandiri yang merupakan gabungan acara dari berbagai organisasi profesi dalam bidang keteknikan. Dalam acara yang dilaksanakan dari 3-4 Oktober 2016 di ICE BSD City ini Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, L. T. Handoko berkesempatan untuk memberikan ucapan selamat datang kepada seluruh hadirin. Dalam sambutannya, pria yang disapa Handoko ini menekankan tujuan dari kegiatan ilmiah ini adalah sebagai ajang sinergi antara peneliti lokal dan global serta untuk meningkatkan kualitas publikasi ilmiah yang bertaraf internasional. Handoko juga mengharapkan ajang kali ini dapat digunakan untuk kalangan industri untuk menjajaki penggunaan hasil penelitian lokal bagi kegiatan industri mereka. Selama ini jumlah hasil penelitian lokal khususnya dalam bidang keteknikan masih terbatas yang telah diterapkan oleh industri. “Diperlukan komitmen dari sektor industri untuk menggunakan riset nasional untuk kemajuan iptek di dalam negeri,” tekannya. Kemudian acara dibuka secara resmi oleh Dirjen Penguatan Inovasi Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan sesi pleno yang menghadirkan tiga pembicara kunci yaitu Prof. Ng Wu Jern (NTU Singapura), Prof. Joachim Mayer (RWTH Aachen Jerman), dan Prof. Tetsuya Kawanishi (NICT Jepang). Setelah istirahat dan makan siang, para peserta ‘The 2nd International Seminar on Applied Chemistry’ (ISAC) dipersilakan untuk mengikuti acara sesi presentasi poster yang menampilkan hasil-hasil riset dari para peneliti, akademisi, dan mahasiswa baik dalam maupun luar negeri. Sesi presentasi poster ini menjadi ajang bagi peserta untuk bertukar informasi dan berdiskusi terkait minat bidang masing-masing presenter. Selanjutnya, seminar ISAC menghadirkan tiga orang narasumber untuk memberikan kuliah pada sesi ‘leading talk’. Ketiga narasumber tersebut adalah Dr. Yuya Oaki dari Keio University Jepang, Prof. Swapandeep Chimni dari Guru Nanak Dev University India, dan Prof. Arief Budiman dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ketiga pemateri memaparkan road map penelitian masing-masing secara menarik yang membuat seluruh hadirin begitu antusias untuk menyimak dan berdiskusi dengan para pembicara. Hadir sebagai moderator yaitu Dr. Heru Susanto yang merupakan Kasubid diseminasi hasil penelitian di P2 Kimia. Memasuki acara presentasi ilmiah dari peserta seminar pada sesi pertama, ISAC menghadirkan lima presenter dengan bidang penelitian kimia fisik. Sesi ini dipandu oleh Dr. Indri Badria, peneliti dari kelompok penelitian katalis di P2 Kimia. Kemudian acara hari pertama ditutup dengan berakhirnya presentasi dan tanya jawab dari kelima presentasi. Acara hari kedua diawali dengan ucapan selamat datang dari Kepala P2 Kimia, Dr. Agus Haryono. Agus memberikan presentasi singkat terkait satuan kerja P2 Kimia dan peluang kerjasama yang dapat dijalin dengan satker yang dipimpinnya. “Prinsipnya, P2 Kimia sangat ‘welcome’ untuk melakukan kerjasama dengan berbagai pihak dalam kerangka penguatan iptek dan peningkatan daya saing industri. Pintu kami terbuka lebar bagi para peneliti, akademisi, mahasiswa, dan pelaku industri untuk bersama-sama memanfaatkan fasilitas yang P2 Kimia miliki,” ungkapnya. Sesi ‘leading talk’ kedua dalam rangkain ISAC, dimoderatori oleh Prof. Swapandeep Chimni dengan menghadirkan tiga orang nara sumber yaitu Dr. Muhamad Martoprawiro selaku Ketua Umum Himpunan Kimia Indonesia (HKI) yang juga dosen di Institut Teknologi Bandung, Dr. Mark Blaskovich dari Univeristy of Queensland Australia, dan Dr. Hyunjoo Lee dari KIST Korea Selatan. Setelah sesi istirahat siang, para peserta seminar diberikan kesempatan untuk mengikuti sesi presentasi poster kedua yang memaparkan hasil-hasil penelitian para peneliti, akademisi, dan mahasiswa. Sesi presentasi ilmiah kedua, ketiga, keempat dan kelima dilanjutkan untuk memberikan kesempatan kepada para presenter memaparkan hasil-hasil penelitiannya. Para presenter dan seluruh peserta seminar begitu asyik dengan diskusi ilmiah sesuai dengan minat masing-masing sehingga tidak terasa waktu telah menunjukkan lebih dari pukul 5 sore. Akhirnya rangkaian acara ditutup oleh Ketua ‘The 2nd International Seminar on Applied Chemistry’, Prof. Tursiloadi yang merupakan peneliti senior di P2 Kimia. Adi menyampaikan terimakasihnya kepada semua pihak yang telah menyukseskan penyelenggaraan seminar internasional tahunan ini. “Terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan berpartisipasi aktif dalam ISAC 2016 kali ini. Tentunya ke depan diharapkan kegiatan semacam ini dapat ditingkatkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” tuturnya dalam sambutan penutupanya. Tak lupa professor bidang katalis tersebut menyampaikan permintaan maaf sekiranya terdapat kekurangan dalam penyelenggaraan ‘The 2nd International Seminar on Applied Chemistry’ kali ini.  

Baca
ZONA INTEGRITAS