Berita

SEMINAR BTPK


18 November 2009

Title: SEMINAR BTPKLocation: Meeting Hall, Lantai 2 PP Kimia LIPI SerpongDescription: SEMINAR BTPK Penyaji : Ryanto Heru Nugroho Judul Presentasi : \"Produksi Asam Laktat Dengan Metode Fermentasi\" Start Time: 9:00Date: 2009-11-20

Baca

Research Group: Catalysis and Macromolecular


18 November 2009

Latar Belakang Pentingnya Penelitian katalis dan Makromolekul Pengembangan katalis maju dan makromelekul diarahkan untuk mengelola dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia secara signifikan. Dengan memperkuat kemampuan peneliti dalam bidang katalis maju dan makromelekul akan memberikan kontribusi yang besar dalam kemajuan bangsa Indonesia. Tujuan/ Fungsi/ Sasaran Keltian: Tujuan • Teknologi dan produksi katalis maju untuk konversi sumber daya alam Indonesia • Pengembangan dan sintesa makromolekul untuk industri kimia   Kegiatan Penelitian Utama Kelti/ Sub Kelti disertai Deskripsi Singkat: 1)  Sintesa katalis untuk produksi kimia adi dan pengembangan makromelekul untuk pelapisan, adsorben dan bahan pengemas. 2) Implementasi penelitian katalisis dan makromolekul dalam bidang kesehatan   Potensi Pengguna Penelitian Keltian: Industri kimia adi, industri katalis dan adsorben, industri kapal, industri bahan makanan dalam kemasan, industri polimer, industri kosmetik, rumah sakit.

Baca

Research Group: Active Pharmaceutical Ingredients


17 November 2009

  Latar Belakang Pentingnya Penelitian Bahan Baku Obat: 1. Masih banyak kejadian penyakit di masyarakat Indonesia, antara lain: penyakit degeneratif dan infeksi. 2. BBO sebagian besar masih diimpor, sedangkan sumberdaya hayati yang berlimpah belum termanfaatkan secara optimal untuk BBO. Tujuan/ Fungsi/ Sasaran Keltian: Tujuan: untuk menemukan dan mengembangkan BBO dari tumbuhan, mikroba dan biota laut untuk penyakit degeneratif dan infeksi. Fungsi: sebagai sarana membangun kompetensi dan sinergi di antara para peneliti di bidang penemuan dan pengembangan BBO. Sasaran: memperoleh BBO untuk penyakit antibakteri, antikanker, antidiabetes, antidengue, antihiperkolesterolemia, dan antimalaria.   Kegiatan Penelitian Utama Kelti/ Sub Kelti disertai Deskripsi Singkat: 1. Subkeltian BBO Degeneratif Alami Subkeltian ini melakukan kegiatan: a. uji klinik ekstrak daun sukun sebagai fitofarmaka antidiabetes dan antikolesterol b. pencarian antidiabetes dari biota laut c. pengembangan Macaranga spp. sebagai antihiperkolesterolemia d. formulasi sediaan herbal untuk antidiabetes 2. Subkeltian BBO Degeneratif Sintetik Subkeltian ini melakukan kegiatan: a. sintesis turunan butirolakton dari Aspergillus terreus untuk BBO antidiabetes b. sintesis senyawa dimer turunan fenol untuk antiabetes 3. Subkeltian BBO Infeksi Alami Subkeltian ini melakukan kegiatan: a. pengembangan senyawa antimalaria alami b. pengembangan obat herbal terstandar untuk antidengue c. pengembangan mikroba endofitik biota laut sebagai antikanker d. pengembangan biota laut sebagai antibakteri e. pengembangan bahan baku obat antikanker alami 4. Subkeltian BBO Infeksi Sintetik Subkeltian ini melakukan kegiatan: a. pengembangan turunan andrografolida sebagai antimalaria b. pengembangan turunan artemisinin sebagai antimalaria   Potensi Pengguna Penelitian Keltian: 1. Industri obat dalam negeri 2. Kementerian Kesehatan – RI 3. Masyarakat // // // //  

Baca

Development of Electrospun Nanofibrous Structures for Conductive, Antibacterial and Biomedical Applications


16 November 2009

Title: Development of Electrospun Nanofibrous Structures for Conductive, Antibacterial and Biomedical ApplicationsLocation: Ruang Rapat Lantai IV, Ged. 80 PP Kimia - LIPI BandungStart Time: 9:30Date: 2009-11-10End Time: 11:00

Baca

Konferensi Internasional Nanoteknologi dan Anugerah “Nano Award” 2009.


14 November 2009

Masyarakat Nano Indonesia dengan dukungan Kementerian Ristek menyelenggarakan ajang pertemuan ilmiah Internasional : “2nd ICAMPN : International Conference on Advanced and Practical Nanotechnology” yang bertemakan “Technology for better tomorrow” bertempat di gedung BPPT Jakarta tgl 11 - 12 Nov 2009. Mewakili Menteri Riset dan Teknologi Dr. Ir, Idwan Suhardi selaku Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek menyambut positif berlangsungnya ajang konferensi Internasional yang dihadiri sejumlah tokoh pakar nanoteknologi dari negara Asia-Pasifik yang berhimpun dalam Asia Nano Forum yakni a.l; Singapore, Malaysia, Korea Selatan, Kanada, Jepang, Australia selain ahli nanoteknologi dari Indonesia. Dibandingkan negara-negara maju yang telah lebih dahulu giat melaksanakan riset nanoteknologi maka riset bidang rekayasa teknologi canggih di Indonesia relatif masih berusia balita. Ketua Masyarakat Nanoteknologi Indonesia yang juga berprestasi tinggi selaku pakar bidang nantoteknologi Dr. Nurul Taufiqu Rochman, M.Eng ---ilmuwan penerima anugerah Habibie Award 2009--- meyakini bahwa riset nanoteknologi di tanah air dapat menjadi jawaban atas tantangan MDG : “Millennium Development Goals 2015” bagi negara berkembang layaknya Indonesia, khususnya dalam sektor-sektor pelayanan kesehatan, kelestarian lingkungan hidup, dan energi; oleh karenanya memandang amat perlu untuk memasyarakatkan informasi perihal penggunaan dan pencapaian nanoteknologi guna dapat diangkat sebagai perhatian bagi segenap khalayak masyarakat nasional. Sederet nama ahli Indonesia yang memaparkan presentasi dalam ajang konferensi, a.l: - Dr. Agus Haryanto (LIPI) dengan topik Nano-material based biodegradable food packaging. - Prof. Dr. Ismunandar (ITB) : Advanced Materials based on Metal Oxyde. - Dr. Eniya Listiani Dewi (BPPT) : Novel Polyelectrolyte for Alternative Hydrogen Fuel Cells. - Dr. Ratna Nuryadi (BPPT) : Nano device. Ahli nanoteknologi Internasional yang berperanan aktif dalam ajang konferensi yakni; Prof. Tomohiko Yamazaki, Ph.D sebagai tokoh representasi Asia Nano Forum. Nama-nama pakar pemrasaran paparan lainnya a.l : Prof. Dr. Hidekazu Tanaka ( Tokyo Institute of Technology - Jepang ), Prof. Michiharu Tabe (Shizouka University - Japan ), Prof. Dr. Yoshimitsu Uemura (Universitas Petronas - Malaysia), Prof. Dr Lu Li ( NUS - Singapore ), Prof. Dr. Kei Saito ( Monash University - Australia ), Prof. Abdellah Ajji ( Ecole Polytechnique of Montreal - Canada ), dll. Selain pembahasan topik perihal status terkini perkembangan aplikasi nanoteknologi dan strategi kebijakan pengembangan nanoteknologi di setiap negara Asia Nano Forum; paparan pembahasan yang diketengahkan meliputi topik-topik nanoteknologi dalam penerapan praktis serta berbagai perangkat di masa depan maupun yang siap diambang produksi seperti: Nano Foods & Food Packaging, Nano Catalysts, Nano Medicine & Pharmacy, Nanomaterials Synthesis & Processing, Nano Imaging & Sensor, Nano Devices & Characterizations, dan Energy & Environment. Dalam istilah praktis per definisi nanotechnology, adalah bidang ilmu rekayasa teknologi yang bertalian dengan material berdimensi mikrosopik ---teristimewa rekayasa manipulasi molekul--- yakni ujud materi dengan batasan ukuran lebih kecil daripada 100 nanometer. | nanometer ( nm ) dimensi ukuran senilai 1-per-1.000.000.000 meter ( m ) | Acara pamungkas konferensi pada hari kedua yakni pemberian anugerah “Nano Award” 2009 dari Masyarakat Nano Teknologi Indonesia yang didahului pemutaran film aktivitas kegiatan pemasyarakatan yang berjudul “4 Years of MNI : Developing Nation through Nanotechnology”. Sumber: http://www.iptek.net.id

Baca

LIPI Kukuhkan Tiga Profesor Riset


14 November 2009

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengukuhkan tiga orang Profesor Riset, masing-masing Dr. Hary Harjono, Dr. Leonardus Broto Sugeng Kardono, dan Drs. Daliyo, dalam sidang Majelis Profesor Riset yang digelar di Gedung Widya Graha LIPI, Jakarta, Jumat (13/11). Dr. Leonardus Broto Sugeng Kardono dikukuhkan sebagai Profesor Riset bidang Kimia Organik, Dr. Hery Harjono sebagai Profesor Riset Bidang Geologi dan Geofisika, dan Drs. Daliyo, MA dikukuhkan sebagai Profesor Riset Bidang Penduduk. Dr. Leonardus Broto Sugeng Kardono yang berasal dari Puslit Kimia LIPI, dalam pengukuhan tersebut menyampaikan orasinya berjudul ”Pengembangan Bahan Baku Obat Berbasis Sumber Daya Hayati”. Ia menjelaskan, Indonesia sebagai salah satu negara Megabiodiversity memiliki potensi sumber daya alam hayati yang dapat dieksplorasi dan dikembangkan untuk kemudian dilakukan teknik-teknik sintesa maupun semisintesa, sehingga dapat menghasilkan sumber atau bahan baku obat baru. Beberapa diantaranya telah berhasil diisolasi dan dikembangkan serta diuji sekitar 49 buah senyawa potensial obat. Menurutnya, usaha untuk memperluas dampak keanekaragaman kimia senyawa bahan alam pada proses penemuan obat, dilakukan melalui dua jalur kimia utama. Pertama, dilakukan penyederhanaan campuran kompleks dan meningkatkan dampak komponen minor dalam uji aktivitas melalui pembentukan pustaka senyawa-senyawa bahan alam. Kedua, pendekatan menggunakan kekuatan sintesa kombinatorial untuk meningkatkan strukturnya dimana sifatnya yang unik senyawa bahan alam bisa terlihat. ”Dengan hadirnya teknologi rekayasa genomik, metabolomik dan sintesa kimia, memberi harapan yang menarik akan kemungkinan baru untuk memanfaatkan keragaman senyawa kimia yang luar biasa dari bahan alam untuk menghasilkan obat baru,” katanya. Sementara Drs. Daliyo, MA yang berasal dari Puslit Kependudukan LIPI. dalam pengukuhan itu menyampaikan orasi ilmiah berjudul ”Relevansi Penelitian Ketenagakerjaan dengan Pembangunan”. Ia memaparkan, sampai Februari 2009, tingkat pengangguran terbuka masih mencapai 8,14 persen sementara peningkatan ekonomi nasional pada tahun 2007-2008 baru mencapai 6,4 persen, yang mencerminkan tingkat kemiskinan belum mengalami penurunan. Menurutnya, konsep labor utilization merupakan konsep pengukuran pendayagunaan angkatan kerja (labour utilization concept) yang masih paling cocok untuk negara/wilayah dimana sektor pertanian dan sektor informal masih cukup dominan seperti di Indonesia. Konsep pendayagunaan angkatan kerja tidak hanya mampu mengukur besarnya tingkat pengangguran terbuka (open unemployment), dan setengah pengangguran karena jumlah jam kerja yang di bawah normal (underutilization by hours), namun juga mengukur jumlah jam kerja dan sekaligus produktivitasnya/pendapatannya (underutilization by income). Oleh karena itu, konsep tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengukur peran pembangunan ekonomi terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat melalui terbangunnya kesempatan kerja luas dan layak. Sementara Dr. Hery Harjono yang berasal dari Puslit Geoteknologi LIPI menyampaikan orasinya berjudul ”Geodinamika dan Pola Kegmpaan Busur Jawa-Sumatera”. (T. Gs/toeb) Kominfo, 13 November 2009

Baca

Paten Herbal Didului Malaysia


14 November 2009

 Jakarta, Kompas - Paten herbal dari hasil penelitian buah Aglaia silvestris, tanaman perdu endemik Kalimantan, didahului Malaysia. Padahal periset Indonesia bersama ilmuwan Amerika Serikat lebih dulu menemukan manfaat herbal tanaman tersebut untuk antikanker prostat dan antileukemia. ”Malaysia mengetahui potensinya besar sehingga dengan dana yang dimilikinya berusaha memberikan paten terlebih dahulu,” kata Kepala Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Leonardus Broto Sugeng Kardono, Jumat (13/11), seusai menyampaikan orasi pengukuhan profesor riset bidang kimia organik di LIPI. Selain Kardono, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Hery Harjono serta Daliyo dari Pusat Penelitian Kependudukan LIPI juga dikukuhkan sebagai profesor riset, pada acara yang dipimpin Kepala LIPI Umar Anggoro Jenie itu. Kardono menyampaikan bahwa pada tahun 2000 dia bersama ilmuwan Universitas Illinois, Amerika Serikat, berhasil mengidentifikasi buah Aglaia silvestris mengandung senyawa rocaglamide yang menunjukkan aktivitas antikanker prostat dan antileukemia. Pada tahun 2002 dilanjutkan penelitian reidentifikasi Aglaia silvestris oleh ilmuwan Australia. Hasil reidentifikasi berhasil dan mengubah namanya menjadi Aglaia foveolata. ”Penelitian ilmuwan Australia itu juga menemukan senyawa antikanker prostat dan antileukemia pada Aglaia foveolata. Malaysia kemudian buru-buru membeli hasil riset Australia itu dan membuat patennya,” kata Kardono. Alasan Malaysia untuk mematenkan adalah karena sumber daya genetik yang diambil ilmuwan Australia berasal dari wilayah Serawak. Menurut Kardono, riset sebelumnya sudah dilakukan di wilayah Kalimantan Tengah oleh periset Indonesia bersama Amerika Serikat. Namun, tidak sampai pada upaya mematenkan. ”Indonesia kaya akan tumbuhan obat. Namun, kalah cepat dengan Malaysia untuk urusan mematenkannya,” kata Kardono. Standardisasi jamu Salah satu upaya mengidentifikasi senyawa aktif herbal, Kardono di Pusat Penelitian Kimia LIPI membuat standardisasi jamu. Standardisasi dan pengendalian mutu jamu meliputi deskripsi morfologi, histologi, dan organoleptik. Kemudian identifikasi analisis kualitatif (metode kimia dan kromatografi), uji kemurnian, susut pengeringan, total abu, abu yang larut dalam asam, kandungan ekstrak, kandungan minyak asiri, dan lain-lain. ”Dari sumber daya hayati di Indonesia sudah diperoleh sebanyak 49 senyawa potensial obat,” kata Kardono. Geologi dan geofisika Dalam orasi pengukuhan profesor riset bidang geologi dan geofisika, Hery Harjono menyatakan, pendekatan seismologi, paleoseismologi, ataupun melalui pemantauan global positioning system (GPS) dapat digunakan untuk mengetahui lokasi rawan gempa dan perkiraan besarnya kekuatan gempa. ”Perkiraan waktu akan terjadinya gempa belum bisa ditentukan,” kata Hery. Kepala LIPI Umar Anggoro Jenie mengatakan bahwa Hery pada Juli 2004 pernah mengingatkan potensi gempa besar di barat Sumatera melalui sebuah brosur yang disampaikannya di DPR. Pada akhir tahun 2004 benar terjadi gempa besar dan tsunami di Aceh. Profesor riset lain yang dikukuhkan di bidang kependudukan adalah Daliyo. Dia mengungkapkan, tingkat konsumsi yang mendorong pertumbuhan ekonomi saat ini bukan dari masyarakat kelas bawah. Konsep pendayagunaan tenaga kerja masih paling cocok untuk negara pertanian. (NAW) sumber: http://cetak.kompas.com

Baca

Analisis Air Minum


30 Oktober 2009

Saya mau menganalisis air minum dalam kemasan? saya harus menghubungi siapa ya? Terima Kasih Dina-Bandung -- Silahkan hubungi ULJAK(Unit Layanan Jasa Analisis Kimia) tlp : (022) 2530031

Baca

ANTI BREAST CANCER ACTIVITY OF ETHYL ACETATE EXTRACT OF FERMENTATION BROTH EMPLOYING ENDOPHYTIC FUNGI TAXUS SUMATRANA ISOLATES


16 Oktober 2009

Fermentation broths of TSC 18 and TSC 22 fungi isolates obtained from Taxus sumatrana plant were investigated for their in vitro anti breast cancer activity against T47D cell line. The isolates were further identified by PCR and sequencing methods. In the fermentation experiments, the growth curves were constructed by plate count method and the pH change were recorded, while glucose and protein dynamics of the broth were determined by Nelson-Somogy and Lowry methods respectively. Anti-cancer activity was assessed by SRB (Sulforhodamine B) method. The investigation indicates the fermentation broth both isolates possessed the anticancer activity with IC50 of 42.6 ppm for TSC 18 and 55.7 ppm for TSC 22. Cisplatin which is used as a reference compound gave IC50 of 15.9 ppm . The PCR and tree view program proved that TSC 18 is Phomopsis sp. strain MAFF-238472 and TSC 22 is Coprinopsis cinerrea strain NBRC30628. Author : A.T.Karossi*, A.Poniah **, L.Z. Udin* dan S.Rieny ** * Research Centre for Chemistry – LIPI, Bandung, Indonesia **Faculty of Mathematics and Science – UNPAD- Bandung, Indonesia Source : Jurnal Kimia Terapan Indonesia vol 11 no.1, Juni 2009

Baca

Pemekatan Protein Dalam Susu dan Kecap Menggunakan Membran Serat Berongga.


16 Oktober 2009

Pemekatan protein yang terdapat dalam susu segar dan kecap (manis dan asin) telah dilakukan menggunakan membran serat berongga polisulfon yang berbeda “molecular weight cut – off” (MWCO)nya. Membran yang digunakan dalam percobaan ini mempunyai MWCO sebesar 66.000, 87.000 dan 149.000 Dalton. Percobaan dilakukan pada sistim aliran umpan yang kontinyu dan parameter yang diamati adalah protein, gula dan NaCl. Koefisien rejeksi membran terhadap protein bervariasi tergantung pada jenis sampel yang diamati. Protein susu direjeksi oleh membran diatas 98 % tetapi gula lolos kepermeat. Koefisien rejeksi terhadap protein kecap manis jauh lebih rendah dibandingkan protein susu. Koefisien rejeksi tertinggi untuk kecap manis adalah sebesar 48 % dengan membran yang mempunyai MWCO 66.000 Dalton. Koefisien rejeksi membran terhadap protein kecap asin lebih kecil dibandingkan sampel kecap manis. Untuk kecap asin koefisien rejeksi membran terhadap protein tertinggi yaitu sebesar 27 % pada membran dengan MWCO 66.000 Dalton. Koefisien rejeksi membran terhadap NaCl pada larutan umpan kecap manis dan asin berkisar antara 8,74 sampai 23,96 %. Kata Kunci : Membran serat berongga, ultrafiltrasi, protein, susu, kecap. Penulis : Syahril Ahmad - Pusat Penelitian Kimia Sumber : Jurnal Kimia Terapan Indonesia vol 11 no.1, Juni 2009

Baca

Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Ekstrak Air dan Etanol Daun Benalu ( Dendrophthoe pentandra L. Miq) yang Tumbuh pada Berbagai Inang


16 Oktober 2009

Benalu banyak digunakan secara tradisional di Indonesia sebagai tumbuhan obat, salah satunya sebagai anti kanker. Kanker merupakan salah satu penyakit degeneratif yang diakibatkan oleh adanya radikal bebas yang berlebihan dalam tubuh dimana antioksidan dapat mengurangi resiko terjadinya penyakit degeneratif. Benalu dilaporkan memiliki kandungan senyawa golongan flavonoid yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan. Potensi ini perlu diteliti sehingga pemafaatannya dapat lebih dikembangkan. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode “DPPH free radical scavenger” dan toksisitas dengan menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) telah dilakukan pada ekstrak air dan etanol benalu (Dendropthoe pentandra (L.) Miq.) yang tumbuh pada berbagai inang (belimbing, mangga, kenanga, duku, sirsak, kepel, mahkota dewa, dan teh). Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak etanol dan air benalu pada semua inang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan (nilai IC50 antara 6.4 - 51.8 µg/mL). Hasil uji toksisitas menunjukkan bahwa ekstrak etanol benalu pada inang kenanga, sirsak, kepel, dan mahkota dewa mempunyai efek toksik terhadap larva A. salina dengan nilai LC50 dibawah 1000 µg/mL, sedangkan ekstrak etanol pada inang yang lainnya dan ekstrak air tidak menunjukkan efek toksik terhadap larva A. salina (LC50 > 1000 µg/mL). Kata kunci: benalu, Dendrophtoe, DPPH, anti oksidan, toksisitas, penyakit degeneratif. Penulis : Nina Artanti1, Retno Widayati2, Sofa Fajriah1 1) Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia 2) Jurusan Farmasi Institut Sains dan Teknologi Nasional Sumber : Jurnal Kimia Terapan Indonesia vol 11 no.1, Juni 2009

Baca

PREPARATION OF IN - HOUSE COCOA FLOUR RMs AND DETERMINATION OF ITS Cd CONTENT BY USING GFAAS


16 Oktober 2009

In-house cocoa flour RMs instead of CRMs was prepared and checked of its homogeneity and stability. Due to CRMs are limited availability in terms of matrices of concern and costly (high production cost) making in-house coca flour RMs is alternatively used for daily quality control in the laboratory. The analysis method for reliable checking of homogeneity and stability of cadmium content in the in-house cocoa flour RMs was studied. The effects of magnesium nitrate and lanthanum/magnesium nitrate as chemical modifiers in the determination of cadmium in cocoa flour by GFAAS were studied as well. Detection limit of method was estimated to be 0.07 µg L-1(calculated as 3Sy/x/slope of calibration curve) and calibration curve of working range was linear. The results analysis for candidate of in-house cocoa flour RMs reveals the consistence results and no variability between and within-bottle observed at 95% limit of confidence and stabile during the period of time observed. author : Anna E. Persulessy - Analytical Chemistry Laboratory, Research Center for Chemistry, Bandung-Indonesia email : anna_ep@ yahoo.com source : Jurnal Kimia Terapan Indonesia vol 11 no.1, Juni 2009

Baca

Uji Potensi Aktivitas Anti Kanker Ekstrak Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)


16 Oktober 2009

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui potensi aktivitas antikanker dari ekstrak daun pandan wangi menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Ekstrak dibuat dengan cara maserasi menggunakan tiga macam pelarut, yaitu butanol, etil asetat, dan petroleum eter. Uji toksisitas dilakukan dengan menggunakan larva udang Artemia salina Leach yang berumur 48 jam. Efek toksik masing-masing ekstrak diidentifikasi dengan presentase kematian larva udang menggunakan analisis probit (LC50). Ekstrak aktif kemudian diuji kandungan fitokimianya dan senyawa bioaktif yang disarankan menggunakan GC-MS. Hasilnya menunjukkan ekstrak etil asetat bersifat toksik (LC50 : 288,4 ppm). Senyawa yang terkandung dalam ekstrak etil asetat yang diduga toksik adalah senyawa terpenoid dan steroid. Kata kunci : Ekstrak Daun Pandan Wangi, BSLT, Artemia salina Leach, Fitokimia, dan GC-MS Penulis : Dede Sukandar, Sandra Hermanto, dan Emi Lestari - Program Studi Kimia Jurusan MIPA Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Email : ds_tea2007@yahoo.com Sumber : Jurnal Kimia Terapan Indonesia vol 11 no.1, Juni 2009

Baca

Pengaruh Peningkatan Lipofilisitas pada Senyawa Analog UK-3A dalam Menghambat Pertumbuhan Sel Kanker P-388


16 Oktober 2009

UK-3A adalah Antibiotika UK-3A mempunyai struktur dilakton cincin sembilan, diisolasi sebagai minor komponen dari Streptomyces sp. 517-02. Antibiotika tersebut mempunyai potensi dalam menghambat pertumbuhan sel kanker leukemia P388 dan KB dengan nilai IC50 38 dan 20 g/mL. Untuk melihat kenaikan efek lipofilitas dari aktivitas anti kanker dari senyawa analog UK-3A, berdasarkan pada parameter hubungan struktur dan aktivitas (QSAR) dan nilai energy binding dengan protein BcL-xL. Senyawa-senyawa analog UK-3A, 3-hydroxypicolinyl serin metil ester disintesis dari asam 3-hidroksipikolinat dan L-serin metil ester kemudian senyawa tersebut diesterifikasi terhadap 3-hydroxypicolinyl serine methyl ester (A) dengan asam pentanoat(1), hexanoat(2), heptanoat(3), dan oktanoat (4). Senyawa-senyawa tersebut diidentifikasi dengan menggunakan spektoophotometer 1H and 13C FT-NMR, FTIR dan MS. Hasil uji aktivitas menunjukkan bahwa senyawa 3-hidroksipikolinil serin oktil metil ester (PSMOE) menunjukkan peningkatan aktivitas yang spesifik dalam menghambat pertumbuhan sel kanker leukemia P388 dengan nilai IC50 15,4 g/mL, Kata kunci: Anti kanker, Streptomyses sp 517-02, UK-3A, Analog UK-3A, dan P388 Penulis : Hanafi, M., Y. Anita, AMJ. Putra, A. Darmawan, N. Artanti, Linar Z. Udin - Pusat Penelitian Kimia Email : hanafi124@yahoo.com, myname_yulia@yahoo.com Sumber : Jurnal Kimia Terapan Indonesia vol 11 no.1, Juni 2009

Baca

Production, Isolation, Immobilization and Application of Glucoamylase from Rhizopus Oryzae


16 Oktober 2009

Percobaan dilakukan untuk mengetahui kondisi medium dan proses optimum berdasarkan shake-flask dan skala fermentor laboratorium untuk mengantisipasi skala industri untuk produksi glukoamilase. Filtrasi membran dan presipitasi amonium sulfat diuji untuk konsentrasi enzim dan isolasi. Sifat enzim glukoamilase ditentukan dan disukai berbagai substrat pati diperiksa. Imobilisasi dalam larutan komersial dan alginat dilakukan dan umur simpannya diamati. Penerapan glukoamilase bebas dalam sakarifikasi berbagai pati juga diselidiki setelah dicairkan dengan alfa-amilase komersial. Penulis: A.T. Karossi dan L.Z.Udin - Pusat Penelitian Kimia Email: andi012@lipi.go.id / karossi@bdg.centrin.net.id Sumber: Jurnal Kimia Terapan Indonesia jilid 11 no.1, Juni 2009

Baca

Homogenitas Target dalam Matrik Pada Analisis Residu Pestisida Karbamat dalam Tomat


16 Oktober 2009

Telah ditentukan kondisi optimum kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) untuk analisis residu pestisida karbamat yang meliputi karbofuran dan karbaril. Kondisi optimum analisis diperoleh pada fasa gerak isokratik asetonitril/H2O : 45/55 (v/v) dan panjang gelombang detektor ultra violet (UV) optimum pada serapan 275 nm. Verifikasi alat KCKT memberikan deteksi minimum sebesar 60 ppb untuk karbofuran dan 40 ppb untuk karbaril. Linieritas dan rentang kerja pada konsentrasi sebesar 0,06 – 0,15 ppb untuk karbofuran dengan nilai r2 sebesar 0,9702 dan 0,04 – 0,15 ppb untuk karbaril dengan nilai r2 sebesar 0,9874. Presisi alat yang ditunjukkan dengan standar deviasi relatif (SDR) untuk karbofuran sebesar 0,30 % untuk waktu tambat (Rt) dan 7,28 % untuk luas puncak (area). Sedangkan untuk karbaril, SDR sebesar 0,20 % untuk Rt dan 4,63 % untuk area. Homogenitas karbafuran maupun karbaril (senyawa target) dalam matrik sampel uji dinyatakan homogen baik dalam perhitunagan dengan menggunakan metoda analysis of varians (ANOVA) maupun metoda komite akreditasi nasional (KAN) yang ditunjukkan dengan nilai F-hitung < F-kritis. Kata kunci : Homogenitas, Pestisida, Karbamat, Karbofuran, Karbaril, Kromatografi. Penulis : Retno Yusiasih - Pusat Penelitian Kimia Email : retnoyusiasih@yahoo.com Sumber : Jurnal Kimia Terapan Indonesia vol 11 no.1, Juni 2009

Baca

Ir Nina Artanti MSc, Teliti Benalu Jadi Obat Kanker


11 September 2009

Dia adalah Ir Nina Artanti MSc, ahli kimia di LIPI yang getol meneliti kandungan zat benalu, sehingga menghasilkan obat untuk menghambat pertumbuhan sel kanker. "Selama ini, yang banyak diketahui orang-orang, benalu teh itu bisa menjadi obat bagi penderita kanker. Bagaimana benalu lain? Inilah yang saya teliti," kata Nina kepada Jawa Pos. Sejak 2003, Nina bekerja keras menyelidiki potensi benalu lokal itu. Setiap hari di laboratorium Nina hanya berkutat dengan benalu. "Saya memilahkan senyawa kimia pada tumbuhan itu. Saya yakin benalu lokal tak kalah," urai pemegang master of science dari New South Wales University itu. Dibantu suami yang juga peneliti Bioteknologi LIPI, Dr Ir M. Ahkam Subroto M.App Sc, kali pertama Nina meneliti potensi benalu yang tumbuh di rumahnya. Sarjana lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu mengamati setiap kandungan benalu di pekarangannya itu. Dia juga sampai kepada para tetangga untuk mendapatkan setangkai benalu. Nina lalu menguji senyawa di dalam laboratoriumnya. Dia yakin potensi itu ada di dua jenis benalu Macrosolen Cochinchinensis dan Dendropthoe Pentandra. Dua jenis benalu itu biasanya menumpang di tanaman nangka dan belimbing. Dia berusaha membuktikan, apakah dua jenis benalu tersebut memiliki sifat antioksidan yang tinggi terhadap sel tubuh. Menurut Nina, benalu Macrosolen memiliki ciri bercabang banyak dengan ruas membesar. Daunnya bertangkai pendek, berbentuk elips, tetapi ada juga yang berbentuk bulat dengan ujung agak meruncing dan warnanya mengkilat. Tentu untuk penelitian tersebut, Nina membutuhkan banyak benalu jenis yang sama. "Saya harus dapat dari mana. Akhirnya saya minta bantuan petugas herbarium di Bogor," ungkapnya. Dia menguji terlebih dahulu kemampuan ekstrak benalu nangka dan belimbing itu. Mula-mula Nina menempatkan sel kanker ke tabung lalu diberi ekstrak benalu. Dia berusaha mengamati pertumbuhan sel saban hari. Hasilnya, pertumbuhan sel kanker yang diberi ekstrak itu lebih lambat 50 persen dibanding sel kanker dibiarkan hidup begitu saja. Tidak itu saja. Nina berusaha menyuntikkan sel kanker itu ke hewan coba, mencit. Lalu hewan yang terinfeksi kanker itu disuntik ekstrak benalu nangka dan belimbing tadi. Setelah diamati, hasilnya, pertumbuhan mencit yang menderita kanker tadi juga melambat. Menurut Nina, pertumbuhan sel kanker itu terhambat karena benalu nangka dan belimbing tadi memiliki senyawa yang mampu menghambat pembelahan sel kanker atau mematikannya. Selama kurun empat tahun, Nina menghabiskan dana Rp 600 juta. Uang itu merupakan biaya yang diberikan pemerintah. Di luar negeri, kata dia, selain dana besar, penelitian semacam itu juga membutuhkan waktu lama, sebelum benar-benar dipasarkan sebagai obat. "Paling tidak butuh waktu 20 tahun meneliti hal serupa sampai proses uji klinis," jelasnya. Apakah temuan pembunuh kanker itu sudah dipatenkan? Dia mengungkapkan cukup memublikasikan temuannya itu. "Publikasi saja sudah cukup. Bahwa ini temuan saya," jelasnya. Terkait temuannya itu, Nina juga belum terpikir menggandeng dunia industri agar hasil penelitiannya bisa dirasakan banyak orang. Dia memiliki kekhawatiran, jalur pabrikan justru membuat obat-obatan bahan alam itu berharga mahal. (git/kum) Sumber : Jawa Pos (12 Januari 2009)

Baca

Penghapus di Pasaran Mengandung Racun


11 September 2009

Penghapus, salah satu alat tulis, yang banyak dijual di pasaran pada umumnya masih menggunakan bahan campuran phthalate yang dikategorikan sebagai zat beracun sehingga sangat berbahaya bila masuk ke dalam tubuh dalam jumlah berlebihan. "Phthalate sebagai salah satu bahan baku berfungsi sebagai bahan campuran penghapus agar penghapus menjadi empuk dan lembut," kata National Sales & Marketing Manager PT Faber Castell International Indonesia, Iwan Purnama di Kuala Lumpur, di sela-sela kunjungan ke pabrik Fabel Castell Malaysia di kawasan Subang Jaya Selangor, Sabtu (15/8). Iwan Purnama menjelaskan, para ilmuwan menemukan bahwa manusia yang seringkali berhubungan dengan "phthalate" akan mengalami keterlambatan pubertas. Sedangkan pengaruh berkepanjangan bagi ibu hamil adalah dapat mengakibatkan keguguran dan komplikasi pada kehamilan. Selain itu, juga dapat memicu kanker (karsinogenik), gangguan sistem saraf, liver, dan gangguan sistem reproduktivitas. Ia mengatakan, Komisi Uni Eropa pun telah menyatakan bahwa "phthalate" termasuk dalam barang-barang berbahaya. "Phthlate" sendiri telah diklasifikasikan sebagai racun dan bahan plastik yang menggunakan "phthalate" dilarang untuk material semua mainan dan alat tulis di pasar Uni Eropa. Menindaklanjuti larangan Komisi Eropa tersebut, ujar Iwan, Faber-Castell Malaysia sebagai pabrik yang khusus memproduksi penghapus terbesar di dunia melakukan riset untuk mencari bahan pengganti "phthalate" bersama dengan Shimadzu-UMMC Center for Xenobiotics Studies (SUCXeS), Fakultas Kedokteran Universitas Malaya di Kuala Lumpur, Malaysia pada September 2006. "Akhirnya mereka menemukan bahwa salah satu turunan minyak nabati mempunyai efek yang sama dengan phthalate saat ini seluruh penghapus Faber-Castell sudah bebas dari phthalate," katanya. Untuk memastikan bahwa penghapus Faber-Castell yang didistribusikan di Indonesia juga merupakan penghapus yang bebas "phthalate", Faber-Castell International Indonesia bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadakan penelitian tentang keamanan dari penghapus Faber-Castell, tambahnya. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh LIPI membuktikan bahwa penghapus Faber-Castell tidak mengandung "phthalate" yang telah diklarifikasikan racun oleh Komisi Uni Eropa. Mudah dibentuk Sementara itu, Dr. Eng. Agus Haryono, Division of Sciences and Technology Services, LIPI mengatakan, "phthalate" adalah zat pelentur plastik dan biasanya digunakan pada plastik dari jenis resin vinyl, termasuk PVC (polivinil klorida). "Produk-produk PVC yang menggunakan "phthalate" sebagai plasticizer antara lain kemasan makanan, cling wrap, mainan anak-anak sampai peralatan medis seperti selang infus dan kantong darah," katanya. Manfaat penggunaan "phthalate" adalah sebagai bahan pelentur plastik (plasticizer) maka plastik yang memiliki bahan dasar polimer, bersifat rigid dan kaku akan memiliki sifat plastis dan mudah dibentuk, katanya. Penambahan plasticizer juga akan menurunkan suhu proses pembuatan produk, yang artinya adalah bisa menurunkan konsumsi energi dan menghindari resiko kerusakan produk karena prosesnya bisa dilakukan pada suhu yang lebih rendah, katanya. "Hasil penelitian ada potensi migrasi phthalate dari plastik jika digunakan tidak pada tempatnya. Sebagai contoh mainan anak-anak yang mengandung phthalate juga berpotensi termigrasi ke tubuh anak-anak jika anak-anak menggigit-gigit mainan tersebut," katanya. Jika "phthalate" telah termigrasi ke tubuh manusia maka ada kemungkinan munculnya penyakit-penyakit seperti kanker (karsinogenik), gangguan system syaraf, liver, dan gangguan system reproduktivitas, katanya. Di Indonesia sendiri karena belum ada korban, maka belum adanya pula larangan tentang penggunaan "phthalate" ini. Indonesia lebih menganut paham seperti yang diberlakukan di Amerika, yaitu paham di mana akan melakukan sesuatu jika ada jatuhnya korban, katanya. "Berbeda dengan yang dilakukan Pemerintah Uni Eropa, paham yang mereka anut itu mengarah kepada tindakan pencegahan sebelum terjadi sesuatu hal yang buruk. Sehingga penggunaan `phthalate` yang mempunyai sifat racun di dalamnya telah diklarifikasikan sebagai racun dan berbahaya," tambahnya. Sementara itu untuk penghapus Faber-Castell yang beredar di Indonesia telah bebas dari "Phthalate" sehingga aman digunakan oleh anak-anak dan remaja yang umumnya adalah para pelajar," katanya. Faber Castell adalah perusahaan produsen alat tulis yang berkantor pusat di Jerman. (kpl/meg) KapanLagi.com (15 Agustus 2009)

Baca

Mencari Pencegah Osteoporosis Hingga ke Jepang


28 Juli 2009

Osteoporosis, penyakit yang banyak menggerogoti tulang perempuan, sudah sampai tingkat mengkhawatirkan. Berdasarkan data Yayasan Osteoporosis Internasional, satu dari tiga perempuan Indonesia terserang penyakit ini. Dra. Sri Pudjiraharti, M.Si. (50), peneliti dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Lipi) menebarkan kabar gembira. Ia sedang meneliti senyawa yang mampu membantu penyerapan kalsium di dalam tubuh. "Proses penyerapan kalsium di dalam tubuh memerlukan waktu. Dengan dibantu DFA III, diharapkan penyerapan kalsium akan lebih cepat," tutur Pudji. Kalsium adalah zat yang diperlukan tulang agar tetap kuat meski di usia tua. Berbicara rumusan kimia dengan ilmuwan yang satu ini bagaikan sedang berbicara bumbu masakan sehari-hari, enteng dan tidak terlalu njlimet. Pudji mampu menerjemahkan penelitiannya dalam bahasa populer. "Yang saya teliti adalah bidang bahan alam dan farmasi, arahnya fungsional food yaitu mempelajari bahan pangan yang mempunyai efek kesehatan," katanya menjelaskan. Beberapa temannya di lembaga penelitian ini lebih banyak meneliti kacang-kacangan, seperti kacang kedelai. Pudji sendiri lebih memusatkan perhatiannya pada manfaat umbi bunga dahlia. Dari penelitiannya itu, Pudji menemukan senyawa DFA III. Senyawa ini adalah jenis gula, tepatnya dua buah fruktosa yang berikatan satu sama lain. Sebagai komponen bahan makanan (food stuff), senyawa ini memiliki sifat yang menguntungkan. Di antaranya, mudah larut dalam air, tingkat kemanisannya separuh sukrosa sehingga bisa dimanfaatkan sebagai pemanis rendah kalori dan aman untuk penderita diabetes dan stabil terhadap panas, asam, serta kelembapan tinggi. Selain memiliki sifat-sifat yang baik sebagai food stuff , DFA III juga memiliki fungsi sebagai prebiotik, yaitu tidak diserap oleh sistem pencernaan dalam tubuh. Ia dimetabolisme oleh mikroorganisme dalam usus sebagai sumber nutrisi (karbohidrat). Hal ini dapat menjaga keseimbangan mikroflora dalam usus sebagai pertahanan terhadap masuknya mikroba patogen (yang merugikan). "DFA III telah diteliti dapat membantu penyerapan kalsium dalam usus sehingga diproyeksikan sebagai pangan fungsional untuk mencegah osteoporosis di masa mendatang," kata Pudji. Senyawa DFA III dapat dibuat melalui reaksi enzimatik dari substrat inulin. Inulin ini diperoleh dari umbi bunga dahlia. Di Jepang, inulin diproduksi dari artobakteri, sedangkan Pudji menggunakan Nonomuraea sp. Tak memilih kaya Di Jepang jenis senyawa ini sudah dikonsumsi, padahal tingkat kerusakan tulang manusia di negara ini jauh lebih rendah dibandingkan Indonesia. Kegemaran akan ikan sebagai lauk-pauk membuat penduduk negara ini memiliki tingkat kesehatan tulang yang lebih baik dari penduduk Indonesia. Di Indonesia? Pengetahuan tentang osteoporosis pun terbilang baru. Selain itu, kesadaran mengonsumsi ikan sebagai salah satu sumber kalsium pelawan osteoporosis masih rendah. Jika kelak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, penelitian Pudji akan sangat berguna. Sebagai ilustrasi, dari data yang ada, diperoleh kenyataan bahwa terdapat 200 juta penderita osteoporosis di seluruh dunia (studi Cumming et al, 1989). Penderita osteoporosis di Eropa, Jepang, Amerika sebanyak 75 juta penduduk, sedangkan Cina mencapai 84 juta penduduk. Di Indonesia, prevalensi osteoporosis bagi perempuan berumur kurang dari 70 tahun sebanyak 18-36%, sedangkan pada pria 20-27%. Bagi perempuan berumur di atas 70 tahun sebanyak 53,6%, sedangkan kaum pria di tingkat umur yang sama sebanyak 38%. "Satu dari tiga perempuan dan satu dari lima pria di Indonesia terserang osteoporosis atau keropos tulang," kata Pudji menyitir data dari Yayasan Osteoporosis Internasional. Dijelaskan Pudji, Yayasan Osteoporosis Internasional juga memperkirakan lebih dari 50% osteoporosis pinggang di seluruh dunia kemungkinan terjadi di Asia pada tahun 2050. Mereka yang terserang rata-rata berusia di atas 50 tahun. Kelak DFA III ini selain dibuat dalam bentuk suplemen juga bisa ditambahkan ke dalam makanan, terutama produk susu. "Ini dimungkinkan karena DFA III mudah larut dalam air," kata Pudji. Untuk penelitiannya ini, Pudji terpaksa meninggalkan ketiga anaknya Chemy Presilla Chintami (24), Mischa Indah Mariska (19) dan Rahmanda Mulia Destiawan (13). "Sebetulnya tidak terlalu lama, hanya tiga bulan. Selebihnya bisa dilakukan di sini," kata Pudji. Tenggelam dalam penelitian ini baginya penting sekali. "Saya ingin mendapatkan sesuatu yang baru, sesuatu yang nantinya akan bermanfaat bagi banyak orang," katanya. Kesempatan menemukan "sesuatu" itu diperolehnya lewat hubungan kerja sama Indonesia Jepang dalam bidang penelitian. Pada program "Japan Society of Science Programme" ini , semua orang boleh melamar, mengajukan diri untuk menggarap penelitian sebagai salah satu syarat menempuh program S-3. Tahun ini hanya dua lamaran yang diterima, termasuk proposal Pudji. Berhasil maju menjadi peneliti yang terpilih program tersebut, tidak membuat hidung Pudji mengembang. Ia menganggapnya sebagai bagian dari tugas dan pengabdiannya selaku peneliti. Di Indonesia, profesi peneliti memang masih berada dalam tahap mengabdi pada ilmu, jauh dari komersialisasi. Ketika beberapa peneliti kebanjiran rezeki karena penelitiannya berhasil dipatenkan dan dikomersialkan, itu adalah efek samping belaka. "Kalau mau kaya, ya kerja saja di industri," kata Pudji sambil tertawa. Cuka buah Dari pandangan pertama, orang akan langsung menilai perempuan asli Brebes ini adalah tipe perempuan sabar dan telaten. Bukan karena sebagai orang Jawa sifat tersebut dimilikinya. Menurut Pudji, modal utama menjadi seorang peneliti memang harus sabar. "Jangan gampang menyerah. Percobaan itu tidak sekali lalu langsung berhasil," katanya. Kesabarannya bukan saja teruji lewat ribuan percobaan yang gagal. Namun, juga kesabaran hati saat penemuannya membuahkan hasil, namun tak bisa dikembangkan lebih jauh. Salah satu ujian kesabarannya adalah saat berhasil menemukan cuka atau vinegar yang terbuat dari buah mete. Dari sisi keamanan, cuka ini jauh lebih aman dibandingkan cuka biasa. "Kadar asamnya hanya mencapai empat persen, sedangkan cuka biasa hingga 25 persen," tuturnya. Pemilihan buah mete dilakukan Pudji sebagai upaya memanfaatkan buah tersebut. Buah mete atau sering disebut jambu monyet ini umumnya hanya dimanfaatkan bijinya, sedangkan buahnya jarang dikonsumsi karena rasanya yang kecut dan agak sepet. Kendati lebih aman bagi lambung, kenyataannya cuka ini tak bisa dibuat massal. "Harganya lebih mahal dari cuka biasa," katanya tentang penyebab penelitiannya tak bisa dikomersialkan. Menjadi peneliti tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Ia masuk ke Sekolah Pengatur Analisa Bandung karena ia suka sekali dengan pelajaran kimia. Hobi pada pelajaran yang satu ini bersambung hingga Pudji masuk Jurusan Biokimia ITB. "Nggak tahu ya, kok saya suka sekali dengan ilmu yang satu ini. Mungkin karena ada hubungannya dengan banyaknya reaksi biokimia dalam tubuh," ujarnya. Program S-2 nya pun pada bidang dan perguruan tinggi yang sama. Mengalir bagai air adalah hidup yang dijalaninya. Merantau ke Bandung karena diajak oleh adik ayahnya, membuat ia menemukan jalan hidupnya. "Beres sekolah langsung diterima di sini (LIPI). Ya terus menjadi seperti sekarang," katanya. Dan ia tak pernah menyesali hanyut dalam aliran hidup seperti itu. Menemukan jodoh bernama Djumawan dan melahirkan tiga anak membuat hidupnya lengkap. Terasa lebih lengkap lagi ketika penelitiannya berguna bagi banyak orang. (Ella/"PR"/Uci Anwar) *** www.pikiran-rakyat.com

Baca

Sosialisasikan Green 5-S, SIRIM Gelar Training di Pusat Penelitian Kimia


26 Juli 2016

[Berita P2 Kimia, Serpong] Ada yang istimewa pada hari Selasa (19 Juli 2016) di Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI. Hari itu tengah diadakan “Training SIRIM Green 5-S” dengan menghadirkan pakar sistem mutu dari SIRIM Berhard, Malaysia. Acara ini merupakan kelanjutan dari pelatihan SIRIM sebelumnya yang dihadiri oleh Doan Ilman Munandar, staf manajemen yang secara khusus dikirim oleh P2 Kimia ke Malaysia. Tak kurang 40 peserta telah berpartisipasi di acara ini. Mereka datang tidak hanya dari internal Pusat Penelitian (P2) Kimia, tapi juga perwakilan dari P2 Metalurgi LIPI, P2 Metrologi LIPI, dan P2 Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian (SMTP) LIPI. Tim pakar yang menjadi narasumber ini terdiri dari empat orang yang berasal dari SIRIM STS Sdn Bhd. (sebelumnya bernama SIRIM Training Service Sdn Bhd). Mereka adalah Dr. Hj. Abdul Ghani Mohd Hashim, Dr. Safuan bin Idris, Abdul Razak bin Abu Bakar dan SIRIM (Standards and Industrial Research Institute of Malaysia) adalah sebuah badan milik pemerintah Malaysia sebagai lembaga nasional untuk riset standardisasi dan industri yang telah berdiri sejak tahun 1964. “Kegiatan ini merupakan salah satu terobosan manajemen P2 Kimia untuk mendongkrak kinerja kita semua, “ ujar Dr. Agus Haryono, Kepala P2 Kimia LIPI saat membuka acara. “Sebagaimana telah kita ketahui, 5-S merupakan salah satu tool dan praktek peningkatan produktivitas yang sudah dipakai secara luas di banyak negara,” lanjutnya menerangkan latar belakang acara ini. Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan presentasi profil dan kegiatan P2 Kimia. Presentasi mencakup pemutaran video yang disampaikan oleh Dr. Yenny Meliana, Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian, P2 Kimia.  Setelah itu dilanjutkan presentasi dan pemutaran video tentang SIRIM oleh Dr. Azhar bin Dollah. Acara diteruskan dengan presentasi utama oleh Dr. Hj. Abdul Ghani Mohd Hashim, Kepala SIRIM STS Sdn. Bhd. Konsultan ahli 5-S ini menerangkan tentang penerapan 5-S untuk meningkatkan keselamatan kerja, kesehatan, kualitas, produktivitas, citra diri dan daya saing. “Green 5-S merupakan perpaduan penerapan prinsip 5-S yang memperhatikan aspek ramah lingkungan, “ ujar doktor yang pernah mengenyam S1 Teknik dan Manajemen Industri Universitas of Iowa dan S2 Teknik Industri Georgia Tech – Amerika ini. “5-S yang lahir dari sistem mutu di Jepang ini bersumber dari prinsip sederhana yang telah diaplikasikan di berbagai lingkungan yang komplek terutama di industri, “ jelas peraih sabuk emas 5-S ini. Adapun prinsip dasar 5-S terdiri dari Seiri (整理– sort), Seiton (整頓-set in order), Seiso (清楚-sweep/ shine), Seiketsu (清潔-standardize) dan Shitsuke (躾けsustain). Dalam konteks Indonesia, konsep ini telah diadopsi menjadi 5-R: Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin. “Dari prinsip dasar ini telah dikembangkan banyak kriteria, indikator, penghargaan dan kumpulan praktik terbaik untuk melaksanakannya. Di Hongkong, istilah 5-S bahkan telah diperkenalkan ke anak kecil di TK, “ terang Abdul Ghani. Ghani kemudian memaparkan lebih lanjut tentang contoh-contoh penerapan 5-S. Pada sesi tanya jawab, sejumlah pertanyaan muncul dari peserta. Mereka menanyakan tentang penerapan 5-S, penghargaan/ pengakuan dan keterkaitannya dengan sistem mutu seperti ISO9001. Ghani beserta timnya pun dengan sabar menjawab satu per satu pertanyaan tersebut. “Penerapan 5-S seyogyanya dilakukan sebelum mendapatkan sertifikasi ISO,” jawab Ghani yang juga merupakan auditor senior ISO 9000/ 14000 ini saat menanggapi pertanyaan salah seorang peserta. Usai istirahat dan makan siang, tim 5-S Malaysia langsung berkeliling melihat potensi penerapan 5-S di P2 Kimia. Sejumlah ruangan, baik lab, ruang administrasi maupun halaman ditinjau oleh tim. Hasil tinjauan kemudian dipaparkan ke para peserta. Keesokan harinya, rombongan Malaysia dijadwalkan untuk sosialisasi kegiatan serupa di P2 SMTP LIPI dan berlanjut lusa di P2 Kebun Raya Bogor. .

Baca
ZONA INTEGRITAS