: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

LIPI: Sukun berkhasiat untuk jantung


14 April 2010

JAKARTA (Bisnis.com): Tanaman sukun (artocarpus altilis) ternyata berkhasiat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. “Sukun mengandung senyawa flavonoid yang khas dibanding tanaman lain,” kata Tjandrawati Mozef, peneliti dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dalam seminar kesehatan di Jakarta, hari ini. Dia menuturkan kekayaan alam Indonesia, khususnya tumbuhan, merupakan sumber senyawa bioaktif yang bisa dikembangkan menjadi obat, salah satunya adalah sukun. Penelitian yang dilakukan oleh LIPI sejak 2004 sampai sekarang menemukan bahwa sukun berkhasiat untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah. “Dengan adanya pengembangan sukun  ini, diharapkan bisa menjawab kebutuhan obat bagi masyarakat, terutama untuk penyakit kardiovaskuler, yang prevalensinya di Indonesia masih tinggi,” ujarnya, dan menambahkan harga obat masih mahal, katanya. Sebab, bahan baku obat 95% masih impor. Berdasarkan uji praklinis, katanya, dari ekstrak aktif etil asetat daun sukun memiliki aktivitas terhadap penyakit kardiovaskular. Ekstrak etil asetat daun sukun menghambat agregasi platelet, mengurangi viskositas darah dan melindungi jantung dari acute ischemia.  Di samping itu, juga menurunkan kadar kolesterol darah dan tumpukan lemak pada dinding pembuluh darah. Dia menuturkan sukun tumbuh pada daerah tropis, seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Kamboja.  Di Indonesia, sukun sudah biasa digunakan oleh masyarakat pedesaan sebagai pengobatan alternatif. Caranya dengan meminum air rebusan sukun. Selain itu juga digunakan untuk mengobati penyakit hati, inflamasi, jantung, ginjal, sakit gigi, dan gatal-gatal. Sementara di Taiwan, masyarakat menggunakan akar dan batangnya untuk pengobatan penyakit hati, sirosis dan hipertensi. (ts) sumber : http://web.bisnis.com

Baca

Puslit Kimia LIPI dalam Pameran Lab Indonesia 2010


21 April 2010

Beberapa pengunjung pameran yang mengunjungi stan LIPI memberikan masukan yang berharga agar LIPI lebih profesional dalam melakukan pengujian. Menurut mereka efisiensi kinerja jasa analisa di LIPI masih perlu ditingkatkan untuk kepuasan pelanggan. “Semua masukan dari pengunjung sangat penting untuk memacu profesionalisme kami dalam bekerja”, ujar Sri Handayani, staff Subbid Kerjasama Puslit Kimia LIPI yang bertugas di stan pameran LIPI. Tercatat lebih dari 200 orang pengunjung yang mendatangi stan LIPI dalam Pameran Lab Indonesia 2010 yang berlangsung tanggal 14 sampai 16 April 2010 di Jakarta Convention Center.   Lab Indonesia 2010 merupakan pameran laboratorium internasional terbesar di Indonesia yang menampilkan informasi terbaru tentang perkembangan laboratorium, jasa analisis dan teknologi instrumentasi dengan standar internasional. Pameran yang diikuti oleh lebih dari 70 peserta  dari berbagai negara ini, yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Korea, Jerman, China dan India mewakili produsen di berbagai bidang seperti bidang analitik, kalibrasi, teknologi proses kimia , lab uji, lab instrumen, lingkungan dan sistem pengendalian pencemaran, kesehatan dan peralatan kerja,  penanganan kimia, transportasi dan penyimpanan. Pameran ini juga memberikan kesempatan bagi perusahaan yang bergerak dibidang scientific equipment dan manufaktur untuk dapat menggelar peralatan dan teknologi yang telah dirancang khusus guna memenuhi kebutuhan profesional dan standar internasional dari para penggunanya, serta mengembangkan kontak bisnis dan jaringan dengan berbagai pihak seperti perusahaan manufaktur, institusi riset dan pengembangan, serta kalangan akademisi dan universitas, khususnya di Indonesia, dan di wilayah Asia Pasifik, Eropa dan Amerika pada umumnya.   Pada pameran internasional ini LIPI menampilkan informasi mengenai 3 Pusat Penelitian di LIPI yang terkait dengan kegiatan di atas, yaitu Pusat Penelitian Kimia (P2Kimia), Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi, Metrologi (P2KIM), serta Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian (P2SMTP).  Pusat Penelitian Kimia LIPI dalam hal ini memberikan informasi tentang kegiatan penelitian yang dilakukan di P2Kimia serta penunjang kegiatan seperti layanan jasa analisis dan pembelajaran melalui brosur-brosur, standing banner dan penyajian sampel bahan acuan pangan yang sudah lengkap sertifikasinya. Beberapa pengunjung menanyakan hasil riset LIPI yang dapat dijual ke pasar internasional. Selama pameran berlangsung diskusi dengan pengunjung yang mengunjungi stan LIPI dari berbagai perusahaan/industri, instansi, akademisi dan perorangan yang berasal dari kalangan industri kimia, farmasi, pangan, bioteknologi, lingkungan, lab pengujian, palm oil, petroleum, konsultan, education & training, lab riset dan teknologi, perusahaan trading dan manufaktur, produsen karet dan plastik, praktisi kesehatan, dll.   Pada umumnya para pengunjung tertarik dengan layanan jasa analisis yang dapat diberikan LIPI, kalibrasi instrumen, pengujian alat-alat kesehatan, serta jasa pembelajaran di Pusat Penelitian Kimia LIPI seperti training kimia dan kalibrasi. “kegiatan pameran seperti ini sangat penting untuk menjembatani komunikasi secara langsung dengan para stakeholder dan juga para pengguna hasil riset LIPI”, ujar Sri.

Baca

Daun Sukun Bikin Jantung Panjang Umur


14 April 2010

"Daun ini juga bisa dijadikan obat tradisional untuk gangguan ginjal dan penyakit hati." VIVAnews - Kekayaan alam Indonesia khususnya tumbuhan merupakan sumber senyawa bioaktif yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat atau bahan baku obat. Salah satunya, daun sukun. Setelah dilakukan uji khasiat oleh Pusat Penelitian Kimia LIPI bersama dengan pakar peneliti lainnya, ternyata diketahui bahwa ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) mengandung flavonoid dan sitosterol yang berkhasiat untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah. Menurut DR. Tjandrawati Mozef dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan, uji khasiat baik secara in vitro ( menggunakan media) maupun in vivo (melibatkan sel hidup) terhadap ekstrak tanaman tersebut telah menunjukkan hasil sangat baik. Kesimpulannya, daun sukun bisa melindungi jantung, karena mampu menurunkan kadar kolesterol darah secara signifikan dan mampu menghambat akumulasi pada dinding pembuluh darah aorta. “Penelitian ini sudah kami lakukan sejak 2004, dan telah lulus uji preklinis. Tanaman ini pun sangat potensial untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi obat sintesis,” kata Tjandrawati saat ditemui di acara 'Seminar Sehari Upaya Preventif dan Promotif Mengatasi Gangguan Sirkulasi Darah' di Aula Litbang Kementrian Kesehatan, Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Rabu 14 April 2010. Tak hanya berkhasiat mencegah penyakit kardiovaskuler, tetapi sukun juga merupakan obat tradisional yang mampu mengatasi masalah ginjal, penyakit hati, peradangan dan gatal-gatal. “Semua bagian dari tanaman ini mengandung flavonoid dan sitosterol dalam jumlah yang berbeda-beda. Tapi biasanya, banyak orang mengonsumsi air rebusan daun sukun untuk mendapatkan khasiatnya,” jelasnya lagi. Saat ini menurutnya, industri bahan baku obat Indonesia masih sangat lemah dimana 95 % obat masih didatangkan secara impor sehingga menyebabkan harga sejumlah obat relatif tinggi yang sulit dijangkau masyarakat. Akibatnya, banyak masyarakat beralih menggunakan tanaman obat tradisional. “ Dengan dilakukannya uji preklinis ini, bukan tidak mungkin, ekstrak daun sukun ke depannya akan dikembangkan menjadi obat herbal,” katanya. sumber : http://kosmo.vivanews.com

Baca

Pelatihan untuk pembuatan karbon aktif (activated carbon)


20 April 2010

Saya ingin bertanya apakah di Kimia LIPI ada pelatihan untuk pembuatan karbon aktif (activated carbon). Saya sedang berusaha untuk itu, terutama dari bahan arang tempurung kelapa (coco charcoal)? Jika ada, meskipun privat, saya ingin mendapatkan contact person peneliti dan biaya trainingnya. Terima kasih. moyudan@yahoo.com Ahmad Eko -- Terimakasih atas pertanyaannya. Di pelatihan reguler, tidak ada untuk pembuatan karbon aktif, tapi apabila bapa menginginkan pelatihan tersebut diatas, bapa bisa mengajukannya ke pihak kursus, min peserta 7 orang, silahkan email : rcchem_learning_centre@yahoo.com atau hubungi : Ibu Dewi/Ibu Yani 022 2507772, 2512957 admin

Baca

Praktek Kerja Lapangan di LIPI??


20 April 2010

Saya mau tanya apakah di LIPI memperbolehkan ada mahasiswa yang ingin Praktek Kerja Lapangan di LIPI?? kalau boleh, harus menghubungi siapa? terima kasih. yhoel.ia@gmail.com lia -- Untuk melakukan praktek kerja lapangan di Pusat Penelitian Kimia LIPI, Silahkan menghungi bagian Tata Usaha dgn tlp (022) 2503051 admin

Baca

Fermentasi Kelapa Oleh Ragi Tempe


20 April 2010

saya sangat berminat untuk lebih jauh mengenai permentasi kelapa oleh ragi tempe, hal ini sebagai materi untuk bahan penyuluhan dan pembangunan sdm di pedesaan. kepada siapa saya harus kontak? saya sangat berminat untuk lebih jauh mengenai permentasi kelapa oleh ragi tempe, hal ini sebagai materi untuk bahan penyuluhan dan pembangunan sdm di pedesaan. kepada siapa saya harus kontak? sukmana_zeps@yahoo.com asep sukmana -- Mengenai fermentasi kelapa oleh ragi tempe, Silahkan hubungi Ibu Tami Idiyanti di pusat penelitian kimia Serpong tlp (021) 7560929 admin

Baca

National Symposium On Chemical and Process Engineering 2010 (4-5 August 2010)


12 Maret 2010

The Organizing Committee NATIONAL SYMPOSIUM ON CHEMICAL AND PROCESS ENGINEERING 2010 Topic “Towards sustainable process design and intensification for energy efficient process technology” Chemical Engineering Department Dipoengoro University Jl. Prof. Sudharto, Kampus UNDIP Tembalang Semarang 50239 INDONESIA Telp. :024-7460058/Fax.: 024-76480675 http://srkp.undip.ac.id/ Abstract Abstract can be written both in Indonesian or English on an one sided A4 paper using Times New Roman of 12 font, single space with maximum 250 words,. The abstract must contain the Title of article, Authors, Affiliation, Correspondence address (phone/fax/email). The abstract must be submitted to an email Address : srkp2010undip@gmail.com. Important dates • Deadline for abstract submission: May 30, 2010 • Author notification : June 15, 2010 • Final paper submission deadline: July 10, 2010 Keynote Speakers 1. Prof.H.J.Heeres(Groningen University-Netherlands) 2. Prof. Dr. Gade Pandu Rangaiah (National University of Singapore) 3. Dewan Energi Nasional 4. Industry Peserta Fee (US$) Industry/ Private/ University/Government Research institute 100 Postgraduate students 50 Undergraduate students 35 * Venue The symposium will be held at: Chemical Engineering Department, Faculty of Engineering, Diponegoro University. Jl. Prof. Sudharto,SH-Tembalang, Semarang, Indonesia

Baca

Peneliti LIPI: Penyebab Rokok Meledak Ketidaksempurnaan Pengawasan


02 Februari 2010

Jakarta, Cybernews. Penyebab insiden meledaknya rokok yang dihisap Andi Susanto hingga kini belum diketahui. Puslabfor masih meneliti puntung rokok yang meledak dan sisa rokok yang belum sempat dihisap Andi, untuk menentukan kandungan material yang berpotensi menyebabkan ledakan. Ahli Kimia LIPI Ahmad Hanafi menduga, ada kekeliruan campuran dalam rokok sehingga menyebabkan terjadinya ledakan. Menurut dia, dalam puluhan ribu batang rokok yang diproduksi setiap hari, dimungkinkan terjadi penumpukan konsentrasi bahan-bahan tertentu yang berpotensi meledak. "Bila konsentrasinya cukup tinggi, ada kemungkinan meledak," ujarnya, Selasa (2/2). Bahan-bahan yang berpotensi meledak, menurut Hanafi, setidaknya ada empat macam; Ammonium nitrat, Iodine, Sodium Thiosulphate, dan Ammonium Hydroxide. Hanafi mengingatkan, produsen rokok seharusnya lebih memperketat quality control produknya, agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. "Ketidaksempurnaan pengawasan dalam pencampuran bahan-bahan baku rokok berpotensi menimbulkan ledakan serupa," tegasnya. ( Farodlilah , MetroTV/ CN12 ) sumber :http://suaramerdeka.com/

Baca

Seminar Nasional Green Chemistry 2010


25 Januari 2010

Seminar Nasional Kimia merupakan kegiatan rutin tahunan yang diadakan oleh Departemen Pengembangan Ilmiah Himpunan Mahasiswa Departemen Kimia FMIPA Universitas Indonesia. Seminar nasional kimia kali ini mengadopsi wawasan kimia lingkungan sehingga acaranya diberi nama Seminar Nasional GreenChemistry dengan tema ”Solusi Terkini Masalah Polutan Kehidupan Masyarakat Perkotaan”. Maksud dan tujuan dari kegiatan ini adalah Mensosialisasikan GreenChemistry sebagai sarana untuk membangun kehidupan ramah lingkungan beserta aplikasinya dalam kehidupan perkotaan dan menjadi pemicu maupun pemacu dunia ristek, industri, beserta masyarakat untuk memperbaiki kondisi lingkungan dengan menggunakan konsep GreenChemistry. Acaranya terdiri dari: 1.Seminar Sehari Mengenai : - Landasan Dasar Timbulnya Teori ‘GreenChemistry’ Pembicara : Dr. Asep Saefumillah Ph.d Dosen Kimia FMIPA Universitas Indonesia - Nanoteknologi: TiO2 sebagai Sarana Pengolahan Polusi Ramah Lingkungan Pembicara : Dr. Nurul Taufiqu Rochman Chairman Masyarakat Nanoteknologi Indonesia (MNI) - Recycling dan Reuse Sampah sebagai Pembangkit Listrik Pembicara : Dipl. Ing. Haznan Abimanyu, Ph.D. Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Kimia Bidang Penelitian, Energi, Katalis - Solar Sel Ekonomis Pembicara : Dr.Ing. Oo Abdul Rosyid.M.Sc Peneliti dalam Bidang Energi Terbarukan, Balai Besar Teknologi Energi-Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (B2TE-BPPT) 2.Pameran Poster Penelitian Dalam Bidang Kimia. Pendaftaran dan Pengiriman Poster :` Kami memberikan kesempatan kepada peserta poster yang berkeinginan untuk mempublikasikan poster hasil penelitiannya melalui Seminar Nasional Green Chemistry. Kriteria Poster : 1. Ukuran poster maks A2 2. Penelitian sesuai tema/subtema acara 3. Poster berisikan judul penelitian, nama lengkap, teori dasar, hasil pengamatan, kesimpulan, dll. Pos : Kesekretariatan HMD Kimia Dept.Kimia FMIPA UI Kampus Baru Depok Gedung G, 16464. (dengan batas akhir penerimaan 23 januari 2010 atau poster dapat diserahkan langsung pada registrasi peserta). Waktu dan Tempat Senin, 25 Januari 2010 Auditorium Pusat Studi Jepang Kampus UI Depok Registrasi pkl 07.30 Investasi Pendaftaran Seminar Nasional Green Chemistry 2010 dibuka tanggal 14 Januari 2010, akan berakhir pada tanggal 24 Januari 2010 dikenakan tarif reguler Mahasiswa : Rp.50.000 Umum : Rp.60.000 Peserta Poster : Rp.65.000 On the spot : Reguler+Rp.5000 Pembayaran Transfer ke rekening BNI KCU UI Depok No Rek:0132731906 a.n. Retno Hapsari Himpunan Mahasiswa Departemen Kimia FMIPA UI Gedung G, Lt.1 , Kampus Baru-UI, Depok 16424, Fax. (021) 7863432 e-mail: semnas_greenchemistry2010@yahoo.com Contact Person: Tiketing : Kurniyasari (085692450271) Poster : Zetryana (081314141216) sumber :http://www.jakartaspot.com

Baca

Tahun 2011 dinobatkan sebagai Tahun Internasional Kimia 2011


19 Maret 2009

Kabar gembira buat semua pecinta kimia, karena dua tahun mendatang tepatnya tahun 2011 dinobatkan sebagai Tahun Internasional Kimia 2011 (International Year of Chemistry – IYC 2011 – Our Life , Our Future). Gagasan Tahun Internasional Kimia 2011 ini pertama kali dicanangkan pada bulan Agustus 2007 pada pertemuan umum The International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC) di Turin Italia. Gagasan ini ternyata disambut baik oleh dewan PBB dan pada pertemuan PBB bulan Desember 2008, IUPAC dan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyetujui untuk merayakan tahun 2011 sebagai Tahun Internasional Kimia. Tahun 2011 juga bertepatan dengan peringatan 100 tahun penghargaan Nobel Prize Kimia untuk Mme Maria Sklodowska Curie, yang berarti juga peringatan akan kontribusi wanita ke ilmu sains. Peranan kimia dalam kehidupan manusia begitu penting, seluruh materi baik padat, larutan dan gas tersusun dari berbagai unsur-unsur kimia dan bahkan seluruh proses kehidupan ditentukan oleh berbagai reaksi kimia. IUPAC dan UNESCO menyadari sudah saatnya untuk memperingati keberhasilan kimia dan sumbangannya bagi kehidupan manusia. “Tahun Internasional Kimia akan meningkatkan apresiasi global terhadap perkembangan ilmu kimia dalam kehidupan kita dan masa depan kita. Saya berharap peringatan ini dapat meningkatkan kepedulian publik terhadap kimia dan meningkatkan ketertarikan kaum muda akan ilmu sains serta memberikan masa depan yang cerah bagi masa depan kimia”, sambutan dari Ketua the International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC), Professor Jung-Il Jin pada pertemuan PBB. “Saya menyambut kesempatan untuk memperingati kimia sebagai salah satu dasar dari ilmu sains,” ujar Koichiro Matsuura, Direktur Umum UNESCO, “Meningkatkan kepedulian publik terhadap kimia adalah suatu hal yang sangat penting dalam rangka menjawab tantangan pembangunan yang berkesinambungan. Adalah hal yang mutlak bahwa kimia berperan penting dalam membangun sumber alternatif energi dan menghidupi populasi dunia yang terus berkembang” tambahnya. Dalam memperingati Tahun Internasional Kimia 2011 akan direncanakan berbagai aktivitas dan event baik regional, nasional dan internasional yang didukung baik dari asosiasi kimia nasional, institusi edukasi, industri, pemerintahan dan organisasi non-pemerintahan. Aktivitas dan event ini berusaha memperkenalkan kepada publik luas tentang peranan kimia, memberikan solusi terhadap tantangan global, dan membangun generasi muda yang peduli terhadap sains. Situs chem-is-try.org juga akan turut aktif menyukseskan Tahun Internasional Kimia 2011 dengan berusaha bekerjasama dengan beberapa instansi yang peduli dengan sains. Jika kamu punya ide atau masukan untuk menyukseskan Tahun Internasional Kimia 2011, silahkan tulis pada bagian komentar artikel ini. Kami tunggu ide dan masukannya.Ditulis oleh Soetrisno pada 19-03-2009 Kata Kunci: International Year of Chemistry, iupac, IYC 2011, Marie Curie, Tahun Internasional Kimia, UNESCO Sumber :http://www.chem-is-try.org

Baca

KULIAH TAMU


25 Januari 2010

Title: KULIAH TAMULocation: Ruang Rapat Gd. 50 Lt. 2 Puslit Kimia LIPI Bandung Description: Tema : The Future of Agrotechnology Pembicara :Prof. Dr. Rainer Jonas dari HZI (GBF) Jerman,Start Time: 13:15Date: 2010-01-27

Baca

Kadar E coli harus 0 per 100 Mililiter Air


13 November 2009

Air merupakan sumber kehidupan yang tidak bisa dipisahkan dari faktor kesehatan. Konsumsi yang tidak memperhatikan higienitas akan menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia. Padahal, dalam satu hari, seorang manusia dianjurkan untuk mengkonsumsi minimal delapan gelas air putih. Banyak faktor yang bisa menyebabkan kurangnya higienitas air. Beberapa di antaranya adalah lokasi sumber air, apakah dekat dengan permukiman penduduk atau sulit dijangkau. Selain itu tergantung pula dengan proses angkut. Pada fase ini, pencemaran sangat mungkin terjadi akibat bersentuhan dengan tangan manusia dan gesekan selama perjalanan ke depot air. Setelah itu kualitas depot air itu sendiri, apakah pengelola cukup terlatih untuk menyajikan air yang steril dari kuman. Menurut peneliti teknologi lingkungan Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hari Rom Haryadi, sumber pencemaran bisa datang dari udara, lingkungan sekitar, dan tanah. Pencemaran sangat mungkin disebabkan oleh logam berat. Menurutnya, sebagian logam berat, seperti timah dan tembagabiasa terdapat dari sumber mata air, karena logam merupakan mineral yang berasal dari dalam Bumi. Namun dalam jumlah yang melebihi standar, beberapa jenis logam berat yang dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu, seperti merkuri bisa menyebabkan penyakit kanker dan mendapat keturunan yang abnormal. Selain logam berat, kuman pun menjadi sumber pencemar air minum. Mikroorganisme patogen yang terkandung dalam tinja manusia dapat menularkan beragam penyakit bila masuk tubuh manusia. Menurut Hari, dalam 1 gram tinja terkandung 1 miliar partikel virus infektif, yang mampu bertahan hidup selama beberapa minggu pada suhu di bawah 10 derajat celcius. “Terdapat empat mikroorganisme patogen yang terkandung dalam tinja yaitu virus, Protozoa, cacing, dan bakteri yang umumnya diwakili oleh jenis Escherichia coli (E coli),” ujar Hari. Walau empat mikroorganisme itu dinilai sebagai sumber pencemaran air minum, namun biasanya yang menjadi indikator utama adalah keberadaan bakteri E Coli. “Apabila tidak ditemukan E coli, maka air tersebut secara mikrobiologis dinyatakan tidak tercemar.” Jika masuk ke dalam tubuh, sebagian besar mikroorganisme patogen tersebut tidak memberikan gejala secara jelas. Setelah tinja memasuki badan air, E coli akan mengkontaminasi tubuh dan bahkan pada kondisi tertentu dapat mengalahkan mekanisme pertahanan tubuh dan tinggal di dalam pelvix ginjal dan hati. Sesuai Permenkes Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum, dipersyaratkan bahwa kadar E coli dalam air minum adalah 0 per 100 mililiter (ml) air harus dipenuhi. ”Padahal secara kasat mata sangat sulit untuk menentukan apakah air minum sudah tercemar atau belum,” kata Hari. Pencemaran tingkat parah baru bisa dipantau lewat penglihatan jika fisik air berubah. Bila air tidak jernih, berwarna tertentu, ada kotoran melayang, dan berbau, maka bisa dikatagorikan sebagai air tidak layak minum.(not/L-4) sumber : http://www.koran-jakarta.com

Baca

Minyak Kelapa Sehat Tanpa Proses Pemanasan


21 Desember 2009

Sudah banyak diketahui minyak kelapa lebih sehat ketimbang minyak sawit karena rantai karbonnya lebih pendek yang membuatnya cepat menguraikan karbon menjadi energi sehingga tidak disimpan oleh tubuh dalam bentuk lemak ataupun kolesterol. Dalam 4 tahun terakhir tren penggunaan minyak kelapa makin meningkat seperti jenis Virgin Coconut Oil (VCO) alias minyak kelapa murni. VCO ini ada yang dimasak dengan api kecil, atau melakukan pemisahan dengan cara fermentasi. Peneliti LIPI pada Juli 2009 juga telah mempublikasikan pembuatan minyak kelapa sehat dengan proses fermentasi dengan ragi (inokulum) tempe. Ragi tempe dinilai paling sehat dengan ongkos yang murah. "Penemuan ini telah banyak digunakan untuk industri UKM karena biaya proses pengolahannya cukup murah. Minyak kelapa dengan fermentasi ragi tempe ini sudah menjadi public domain siapa pun bisa memakainya," kata Direktur Pusat Penelitian Kimia Prof. (Ris) Dr. Leonardus Broto Sugeng Kardono ketika dihubungi detikHealth. Minyak kelapa dengan fermentasi ragi tempe ini dibuat cukup mudah. Pertama memilih kelapa tua berumur 10-12 bulan lalu diparut dan diperas hingga menjadi santan. Santan lalu ditaburi ragi tempe tanpa perlu diaduk. Setelah itu santan yang telah ditaburi ragi tempe diinkubasi sekitar 16 jam dalam suhu kamar. Setelah proses fermentasi selesai terdapat tiga lapisan terpisah yakni air, minyak kelapa atau VCO dan lapisan solid protein. Kemudian masing-masing bagian dipisahkan secara mudah. Untuk setiap 100-120 liter santan kelapa diperlukan 200 gram ragi tempe yang akhirnya menghasilkan VCO 8-10 liter. "Semakin meniadakan proses pemanasan, minyak yang dihasilkan akan memiliki rantai karbon yang lebih sehat," kata Broto. Diakui Broto selama ini proses fermentasi minyak kelapa tidak begitu populer penggunaanya karena dianggap rumit dan harga enzimnya cukup mahal. Namun dengan penemuan fermentasi minyak kelapa dengan ragi tempe, LIPI berharap pengolahan industri kelapa lebih maksimal sesuai dengan standar yang berlaku karena pohon kelapa sangat banyak tersebar di Indonesia. Minyak kelapa yang dihasilkan ini selain untuk minyak goreng sehat digunakan juga untuk industri kosmetik dalam pembuatan sabun, pelembab, minyak urut, sabun cair non kimia. Produk minyak yang dihasilkan sangat khas beraroma kelapa dan karakteristiknya cocok untuk bahan pembantu kosmetika. Ketika ditambahkan pewangi sebagai minyak pelembab, campuran tersebut terlarut sempurna dan aroma bertahan lebih dari sebulan. Jika menggunakan pemanasan yang tinggi, pengolahan minyak memang lebih cepat prosesnya. Tapi akan lebih gampang merusak minyak akibat rantai karbonnya yang semula ganda menjadi tunggal yang ditakutkan bisa memicu zat karsinogenik.(ir/fah) sumber : http://health.detik.com

Baca

LIPI Bikin Material Hijau Tingkat Lanjut


30 November 2009

JAKARTA - Material hijau (green material) bukan cuma karena ia berasal dari bahan alam yang bisa diperbarui. Ada setidaknya lima kriteria lain untuk sebuah material bisa disebut hijau. Mereka adalah efisiensi pemakaian sumber daya, dampak lingkungan, dampaknya bagi kesehatan manusia, efisiensi energi dan konsumsi air, serta durasi kegunaan. "Jadi, misalnya, material itu hanya bisa digunakan selama dua tahun. Tapi yang dari bahan bakar fosil bisa 20 tahun, material itu belum bisa disebut hijau," kata Agus Haryono, peneliti kimia polimer di Pusat Penelitian Kimia di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dalam lokakarya peresmian Pusat Riset Lanjutan dan Multidisiplin (ICIAR) LIPI, Kamis sore lalu. Dalam lokakarya itu, Agus memaparkan, perkembangan riset di bidang green advanced material. Dengan 31 jumlah riset dan instrumen untuk karakterisasi semacam high energy milling, scanning electron microscopy, nucleic magnetic resonance, serta photolitography, Agus mengungkapkan, LIPI menjadi lokomotif riset di bidang ini di Tanah Air. Beberapa riset yang sedang dikerjakan Agus dan teman-temannya di bidang green advanced material ini adalah pembuatan polyurethane dan bioplasticizer dari minyak kelapa sawit. Khusus plasticizer, zat aditif yang membuat plastik melentur tapi viskositas leleh dan tensile strength berkurang, saat ini masih didominasi oleh dioctyl phthalate (DOP). Bahan yang satu ini dikenal karsinogenik, mencemari darah, dan beracun untuk alat reproduksi pria. Plastik yang bisa terurai secara biologis juga dikerjakan LIPI bekerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional dan Departemen Perindustrian. "Plastik itu memiliki kemampuan terurai secara biologis pada minggu kedelapan," ujar Agus. Seluruhnya ada empat peneliti LIPI yang berbicara dalam lokakarya itu. Selain Agus, mereka adalah Adi Santoso dari Pusat Penelitian Bioteknologi, yang mengungkap perkembangan riset di bidang bioteknologi-biomedika, serta Andika Widya Pramono dari Pusat Penelitian Metalurgi tentang advanced material untuk aplikasi medis. Satu lagi, Ikrar Nusa Bakti, mengulas tentang pertahanan strategis. WURAGIL sumber: http://www.korantempo.com/

Baca

Kemasan Plastik Teknologi Nano Sangat Ramah Lingkungan


12 November 2009

SEBUAH terobosan teknologi telah berhasil mengurangi kekhawatiran manusia terhadap plastik. Plastik kema san yang sebelumnya membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terurai, menjadi mudah terurai hanya dalam empat hingga delapan minggu. Bahkan, dapat lebih cepat lagi. Teknologi itu bernama Nano atau Sanoicchnology. Dengan teknologi nano, kemasan plastik bisa menjadi teknologi yang sangat ramah lingkungan karena plastik menjadi sangat mudah terurai oleh mi kroba yang ada dalam tanah. Plastik kemasan nanoteknologi yang disebut sebagai plastik biodegradable itu. merupakan hasil riset Masyarakat Nanotekno-.logi Indonesia (MN1). "Plastik biodegradable itu dibuat dengan mencampurkan kalsium karbonat dalam bentuk partikel nano dengan ukuran puluhan nanometer ke dalam hanan kemasan plastik polienlcn (PE) atau pelipropilcn (PP) hingga 70%. Kemasan plastik nanoteknologi mudah terurai, karena dengan ukuran sangat kecil, luas pcrmukaanya menjadi lebih lebar, kontak dengan mikroba dalam tanah jauh lebih banyak," ungkap Sek icn \l\l Dr Agus Haryono di sela Konferensi Internasional Advanced Materials and Practical Xanotcchnology di Jakarta, Rabu (11/11). Pakar kirnia polimer LIPI itu menambahkan, nanoteknologi berkaitan dengan bagaimana cara mengatur material, sruktur, dan fungsi ;at pada skala nano (satu nanometer sama dengan satu meter dibagi satu miliar red) sehingga menghasilkan materi dengan struktur dan fungsi baru. Namun sayangnya, ujar dia, kemasan plastik nanoteknologi yang dibuat mikroba ini masih lebih mahal dibanding kemasan plastik biasa, sehingga akan sulit dilirik masyarakat meski sangat bagus untuk lingkungan. "Tapi kami sudah mencoba mendorong Kemncg Lingkungan Hidup untuk membuat peraturan tentang pemanfaatan kemasan plastik biodegradable ini," kata dia. Menurutnya, jika perusahaan plastik kemasan bisa memroduksi 2% saja kemasan plastik biodegradable ini dari total produksi plastik PE dan PP nya. maka hal itu udah sangat bagus-Agus mengatakan, ada dua metode pembuatan kemasan plastik nanoteknologi, yakni secara kimia dan secara fisika. Secara ki mia yaitu dengan mclarutkan dan ditam bahkan zat kimia tertentu sehingga muncul dalam bentuk bubuk seukuran nano atau dengan cara fisika, yaitu dengan menghancurkan iat zat dengan alat nigfi energy milling 6 ant/one sumber : http://bataviase.co.id/detailberita-10239116.html

Baca

Selamat kepada Dr. S. Tursiloadi dan Dr. Agus Haryono


26 November 2009

 Selamat kepada tim Dr. S. Tursiloadi dengan makalah yang berjudul "Direct ethoxylation of fatty acid glyseryl esters from palm oil as non-ionic surfactant" dan kepada tim Dr. Agus Haryono dengan makalah yang berjudul "Rekayasa proses produksi isopropil oleat ester berbasis minyak sawit" yang mendapatkan penghargaan pada acara Tahunan MAKSI (Masyarakat Perkelapa-sawitan Indonesia) yang diselenggarakan pada 24-25 Nopember 2009 di bogor

Baca

Implementasi Insinerator Narkoba Untuk Mendukung Tugas Polri


19 November 2009

Memusnahkan narkoba bukanlah perkara mudah! Tidak sekedar asal musnah saja, namun dibutuhkan peralatan pemusnah (insinerator) yang mumpuni yang dapat memusnahkan narkoba tanpa menyisakan limbah beracun dan berbahaya lagi. Narkoba termasuk golongan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dari tahun ke tahun hasil sitaan meningkat. Terkait dengan kuantitas narkoba sitaan, dibutuhkan peralatan pemusnah yang cukup dan handal. Untuk itu, harus adanya sinergisitas antara Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT), LPND, POLRI, Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) dalam mengembangkan peralatan pemusnah yang bersertifikat dan dapat dimanfaatkan oleh POLRI dan BNN. Agar terjadinya sinergitas/kolaborasi kelembagaan, Asdep Program Tekno Ekonomi, Asdep Program Riptek Unggulan dan Strategis dan Puslit Kimia LIPI bekerjasama dalam menyelenggarakan Workshop pengembangan dan implementasi insinerator narkoba yang dilaksanakan pada Kamis, 19 November 2009 di Puslit Kimia LIPI Serpong Tangerang. Dari workshop ini diharapkan terjadi kesepahaman antar lembaga dalam rangka memberantas penyalahgunaan narkoba, terutama LIPI, BNN, POLRI, dan KLH sebagai peneliti dan pengembang iptek kepolisian, pengguna iptek kepolisian, dan pihak regulator dan hasil penelitian anak bangsa dapat dimanfaatkan. Pengembangan insinerator adalah salah satu kegiatan untuk mendukung litbang iptek kepolisian guna mendukung tugas POLRI’. Ujar, Hari Purwanto,  saat Asisten Deputi Urusan Program Unggulan dan Strategis saat memberikan sambutan pada pembukaan workshop yang mewakili Deputi Bidang Program Riptek. Kapuslabfor POLRI, Brigjen Pol H. Budiono dan Kapuslit Kimia LIPI, L Broto Sugeng Kardono. Peserta workshop adalah peneliti dari berbagai instansi, seperti BATAN dan anggota kepolisian, terutama puslabfor. Pada acara tersebut mengetengahkan empat pembicara yang memaparkan baik dari aspek kebutuhan sampai dengan asepek hukumnya. Narasumber dari Puslit Kimia LIPI, Edi Iswanto Wiloso, menjelaskan pengembangan insinerator narkoba telah dilakukan sejak tahun 2008 dan akan dilanjutkan pada tahun 2010 dengan sasaran mobile incinerator (insinerator bergerak) untuk memudahkan dapat ditempatkan dii daerah-daerah dengan tingkat penyalahgunaan narkoba tinggi. Sedangkan  Rahardjo Binudi dari Puslit Metalurgi LIPI menjelaskan aspek teknis dari pengembangan mesin insinerator. Dari sisi regulasi dan kebijakan, narasumber dari BNN, Mufti Djusnir membawakan data mengenai persebaran narkoba di berbagai daerah di Indonesia. Tampak dalam data tingkat penyalahgunaan narkoba paling tinggi di daerah Jawa dan Sumatera.  Syaiful Bahri sebagai pembicara dari Kementerian Lingkungan Hidup memaparkan pengolahan, pemanfaatan, pengolahan limbah B3 (bahan bahan berbahaya dan beracun) dan perizinan peralatan insinerator narkoba. Acara yang dilaksanakan pada Kamis, 19 November 2009 bertempat di Ruang rapat Puslit Kimia LIPI Puspiptek Serpong di hadiri oleh Asisten Deputi Urusan Program Riptek Unggulan  dan Strategis, Deputi Bidang Program Riptek KNRT, Hari Purwanto; Kapuslabfor POLRI, Brigjen Pol H. Budiono; Kapuslit Kimia LIPI, L Broto Sugeng Kardono; Puslit Kimia LIPI, Edi Iswanto Wiloso; Puslit Metalurgi LIPI, Rahardjo Binudi; Badan Narkotika, Nasional, Mufti Djusnir; Kepala Biro Hukum dan Humas Ristek. (ad-prus/humasristek) Sumber : www.ristek.go.id

Baca

Seminar Nasional dan Kongres Himpunan Kimia Indonesia 2009


20 November 2009

Title: Seminar Nasional dan Kongres Himpunan Kimia Indonesia 2009Location: Gedung Widya Graha Lantai 1 LIPI Jl. Gatot Subroto No. 10 JAKARTALink out: Click hereDescription: “Regulasi Pengadaan dan Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya dalam Rangka Mendukung Riset dan Industri” akan diadakan pada tanggal : 19 Desember 2009 Gedung Widya Graha Lantai 1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jl. Gatot Subroto No. 10 JAKARTA RUANG LINGKUP Topik-topik yang akan dibahas dalam kegiatan ini adalah: \"Regulasi pengadaan dan penggunaan bahan kimia berbahaya. \" PEMBICARA 1. Menristek 2. Dirjen IKAH 3. Deputi Badan POM 4. Deputi KLH / B3 5. PT. Sucofindo 6. LIPI (Inspektur OPCW Periode 1999-2009) 7. Deputi Bidang Peng. SIPTEKNAS 8. Koordinator Forum Ketua-Ketua Jurusan Kimia se-Indonesia Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi : Sekretariat Seminar Nasional dan Kongres HKI 2009 Pusat Penelitian Kimia – LIPI Telp : 021 – 7560549, Fax : 021 – 7560929 E-mail : HKI-2009@kimiawan.org C/P : Dr. S. Tursiloadi Start Time: 8:30Date: 2009-12-19End Time: 16:30

Baca

Kini Limbah Plastik Mudah Terurai


19 November 2009

Jakarta- Melalui teknologi nano (nanotechnology), kemasan plastik dapat menjadi sangat ramah lingkungan karena sangat mudah terurai oleh mikroba yang ada dalam tanah. "Dengan nanoteknologi, plastik kemasan yang sebelumnya membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terurai, menjadi mudah terurai hanya dalam 4-8 minggu, bahkan lebih cepat lagi," kata Sekjen Masyarakat Nanoteknologi Indonesia (MNI), Dr. Agus Haryono, di sela Konferensi Internasional "Advanced Materials and Practical Nanotechnology" di Jakarta. Plastik kemasan nanoteknologi yang disebut sebagai plastik "biodegradable" hasil riset bersama MNI itu, dibuat dengan mencampurkan kalsium karbonat dalam bentuk partikel nano dengan ukuran puluhan nanometer ke dalam bahan kemasan plastik polietilen (PE) atau polipropilen (PP) hingga 70 persen. "Kemasan plastik nanoteknologi mudah terurai karena dengan ukurannya yang sangat kecil, luas permukaanya menjadi lebih lebar, kontak dengan mikroba dalam tanah jauh lebih banyak," kata Pakar Kimia Polimer LIPI itu. Nanoteknologi berkaitan dengan bagaimana cara mengatur material, sruktur dan fungsi zat pada skala nano (satu nanometer sama dengan satu meter dibagi satu milyar -red) sehingga menghasilkan materi dengan struktur dan fungsi baru. Namun sayangnya, ujar dia, kemasan plastik nanoteknologi yang dibuat oleh mikroba ini masih lebih mahal dibanding kemasan plastik biasa sehingga akan sulit dilirik masyarakat meski sangat bagus untuk lingkungan."Tapi kami sudah mencoba mendorong Kementerian Lingkungan Hidup untuk membuat peraturan tentang pemanfaatan kemasan plastik biodegradable ini," kata dia. Menurut Agus, jika perusahaan plastik kemasan bisa memproduksi dua persen saja kemasan plastik biodegradable ini dari total produksi plastik PE dan PP-nya, sudah sangat bagus.Agus mengatakan, ada dua metode pembuatan kemasan plastik nanoteknologi, yakni secara kimia dan secara fisika. Secara kimia yaitu dengan melarutkan dan ditambahkan zat kimia tertentu sehingga muncul dalam bentuk bubuk seukuran nano atau dengan cara fisika yaitu dengan menghancurkan zat-zat dengan alat "high energy milling." Ketua Umum MNI Dr Nurul Taufiqurochman mengatakan, nanoteknologi saat ini sudah semakin diaplikasikan ke berbagai bidang seperti di bidang kosmetik, pengobatan, tekstil, bahan bangunan, teknologi informasi dan komunikasi dan lain-lain. (dew) sumber: www.technologyindonesia.com

Baca

Naik Pangkat Daun Sukun


19 November 2009

SERPONG - Jonathan berkenalan dengan khasiat seduhan daun sukun dari seorang kawan. Segala pikiran positif dan mind power sudah dikerahkannya, tapi ternyata hanya seduhan berasa sedikit sepat itulah yang mampu mengusir bayang-bayang ngeri tumor tumbuh di balik lehernya yang terasa kaku. Penasaran dengan khasiat daun penyelamatnya itu, Jonathan menyelidik ke perpustakaan di dunia maya. "Ternyata ada juga yang menyatakan daun ini berguna untuk penyakit jantung, ya, jadi saya minum terus saja sampai sekarang," katanya berbagi. Sukun (Artocarpus altilis) memang tak cuma dikenal dengan buahnya yang enak. Daunnya sudah secara empiris--berdasarkan pengalaman--terbukti bisa menolong mengatasi penyakit tekanan darah tinggi dan juga kencing manis. Sebagian bahkan menyebut khasiatnya yang sampai ke organ hati, gigi, serta gatal-gatal dan pembengkakan di kulit. Pengalaman seperti inilah yang membuat tim peneliti dari Pusat Penelitian Kimia di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyertakan jenis daun lebar-lebar itu di antara 42 jenis tanaman yang dikenal berkhasiat sebagai obat jantung ke Universitas Zhejiang di Cina. "Berkedok" program pengembangan kemampuan biomedical engineering, tim yang terbagi menjadi tiga gelombang dalam periode 2004-2007 itu membandingkan daun sukun, di antaranya, dengan pepaya, belimbing, dan bawang putih. Lewat serangkaian uji in vitro menebeng peralatan modern milik universitas itu, tim mendapati bahwa ekstrak daun sukun memang yang paling efektif. Analisis, antara lain, dilakukan dengan sel endotel (pembentuk lapisan dalam pembuluh darah) untuk kasus atherosclerosis atau penumpukan lemak dalam pembuluh darah dan sel otot jantung untuk kasus hipertensi. "Aktivitas proliferasi dan viabilitas sel di kedua kasus itu terjadi paling tinggi dengan bantuan ekstrak daun sukun," kata Nina Artanti, peneliti bidang kimia bahan alam yang menjadi anggota tim, di kantornya, Selasa lalu. Ekstrak daun terpilih tersebut lalu diuji lebih jauh dengan teknik kromatogafi untuk dicari senyawa aktifnya. Hak paten yang keluar pada 2007 atas ekstrak total flavonoid dan fitosterol daun sukun sebagai obat kardiovaskuler dan teknik produksinya adalah buah rangkaian uji lanjutan itu. Hak paten terdaftar atas nama Leonardus Broto Sugeng Kardono, Kepala Pusat Penelitian Kimia, dan anak buahnya, Tjandrawati Mozef, selain Kepala LIPI Umar Anggara Jenie dan tiga orang dari Universitas Zhejiang. Kini, dua tahun berselang dari kerja sama itu, Broto, Nina, Tjandrawati, dan yang lainnya di Pusat Penelitian Kimia berancang-ancang menjejak ke tahap uji klinis--mencoba dosis tertentu pada pasien penyakit jantung kardiovaskuler. Tujuannya adalah membuat khasiat daun sukun menjelma menjadi obat yang bisa diresepkan. "Kami sudah presentasi di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita," kata Broto di sela-sela kesibukannya menerima tamu, Selasa lalu. Nina menjelaskan, mereka berani melangkah ke uji klinis karena uji pada tikus (in vivo)--yang sebagian dilakukan di Zhejiang--menunjukkan bahwa keempat senyawa aktif yang dimurnikan dari ekstrak daun sukun itu aman dikonsumsi. Dosis mematikannya tergolong besar, hingga 16 gram per kilogram berat badan (si tikus). "Tikus yang diberi obat terus-menerus selama tiga bulan, setelah dibedah, darahnya diambil, di cek enzim-enzimnya, morfologi jantung, ginjal, dan hati, juga tidak menunjukkan adanya efek samping," Nina menjelaskan. Menurut Nina, uji efektivitas juga menunjukkan hasil yang bagus. Uji ini dilakukan dengan cara membandingkan tikus ketika diberi obat-obatan lain, mulai dari aspirin, propanolol, sampai obat herbal ginkgo biloba. "Ekstrak memiliki aktivitas mendekati atau setara dengan obat-obatan itu," katanya. Dosis yang diberikan dalam uji terhadap hewan percobaan itu sebesar 50 miligram per kilogram berat tikus. Untuk uji klinis, tentu harus dihitung ulang formulanya yang pas untuk manusia. Begitu pula formula tabletnya, "Karena, kan, tidak mungkin mencekoki ekstrak ini ke manusia seperti melakukannya ke tikus," kata Nina. Khusus untuk formula tablet, Nina menyebut faktor waktu hancur dan reaksinya yang tidak menghalangi ekstrak diserap tubuh. "Ini memang tidak susah-susah banget. Akhir tahun ini kami targetkan formula tablet dan ekstrak terstandar itu sudah didapat," kata Nina. WURAGIL Uji Klinis Uji klinis tidak mudah dan tidak singkat. Andai kerja sama dengan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita atau dengan pihak lain disepakati, Broto menjelaskan, harus dilakukan presentasi dulu di hadapan anggota Komisi Etik. Lolos dari komisi itu, uji baru bisa dilakukan, pertama-tama, terhadap orang sehat. Uji pertama ini untuk memastikan keamanan calon obat tersebut. Baru, setelah itu, uji klinis mulai melibatkan orang sakit dengan jumlah terbatas. "Fase ketiga melibatkan orang sakit di multilokasi, dan yang terakhir berupa uji post market, pemantauan setelah obat dipasarkan," profesor riset di bidang kimia organik yang baru pekan lalu dikukuhkan itu menjelaskan. Uji klinis juga tidak murah. Ini, menurut Nina, berkaitan dengan alat yang diperlukan, misalnya untuk memantau akumulasi lemak pada aorta atau pembuluh darah besar yang mengalirkan darah dari jantung. Ini pulalah yang menyebabkan produk fitofarmaka (obat-obatan dari bahan tanaman) lokal masih bisa dihitung dengan jari. "Kebanyakan adalah obat sintesis (dari bahan kimia) yang diproduksi dan diuji di luar negeri dan tinggal dipasarkan oleh perusahaan farmasi di Tanah Air," katanya. Khusus untuk ekstrak daun sukun sebagai bakal obat jantung, ada setidaknya lima macam uji selain akumulasi lemak. Laju pengendapan, kekentalan, pembekuan, dan acute ischemia juga harus dikaji dan dibanding-bandingkan. "Kami harus pilih satu saja," kata Broto. Sambil menunggu kesepakatan skema kerja sama, khususnya yang terkait dengan pendanaan, antara atasannya dan pihak rumah sakit, Nina memilih menyibukkan diri dengan formulasi ekstrak dan tablet yang akan dipakai. Dengan 300 miligram per tablet, ia menghitung, dibutuhkan 5 kilogram ekstrak aktif etil asetat yang memuat senyawa aktif untuk keperluan uji klinis nanti. Sebagai pembanding, untuk 300 gram (0,3 kilogram) ekstrak yang dihasilkan untuk skala penelitian di laboratorium, diperlukan 15 kilogram daun kering. "Rasanya kami masih bisa memenuhi kebutuhan itu dari pohon sukun yang tumbuh di sekitar sini," katanya. Nina menambahkan, karakter daun juga dicari yang sama dengan yang telah diuji in vitro dan in vivo. sumber : www.korantempo.com

Baca
ZONA INTEGRITAS