: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Di Kementrian Kesehatan, P2 Kimia Sampaikan Perkembangan Kegiatan Konsorsium Kemandirian Bahan Baku Obat


31 Juli 2018

[Berita P2 Kimia, Jakarta] Guna melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan Konsorsium Kemandirian Bahan Baku Obat Dihidroartemisinin, dilaksanakan pertemuan di Badan Litbang Kementrian Kesehatan, Jakarta pada Senin (30/7). Acara dibuka oleh Kepala Balitbang Kementrian Kesehatan, Dr. Siswanto. Dalam sambutan dan arahannya, Pak Sis berharap supaya kegiatan-kegiatan yang dilakukan masing-masing anggota konsorsium dapat dibuat dalam sebuah bunga rampai untuk disampaikan kepada Ibu Menteri Kesehatan RI. “Saya mohon supaya nantinya, hasil-hasil yang diperoleh dapat dibuat dalam semacam bunga rampai supaya saya dapat sampaikan kepada Ibu Menteri Kesehatan. Selain itu, perlu dilakukan koordinasi dengan Badan POM supaya hasil yang sudah diperoleh dapat segera direalisasikan menjadi obat yang memenuhi persyaratan,” pesan Pak Sis dalam sambutan dan arahannya. Berikutnya PT. Indofarma (Persero) Tbk menyampaikan perkembangan kegiatan yang dilakukannya dalam kerangka kegiatan Konsorsium Kemandirian Bahan Baku Obat Dihidroartemisinin. Direktur Produksi dan Supply Chain, Eko Dodi Santoso bertindak langsung untuk menyampaikan pemaparannya. Dalam presentasinya, Dodi menggaris bawahi beberapa capaian (milestone) yang sudah diperoleh oleh tim dari PT. Indofarma (Persero) Tbk. Dirinya berharap agar dapat dilakukan studi kelayakan bisnis yang komperhensif dari hulu ke hilir sebagai pegangan bagi perusahaannya dalam membuat perencanaan investasi. “Bagi kami, sektor industri, sangat penting untuk segera melakukan studi kelayakan bisnis supaya perseroan dapat melakukan perencanaan khususnya yang berkaitan dengan investasi. Sekiranya nanti kita dapat menyusun tim studi tersebut dan dapat bekerja dalam waktu dekat,” ujar Dodi sekaligus menyampaikan harapannya. Untuk memperoleh informasi yang sudah dicapai oleh Pusat Penelitian Kimia LIPI, Arthur A. Lelono selaku Koordinator Tim Penelitian dari LIPI dalam kegiatan Konsorsium Kemandirian Bahan Baku Obat Dihidroartemisinin menyampaikan presentasinya. Arthur menjelaskan bahwa pengembangan metode ekstraksi yang telah timnya lakukan sudah membuahkan beberapa hasil. Secara umum, metode ekstraksi yang dikembangkannya memiliki peluang untuk dapat digunakan oleh indutsri. Saat ini, dirinya bersama tim juga sudah mendaftarkan paten terkait metode ekstraksi. “Masih ada beberapa tantangan bagi kami di Pusat Penelitian Kimia LIPI dalam kegiatan konsorsium ini. Salah satu bagian dari metode masih berbiaya tinggi, hal inilah yang sedang kami carikan alternatifnya supaya lebih efektif dan efisien,” ungkap pria yang berlatar belakang Ph.D bidang kimia bahan alam tersebut. Di akhir acara, dilakukan sesi diskusi untuk membahas penyelesaian-penyelesaian dari permasalahan yang timbul. Kepala Balitbang Kementrian Kesehatan memimpin langsung diskusi itu. Dari hasil diskusi, banyak hal yang dirumuskan untuk selanjutnya dapat ditindaklanjuti baik secara bersama maupun oleh masing-masing anggota konsorsium. Tak lupa, foto bersama menjadi penutup rangkaian kegiatan hari itu. <sjw, p2k>

Baca

Dalam Agenda Supervisi oleh Kemenristekdikti, Tim Pakar Apresiasi Capaian PUI Bioetanol G2 di P2 Kimia


17 Juli 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Dalam rangka pembinaan Pusat Unggulan Iptek (PUI) oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Selasa (17/7) P2 Kimia mendapat jadual supervisi oleh Sekretariat PUI Kemenristekdikti. Yudho Baskoro dan Edita Diah dari Sekretariat PUI Kemenristekdikti datang bersama tim pakar yaitu Prof. Misri Ghozan (UI) dan Ir. Paulus Tjakrawan (APROBI). Acara dibuka oleh Dr. Arthur Lelono selaku Kepala Bagian Tata Usaha P2 Kimia. Tujuan dari kegiatan supervisi adalah untuk melihat aktivitas di PUI Bioetanol G2 P2 Kimia termasuk menggali solusi dari kendala-kendala yang timbul. Oleh karena itu, Sekretariat PUI Kemenristekdikti melibatkan tim pakar yang berkompeten. “Kami ucapkan selamat datang kepada Pak Yudho dan tim dari Sekretariat PUI Kemenristekdikti serta kepada tim pakar. Terima kasih atas jadual supervisi ke Pusat Unggulan Iptek Bioetanol Generasi Kedua (G2) di P2 Kimia ini. Nanti Pak Muryanto selaku Koordinator PUI akan mempresentasikan perkembangan dari PUI Bioetanol G2,” buka Arthur mengawali kegiatan supervisi hari itu. Muryanto, ST, MT selaku koordinator kegiatan PUI Bioetanol G2 P2 Kimia lalu mempresentasikan perkembangan kegiatan di P2 Kimia termasuk kendala-kendala yang dihadapi. Sebagai informasi, P2 Kimia merupakan salah satu satuan kerja di bawah LIPI yang sedang dalam proses pembinaan sebagai Pusat Unggulan Iptek (center for excellence) dalam bidang pengembangan bioetanol berbahan baku biomassa. Ini merupakan tahun kedua bagi P2 Kimia mendapat skema pembinaan dari Kemenristekdikti. “Sampai dengan triwulan kedua, beberapa hal telah dicapai oleh P2 Kimia baik dalam hal kelembagaan, penelitian dan pengembangan, serta diseminasi. Saya akan menyampaikan beberapa yang berhasil kami capai termasuk kendala dan tantangan yang kami hadapi. Tentunya, masukan dan saran dari tim pakar nantinya akan menjadi bekal bagi PUI Bioetanol G2 P2 Kimia untuk memperoleh hasil yang paling optimal di tahun ini sesuai dengan yang sudah direncakakan,” ungkap Muri, sapaan lelaki yang juga merupakan peneliti bidang lingkungan di P2 Kimia tersebut. Setelah penyampaian oleh Muri, berikutnya Yudho mempersilakan tim pakar untuk memberikan komentar, masukan, dan saran. Kesempatan pertama diberikan kepada Prof. Misri Gozan yang merupakan tim pakar pada tahun sebelumnya juga. Misri mengapresiasi beberapa kemajuan yang telah dicapai oleh PUI Bioetanol G2 dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun beberapa hal masih menjadi catatannya. “Sebagai orang yang tidak baru bagi PUI Bioetanol G2 di P2 Kimia, saya sangat mengapresiasi kemajuan yang telah diperoleh oleh P2 Kimia. Persiapan akreditasi KNAPPP sebagai landasan operasional manajemen litbang telah menunjukkan progresnya. Selain itu beberapa diseminasi juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, seperti kerjasama dengan dua BUMN terkemuka,” ujar Misri, tim pakar yang merupakan guru besar di Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Pada kesempatan berikutnya, Ir. Paulus Tjakrawan yang merupakan ketua Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) juga memberikan catatan positif atas capaian PUI Bioetanol G2. Dirinya mengaku optimis bahwa ketekunan P2 Kimia dalam mengembangkan bioetanol dari limbah biomassa dapat memberikan kontribusi nyata atas permasalahan energi di tanah air. Hal ini sejalan dengan program pemerintah yang sudah seharusnya mendapat dukungan penuh dari semua stakeholder. “Yang diperlukan P2 Kimia adalah terus konsisten dengan riset energi terbarukan ini. Ditambah dengan secara aktif berkoordinasi bersama berbagai pihak. Tentunya, kami dari asosiasi dan rekan-rekan industri sangat menyambut baik apabila diminta untuk berkontribusi. Silakan, jangan sungkan untuk menemui kami dan berdiskusi dengan kami,” kata Paulus dalam komentarnya sembari memberikan motivasi kepada tim dari P2 Kimia. Untuk menutup acara, Muri mengajak tim dari Sekretariat PUI Kemenristekdikti serta tim pakar untuk meninjau langsung aktivitas di Pilot Plant Bioetanol G2 milik P2 Kimia. Yan Irawan yang merupakan koordinator Pilot Plant Bioetanol G2 memberikan beberapa penjelasan terkait kondisi dan aktivitas yang sedang berlangsung di sana. Tak lupa, sesi foto bersama dilakukan untuk mengabadikan momen di hari tersebut. <sjw, p2k>

Baca

Memasuki Tahun Kedua Berbasis OJS, Jurnal Kimia Terapan Indonesia (JKTI) Terindeks SINTA


17 Juli 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] “Apa hasilnya Rp 24,9 Triliun? Saya tanya,” demikian ungkapan Jokowi di Istana Merdeka, Senin, 9 April 2018 saat membahas besarnya anggaran untuk riset di tiap Kementerian dan Lembaga di Indonesia. Kalimat ini pula yang dikutip oleh Muhammad Dimyati, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi dalam acara Sosialisasi Akreditasi Jurnal Nasional di Auditorium Utama LIPI, Selasa (17/7). Pertanyaan yang sama sebenarnya tidak hanya ditanyakan oleh orang nomor satu di Indonesia, namun sebenarnya oleh banyak masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Untuk memberikan pelayanan informasi mengenai publikasi ilmiah yang telah diterbitkan oleh akademisi dan peneliti di seluruh Indonesia, maka Kementerian Ristekdikti meluncurkan portal SINTA yang memberikan indeks untuk setiap kinerja setiap akademisi, peneliti dan institusi yang terlibat dalam pengembangan riset dan teknologi. “Setiap orang dapat mengakses SINTA baik dari komputer maupun gawai masing-masing dan dapat mengetahui berapa banyak publikasi ilmiah yang dimiliki Indonesia secara keseluruhan, masing-masing institusi atau universitas, bahkan untuk masing-masing peneliti atau akademisi. Rekam jejak kepakaran masing-masing akademisi dan peneliti dapat diamati dari publikasi yang dihasilkannya sehingga publik yang membutuhkan konsultasi ilmiah pada suatu tema khusus tertentu dapat dengan mudah mengetahui siapa pakar yang perlu dihubungi. Data yang digunakan SINTA akan terus diperbaharui sehingga publik yang mengakses SINTA akan selalu mendapatkan informasi terkini,” lanjut Dimyati. SINTA sendiri adalah hasil penggabungan dari sistem akreditasi LIPI dan sistem akreditasi ARJUNA. Sebelumnya terdapat 197 jurnal yang telah terakreditasi LIPI dan 333 jurnal terakreditasi ARJUNA dalam kategori A dan B. SINTA menggabungkan keduanya dalam kategori SINTA 1 (S1) dan S2 sehingga saat ini terdapat 530 jurnal dalam kategori S1 dan S2. SINTA juga mewadahi jurnal jurnal yang sudah berbasis elektronik lainnya dalam kategori S3 hingga S6 yang hingga kini telah terakreditasi sebanyak 1152 jurnal. Database jurnal ini masih terus diperkaya hingga dalam 2 bulan ke depan diharapkan telah terakreditasi 3500 jurnal dalam kategori SINTA dari S1 hingga S6. Acara sosialisasi ini kemudian dilanjutkan dengan serah terima Daftar Jurnal Terakreditasi LIPI oleh Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko kepada Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Ristekdikti sebagai penanda sudah tidak ada lagi dualisme sistem akreditasi jurnal di Indonesia. Selanjutnya Kepala LIPI dan Dirjen menyerahkan secara simbolis Sertifikat Akreditasi terindeks SINTA kepada 10 pengelola jurnal. Sebanyak 730 pengelola jurnal dari berbagai universitas dan instansi penelitian milik Kementerian dan Lembaga turut hadir dan menerima sertifikat akreditasi dalam acara tersebut. Para pengelola yang hadir berasal dari jurnal yang mengajukan akreditasi sepanjang tahun 2018. Untuk jurnal terakreditasi lainnya akan dikirimkan lewat pos. Dalam sambutannya Kepala LIPI menyatakan SINTA telah memberikan banyak kemudahan dalam proses akreditasi jurnal nasional, diantaranya masa berlaku akreditasi yang 5 tahun. Syarat pengajuan akreditasi ulang untuk memperbaiki peringkat SINTA juga menjadi lebih mudah, cukup dengan penerbitan satu edisi terbaru. “Jadi tidak harus menunggu hingga 2 tahun penerbitan rutin,” lanjut Kepala LIPI. Penjelasan lanjut mengenai SINTA disampaikan oleh Lukman, Kasubdit Fasilitasi Jurnal Ilmiah Kemenristekdikti. “Jangankan SINTA, metode pengindeks yang sudah ternama seperti Scopus saja sebenarnya masih asing bagi sebagian peneliti dan akademisi di Indonesia. Beberapa bahkan ada yang beranggapan Scopus sebagai tempat untuk mencari artikel ilmiah terkini. Ini sebenarnya adalah pemahaman yang keliru,” ujar Lukman. “Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang ada di ruangan ini adalah pengelola dan penerbit jurnal. Serupa dengan Elsevier, Hindawi atau Springler di luar negeri. Penilaian kredibilitas isi tulisan di jurnal yang Bapak Ibu terbitkan sebagai suatu jurnal ilmiah dilakukan oleh sistem Akreditasi Jurnal Nasional yang kita namakan ARJUNA. Sistem ARJUNA dengan asssessor yang kompeten dikelola oleh kemenristekdikti. Setelah terakreditasi sebagai jurnal ilmiah, maka jurnal Bapak Ibu akan dimasukkan ke dalam portal pencari artikel ilmiah, misalnya Science Direct kalau di luar negeri. Indonesia sudah mengembangkan portal pencari untuk artikel ilmiah yang diterbitkan di Indonesia yaitu Garda Rujukan Digital atau yang kita namakan GARUDA. SINTA adalah sistem yang mengukur dampak dari tulisan ilmiah yang dimuat dalam jurnal ilmiah, baik sebagai penulis perseorangan, sebagai institusi, atau lembaga, melalui jumlah tulisan yang dipublikasikan dan berapa banyak tulisan tersebut telah dibaca, diunduh dan dikutip. Jadi SINTA akan menggunakan data dari GARUDA dan portal pencari lainnya untuk mengukur kinerja riset sebagaimana yang dilakukan Scopus, menentukan peringkat sebagaimana yang dilakukan Scimago dan bahkan melakukan analisis terhadap dampak riset sebagaimana dilakukan Scival. Mungkin demikian perbandingan sistem pengelolaan tulisan ilmiah di Indonesia dengan apa yang dilakukan di luar negeri,” lanjut Lukman menerangkan. “Seyogyanya acara hari ini adalah sosialisasi Permenristekdikti No. 9 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Jurnal Ilmiah Nasional. Akan ada peraturan peraturan lanjutan yang diterbitkan oleh Menteri yang akan mengatur adaptasi dari peraturan ini pada sistem penilaian jabatan fungsional baik dosen maupun peneliti,” pungkas Lukman. Workshop Peningkatan Kualitas Editorial Berbasis Open Journal System (OJS) 2018 Pusat Penelitian Kimia sebagai penerbit Jurnal Kimia Terapan Indonesia (JKTI) telah mengantisipasi sistem akreditasi ARJUNA dan pengindeks SINTA yang baru diluncurkan oleh Kemenristekdikti tahun ini. Dua minggu sebelumnya (4/7) Pusat Penelitian Kimia telah melaksanakan Workshop Peningkatan Kualitas Editorial Berbasis Open Journal System (OJS) 2018 di Telaga Meeting Hall, BSD City dengan mengundang Tinton Dwi Atmaja selaku pengelola Journal of Mechatronics, Electrical Power, and Vehicular Technology (MEV Journal) untuk menjadi narasumber. MEV Journal adalah salah satu jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh salah satu satuan kerja LIPI yang telah terindeks Scopus dan berada dalam kategori S2 dalam sistem pengindeks SINTA. “JKTI yang saat ini berada dalam kategori S3. Melalui Workshop ini diharapkan JKTI dapat meningkatkan kualitasnya untuk bisa masuk dalam kategori S2 atau S1,” Ungkap Yenny Meliana, Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian Pusat Penelitian Kimia saat mewakili Kepala Pusat Penelitian Kimia dalam membuka Workshop. Cita-cita ini ditegaskan pula oleh Haznan Abimanyu selaku Editor in Chief JKTI. “Kami mengamati bahwa 51 persen penilaian akreditasi pada muatan ilmiah dari tulisan yang dimuat. Muatan ini dinilai dari kedalaman pembahasan dan keterlibatan reviewer dalam mengkaji kedalaman pembahasan dalam tulisan tersebut. Sarana yang disediakan oleh OJS memungkinkan semua proses review tercatat dan pemutakhiran review dapat dilakukan tepat waktu. Jika ini bisa diterapkan pada proses review JKTI maka InsyaAllaah kita bisa mendapatkan nilai yang tinggi dari assessor dan bisa segera naik kelas,“ ungkap Haznan. “Karena itu kami mengundang pengelola MEV Journal untuk sedikit berbagi dengan pengelola JKTI dalam workshop ini sehingga para editor dan reviewer JKTI bisa menjalankan perannya masing masing dengan sekasama dan sebaik baiknya serta bisa menggunakan fitur-fitur yang telah tersedia di OJS dalam melakukan review dan penyuntingan,” lanjut Haznan mengungkapkan harapannya. Workshop diikuti oleh 20 peserta yang kesemuanya terlibat dalam masing masing tahap penerbitan JKTI. Turut hadir dalam workshop dua professor dari Pusat Penelitian Kimia yang menjadi reviewer JKTI yaitu Muhammad Hanafi dan Yanni Sudiyani. “Transformasi menuju jurnal berbasis elektronik atau jurnal online memang sering dihadapkan pada tantangan penguasaan terhadap teknologi informasi. Karena itu saya gembira sekali Bapak Ibu yang hadir disini bersedia untuk kembali belajar untuk menguasai teknologi informasi yang digunakan dalam sistem OJS” ujar Tinton membuka penyampaian materi. Peneliti yang berdomisili di Bandung ini kemudian melanjutkan bahwa penguasaan sistem OJS dibutuhkan oleh semua pihak yang terlibat mulai dari penulis, editor, reviewer hingga penyusun tata letak jurnal dan tampilan situs. Untuk itu panduan untuk penulis yang ditampilkan pada situs perlu ditulis secara rinci. “Apabila nanti JKTI mendapatkan akreditasi S2 versi SINTA, maka artikel pada edisi selama 2 tahun berurutan yang diajukan untuk penilaian akreditasi S2 akan dinilai sebagai artikel yang dimuat dalam jurnal kategori S2. Jadi jangan takut untuk memuat di jurnal yang sedang dalam proses akreditasi ulang. Penulis tidak akan dirugikan dari sisi angka kreditnya,” jawab Tinton saat mendengar permasalahan pengelola jurnal yang kesulitan mengundang penulis untuk berpartisipasi pada jurnal yang sedang mengajukan akreditasi. Workshop selama sehari penuh benar benar telah meningkatkan kemampuan pengelola jurnal, editor dan reviewer terutama pada pengetahuan teknis fitur fitur OJS. Mengelolaan akun untuk semua pihak terlibat hingga pemahaman dan pengaturan metadata akhirnya makin dikuasai. “Terima kasih buat Pak Tinton dan teman-teman dari MEV journal yang telah sangat membantu kami dalam workshop kali ini. InsyaAllaah semua yang dibagikan hari ini akan membantu kami dalam mengelola JKTI dengan lebih cepat dan tercatat secara tertib. Tentunya satu hari tidak cukup untuk bisa menguasai secara utuh. Jadi Saya mohon teman-teman dari MEV journal untuk masih bersedia menerima telepon atau membalas surat-surat kami di kemudian hari apabila ada hal-hal yang masih perlu kami tanyakan,” harapan Haznan saat menutup acara Workshop. <bardant, p2k>

Baca

Diskusikan JSPS-LIPI Joint Research Program, Peneliti dari Kobe University Bertemu dengan Peneliti P2 Kimia


12 Juli 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Sebagai tindak lanjut dari JSPS-LIPI Joint Research Program, civitas Kobe University mengunjungi P2 Kimia pada Rabu (11/7). Mereka adalah Dr. Chie Utsubo dan Dr. Masanori Kameoka dari Graduate School of Health Sciences, Kobe Univerity. Kedatangan keduanya disambut langsung oleh Dr. Agus Haryono selaku Kepala P2 Kimia dan Prof. Dr. M. Hanafi selaku koordinator JSPS-LIPI Joint Research Program. Maksud kedatangan Utsubo dan Kameoka yaitu dalam rangka mendiskusikan perkembangan kerjasama penelitian dan rencana lebih lanjut. “Kami hendak berdiskusi dengan rekan-rekan peneliti P2 Kimia yang terlibat dalam JSPS-LIPI Joint Research Program, termasuk rencana ke depan untuk mengembangkan kerjasama lebih lanjut misalnya melalui SATREP,” ujar Chie Utsubo saat diterima oleh Kepala P2 Kimia. “Tentunya P2 Kimia sangat menyambut baik kegiatan kerjasama yang telah kita jalin dari tahun sebelumnya. Harapannya adalah jalinan kerjasama ini dapat bersifat long-term dan memperoleh hasil yang optimal untuk kemajuan sains dan teknologi,” timpal Agus kepada kolega dari Kobe University. Selanjutnya, Utsubo dan Kameoka mengunjungi fasilitas laboratorium yang dimiliki oleh P2 Kimia. Pada kesempatan tersebut, Prof. Hanafi juga mengajak mereka untuk melihat langsung progres pembangunan Gedung CPOTB yang rencananya akan selesai pada Oktober mendatang. Fasilitas Gedung CPOTB merupakan upaya LIPI untuk mempercepat hilirisasi hasil penelitian khususnya berkenaan dengan obat tradisional. “Melalui fasilitas berstandard GMP tersebut, kami berupaya supaya hasil-hasil penelitian obat tradisional dapat segera diadop oleh industri. Hal ini tentunya memerlukan kerjasama dari berbagai pihak, termasuk dengan Kobe University,” ungkap Prof. Hanafi saat memberikan penjelasan pembangunan Gedung CPOTB. Diskusi antara peneliti P2 Kimia dengan peneliti dari Kobe University berlangsung di Ruang Rapat Utama Lt. 2 P2 Kimia. Diawali dengan santap siang, kegiatan diskusi berlangsung dengan hangat. Nampak peneliti dari Kelompok Penelitian Kimia Bahan Alam dan Kimia Medisinal di P2 Kimia terlibat aktif dalam diskusi itu. Turut hadir dalam diskusi, Dr. Teni Ernawati, Koordinator Keltian Kimia Bahan Alam dan Dr. Tjandrawati Mozef, Koordinator Keltian Kimia Medisinal. Topik yang mengemuka dalam diskusi yaitu peluang kerjasama penelitian khususnya kimia bahan alam. Menjelang berakhirnya jam kerja di P2 Kimia, acara diskusi ditutup oleh Dr. Yenny Meliana selaku Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian P2 Kimia. Tak lupa Yenny memberikan kenang-kenangan kepada Kameoka untuk disampaikan kepada Graduate School of Health Sciences, Kobe University. Untuk mengakhiri acara hari tersebut, dilakukan sesi foto bersama antara peneliti P2 Kimia dengan kolega dari Kobe Univeristy. Kameoka yang baru pertama kali mengunjungi P2 Kimia merasa sangat senang dapat mengunjungi salah satu pusat penelitian yang sangat konsen dengan kimia bahan alam dan obat tradisional di Indonesia ini. <sjw, p2k>

Baca

P2 Kimia Mendapat Kunjungan dari Dosen dan Mahasiswa Program Studi Kimia Universitas Nusa Bangsa


09 Juli 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Senin (9/7) P2 Kimia mendapat kunjungan dari Program Studi Kimia Universitas Nusa Bangsa Bogor. Sekitar 40 mahasiswa dan 5 orang dosen berpartisipasi dalam kunjungan tersebut. Mamay Maslahat, S.Si, M.Si selaku Kepala Program Studi Kimia yang memimpin rombongan tersebut menyampaikan bahwa kunjungan kali ini dalam rangka mengenalkan aktivitas penelitian kepada mahasiswa khususnya yang mengambil mata kuliah spektroskopi. “Sebelumnya kami sampaikan terima kasih atas penerimaan yang sangat baik dari P2 Kimia. Maksud kunjungan ini adalah dalam rangka mengenalkan aktivitas penelitian kepada mahasiswa kami. Khususnya pengenalan instrumen pengujian sebagai penunjang utama aktivitas penelitian,” ujar wanita yang merupakan dosen senior di Universitas Nusa Bangsa tersebut. Rombongan disambut oleh Hendris Hendarsyah, Kasubbid Sarana Penelitian Khusus dan Sujarwo, Kasubbid Diseminasi dan Kerjasama. Pada kesempatan tersebut, beberapa mahasiswa menanyakan bagaimana untuk mereka dapat melakukan tugas akhir di P2 Kimia. Selain itu, mahasiwa juga meminta informasi terkait layanan pengujian di P2 Kimia. “Saat ini, sesuai kebijakan di P2 Kimia bahwa kami memprioritaskan mahasiswa yang akan melakukan tugas akhir daripada mahasiswa PKL. Untuk tugas akhir, kami mensyaratkan mahasiswa dapat melakukan penelitian minimal 3 bulan di Laboratorium P2 Kimia. Hal ini supaya hasil yang diperoleh mahasiswa dan peneliti kami lebih optimal,” ungkap Sujarwo menjawab pertanyaan terkait bimbingan tugas akhir. Selanjutnya, Hendris menjelaskan bahwa layanan pengujian di P2 Kimia sudah memiliki tarif yang ditetapkan oleh pemerintah. Beberapa diantaranya menerapkan tarif khusus untuk mahasiswa. Sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan, hasil pengujian dapat diperoleh maksimal empat belas hari kerja. “Beberapa pengujian kami telah masuk dalam lingkup akreditasi ISO/IEC 17025. Guna dapat menggunakan layanan pengujian, pelanggan diminta untuk mengirimkan email ke layanan.kimia@mail.lipi.go.id. Selanjutnya, apabila sudah mendapat notifikasi terkait ketersediaan layanan, sampel dapat dikirimkan langsung ke P2 Kimia ataupun dikirim melalui jasa pengiriman,” terang Hendris menjelaskan prosedur layanan pengujian di P2 Kimia. Akhirnya, seluruh mahasiswa dan dosen peserta kunjungan tersebut dipersilakan untuk melihat fasilitas pengujian yang ada di Laboratorium P2 Kimia. Tidak lupa, mereka juga diperkenankan untuk berdiskusi langsung dengan peneliti dan staf laboratorium yang menjadi penangggung jawab masing-masing instrumen pengujian. Para mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk mengunjungi Lab. Liquid Kromatografi, Lab. Gas Kromatografi, Lab. AAS, Lab. NMR, dan Lab. FTIR. Para mahasiswa terlihat begitu antusias  berdiskusi dengan peneliti dan staf laboratorium. Hingga menjelang berakhirnya jam kerja di P2 Kimia, mereka masih larut dalam aktivitas diskusi. Setelah dirasa mencukupi dalam menggali informasi, mahasiswa dan dosen peserta kunjungan pun berpamitan untuk kembali ke Bogor. “Kami sangat senang dapat melihat langsung aktivitas di laboratorium penelitian seperti di P2 Kimia ini. Tentu, wawasan yang kami peroleh sangat bermanfaat karena kami dapat melihat langsung bagaimana cara kerja dari instrumen-instrumen pengujian kimia yang kami pelajari di kampus,” kesan salah seorang mahasiswa saat dimintai pendapatnya terkait kegiatan kunjungan hari itu. <sjw, p2k>

Baca

Upayakan Segera Peroleh Akreditasi Sistem Manajemen Mutu KNAPPP, P2 Kimia Selenggarakan Audit Internal


07 Juni 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Dalam rangka penerapan Sistem Manajemen Mutu (SMM) KNAPPP, P2 Kimia melaksanakan Audit Internal SMM KNAPPP pada Rabu (6/6) sampai Kamis (7/6). Guna membantu pelaksanaan Audit Internal, P2 Kimia mengundang Dr. Fatimah Zulfah dari Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian (P2 SMTP). Acara dibuka oleh Kepala P2 Kimia pada Rabu (6/6) yang bertempat di Ruang Rapat Utama P2 Kimia. “Terima kasih kami sampaikan kepada Dr. Fatimah Zulfah atas perkenannya membantu kami dalam pelaksanaan Audit Internal hari ini. Kegiatan ini merupakan agenda yang sudah direncakan oleh P2 Kimia dalam rangka perolehan akreditasi KNAPPP yang ditargetkan tahun ini,” ungkap Dr. Agus Haryono, Kepala P2 Kimia. Agus juga berpesan supaya seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Audit Internal dapat bekerjasama sehingga kegiatan berjalan dengan lancar. Dr. Fatimah Zulfah memberikan sambutan sebagai perwakilan dari auditor. Dirinya mengapresiasi usaha yang telah dilakukan oleh P2 Kimia untuk menata sistem manajemen Litbang dengan mengikuti skema akreditasi KNAPPP. Dia pun berharap supaya P2 Kimia dapat segera memperoleh akreditasi dari Kementrian Ristekdikti. “Pertama saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan P2 Kimia mengundang saya untuk terlibat dalam kegiatan ini. Tentunya penerapan SMM KNAPPP akan sangat membantu satuan kerja Pranata Litbang dalam membenahi manajemennya. Mudah-mudahan ke depannya prosesnya berjalan lancar dan P2 Kimia segera memperoleh akreditasi KNAPPP ini,” ujar Fatimah yang merupakan peneliti senior di P2 SMTP dan pernah menjabat sebagai Deputi di LIPI tersebut. Berikutnya Dr. Galuh Widiyarti selaku Manajer Mutu SMM KNAPPP di P2 Kimia mengawali pelaksanaan Audit Internal dengan mengenalkan tim auditor dan seluruh auditi yang akan terlibat dalam dua hari itu. “Audit Internal dua hari ini akan dipimpin oleh Dr. Fatimah Zulfah dengan anggota saya sendiri, Pak Arthur, Pak Didin, Bu Dian Burhani, Bu Zatil dan Pak Sudiyarmanto,” papar Galuh mengawali penjelasannya. “Adapun auditi yang akan terkait yaitu Pak Agus, Pak Adep selaku ketua PME, seluruh manajemen P2 Kimia, Koordinator Keltian dan juga anggota Keltian,” lanjut wanita yang merupakan peneliti bidang kimia bahan alam di P2 Kimia tersebut. Akhirnya pelaksanaan Audit Internal hari pertama, Rabu (6/6) pun dimulai. Masing-masing auditor melakukan tanya-jawab dengan auditi termasuk mengecek dokumen-dokumen terkait. Kegiatan hari pertama tersebut berlangsung dengan lancar. Pelaksanaan audit pun sampai melewati jam kerja P2 Kimia yang berakhir lebih awal dari biasanya dikarenakan menyesuaikan jam kerja pada bulan suci Ramadhan. Hari kedua, Kamis (7/6), kegiatan audit kembali dilanjutkan mulai pagi hari. Auditor dan auditi nampak begitu serius mengikuti pelaksanaan audit. Hingga akhirnya, setelah semua auditor telah menyelesaikan tugasnya untuk mengecek penerapan SMM sesuai dengan lingkupnya, diadakan pertemuan penutupan pelaksanaan Audit Internal untuk memaparkan temuan-temuan dalam kegiatan dua hari tersebut. Dian Burhani, M.T. selaku anggota tim auditor diberikan mandat untuk menyampaikan temuan-temuan dari pelaksanaan Audit Internal. “Merupakan hal yang dimaklumi bahwa dalam penerapan awal sebuah sistem manajemen masih ditemukan ketidakseuaian di sana-sini. Ini merupakan langkah perbaikan dan peningkatan dalam pelaksanaan sistem manajemen mutu,” papar Dian saat mempresentasikan temuan-temuan dari pelaksanaan Audit Internal SMM KNAPPP tersebut. Untuk menutup acara, Dr. Arthur Lelono selaku Kabag Tata Usaha mewakili Kepala P2 Kimia menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada tim auditor dan seluruh auditi atas kelancaran pelaksanaan audit tersebut. Arthur berujar bahwa P2 Kimia berkomitmen untuk sesegera mungkin melakukan tindakan perbaikan dari seluruh temuan Audit Internal yang telah dilaksanakan. “Hasil ini akan kami bawa ke rapat rutin manajemen dan keltian supaya temuan-temuan dari audit internal ini segera ditindaklanjuti. Saya mewakili P2 Kimia menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya khususnya kepada Bu Fatimah dan seluruh auditor serta auditi atas kelancaran pelaksanaan audit internal dua hari ini. Temuan-temuan ini akan menjadi bekal bagi kita bersama untuk meningkatkan kualitas kita sebagai satker Pranata Litbang,” pungkas Arthur, sekaligus mengakhiri pelaksanaan audit internal dua hari itu. <sjw, p2k>

Baca

Buka Puasa Bersama Sebagai Ajang Silaturahmi Karyawan, Keluarga Besar, dan Purnabakti P2 Kimia


31 Mei 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Menandai momentum bulan suci Ramadhan, Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI menggelar acara Buka Puasa Bersama pada hari Rabu, 30 Mei 2018. Para karyawan dan keluarga mereka turut diundang menghadiri acara ini, baik peneliti, perekayasa, analis teknis, dan pegawai administrasi. Selain karyawan aktif, karyawan yang sudah pensiun atau purnabakti juga turut diundang sehingga silaturahmi tetap terjaga. Sebagai salah satu bagian dari acara, dilakukan juga pelepasan karyawan purnabakti, Bapak Suhanda, yang akan menyelesaikan tugasnya sebagai PNS pada 31 Mei 2018. Acara dimulai dengan pembacaan ayat Al-Quran dan terjemahannya. Kemudian sambutan oleh Kepala P2 Kimia, Dr. Agus Haryono. Dalam sambutannya, Agus menyampaikan tentang pentingnya peningkatan kinerja dalam mendukung capaian-capaian Satker sesuai dengan yang telah direncanakan.  “Momentum ini perlu kita gunakan untuk makin meningkatkan kinerja dan disiplin dalam bekerja, sesuai dengan semangat ibadah di bulan Ramadhan. Tentunya dengan niatan bahwa bekerja merupakan sarana kita dalam beribadah kepada Alloh SWT,“ terang Agus saat memberikan sambutannya. Acara kemudian dilanjutkan dengan penganugrahan Karyawan Non-peneliti Terbaik Bulan Mei 2018. Kepala Bagian Tata Usaha, Dr. Arthur A. Lelono mengumumkan Dwi Prasetyo, driver di P2 Kimia, sebagai karyawan non-peneliti terbaik untuk bulan Mei 2018. Penilaian didasarkan atas sejumlah indikator, seperti tingkat disiplin, kehadiran dan prestasi kerja. Selanjutnya Dr. Agus Haryono dan Drs. Nono Suharno, MM memberi pengantar dalam acara Pelepasan Purnabakti Bapak Suhanda. Baik Agus maupun Nono amat mengapresiasi dedikasi Suhanda yang telah berkiprah selama 36 tahun di P2 Kimia. “Saya amat berterimakasih atas dukungan Bapak/Ibu selama saya mengabdi di sini sampai pada akhirnya menyelesaikan masa tugas saya,“ papar Suhanda yang nampak tidak dapat menyembunyikan rasa harunya. “Semoga P2 Kimia akan semakin maju di masa mendatang dengan terus menghasilkan karya-karya yang bermanfaat untuk negara dan masyarakat,“ harapnya kepada P2 Kimia. Usai pesan dan kesan dari Suhanda, Ustadz Nur Akly Sholeh kemudian menyampaikan tausiah beberapa menit sebelum waktu berbuka. Nur Akly mengingatkan semua yang hadir untuk memperbanyak ibadah agar memperoleh keberkahan dan ampunan Allah SWT. Acara kemudian ditutup dengan doa. Saat azan Magrib berkumandang, para peserta kemudian menikmati santapan berbuka puasa yang telah disediakan dan menjalankan sholat Maghrib berjama’ah di Ruang Rapat Utama P2 Kimia. <AR/p2k>

Baca

Uji Coba Riset Polimer Untuk Senjata Genggam, Peneliti P2 Kimia Kunjungi PT. Pindad di Bandung


18 Mei 2018

[Berita P2 Kimia, Bandung] Kepala Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI, Dr. Agus Haryono, didampingi sejumlah peneliti mengunjungi fasilitas pabrik pembuatan senjata PT. Pindad. Kunjungan ini merupakan bagian dari tindak lanjut pembahasan kerjasama antara P2 Kimia dan PT Pindad. P2 Kimia dengan PT. Pindad telah melakukan kerjasama pengembangan material polimer thermoplastik untuk diaplikasikan pada produksi senjata genggam. Kegiatan riset tersebut juga didanai oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi melalui Program Pengembagan Teknologi Industri (PPTI). “Kerjasama penelitian dan pengembangan ini dimulai sejak tahun 2017,“ terang Dr. Agus Haryono saat menjelaskan latar belakang kerjasama. “Saat itu, tim peneliti kami telah berhasil menentukan formulasi bahan polimer thermoplastik untuk senjata genggam, dengan tahap awal warna hitam,“ lanjutnya. Agus menerangkan bahwa dengan adanya bahan polimer ini, diharapkan dapat memperingan bobot senjata genggam yang dibuat. Rombongan dari P2 Kimia ini disambut oleh Dr. Hery Mochtady, M.Eng. Vice President PT. Pindad. Hery mengungkapkan optimismenya terkait pengembangan senjata genggam berbahan polimer ini di masa mendatang. “Semoga kerjasama yang dimulai dari senjata genggam laras pendek ini dapat diteruskan untuk senjata tipe lainnya,“ terang Hery mengungkapkan harapannya. "PT. Pindad sangat berkomitmen untuk terus melakukan penelitian dan pengembangan dengan berkolaborasi bersama Lembaga Litbang. Kami yakin kolaborasi ini akan membawa dampak yang signifikan pada pengembangan produk di perusahaan kami," lanjutnya. Usai berdiskusi, rombongan diajak melihat-melihat beberapa lokasi fasilitas produksi dan uji coba senjata. Para peneliti juga diajak mencoba prototipe senjata baru yang telah dikembangkan dari penelitian mereka menggunakan bahan polimer. Turut serta dalam kunjungan tersebut, Dr. Yenny Meliana, Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian P2 Kimia. Muhammad Ghozali, M.T., peneliti bidang polimer P2 Kimia, selaku koordinator kerjasama penelitian antara PT. Pindad dengan P2 Kimia mengungkapkan bahwa dia bersama tim sangat menyambut positif terkait pencapaian kerjasama penelitian tersebut. Dirinya merasa termotivasi karena penelitian yang dilakukan di laboratoriumnya bersama tim dapat diaplikasikan di PT. Pindad. "Ini tentunya menjadi pemacu semangat bagi saya bersama tim untuk terus melakukan riset dan pengembangan dalam bidang polimer. Merupakan suatu kebahagiaan apabila hasil riset kami dapat dimanfaatkan oleh industri. Apalagi industri strategis nasional seperti PT. Pindad ini," ungkap Ghozali saat dimintai kesan dan pesannya. <aars/ p2k>

Baca

Diskusikan Kolaborasi Riset, Peneliti P2 Kimia Kunjungi Perkebunan Teh di Gambung


15 Mei 2018

[Berita P2 Kimia, Bandung] Para peneliti Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI mengunjungi Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) di Gambung (21/5). Para peneliti ini terdiri dari enam orang yang berasal dari berbagai kelompok penelitian dan latar belakang bidang keilmuan. Berangkat dini hari dari Serpong, lamanya perjalanan yang hampir delapan jam di tol tak mengurangi semangat mereka mengunjungi perkebunan dengan ketinggian 1300 m di atas permukaan laut ini. “Kunjungan kami ke sini adalah dalam rangka diskusi lebih lanjut kerjasama penelitian terkait teh,“ terang Dr. Ir. Anny Sulaswatty, peneliti senior bidang teknik kimia yang mengkoordinasi kedatangan rombongan P2 Kimia. Pihak PPTK juga nampak sangat antusias menyambut kedatangan rombongan. “Selamat datang di tempat kami kepada Tim Peneliti dari Pusat Penelitian Kimia LIPI,“ sapa Caretaker Direktur PPTK, Dr. Luqman Erningpraja, yang turun langsung memimpin para peneliti dan stafnya dalam menyambut tamu. Luqman didampingi sejumlah staf dan peneliti seperti Kepala Kelompok Peneliti Pra Panen dan Pasca Panen (Ir. Sobar Dorana, M.Sc.), Kepala Urusan Penyampaian Hasil Penelitian dan Tata Operasional Penelitian & Kerjasama Penelitian, (Eko Pranoto, Sp., MP.), dan para peneliti (seperti Heri Syahrian Khomaeni, Shabri, Hilman Maulana). “Kerjasama ini semoga dapat menjadi langkah yang sangat strategis yang dapat membawa manfaat bagi kita semua,“ imbuh Luqman. Dalam pertemuan di ruang rapat PPTK tersebut, dibahas mengenai tindak lanjut rencana pengembangan produk baru teh. Proposal riset yang disusun bersama, baik dari P2 Kimia LIPI maupun PPTK, telah disetujui melalui program Insinas  oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Bidang riset yang diteliti dan dikembangkan adalah lintas kluster, mulai dari teknologi penanaman teh, budidaya teh, pengujian senyawa aktif teh, pengembangan minuman fungsional teh, optimasi produksi teh, dan analisis potensi lingkungan berbasis daur hidup teh. Usai berdiskusi di ruang rapat, rombongan P2 Kimia diajak berkeliling ke fasilitas perkebunan teh, mulai dari lahan penanaman teh, workshop, pabrik hingga gudang produk. Mereka dijelaskan terkait berbagai jenis klon unggul teh, cara panen, teknologi pengolahan dan pengemasan. Setelah berkeliling, rombongan berkumpul kembali di ruang rapat untuk berdiskusi lebih detail teknis pelaksanaan kegiatan. Diskusi dipimpin langsung oleh Dr. Nino Rinaldi, Koordinator Kelompok Penelitian Teknologi Proses P2 Kimia. Nino memaparkan target keseluruhan pengembangan produk baru dan jadwal pelaksanaan kegiatan. Diskusi berlangsung sangat seru dan interaktif, baik dari P2 Kimia dan PPTK. Mereka saling memahami rencana kegiatan yang disusun dan berkomitmen untuk saling mendukung. <aars/ p2k>

Baca

Melalui Rapat Kerja 2018, P2 Kimia Anyam Tangga Menuju Kejayaan Riset Indonesia


04 Mei 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Dalam beberapa pekan terakhir, manajemen dan karyawan Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI tengah melaksanakan agenda khusus: rapat kerja (raker) 2018. Rapat ini terdiri dari rangkaian kegiatan yang tediri dari pra raker, raker dan outbound. Acara pra-raker diadakan terlebih dulu pada tanggal 23-24 April 2018 di P2 Kimia LIPI. Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan P2 Kimia setahun sebelumnya, mensinkronisasi dengan rumusan raker tingkat LIPI, sekaligus menggodok konsep rumusan yang akan dibawa ke rapat kerja tingkat P2 Kimia LIPI. Ada tiga komisi yang menggodok materi rumusan: komisi reformasi birokrasi (RB), komisi perencanaan strategis (Renstra) program penelitian, dan komisi anggaran keuangan. Raker Kimia: Komitmen, Semangat, Sukses! Kepala P2 Kimia LIPI, Dr. Agus Haryono, saat membuka raker hari Rabu (2/5) menekankan pentingnya rapat kerja guna merumuskan langkah strategis untuk memperkuat riset di P2 Kimia. “Berbagai capaian dan prestasi P2 Kimia di tahun sebelumnya hendaknya memotivasi kita semua untuk berkarya semakin baik di tahun-tahun mendatang,“ pesan Agus saat membuka raker di ruang rapat besar. “Raker ini merupakan forum bersama bagi kita dalam menyusun bentuk, program dan kegiatan terbaik yang akan mewadahi tujuan kita bersama,“ sambungnya di depan sekitar seratus orang karyawan yang memadati ruangan tersebut. Pernyataan Agus ini didukung oleh Dr. Laksana Tri Handoko, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) LIPI. Handoko mengungkapkan, selaras dengan reformasi birokrasi, sejumlah program dan rencana strategis tengah disusun, dianggarkan dan dilaksanakan LIPI hingga tahun 2024 mendatang. Program ini mencakup antara lain pembangunan infrastruktur penelitian dan sumber daya manusia. Secara khusus, LIPI tengah menyusun program peningkatan kompetensi agar para peneliti minimal memiliki latar belakang S2. “Kunci pentingnya adalah komitmen, semangat dan sukses!” tekan Handoko yang juga merupakan Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Utama LIPI ini. Di kesempatan berikutnya, acara diisi dengan sosialisasi terkait Suap, Gratifikasi dan Pemerasan. Acara disampaikan langsung oleh dua orang staf dari divisi pencegahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam presentasinya, mereka mengungkapkan definisi korupsi dan berbagai upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah korupsi. Dijelaskan pula pembedaan antara suap, gratifikasi, dan pemerasan yang intinya terletak pada kesepakatan antara pengguna dan pemberi layanan. Dalam konteks reformasi birokrasi, kedua staf ini menekankan agar karyawan tak segan melaporkan gratifikasi yang diterimanya ke KPK jika dirasa memenuhi syarat untuk dilaporkan. Usai makan siang, acara dilanjutkan dengan pengumuman karyawan terbaik, peneliti terbaik dan karyawan favorit. Karyawan terbaik diberikan kepada staf non peneliti berdasarkan kinerja nya. Untuk bulan ini, karyawan terbaik diraih oleh Yayan, staf kepegawaian. Sementara peneliti terbaik ditentukan berdasarkan capaian publikasi ilmiah, paten dan perolehan pendanaan penelitian. Lima orang peneliti terbaik adalah Dr. Ajeng Arum Sari, Prof. M. Hanafi, Dr. Siti Nurul Aisyah Jenie, M. Ghozali, MT dan Dr. Amanda Septevani. Karyawan favorit menurut survei internal P2 Kimia jatuh pada Dr. Arthur Ario Lelono. Di sore harinya, acara dilanjutkan dengan diskusi pembahasan hasil pra-raker. Dr. Adep A. Dwiatmoko selaku Ketua PME P2 Kimia, membacakan notulen hasil pra raker P2 Kimia. Dalam diskusi ini, pihak manajemen dan penyusun rumusan pra raker maju ke depan dan berdiskusi dengan seluruh karyawan terkait poin-poin penyusunan hasil pra-raker. Dari hasil diskusi, disepakati rumusan hasil raker untuk ditindaklanjuti bersama. Secara umum, hasil rumusan berupa rekomendasi untuk implementasi program RB menuju nilai 81, perencanaan program penelitian yang lebih implementatif dan penyusunan anggaran yang mengikuti program prioritas nasional. Di hari berikutnya (3/5), para karyawan melaksanakan outbound bersama di Bogor. Tema yang diusung adalah “Merangkul pundak sesama, merajut kebersamaan, meniti langkah pada tangga kejayaan P2 Kimia LIPI”. <aars/ p2kimia>

Baca

Perkuat RB, P2 Kimia Sosialisasikan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan Whistle Blowing System (WBS)


26 April 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (RB) di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat ini sudah semakin baik dan akan terus ditingkatkan. Demikian diungkapkan Dr. Hiskia, Inspektorat dari LIPI, saat berbicara terkait “Sistem Pengendalian Instansi Pemerintah (SPIP) dan Whistle Blowing System (WBS)”. Hiskia diundang sebagai narasumber di Pusat Penelitian (P2) Kimia (25/4). Menurut Hiskia, hal ini dapat dilihat dari sejumlah indikasi, diantaranya Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) dan adanya sejumlah unit/ satuan kerja di bawah LIPI yang sudah masuk ke Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM). “Salah upaya penting dalam meraih WBK dan WBBM adalah penguatan SPIP dan WBS,“ tekan Hiskia yang diperbantukan ke inspektorat dari Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi tersebut. Hal senada diungkapkan Kepala P2 Kimia, Dr. Agus Haryono, saat membuka acara sosialisasi. “Pelaksanaan RB di P2 Kimia semakin baik dan selaras dengan kemajuan LIPI,” ujarnya. “Kami juga tengah mempersiapkan diri menuju WBK dan WBBM,“ lanjut peneliti madya tersebut. Dijelaskan oleh Hiskia, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi yang mengatur tentang pelaksanaan program reformasi birokrasi. Peraturan tersebut menargetkan tercapainya tiga sasaran hasil utama yaitu peningkatan kapasitas dan akuntabilitas organisasi, pemerintah yang bersih dan bebas KKN, serta peningkatan pelayanan publik. Dalam rangka mengakselerasi pencapaian sasaran hasil tersebut, maka Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) dan Reformasi Birokrasi (RB) mengeluarkan Peraturan Menteri PAN dan RB No. 52 Tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani di Lingkungan Instansi Pemerintah. “Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) adalah sistem pengendalian intern (SPI) yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, “ terang Hiskia. “unsurnya mencakup lingkungan pengendalian, penilaian resiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemanfaatan pengendalian intern,” lanjutnya. Selain dengan SPIP, penguatan pengawasan juga melibatkan sistem WBS. Di LIPI, WBS dikelola secara terpusat oleh Inspektorat dan dilaksanakan di tiap unit satuan kerja. Dalam sesi diskusi, dibahas berbagai permasalahan teknis untuk implementasi SPIP dan WBS di P2 Kimia. Beberapa tindak lanjut yang dirumuskan antara lain pengembangan sistem terpadu dengan memanfaatkan teknologi informasi/ website yang terintegrasi dengan LIPI. <aars/ p2 kimia>

Baca

P2 Kimia Persembahkan Science Show Pembuatan Lotion Anti Nyamuk di Gelaran Indonesia Science Day 2018


26 April 2018

[Berita P2 Kimia, Jakarta] Dalam rangka HUT Pusat Peragaan IPTEK (PP-IPTEK), Kemenristekdikti ke-27, PP-IPTEK menyelenggarakan kegiatan Indonesia Science Day 2018 pada 20-22 April 2018 dengan tema "Science and Technology for Sustainable Life". Indonesia Science Day (ISD) 2018 merupakan ajang open house berbagai kegiatan sains yang didesain dengan konsep edutainment, menghibur, dan menginspirasi generasi muda dalam memajukan sains dan teknologi di Indonesia. Pameran Iptek dari berbagai instansi/sekolah/universitas pun digelar untuk menunjukkan kreativitas hasil karya anak bangsa dalam bidang sains dan teknologi. LIPI yang dimotori Biro Kerjasama Hukum dan Humas (BKHH) tak ketinggalan turut berpartisipasi untuk memeriahkan acara Indonesia Science Day (ISD) 2018 dengan menampilkan “Kolase PKT Kebun Raya Bogor" dan “Science Show” pembuatan lotion anti nyamuk berbahan herbal dari P2 Kimia. Kegiatan dilaksanakan pada Jum'at (20/4) di PP-IPTEK yang berlokasi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Dalam kesempatan “Science Show”, P2 Kimia menyuguhkan materi bagaimana membuat lotion anti nyamuk dari bahan-bahan yang aman dan alami. Kegiatan dilaksanakan menjelang sore hari yang berpotensi membuat bosan dan lelahnya para siswa/mahasiswa setelah mengikuti acara demi acara. Namun hal tersebut tak membuat mereka kurang semangat mengikuti “Science Show”. Para peserta terlihat sangat antusias kala acara “Science Show” diumumkan akan segera dimulai. Dalam kegiatan tersebut, peserta ikut praktek langsung membuat lotion anti nyamuk. Hal ini membuat mereka begitu gembira. Sebanyak tujuh grup menerima bahan dan peralatan serta panduan cara kerja. Para peserta tak sabar segera melakukan praktek sambil mengikuti arahan dari Dr. Yenny Meliana selaku peneliti P2 Kimia dibidang emulsi dibantu oleh Melati Septiyanti, Eni Suryani dan Sri Budi Harmami. Diselingi pertanyaan sehubungan dengan kimia, mereka berebut menjawab karena akan mendapatkan hadiah souvenir dari LIPI. Sorak-sorai bahagia para peserta pun tergambar setelah mereka berhasil membuat lotion. Kemeriahan tercipta kala salah satu grup mampu menyelesaikan pembuatan lotionnya lebih dulu dibandingkan grup lain. Lotion dengan wangi sereh dan jeruk nipis itupun mereka masukan ke wadah-wadah yang sudah disediakan untuk dibawa pulang sebagai kenang-kenangan acara praktik hari itu. “Ini merupakan salah satu upaya LIPI dalam rangka menyemangati generasi muda untuk belajar sains. Melalui tema yang disajikan oleh P2 Kimia tadi, saya yakin banyak hal dan pengalaman yang didapat oleh peserta. Mudah-mudahan ke depan minat generasi muda terhadap sains terus meningkat,” ungkap Yutainten Kepala Subbagian Pengayaan Ilmiah Masyarakat BKHH LIPI dalam penutupan acara tersebut. (ES/P2K ed: SJW).

Baca

P2 Kimia Tandatangani Kontrak dengan Kemenristekdikti Guna Kembangkan Riset Ekstraktor Artemisinin untuk Obat Malaria


17 April 2018

[Berita P2 Kimia, Jakarta] Penyakit Malaria di Indonesia masih menjadi ancaman mematikan, terutama di wilayah Indonesia Timur. Menurut data Annual Parasite Incidence (API) per provinsi tahun 2016, ada 6 besar wilayah yang masih endemis malaria dan masuk ke dalam zona merah, seperti Papua (39,93 persen), Papua Barat (10,20 persen), NTT (5,17 persen), Maluku (3,83 persen), Maluku Utara (2,44 persen) dan Bengkulu (1,36 persen). Menghadapi kenyataan ini, Pemerintah mendorong sinergi semua pihak untuk turut memerangi malaria. Kementerian Kesehatan menginisiasi Konsorsium Riset Nasional Kemandirian Bahan Baku Obat Malaria Dihidroartemisinin guna mengembangkan bahan baku obat malaria. Konsorsium ini beranggotakan antara lain badan litbang Kementerian Kesehatan, Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Kementerian Pertanian, satuan kerja Lembaga ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan PT Indofarma. Di antara satuan kerja LIPI yang terlibat adalah Kebun Raya Cibodas, Pusat Penelitian Biotek dan Pusat Penelitian Kimia. Melalui program pendanaan riset oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti), konsorsium mendapatkan dukungan dana penelitian. Sekitar 1-2 Milliar rupiah dana digelontorkan ke konsorsium ini, yang dipecahkan berdasarkan kegiatan masing-masing anggota konsorsium. Pusat Penelitian (P2) Kimia juga memperoleh bantuan dana ini guna pengembangan lebih lanjut ekstraktor artemisinin HFC134 Sistem Tertutup untuk obat malaria. Riset ini dikoordinasi oleh Dr. Arthur Ario Lelono, peneliti bahan baku obat dan farmasi di P2 Kimia. “Ekstraktor yang kami kembangkan bertujuan untuk mengisolasi senyawa bahan baku obat tanpa memerlukan pelarut dan lebih selektif terhadap senyawa yang ditargetkan,“ jelas Arthur yang juga merupakan Kepala Bagian Tata Usaha P2 Kimia LIPI. Lebih lanjut, Arthur mengungkapkan, ekstraktor HFC134 yang timnya kembangkan memiliki keunggulan lain berupa proses ekstraksi yang cepat, aman dan efisien. Di samping itu, ekstraktor ini juga sesuai untuk senyawa yang sensitif terhadap panas sehingga dapat dimanfaatkan secara lebih luas untuk senyawa lain termasuk minyak atsiri. “Desain ekstraktor ini memang dikembangkan agar siap untuk diimplementasikan di industri dengan biaya yang ekonomis,“ pungkas pria yang menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 nya di Ehime University, Jepang ini. Penandatangan kontrak riset ini dilakukan dalam program bertajuk “Penandatangan Perjanjian Kerja Sama Pendanaan Inovasi Industri & Inovasi Perguruan Tinggi”. Acara diselenggarakan oleh Kemenristekdikti di Auditorium BPPT Jakarta (17/4). Sejumlah universitas, lembaga litbang dan industri yang proposalnya terpilih turut hadir di kegiatan ini. Dari P2 Kimia, Dr. Agus Haryono selaku Kepala menandatangani kontrak riset dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Medy Eka Suryana, S.IP M.M. “Pendanaan ini makin memperkokoh peran LIPI termasuk P2 Kimia dalam mendukung riset bahan baku obat malaria di Indonesia,“ ujar Agus seusai penandatanganan. Agus menambahkan, ekstraktor yang tengah dikembangkan merupakan alat yang sangat efisien, hampir 40 kali lipat lebih efisien daripada metode ekstraksi solven yang konvensional. <aars/ p2kimia>

Baca

Dorong Hilirisasi Riset, P2 Kimia Gelar Workshop Feasibility Study and Technology Readiness Level


12 April 2018

[Berita P2 Kimia,Serpong] Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin kompetitif, lembaga litbang dituntut untuk semakin inovatif dalam mengembangkan produknya. Hilirisasi atau upaya pemanfaatan hasil-hasil penelitian ke masyarakat dan industri pun menjadi isu penting. Hal ini lah yang mendorong Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI untuk menyelenggarakan workshop sehari “Feasibility Study and Technology Readiness Level”. Bertempat di P2 Kimia, acara ini diadakan pada hari Kamis (12/4). Workshop ini juga terselenggara sebagai bagian dari program Pusat Unggulan Iptek (PUI) Bioetanol Generasi ke-2, sebagai salah satu upaya untuk mendorong riset bioetanol ke arah industri. Acara ini dimoderatori langsung oleh Dr. Sri Handayani, S.Farm. Apt. M., ketua panitia acara.  “Riset-riset di P2 Kimia, sebagaimana riset pada umumnya, dilakukan mulai dari skala laboratorium hingga skala pilot plant,“ ujar Dr. Yenny Meliana, Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian, saat memberikan sambutan pembuka mewakili Kepala P2 Kimia LIPI. “Riset ini perlu dikelola agar bisa dimanfaatkan ke masyarakat dan industri, salah satunya dengan melakukan kajian kelayakan dan mengakses tingkat kesiapan teknologi nya,“ sambungnya. Feasibility Study Di sesi pertama, Dr. Ir. Syahrul Aiman, peneliti senior P2 Kimia LIPI menyampaikan dua materi utama. Yang pertama adalah kajian-kajian pendukung (Soft Studies) untuk Evaluasi Pelaksanaan Hasil Penelitian. Yang kedua adalah Telaah Kelayakan Suatu Usulan. “Hasil penelitian dapat berupa ilmu pengetahuan, teknologi, dan peningkatan kemampuan/ skill,“ terang peneliti utama bidang Teknik Kimia tersebut saat mulai menjelaskan materi pertama. “Untuk membawa produk ke pengguna, perlu melewati beberapa proses: mulai dari penelitian, alih teknologi serta memperhatikan proses di luar seperti politik, pasar, hukum dan teknologi,“ ujar pria yang menyelesaikan S3 nya di The University of New South Wales, Australia ini. Lebih jauh, Syahrul menggarisbawahi perlunya para peneliti memperhatikan proses yang terjadi di luar. Hal ini dikarenakan seiring berjalannya waktu, penelitian yang dilakukan menjadi tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan perkembangan jaman. Syahrul mencontohkan pengalaman panjang penelitian di P2 Kimia LIPI sejak tahun 90an. Berdasarkan pengalaman tersebut, diperlukan suatu tools menggunakan metode manajemen/ Soft Studies untuk membantu perencanaan pemanfaatan hasil penelitian. Salah satu tool tersebut adalah studi kelayakan (Feasibility Study). “Studi kelayakan mencakup antara lain analisis lingkungan, analisis pasar, analisis  teknis, analisis keuangan, dan analisis sensitivitas,“ rinci peneliti yang pernah menjabat sebagai Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI 2008-2014 ini. “Studi ini sebaiknya dilakukan sebelum assessmen tingkat kesiapan teknologi, “ jelasnya. Syahrul kemudian menjabarkan masing-masing komponen di atas. Secara khusus, peneliti yang pernah menjadi Kepala Pusat Inovasi LIPI 2001-2008 ini memberikan buku pedoman praktis “Memahami dan Menyiapkan Telaah Kelayakan” yang ditulisnya untuk sekitar 40 peserta dari berbagai instansi di ruangan itu. Menginjak materi kedua, Syahrul mengemukakan pembahasan terkait telaah kelayakan suatu usulan. “Agar kegiatan riset dapat dilakukan baik dan hasilnya dapat berdampak pada ekonomi, sosial dsb., maka (1) kegiatan harus layak dilakukan pengusul, dan (2) menarik/ terkait kebutuhan pasar/ pengguna/ target, “ tekannya. Lebih lanjut, Syahrul menjabarkan metode perencanaan program dan penentuan prioritas riset. Salah satu metode yang dapat dipakai adalah SERP yang dikembangkan US Industrial Research Institute tahun 1984 dan diadopsi LIPI dari CSIRO tahun 1999. Di samping dua materi utama di atas, Syahrul juga menyampaikan materi lain seperti metode valuasi paten di lembaga litbang. Presentasi juga diikuti dengan sesi diskusi tanya jawab dengan peserta. Usai presentasi dan diskusi, Kepala Bidang PDHP menyerahkan piagam apresiasi kepada Dr. Syahrul Aiman dan diiringi tepuk tangan dari para peserta. Technology Readiness Level Usai istirahat makan siang, acara dilanjutkan dengan materi Technology Readiness Level (TRL). Materi dipresentasikan oleh Arief A.R. Setiawan, M.Eng, peneliti bidang Teknik dan Manajemen Industri P2 Kimia. Sebelum materi dimulai, para peserta diberikan pre-test untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka terkait TRL.  Ada 10 soal singkat dalam pre-test yang dikerjakan dalam waktu 10 menit. Setelah tes berakhir, dilakukan pemberian kunci soal yang dicocokkan dengan jawaban peserta. Dari pengamatan sepintas, nampak para peserta dapat menjawab sekitar 40-70% soal dengan benar. Para peserta selanjutnya diajak menyimak sekilas terkait video TRL. Video ini memberikan informasi ringkas terkait apa itu TRL, jenjang level dalam TRL dan contohnya. “TRL merupakan pengukuran sistematik untuk mendukung assesmen kesiapan/ kematangan suatu teknologi,“ terang Arief memulai presentasinya. “Sejak disusun NASA tahun 1974, metode TRL terus berkembang dan dipakai di berbagai negara termasuk diadopsi BPPT dan Kemenristekdikti di Indonesia,“ lanjut peneliti yang menyelesaikan studi S2nya di Waseda University, Jepang. Di Indonesia, istilah TRL diterjemahkan sebagai Tingkat Kesiapan Teknologi yang kemudian berubah menjadi Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT). Arief kemudian memaparkan 9 tahapan dalam TRL. Tahap terendah adalah level 1 terkait prinsip dasar dari teknologi telah diteliti dan dikembangkan. Sementara tahap tertinggi adalah level 9 yang berarti sistem benar-benar telah teruji/ terbukti melalui keberhasilan pengoperasian. “Assessmen dimulai dari level 1 dan naik ke level di atas nya jika memenuhi prasyarat nilai tertentu,“ jelas peneliti yang juga sebagai Kepala Subbidang Pengelolaan Hasil Penelitian P2 Kimia LIPI ini. “Biasanya nilai yang dipakai adalah 80%,“ lanjutnya. Arief mengungkapkan, penggunaan TRL di Indonesia semakin penting. Apalagi dengan terbitnya berapa peraturan termasuk Permenristekdikti No. 42/2016 tentang Pengukuran dan Penetapan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT). “Di peraturan ini, dijelaskan siapa dan bagaimana yang melakukan pengukuran dan penetapan TKT,“ paparnya. Selanjutnya, Arief memberikan beberapa contoh penggunaan TRL untuk assessmen di P2 Kimia. Menurutnya, TRL ini bermanfaat bagi peneliti untuk mengetahui posisi penelitiannya dan menyusun rencana tindak lanjut. Diantara rencana tersebut adalah dapat diusulkan ke program pendanaan yang sesuai di Kemenristekdikti dan bekerjasama dengan industri. Terakhir, Arief juga menyampaikan topik lanjutan terkait pengembangan TRL di masa mendatang. Beberapa yang dikemukakan diantaranya semakin bervariasinya indikator dalam TRL yang sesuai dengan bidang penelitian, pengembangan “turunan” TRL sebagaimana yang pernah dikajinya, dan isu kompatibilitas TRL dengan alat ukur lain, seperti Innovation Readiness Level, Manufacturing Readiness Level, System Readiness Level, dsb. Acara dilanjutkan dengan simulasi pengukuran TRL menggunakan contoh dari peserta. Setelah melalui beberapa diskusi, acara pun ditutup jam tiga sore oleh Kepala Bidang PDHP. <aars/p2kimia>.

Baca

Melalui Workshop Pengenalan Standard ISO/IEC 17025:2017, Laboratorium P2 Kimia Siapkan Transisi ke Versi Terbaru


06 April 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] ISO/IEC 17025:2017 sebagai standard penyelenggaraan laboratorium pengujian dan kalibrasi telah dikeluarkan oleh ISO. Sebagai laboratorium penguji terakreditasi KAN LP-767-IDN, Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) LIPI juga bersiap untuk menyesuaikan dengan standard baru tersebut. Guna memberikan pengenalan terhadap standard yang dikeluarkan ISO pada November 2017 lalu, bertempat di Ruang Rapat Utama P2 Kimia, diadakan ‘Workshop on Introduction of New Standard ISO/IEC 17025:2017’ pada Jum’at (6/4). Hadir sebagai narasumber yaitu Dr. Jahangir Bin Kamaldin dari Universiti Sains Malaysia (USM) yang juga merupakan Lead Advisor for ISO/IEC 17025 Laboratory QMS. Workshop diikuti oleh peserta dari P2 Kimia LIPI, P2 Fisika LIPI, P2 Material dan Metalurgi LIPI, Balai Teknologi Polimer BPPT, dan beberapa utusan dari laboratorium swasta di sekitar Kota Tangerang Selatan. Acara dibuka oleh Dr. Sofa Fajriah selaku Manajer Mutu Laboratorium P2 Kimia. Sofa menyampaikan bahwa kegiatan workshop hari itu diharapkan dapat memberikan gambaran awal kepada personel laboratorium terkait perubahan-perubahan dari versi standard sebelumnya. Hal ini sejalan dengan kebijakan mutu di Laboratorium P2 Kimia untuk secara konsisten menerapkan standard ISO/IEC 17025. “Terima kasih kepada Dr. Jahangir Bin Kamaldin yang berkenan berbagi dengan kami di sini. Kegiatan ini sebenarnya sebagai kelanjutan dari workshop hari sebelumnya bersama dengan rekan-rekan dari USM Malaysia. Mengingat Dr. Jahangir merupakan salah satu WG member di Malaysia berkenaan dengan review standard, saya meminta kesediaan beliau untuk berbagi. Alhamdulillah beliau bersedia dan sambutan dari rekan-rekan di Kawasan PUSPIPTEK juga sangat antusias sehingga workshop hari ini dapat terlaksana,” ungkap Sofa yang juga merupakan peneliti di P2 Kimia tersebut. Berikutnya acara inti pun dimulai. Dr. Jahangir memberikan pemaparan tentang revisi yang terjadi dari versi sebelumnya, ISO/IEC 17025:2005. Selain itu, pria yang juga merupakan dosen senior di USM tersebut memberikan gambaran tentang keterkaitan standard baru dengan ISO 9001:2015. “Standard ISO/IEC 17025:2017 mengedepankan pendekatan Risk Based Thinking. Hal ini sejalan dengan ISO 9001 versi 2015. Selain itu, versi 2017 juga bersifat lebih fleksibel seperti dalam hal penyebutan istilah manajerial,” ujar Dr. Jahangir dalam pemaparan awalnya. Dr. Jahangir Bin Kamaldin pun akhirnya mengupas ISO/IEC 17025 versi baru tersebut. Selama pemaparan, diskusi dan tanya-jawab pun berlangsung hangat. Setelah pemaparan dan diskusi selesai, acara pun dilanjutkan dengan sesi foto bersama antara narasumber dengan seluruh peserta. Hadir dalam sesi penutupan, Kepala P2 Kimia, Dr. Eng Agus Haryono. Agus menyampaikan bahwa Laboratorium P2 Kimia akan segera menyesuaikan dengan versi terbaru dari ISO/IEC 17025. “Laboratorium Penguji di P2 Kimia baru saja mendapat reakreditasi awal tahun ini. Tentunya manajemen akan berupaya agar segera memperoleh akreditasi untuk ISO/IEC 17025 versi 2017. Kiranya pengenalan ini akan menjadi bekal awal bagi personel laboratorium untuk mengenal, kemudian memahami, dan berikutnya menerapkannya di tempat kami,” terang Agus sekaligus menyampaikan harapannya. “Kepada Dr. Jahangir Bin Kamaldin, saya sampaikan terima kasih telah memberikan sharing yang sangat bermanfaat kepada kami. Dengan ucapan Alhamdulillahirabbil ‘alamin acara hari ini saya tutup,” lanjut Agus sekaligus menutup acara hari itu. <SJW/ p2k>

Baca

P2 Kimia Bersama AMDI Universiti Sains Malaysia Selenggarakan Workshop on Strategic Herbal Research Collaboration


05 April 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) LIPI bersama Advance Medical and Dental Institute (AMDI) Universiti Sains Malaysia (USM) menyelenggarakan kegiatan bersama bertajuk 'Workshop on Strategic Herbal Research Collaboration'. Workshop yang dilaksanakan pada Kamis (5/4) tersebut diikuti oleh peserta dari P2 Kimia LIPI, AMDI USM, Pusat Studi Fitofarmaka Tropika IPB, Sekolah Tinggi Farmasi Bandung, serta Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional Kemenkes RI. Bertempat di P2 Kimia Kawasan PUSPIPTEK Serpong, acara dibuka oleh Kepala P2 Kimia, Dr. Eng. Agus Haryono. Dalam sambutan pembukaannya, Agus menyampaikan bahwa dia sangat menyambut baik pelaksanaan kegiatan hari itu. "Saya sangat senang bahwa pada akhirnya acara yang sudah direncanakan jauh-jauh hari dapat berlangsung sekarang. Kegiatan ini merupakan upaya bersama antara Indonesia dengan Malaysia guna memperkuat kegiatan penelitian dan pengembangan di Kawasan ASEAN," ujar Agus dalam sambutan pembukaannya. "Hal ini juga sejalan dengan apa yang diamanahkan oleh Pemerintah RI kepada LIPI untuk dapat melakukan akselerasi terhadap hilirisasi hasil riset khususnya pemanfaatan bahan alam sebagai obat tradisional," lanjut pria yang juga merupakan peneliti senior di P2 Kimia tersebut. Berikutnya Dr. Jahangir Bin Kamaldin dari AMDI Universiti Sains Malaysia memberikan sambutan sekaligus perkenalan tim dari USM. Pria yang merupakan Research Leader di AMDI USM tersebut memaparkan bahwa dia bersama tim berharap dapat memperkuat jejaring dengan peneliti-peneliti di Indonesia. Jahangir yakin bahwa kolaborasi merupakan sebuah keniscayaan di tengah persaingan global yang semakin ketat. Sudah seharusnya kerjasama antar-bangsa khususnya anggota ASEAN semakin digalakkan. "Kami jauh-jauh datang dari Penang ingin bersilaturahmi dengan sahabat-sahabat di sini. Bersama saya ada Dr. Hasni Arshad, Dr. Eshaifol Azam, Dr. Yusmaidie Aziz, dan Dr. Salina Mokhtar. Kiranya ke depan kita dapat mensinergikan kegiatan-kegiatan riset supaya hasilnya lebih signifikan. Apa yang tidak dapat dikerjakan di Malaysia dapat dilakukan di sini, begitu pun sebaliknya," ujar Jahangir sekaligus menyampaikan harapannya. Acara satu hari tersebut diisi dengan kegiatan presentasi dari peneliti di P2 Kimia, peneliti di AMDI USM, dan Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional. Dari P2 Kimia, hadir sebagai pembicara yaitu Dr. Sofa Fajriah, Prof. Dr. M. Hanafi, Dr. Tjandrawati Mozef, dan Dr. Teni Ernawati. Adapun dari Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional, dr. Danang Ardiyanto menyampaikan pemaparan terkait saintifikasi jamu dan kegiatan-kegiatan di satuan kerjanya yang berada di Tawangmangu tersebut. Menjelang sore hari diadakan diskusi yang dibagi dalam beberapa kelompok untuk membahas peluang kegiatan bersama yang dapat dilakukan. Pada akhir sesi, masing-masing kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi. Mengemukan beberapa tema penelitian bersama yang dapat disinergikan baik antara P2 Kimia, AMDI, Pusat Studi Fitofarmaka Tropika IPB, Sekolah Tinggi Farmasi Bandung, serta Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional. Kemudian acara ditutup oleh Kepala P2 Kimia, Dr. Eng. Agus Haryono. Agus berharap apa-apa yang sudah didiskusikan bersama dapat diimplementasikan dengan baik. Dia pun mendorong supaya MoU antara LIPI dengan USM dapat direalisasikan dalam waktu dekat. <ES/ p2k, ed: SJW>

Baca

Di Pusdiklat Kementrian Perdagangan, Yenny Meliana Bimbing Peserta Diklat Membuat Karya Tulis Ilmiah


04 April 2018

[Berita P2 Kimia, Depok] Balai Diklat Penguji Mutu Barang (BDPMB), Pusdiklat Kementrian Perdagangan RI mengadakan ‘Diklat Pembentukan Jabatan Fungsional Penguji Mutu Barang Kategori Keahlian 2018’. Salah satu pemateri yang diundang dari P2 Kimia adalah Dr. Yenny Meliana. Meli, sapaan akrab wanita yang merupakan Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian di P2 Kimia, memberikan pemaparan terkait Pengembangan Profesi: Karya Tulis Ilmiah.  Acara berlangsung selama dua hari, Selasa (3/4) hingga Rabu (4/4) dan bertempat di Pusdiklat Kementrian Perdagangan RI, Sawangan, Depok. Purwo Sapto Hastoro, MM selaku Kepala Seksi Penyelenggaraan Diklat menyampaikan bahwa fungsional penguji mutu barang tingkat ahli ke depannya akan diwajibkan untuk membuat karya tulis ilmiah. Hal ini sejalan dengan Permendag yang sedang disusun. Oleh karena itu, BDPMB Kemendag mulai memberikan pembekalan kepada calon penguji mutu barang tingkat ahli dalam mebuat karya tulis ilmiah. “Ke depan rekan-rekan pejabat fungsional penguji mutu barang tingkat ahli akan diwajibkan untuk membuat karya tulis ilmiah. Mulai tahun lalu, kami sudah melakukan pembekalan kepada fungsional penguji mutu barang kategori keahlian untuk membuat karya tulis. Kiranya melalui Diklat ini, Bu Meli dapat membagi pengetahuan dan pengalamannya sebagai peneliti di LIPI dalam menulis KTI dan mempublikasikannya,” ungkapnya dalam sambutan pembukaan mata kuliah pengembangan profesi dalam rangkaian diklat tersebut, Selasa (3/4). Selanjutnya Meli memberikan pemaparan tentang jenis-jenis karya tulis ilmiah termasuk bagian-bagian atau strukturnya. Wanita yang juga merupakan peneliti madya di P2 Kimia tersebut mengajak kepada peserta untuk mencoba menulis. Para peserta yang berasal dari berbagai propinsi tampak dengan antusias mengikuti pemaparan yang disampaikan Meli. Diskusi hangat pun berlangsung selama kegiatan diklat. “Biasanya yang berat dalam melakukan kegiatan menulis adalah memulainya. Dalam istilah kimia, perlu energi aktivasi yang tinggi untuk memulai,” ujar Meli. “Tetapi jika kita sudah mencoba memulai menulis, biasanya akan terbawa suasana. Pada akhirnya kita akan asyik dengannya. Untuk itu langkah awal yang harus dilakukan adalah memulai. Jangan takut dan jangan malas untuk memulai,” lanjutnya mencoba memberikan motivasi kepada peserta. Hari kedua, Rabu (4/4), kegiatan diisi dengan workshop pembuatan karya tulis ilmiah. Mulai dari merumuskan ide, mencari literatur, membuat konsep karya tulis, dan lainnya. Para nampak peserta begitu serius melakukan kegiatan hari itu. Tentunya suasana yang menyenangkan terus dibangun oleh Meli sehingga para peserta menikmati aktivitas workshop hari itu. <SJW/p2k>

Baca

L’Cos, Produk P2 Kimia di Indonesia Cosmetics Ingredients 2018


03 April 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] “New Trend of Raw and Packaging Material, Laboratory Equipment and Machineries, for your Creation and Innovation Products in Competitive Asia Market”  Itulah tema pameran Indonesia Cosmetics Ingredients (ICI) 2018 yang digelar di JIExpo Kemayoran Jakarta pada tanggal 3-5 April 2018. Pameran ini memang mengangkat tema tren baru dalam bahan baku dan materi pengemasan, peralatan dan mesin laboratorium untuk kreasi dan inovasi produk di pasar kompetitif Asia. Tak kurang dari 254 peserta, baik perusahaan/instansi dalam negeri maupun luar negeri, turut ambil bagian sebagai pengisi stand. Diantara yang berpartisipasi adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan berbagai inovasi produknya termasuk produk hasil riset Pusat Penelitian Kimia. Pameran ini diselenggarakan oleh Perkosmi (Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia). “Pameran ini diadakan sesuai dengan misi Perkosmi, yaitu untuk menjadi wadah yang mendekatkan antara pemasok bahan dan konsumen khususnya produsen kosmetik, “ ujar Rustam Sulaeman selaku ketua panitia. Lebih lanjut, Ketua Umum Perkosmi Dra. Nurhayati Subakat, Apt mengatakan bahwa trend kosmetika saat ini berubah sangat sepat sehingga diperlukan wadah untuk mendapatkan informasi terkait perkembangan industry kosmetika di Indonesia. “Karena itu, Perkosmi sangat gembira menyambut gelar ICI 2018 ini, “ terangnya. Pusat Penelitian Kimia LIPI turut memeriahkan acara tersebut dengan menggelar hasil-hasil penelitian di bidang kosmetik. Produk unggulannya antara lain seperti serum anti aging dan cream anti selulit berbahan dasar herbal dari ekstrak pegagan dan jahe. Produk yang diberi nama L’cos ini telah bekerjasama dengan PT NHI (Nanotech Herbal Indonesia) dalam hal lisensi teknologinya. Di P2 Kimia, L’Cos dikembangkan oleh Dr. Yenny Meliana dan tim penelitinya. Produk sudah mulai dilirik konsumen dan dipasarkan oleh perusahaan tersebut. Di tempat pameran pameran, terlihat para pengunjung tertarik dan ingin menjajalnya. (ES/P2K)

Baca

Diskusikan Larangan Impor Uni Eropa, Agus Tekankan Penguatan Riset Biofuel Kelapa Sawit Termasuk LCA


29 Maret 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Direktorat Ketahanan Industri, Direktorat Jenderal Ketahanan dan Akses Industri Internasional (KPAII), Kementerian Perindustrian menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) sehari 'Dampak Pelarangan Penggunaan Biofuel Berbasis Minyak Kelapa Sawit di Uni Eropa terhadap Industri Indonesia'. Bertempat di Gedung Kementerian Perindustrian, acara diselenggarakan pada hari Kamis (29/3). "Acara ini kami adakan untuk menyikapi jajak pendapat parlemen Eropa bulan Januari 2018 yang lalu terkait revisi European Union Directive on Renewable Energy Directives (EU-RED),“ ujar Dody Widodo, Direktur Ketahanan Industri Kementerian Perindustrian saat memberikan pengantarnya. “Salah satu hasil jajak pendapat yang perlu diskusikan adalah terkait rencana pelarangan penggunaan biofuel berbasis minyak kelapa sawit di Uni Eropa pada tahun 2021,“ lanjutnya. Dijelaskan lebih lanjut, Indonesia sebagai penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, perlu mengantisipasi potensi dampaknya terhadap industri dalam negeri. Turut hadir dalam FGD ini, sejumlah akademisi, pengambil kebijakan dan praktisi yang bergerak di industri biofuel kelapa sawit. Para pengambil kebijakan diantaranya berasal dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Kementerian Luar Negeri. Akademisi yang diundang antara lain berasal dari Universitas Padjajaran, Universitas Trisakti,  Universitas Lampung, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI) dan juga dari Pusat Penelitian (P2) Kimia, LIPI. Sedangkan praktisi yang tampak hadir diantaranya dari Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI). Presentasi dan diskusi di awal menghadirkan Dr. Rosediana Suharto, narasumber yang berpengalaman terhadap proses penyusunan EU Directives di parlemen Uni Eropa. Ibu Ros, begitu narasumber ini dipanggil, membeberkan perjuangan diplomasi bangsa Indonesia terhadap regulasi biofuel/ kelapa sawit di Uni Eropa. “Proses penyusunan/ perubahan regulasi ini memakan waktu cukup lama dan harus melalui beberapa tahapan proses lagi sebelum disetujui,“ ujar Bu Ros dari Responsible Sustainable Palm Oil Inisiative (RPOI).  Hal ini diamini oleh peneliti dari INDEF, Dr. M. Fadhil Hassan dan Ketua Harian APROBI, Paulus Tjakrawan. Peneliti INDEF yang lain juga mengungkapkan bahwa potensi dampak pelarangan ini terhadap industri di Indonesia relatif kurang signifikan. Hal ini dikarenakan ekspor Indonesia berbentuk biofuel ke negara Eropa juga volumenya cukup kecil. Meski demikian, Indonesia perlu berhati-hati dan menyuarakan sikap menolaknya agar pelarangan ini tidak melebar ke negara lain. Juga agar tidak melebar ke sektor komoditi berbasis kelapa sawit yang lain seperti pangan. Kepala P2 Kimia LIPI, Dr. Agus Haryono, yang hadir sebagai salah satu narasumber lebih menyoroti ke arah pengembangan penelitian sawit dan publikasinya. P2 Kimia LIPI sendiri sudah lama mengembangkan produk turunan berbasis kelapa sawit seperti surfaktan, plasticizer, biodiesel dan yang terbaru, bioetanol dari limbah tandan kosong kelapa sawit. P2 Kimia LIPI saat ini juga tengah mengembangkan Life Cycle Assessment sebagai salah satu tool untuk menilai potensi dampak lingkungan suatu produk sistem secara menyeluruh. “Mengingat alasan teknis yang dijadikan salah satu landasan pelarangan sawit adalah potensi dampak lingkungan, maka riset terkait evaluasi lingkungan sepeti LCA ini perlu terus dikembangkan dan dipublikasikan secara internasional,“ beber Agus yang didampingi tim peneliti seperti Yan Irawan dan Arief Setiawan. “Hal ini penting agar riset-riset kita dapat dirujuk oleh komunitas internasional termasuk dalam pengambilan kebijakan,“ tegasnya. Saat diskusi, pernyataan Agus ini juga didukung yang lain, termasuk salah seorang pengambil kebijakan dari Kementerian terkait. Dijelaskan olehnya, selama ini Kementerian menyediakan sumber data lapangan namun kurang diolah dalam bentuk publikasi terutama di tingkat internasional. Sehingga, kesempatan publikasinya justru dilakukan oleh peneliti asing. Dari diskusi, Agus merekomendasikan adanya pengelolaan database inventori yang bisa dijadikan riset analisis potensi dampak lingkungan dan dirujuk bersama oleh komunitas akademis, pengambil kebijakan dan praktisi industri. Di samping itu, riset-riset produk turunan kelapa sawit juga perlu dikembangkan untuk menopang kemandirian industri dalam negeri. <aars/p2k>

Baca

Perkaya Materi Perkuliahan, P2 Kimia Fasilitasi Praktikum Mahasiswa International University Liaison Indonesia (IULI)


28 Maret 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Mahasiswa dari Food Technology dan Chemical Engineering International University Liaison Indonesia (IULI) berkesempatan mengikuti “One day training on introduction of analytical instrument for chemical analysis” di Laboratorium Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) LIPI. Tujuan dari kegiatan sehari ini adalah untuk mengenalkan dan belajar mengoperasikan alat-alat analisa seperti High Performence Liquid Chromatography (HPLC), Gas Chromatography Mass Spectrometry (GCMS) dan Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). Kegiatan dilaksanakan pada hari Rabu (27/3) dan diikuti oleh 12 peserta yang didampingi 1 orang dosen pendamping dari IULI. Rombongan disambut oleh Hendris Hendarsyah, Kasubbid. Sarana Penelitian Kimia Khusus dan Sujarwo, Kasubbid. Diseminasi dan Kerjasama P2 Kimia. “Kami ucapkan selamat datang kepada Pak Tutun Nugraha dan adik-adik mahasiswa IULI. Kegiatan hari ini merupakan tindak lanjut dari MoU antara P2 Kimia LIPI dengan Faculty of Life Sciences IULI. Mudahan-mudahan dapat memberikan manfaat sebagai bekal adik-adik ke depannya,” buka Sujarwo mengawali kegiatan pagi itu. Kemudian Hendris memberikan penjelasan singkat tentang kegiatan hari itu dan beberapa peraturan umum yang berlaku di Laboratorium P2 Kimia. Hendris berpesan supaya seluruh peserta mengikuti arahan dari instruktur di laboratorium guna kelancaran pelaksanaan acara hari itu.  “Nantinya adik-adik akan dibagi ke dalam tiga kelompok. Masing-masing kelompok akan mencoba melakukan analisa menggunakan HPLC, GCMS dan AAS. Silakan untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya dari rekan-rekan kami di laboratorium dan jangan segan untuk bertanya,” ujar Hendris memberikan penjelasan. Berikutnya mahasiswa IULI melakukan kegiatan di masing-masing laboratorium sesuai dengan kelompok yang sudah dibagi. Untuk memandu kelancaran acara, Mahayar Ependi dan Eni Suryani dari Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian mendampingi pelaksanaan kegiatan sehari tersebut. Mahasiswa nampak begitu antusias melakukan praktikum di laboratorium mulai dari menyiapkan larutan standard, membuat kurva kalibrasi sampai dengan melakukan pengukuran menggunakan instrumen. Diskusi hangat pun berlangsung selama praktikum. Setelah kegiatan praktikum selesai, para peserta berkumpul untuk mendiskusikan hasil kegiatan sehari tersebut. Dr. Tutun Nugraha selaku dosen pendamping dari IULI mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi mahasiswanya. Banyak hal yang dipelajari selama mahasiswa melakukan praktikum di laboratorium. “Atas nama IULI saya sangat berterima kasih kepada P2 Kimia yang telah menyambut dan memfasilitasi anak-anak kami dengan baik. Saya yakin, anak-anak memperoleh banyak pengalaman dalam kegiatan hari ini. Mereka sebenarnya telah memperoleh dasar-dasar teori di kelas. Melalui kegiatan ini, anak-anak dapat mempraktikan langsung bagaimana menggunakan instrumen analitik,” ungkap Tutun. Saat diminta memberikan komentar dan kesannya, seorang mahasiswa, Bhisma Satya mengungkapkan bahwa praktikum yang sudah dilakukan hari itu sangat bermanfaat untuk dirinya. Bhisma menilai banyak hal serta pengalaman baru diperolehnya di laboratorium. “Kami jadi tahu bagaimana tahapan-tahapan yang harus dilakukan untuk menganalisa bahan. Mulai dari persiapan alat, pembuatan kurva kalibrasi, sampai dengan mengolah data. Ini akan menjadi bekal bagi kami yang ke depannya akan melanjutkan penelitian di Jerman untuk menyelesaikan skripsi,” Bhisma memberikan komentar dan kesan berkenaan praktikum sehari yang diikutinya. <ES/ p2k; ed: SJW>   Berita Terkait: https://www.iuli.ac.id/p/iuli-students-at-the-research-center-for-chemistry-in-lipi-puspiptek/

Baca
ZONA INTEGRITAS